Rahasia Amira bersama Dosen Killer

Rahasia Amira bersama Dosen Killer
Bab 23. Doni oh Doni


__ADS_3

Mobil mewah milik sang dosen melaju membelah jalanan hitam dengan kecepatan sedang. Terdengar nada ponsel miliknya membuat dasbor mobilnya bergetar. Untuk mengurangi resiko kecelakaan, segera Axel memasang sambungan earpiece ditelinganya. Agar lebih fokus melakukan aktivitas menyetirnya.


Dilayar lebar berukuran lima inci tertulis nama Doni.


"Hallo kenapa?" tanya Axel ketus memang seperti itulah kata sapa untuk sang teman.


"Elo, kalo gue telvon bisa gak sih ramah dikit aja." ketus Doni sebal.


Dari tempatnya Axel tersenyum simpul, kenapa pula Doni harus mempermasalahkan hal sekecil ini padahal Mereka sudah lama berteman, dan baru kali ini Doni bersikap seperti ini.


"Don, Lo kok jadi lebay sih? jangan-jangan lagi pms ya?" tuduh Axel dengan nada kekehan.


"Sembarangan kalo ngomong enggaklah! gue ini cowok tulen ya! enak aja" sangkal Doni tegas dengan bibir mencebik diakhir kata. Tetapi seperti cepatnya kilat, mimik wajah sebalnya berubah menjadi ceria.


"Eh, nongkrong yuk? udah lama kan kita gak ke angkringan Mbok Jumi kangen banget nih gue." ajak Doni kemudian, menuju tempat biasa yang memang sering Ia kunjungi bersama Axel.


"Boleh, tapi gue kasih kabar ke Mama dulu ya? soalnya lagi ada dirumah takut nungguin." jelas Axel dibalas Doni mengangguk dari sana.


"Eh, iya, iya ... yaudah gue siap-siap dulu ya!" ulang Doni ketika sadar mana tahu Axel perihal anggukannya itu untuk menjawab.


Dan terdengar suara bunyi satu hentakan tanda panggilan berakhir.


Kendaraan roda empat terhenti saat lampu lalu lintas berwarna merah menyala terang sebagai tanda berhenti. Waktu yang tepat untuk Axel mengoperasikan ponsel mencari kontak sang Mama.


"Hallo Sayang ada apa?" tanya Mila duduk di meja makan memasukkan sayuran kedalam wadah.


"Ma, maaf ya Axel kayaknya langsung pergi mau ketemuan sama Doni ... Mama masih ada dirumah kan?" tanya Axel seraya menginjak gas mobilnya karena lampu sudah berganti hijau.


Mila sedikit berfikir memutar bola matanya,


"Yaudah gak papa kok ... gak usah khawatir sama Mama, kalo nanti kamu pulang gak ada orang berarti Mama udah pulang ya?" jelas Mila santainya bahkan bibirnya tersenyum bahagia.


"Ya, Sayang hati-hati." seru Mila lagi menutup panggilan telepon, tangannya meletakkan ponsel dengan bibir tak berhenti tersenyum.


Dari sisi berlawanan,Anggoro mengernyitkan kelopak mata, biasanya Mila akan marah bila Axel pergi ketika dirinya sedang berkunjung. Namun, mengapa sekarang terlihat santai bahkan biasa saja.


"Mama, tumben gak marah?" tanya Anggoro memangku kepalanya menggunakan tangan, tatapan mata heran masih saja tak berubah untuk istrinya itu.

__ADS_1


Tanpa menghentikan kesibukan jemari lentiknya, walaupun kepala tertunduk namun terlihat sangat bahagia Mila tetap meneruskan membersihkan sayuran.


"Enggak dong Pa! kan sekarang Axel pamitnya sama Mama bukan sama Papa ... kalo dulu Mama marah itu karena Axel ngomong pamitnya sama Papa." jelas Mila akhirnya mengakui alasan dirinya dulu sering menggerutu.


"Oh, jadi gitu? terus Mama kenapa gak bilang dari dulu aja? kan bisa kita omongin." tukas Anggoro sedikit menyesalkan ketertutupan Mila tentang isi hatinya.


"Hehe maaf Pa ... habisnya Mama masih gengsi maunya Axel yang lebih dulu deketin Mama ... eh tapi ternyata susah banget bikin kutub cair." seru Mila melemparkan gagang sayuran kangkung karena kesal bila teringat kejadian acuhnya Axel pada dirinya dulu.


Perkataan Mila membuat Anggoro tertawa lepas.


"Mah, gak boleh gitu lah ... Kan Mama yang lebih tua harusnya ngalah dong, malah sama-sama keras kepala." katanya.


Mila pun ikut tersenyum menertawai tingkahnya sendiri. Hingga akhirnya malah ditemani Anggoro sambil berbincang sesekali bergurau seperti baru saja.


*


Di tempat angkringan dekat dengan sbpu milik pemerintah, Axel lebih dulu tiba ditempat ini.


"Eh, Pak Dosen ganteng akhirnya dateng juga, lama gak nongol Pak kemana aja?" sapa Mbok Jumi melihat pelanggan yang telah absen satu minggu tak terlihat berkunjung.


