Rahasia Amira bersama Dosen Killer

Rahasia Amira bersama Dosen Killer
LDR


__ADS_3

"Aku dapet tugas pertukaran Dosen di luar kota selama satu minggu ini ...." ucap Axel menjelaskan arti perubahan wajahnya menjadi kesedihan.


"Terus?" tanya Amira belum memahami hal apa yang sampai membuat Axel seperti itu? Bukankah pertukaran Dosen adalah hal yang biasa dilakukan pada setiap universitas?walaupun tidak dipungkiri ada rasa kecewa dihatinya karena harus berpisah beberapa hari. Ditambah lagi Dia belum tahu tentang kepergian suaminya bersama wanita lain.


Wajah sedih Axel hilang seketika, melihat ekspresi Amira datar dan malah seperti kebingungan. Membuatnya tersenyum masam.


Amira sadar tentang perubahan sikap Axel seperti ini, Dia tahu secara tidak sadar sudah melukai hati suaminya. Diusapnya rahang tegas itu penuh kelembutan hati.


"Hey, ada apa sih? oke-oke Aku minta maaf Mas ... nah, biar aku tahu tolong jelasin ya?." ucapnya akhirnya. Dengan rasa cinta digerakkan menggunakan tangannya, Axel membalas usapan tangan Amira dan mulai tersenyum kembali. Meraih tangan lentik itu dan mengecupnya perlahan. Dia terus melakukan berulang-ulang. Hingga Amira tetap bersabar untuk menunggu.


"Aku minta maaf." ucap Axel tiba-tiba. Kali ini timbullah lagi kebingungan diwajah Amira. Secara spontan dia yang tidak mengetahui apapun, merasa gagal untuk tidak mempertunjukkan ekspresi semacam ini.


"Mas, tolong dong ngomong aja! Aku kayak orang oon ini!" sungut Amira.


Axel tergelak sebentar, kemudian wajahnya kembali serius lagi.


"Aku harus tugas selama seminggu kan?"ucapnya dan Amira mengangguk.


"Tapi, masalah besarnya bukan itu! jadi ...." Axel mulai menceritakan kembali tentang tugas yang diberikan padanya. Juga orang yang didapuk sebagai teman tak luput dari jalan cerita yang Ia katakan.


"Bruukk" Hentakan tubuh Amira yang lemas menabrak bahu kursi mobil. Dia sangat terpukul.


"Maaf Sayang ... Aku udah berusaha buat protes sama Rektor tapi sama sekali nggak mempan!" ujar Axel kesal.


Memutar kepalanya memperhatikan wajah Axel. Betapa tidak dirinya merasa sangat khawatir. Apalagi Dia juga tahu, tabiat buruk Elena telah banyak melakukan tipu muslihat untuk menarik perhatian suaminya.


Namun apa yang bisa mereka lakukan, Axel yang sudah berusaha untuk melakukan protes tidak mendapatkan perubahan yang diinginkan.


"Kamu bisa kan Mas jaga kepercayaan Aku selama ada disana?" ucap Amira sendu dengan mata nanar.


Axel memeluknya erat, Amira tidak bisa untuk terus menahan bendungan air yang sudah bersiap bahkan beberapa buliran sudah terjun membasahi pipinya.

__ADS_1


"Aku berusaha Sayang, Aku bakal cari cara biar nggak ada kontak fisik sama Elena." kata Axel untuk meyakinkan bahwa hatinya tidak akan goyah.


"Iya Mas Aku percaya sama Kamu." balas Amira, meskipun sulit ketika mengetahui watak buruk yang dimiliki Elena karena selalu memiliki cara licik.


"Tapi sebelum pergi Aku mau minta jatah boleh nggak?" celetuk Axel tiba-tiba. merubah tangisan Amira menjadi tertawa kesal. Bisa-bisanya dalam kondisi seperti ini suaminya meminta kegiatan mantab-mantab ditempat ini.


"Ya maaf kalau nggak sopan, habisnya mau gimana? soalnya tiga jam lagi Aku udah harus ke bandara." imbuh Axel sadar diri.


Tetapi sebagai wanita dan istri yang baik, Amira setuju saja malah bertindak nakal lebih dulu. Lihat saja tangan gemulainya mulai menanggalkan semua yang melekat pada tubuhnya. Hingga memancing ketegangan Axel dan langsung tancap gas dengan rudalnya. Isi kepala dan juga panasnya hati yang sedang dirasakan oleh Amira membuat ingin melampiaskan dengan hasrat panas ini.


Kegiatan mereka disaksikan dengan pemandangan alam indah dijadikan sebagai background.


Selayaknya diberi dukungan oleh alam juga kondisi sekitar yang sepi. Seakan membuat acara pembalasan dendam dengan perbuatan positif itu tidak terganggu. Jeritan nikmat dari cinta kedua insan yang sedang membara menjadi pengiring kegiatan panas mereka.


