Rahasia Amira bersama Dosen Killer

Rahasia Amira bersama Dosen Killer
Tidak mau!


__ADS_3

Hampir saja Eva terjatuh tetapi tubuhnya langsung ditahan oleh Dargo.


"Ada apa?" tanya Dargo melihat tubuh Eva tiba-tiba saja melemas seperti ini.


"Mas, gawat!" kata Eva dengan wajah cemas.


"Kita harus gimana sekarang Mas?" imbuh Eva lagi. Tentu saja Dargo hanya bisa kebingungan melihat reaksi ketakutan dari wajah Eva.


"Emangnya kenapa sih? ada apa?" tanyanya.


"Mas tadi Mbok Darmi bilang kalau Aku dapat surat panggilan dari kantor polisi ... ternyata Amira udah bikin laporan kesana!" jelas Eva panik.


"Oh jadi ternyata anak dari Kamu nantangin Kita ya?" ucap Dargo awalnya masih memiliki perasaan iba namun perasaan itu hilang seketika.


"Udah Bapaknya gaya banget pakai matiin kartu kredit Kamu sekarang anaknya malah berulah bikin laporan ke Kantor Polisi." ketus Dargo semakin menambah kekesalan Eva saja.


"Sekarang kita harus gimana Mas? Aku nggak mau dipenjara." Eva goyangkan tangannya dirinya sedang ketakutan sekarang.


"Kamu yang tenang dong, jangan panik! Aku punya ide." terang Dargo santai dengan bibir menyeringai.


Eva hanya menatap wajah lelaki itu dengan penuh tanda tanya. Belum paham mengapa Dargo masih bisa setenang ini sekarang.


"Sekarang ayo kita ke rumah Kamu dulu! nanti di mobil Aku jelasin semuanya." ajak Dargo menarik tangan Eva.


Mereka akhirnya menuju parkiran, memasuki mobil bergegas pulang.


Banyak obrolan yang dibicarakan Dargo dan Eva. Sehingga wajah panik itu menghilang berubah menjadi tawa jahat.


"Nggak sia-sia Aku punya pacar sepintar Kamu Mas," puji Eva mengusap jemari tangan Dargo yang sedang memegangi stir kemudi.


Dargo hanya mengangkat alisnya saja membalas senyuman sama kemudian fokus melihat ke arah jalan.


*


Amira masih berada di Rumah Sakit. Dengan wajah cemas.


"Nggak tahu kenapa kok hatiku rasanya nggak tenang ya?" batin Amira gusar.


Axel baru saja tiba setelah keluar membelikan buah untuk Anggoro.


Melihat istrinya sedang duduk merenung dengan wajah banyak pikiran. Axel segera menghampirinya.


"Sayang kamu kenapa?" tanyanya.


Amira menoleh, tatapan mata sendunya memang tidak bisa disembunyikan. Mulutnya menghela nafas panjang dengan kepala yang sedikit miring ke arah samping.


Axel segera menghampiri wajah polos itu, meraih tangan Amira mengusapnya dengan lembut.

__ADS_1


"Aku takut Mas ... tapi Aku nggak tahu alasannya apa karena tiba-tiba aja Aku merasa kayak gini?" ungkap Amira.


Jantungnya terus berdegup tidak berirama normal. Perasaannya juga merasa takut.


"Nggak papa Sayang, mungkin itu cuma perasaan Kamu aja." ucap Axel tersenyum manis.


"Amira ...." panggil Anggoro dari atas ranjang.


"Iya Pa ... ada apa?" sahut Amira menoleh kearah Papa mertuanya.


"Papa mau banget nih dikupasin apel sama Kamu ... mau nggak?" ucap Anggoro memohon gemas menunjukkan ekspresi teraneh sepanjang Axel melihatnya. Bahkan Dia sampai mengerutkan kening juga hidung dan bibirnya.


"Mah, ini Axel nggak salah lihat kan?" ucap Axel kepada Mila.


Mila hanya tersenyum lebar, tidak ada kecemburuan di dalam hatinya. Sebab Suaminya malah meminta tolong kepada Amira bukan pada Dirinya saja. Padahal sedari tadi Mila sudah ada disini.


"Papa Kamu lagi mau manja sama mantu kesayangannya Xel." jawabnya.


"Lah, masak?" tanya Axel terkejut dibuatnya.


Amira tanpa ragu beranjak dari tempat duduknya. Mengambil satu buah apel dari dalam kantung. Tidak lupa membawanya ke tempat wastafel untuk dicuci lebih dahulu.


Tidak lama Amira kembali, duduk di sebuah kursi berdekatan dengan Anggoro. tangannya sangat telaten saat mengupas kulit apel.