"Hehe, maaf Mbok kemarin banyak acara,"


"Iya Mbok habis sibuk nikah sama malam pertama." sela Doni tiba-tiba muncul membuat Axel terkejut kemudian acuh.


"Loh,udah nikah ta? lha kok gak undangan sih Mas?" tanya Mbok Jumi tadinya sibuk memberikan arang di tungku seketika duduk untuk bertanya.


Walaupun Doni membongkar rahasia pernikahannya, sama sekali Axel tak merasa marah. Karena Mbok Jumi sudah dianggap sebagai orangtunya sendiri. Sebab, angkringan miliknya sering memberikan makanan gratis untuk para mahasiswa. Dan Axel adalah salah satu diantaranya juga.


"Nikahnya dadakan Mbok, udah kayak tahu bulat aja ... mana katanya mau cuma mau nikah kontrak lagi!" jelas Doni melahap bakwannya hangat yang baru saja diangkat.


"He? nikah kontrak? lho, lho gak bahaya ta? jangan to Mas Axel itu kan dosa besar." tegas Mbok Jumi dengan gelengan kepala.


Terdengar suara berasal dari kaki Axel yang sengaja menendang kaki Doni. Akibatnya Doni hampir tersedak.


"Eh, gak lucu nanti kalo gue mati gimana!" sungut Doni setelah bersusah payah menelan gigitan bakwan yang belum dikunyah sempurna.


"Lo, jangan seenaknya kayak gitu lah, mentang-mentang tadi gue gak marah ... eh, malah makin ngadi-ngadi perkara bilang nikah kontrak segala!" balas Axel menyudutkan bola matanya sehingga membentuk tatapan mata sinis.

__ADS_1


"Lah, Gue kayak gini justru perduli sama Lo Xel ... Lo kan pengajar gak boleh lah pakai acara nikah kontrak ... tuh, Mbok Jumi aja bilang dosa, ya kan Mbok?"


"Bener Mas ... kenapa pakai nikah segala kalo emang gak serius? hati wanita jangan di mainin lah Mas ... kasihan no." tukas Mbok Jumi, aktivitas tangannya bergantian mengelap piring basah dari cucian piring.


"Tapi, kita gak saling cinta Mbok ... terus justru alasan kasihan jadinya Axel nikahin Dia karena Ibu tirinya itu sumpah jahat banget Mbok." jelas Axel menceritakan alasan dirinya menikah dengan wajah serius berharap Mbok Jumi memahami masalah pernikahannya dengan Amira. Tetapi wajah Mbok Jumi datar malah terkesan menanggap alasan Axel sebagai angin lalu.


"Nah, itu tahu ... Mas, nih Mbok kasih tahu ya? cinta itu witing tresno jalaran soko kulina yang artinya cinta itu ada karena terbiasa." jeda Mbok Jumi sejenak sibuk menata piring bersih kedalam baskom kering.


"Jadi, gak usah mikirin cinta nanti juga dateng sendiri Mas, udah deh percaya sama kata-kata Mbok ini ... pokoknya jangan sampai Mas Axel nikah kontrak, apalagi kalian udah resmi nikah kan?"


Doni mengangguk yakin bahkan mengulang secara berkali-kali.


"Eh, gue yang ditanya Bego! bukan Lo!" protes Axel, Doni hanya meringis membalasnya.


"Tuh, Pak Dosen killer dengerin tuh nasehat Mbok Jumi ... Lo tega nyakitin hati orang yang udah sakit? apa gak makin kasihan?" imbuh Doni.


Hembusan nafas berat Axel susul dengan meminum teh manis dalam gelas, merasakan aroma manis membawa fikirannya terbayang wajah Amira. Benda dan bentuk memang berbeda tetapi meninggalkan citra rasa yang sama.


Diputarnya gelas itu kekanan dan kekiri, anehnya wajah Amira terlihat semakin jelas dimatanya.


Apa yang Axel rasakan masih abu-abu. Rupanya laki-laki itu masih bimbang dengan apa yang hendak diputuskan.


"Kalo Gue cinta tapi ternyata Amira gak cinta gimana?" batin Axel menerka-nerka isi hati istrinya. Padahal bukankah lebih baik bertanya secara langsung saja. Tetapi itulah kekurangan sang Dosen memilih diam ditemani semua perkiraan yang selalu dia takutkan.


*


Sedangkan dirumah, Mila sibuk membersihkan rumah hingga akhirnya tak sengaja menemukan bolpoin diatas lantai.


"Hem, pasti Axel gak sadar kalo pulpennya jatuh ... ah, aku taro dikamarnya aja kali ya?" guman Mila bergegas untuk kekamar.


Sayangnya surat kontrak pernikahan Axel tergelak diatas meja tanpa tertutup apapun.


Mila hampir menaruh alat menulis itu tepat diatasnya, tetapi bola matanya melebar membulat sempurna sekarang.


Dengan cepat tangannya meraih benda putih dengan banyaknya tulisan, membaca setiap kalimat demi kalimat.


"Jadi, Mereka mau nikah kontrak?" seru Mila tak percaya dengan kenyataan yang terjadi.

__ADS_1


__ADS_2