Satu jam kemudian, Amira menyandarkan tubuhnya di bahu kursi. Wajahnya terlihat lemas usai memberikan servis terbaik untuk suaminya. Sebelum mereka berpisah selama satu minggu.


"Kita pulang dulu ya nanti berangkatnya naik taksi aja." kata Axel dijawab Amira dengan anggukan kepala.


Mereka lebih dulu pulang ke rumah untuk mempersiapkan beberapa barang yang hendak dibawa Axel.


"Kamu yakin Axel nggak cinta sama istrinya? tapi kok tadi dia protes malah sampai ngajak Doni?" tanya Roby kepada Elena.


"Beneran Pa! Axel tu cuma karena terikat aja ... pokoknya kata percaya aja sama Elena." jawab Elena.


"Terus rencana Kamu waktu di sana mau ngapain? jangan aneh-aneh loh!" tegas Roby langsung, tidak ingin Elena terjerumus ke jalan yang salah.


"Tenang nanti kita cuma pura-pura aja Pa ... biar istrinya pak Axel marah terus dia minta cerai!" jawab Elena meyakinkan sang Papa.


"Tenang aja Pa ... ya maaf-maaf aja kalaupun Elena terpaksa pakai cara yang sedikit nakal, Elena harap Papa jangan marah." batin Elena penuh dusta.


"Yasudah kalau di sana hati-hati ya." balas Roby percaya begitu saja.

__ADS_1


Hingga akhirnya jam menunjukkan pukul 16.00. Elena yang sudah tidak sabar akhirnya memutuskan untuk berangkat ke bandara lebih dulu. Sedangkan Axel yang enggan berpisah dengan istrinya sengaja mengulur waktu untuk berangkat.


"Mas, ayo berangkat nanti telat loh." ajak Amira beberapa kali membujuk tetapi ada saja alasan Axel untuk menunda.


"Ntar dulu lah Sayang, 10 menit lagi." jawab Axel.


"Bener ya ? ya udah Aku pesen taksi dulu." ucap Amira bergegas mengoperasikan ponselnya memesan kendaraan umum yang bisa datang ke rumah itu.


Bagaikan seorang anak kecil yang enggan berpisah dengan ibunya. Axel terus saja menggelayutkan tangannya terus memeluk Amira tanpa berniat untuk melepaskan tubuh langsing itu.


Hingga jam terus berjalan. Amira tanpa merasa risih berjalan dengan tubuh yang tidak terlepas dengan tubuh Sang suami. menjadikan mereka pusat perhatian bahkan tak kecuali dengan sang driver. Yang mengira Axel adalah anak disabilitas.


"Yah sayang amat yak? padahal ganteng banget lagi." batin sang driver dari kaca spion depan melirik ke kursi belakang.


Mereka akhirnya berangkat ke bandara di waktu yang sangat mepet. Bahkan membuat eyeliner gusar menunggu di depan pintu utama bandara.


"Kok Axel nggak sampai-sampai sih? padahal kurang sepuluh menit lagi udah jam empat?" seru Elena melihat jam tangannya. Sebenarnya pesawat yang seharusnya mereka menaiki sudah berangkat. Mereka memang terlambat dan tertinggal. Ini semua karena Axel sengaja agar bisa menukar tempat duduk mereka yang pasti sudah dipesan duduk saling berdekatan menjadi terpisah. Dia juga sudah memesan tiket yang baru tanpa Elena tahu.


"Axel kok bisa telat sih!" protes Elena saat melihat kedatangan Axel bersama Amira turun dari sebuah taksi.


"Maaf tadi macet." kilah Axel. tentu saja arena tidak percaya karena ketika dirinya berangkat tidak ada tragedi semacam itu di sepanjang jalan.


"Ya udah yuk berangkat!" ajak Elena.


"Bentar!" jawab Axel melepaskan koper di tangannya. Elena melihat saja dan menunggu tapi betapa terkejutnya dia. ketika melihat tangan Axel memegangi ketua pipi Amira sedang melakukan kecupan mesra yang sangat membara di depan matanya. bahkan ucapan itu cukup lama sampai membuat kepala Elena mendidih. Hanya bisa melirik sinis seraya melipat kedua tangannya.


"Hati-hati ya Mas i love you." ucap Amira.


"Ilove u too Sayang, bye tunggu aku ya!" jawab Axel melambaikan tangannya.


"Udah deh nggak usah lebay sekarang kita boleh tiket pesawat dulu yang baru!" protes Elena.

__ADS_1


"Nggak usah! nih gue udah beli!" kata Axel ingin melakukan check in terlebih dahulu.


"Apa? tapi kapan Lo belinya?" seru Elena panik bin terkejut.


__ADS_2