Kemudian memotongnya menjadi beberapa bagian. Tetapi baru saja ingin menyuapi, potongan apel itu disambar lebih dulu. Hingga akhirnya malah masuk ke dalam mulut Axel.


"Loh kok malah dimakan sama Kamu?" protes Anggoro.


Anggoro hanya mengerucutkan bibirnya saja, tentu saja Dia tahu itu hanyalah alasan asal yang Axel lontarkan.


"Nih buat Papa." ucap Amira bersiap menyusulkan satu potongan lagi.


"Hap!" secara cepat Anggoro melahap potongan apel itu sebelum Axel merebutnya lagi.


Mereka semua tertawa lepas menikmati keakraban ini di dalam ruang inap pemilik Rumah Sakit.


Hingga pada saatnya Amira harus menghentikan tawa di bibirnya. ketika mendengar panggilan video call dari ponselnya.


"Siapa yang telvon?" tanya Axel melihat Amira belum menggeser ikon terima dan malah memperhatikan layar ponselnya saja.


Amira membalikkan layar ponselnya hingga Axel bisa melihatnya sendiri.


"Mama Eva telepon kamu? ya udah nggak usah diangkat!" kata Axel.


Amira mengangguk setuju, kemudian membiarkan panggilan dari Eva begitu saja.


*

__ADS_1


Padahal suasana di rumah Demien sedang tidak baik, karena mereka tengah disekap didalam sana.


Demien dalam posisi terduduk di atas kursi dengan tangan yang diikat. Menyaksikan wajah jahat Eva dan Dargo sedang mengawasi dirinya.


"Gimana nggak diangkat juga?" tanya Dargo melihat Eva terus saja mengumpat seakan ingin membanting ponselnya.


"Nggak Mas! emang itu anak kurang ajar banget! Dia nggak tahu apa kalau Papanya lagi Kita sekap." sungut Eva melirik sinis ke arah Demien.


"Jadi ternyata Eva selingkuh di belakang Aku? dan laki-laki ini sudah jadi selingkuhan Dia? Aku kira kejahatan Eva itu cukup sama Amira, tetapi ternyata Dia jauh lebih busuk?" batin Demien memainkan bola matanya. Sebab mulutnya juga disumpal menggunakan solasi.


"Kamu nggak usah buang-buang tenaga buat marah sih Sayang, udah Kamu kirim aja pesan terus foto wajah Bapaknya ... pasti bakalan dibuka!" kata Dargo memberi ide.


Eva mengangguk setuju. Kemudian membidik wajah Demien yang tampak memprihatinkan itu.


"Send!"


Eva menekan tombol kirim untuk memberitahukan kepada Amira.


*


Amira melihat layar notifikasi pesan yang berbunyi. Tampak Eva mengirimkan sebuah foto.


Amira membukanya meskipun sebenarnya malas sekali. Tetapi betapa terkejutnya Gadis itu melihat sang ayah dalam keadaan terikat.


"Astaga Papa!"


Amira langsung menekan kontak Eva untuk memanggil. Tingkahnya menjadi pusat perhatian bagi Mila, Anggoro dan juga Axel.


"Kenapa sekarang telepon ? tadi songong banget ditelepon nggak diangkat!" ketus Eva mengejek Amira.


"Ma tolong lepasin Papa ... tolong Ma jangan sakitin Papa Demien." pinta Amira memelas.


Ketika mendengar Amira memohon barulah mereka tahu apa yang sedang terjadi.


"Kamu loudspeaker HP Kamu biar Kita bisa ikutan denger." bisik Mila kepada Amira nyaris tak bersuara.


Segeralah Amira mengikuti perintah sang ibu mertua menekan pengeras suara agar mereka juga bisa mendengarnya.


"Bisa sih Saya lepasin Papa Kamu ... tapi cabut dulu laporan kamu di Kantor Polisi!" tegas Eva mengutarakan syaratnya.


Amira ingin sekali berkata 'ya' tetapi Gadis itu tahu pemegang kendali laporan itu adalah Mila bukan dirinya. Matanya melirik Mila penuh harap. Bahkan air matanya sampai keluar karena dilema.


Secara terpaksa Mila mengangguk, menyetujui permintaan Eva demi Amira untuk menyelamatkan sang Papa.


Amira tampak bahagia,


"Iya Ma Amira bakal cabut laporannya ... sekarang tolong Mama lepasin Papa!" ucap Amira kepada Eva.

__ADS_1


"Boleh! tapi buktiin dulu! Saya kasih Kamu waktu 30 menit! kalau sampai dalam waktu 30 menit Kamu belum kasih bukti untuk cabut laporan ... ya jangan salahin Saya kalau Papa Kamu kenapa-napa!"


"Nut!" Eva mematikan sambungan telepon dan menghidupkan timer.


__ADS_2