
"Kok gara-gara Saya sih Pak ... emangnya kenapa?"
Jelas saja Ani tidak terima. Setelah dirinya rela mengangkat tubuh Elena sampai ke dalam mobil. Lalu sekarang Doni malah menuduhnya seperti ini.
"Kamu ngangkat orang udah macem ngangkat hewan aja sih!" seru Doni memberitahu alasan mengapa Dia berkata seperti itu.
"Oh jadi karena itu? habisnya masak Saya mau gendong kayak yang dilakuin para cowok? Saya kan perempuan nanti dikiranya Saya lesbian lagi." jelas Ani sungguh di luar ekspektasi Doni. Sehingga membuat laki-laki itu tertawa lebar. Baru saja ingin menanggapi pernyataan Ani. Obrolan Mereka harus terhenti saat terlihat papan Rumah Sakit terpampang nyata menyambut kedatangan mereka.
Mobil Doni langsung menuju instalasi gawat darurat. Ruangan yang memang digunakan dalam keadaan genting.
Seorang Perawat sudah bersiap menyapa kedatangan Mereka. Sebab Mereka juga tahu jika ada kendaraan yang datang berarti disana ada pasien.
"Maaf Pak, bisa beritahu Kami dimana pasiennya?" tanya Sang perawat laki-laki.
"Ini ada di tengah, tolong ya Mas Suster katanya Dia ngeluh pusing habis di balik sama temen Saya."
Kata-kata tabu yang menyebabkan mata sang perawat berkerut tak mampu memahami arti kata balik yang dikatakan oleh Doni.
"Ah, sakit Ani!" keluh Doni ketika kakinya diinjak oleh Ani.
"Habisnya Bapak sempat-sempatnya malah bercanda, gak lucu tau Pak mainin nyawa orang!" sahut Ani mengerucutkan bibirnya dengan bola matanya yang menyudut kearah Doni.
Dan datanglah Axel dan Amira.
Melihat Elena sudah di atas ranjang Rumah Sakit dan sedang di bawa keruang tindakan.
"Axel aku takut, tolong temenin Aku sampai kedalam ...." pinta Elena memelas agar Axel bersedia.
"Doni aja yang temenin Kamu, aku nggak enak sama Istriku!" sahut Axel menolak tanpa ragu.
"Amira Kamu nggak papa kan kalau Axel temenin Aku kedalam?"
"Aku tahu Amira orangnya polos dan nggak tegaan ... pasti Dia mau nurutin permintaan Aku ini." batin Elena memanfaatkan kelembutan hati Amira.
"Ya udah Mas nggak papa Kamu temenin aja, Aku tunggu di luar ya." kata Amira mengizinkan.
"Yes! bener kan! Dasar bego banget jadi cewek, kalau kayak gini sih Gue bakalan terus pakai cara muka dua buat ambil Axel dari itu cewek!" batin Elena merasa menang.
__ADS_1
"Tapi Sayang ... Aku emang nggak mau nemenin Elena ... kenapa juga harus Aku?" rengek Axel sama sekali tidak menginginkan untuk menemani Elena.
"Sebentar aja Mas ... kan kasihan Elena lagi sakit," terang Amira mengecup mesra tangan Axel. Sebagai tanda besarnya rasa percayanya untuk sang suami.
Melihat penolakan Axel yang tidak akan berubah, Elena mencoba memaksa dengan cara menarik kemejanya. Ranjang berjalan itu memudahkan Elena untuk membawa Axel ikut bersamanya.
Membuat tubuh Axel yang mulai bergerak meninggalkan Amira di luar. Terlihat Amira menganggukkan kepalanya dengan senyuman manis. Hingga akhirnya pandangan Mereka harus terhalang karena pintu telah ditutup.
Hati Axel saat ini sedang berkecamuk antara kasihan dan merasa bersalah.
Ingin rasanya berlari namun Elena masih memegangnya erat kain kemejanya. Karena tidak ada pilihan lain Axel terpaksa berdiri hingga menunggu pemeriksaan berakhir.
*
Di luar Amira duduk di sebuah kursi ditemani oleh Ani dan Doni.
"Amira maaf nih sebelumnya, bukannya Aku ikut campur ya ... tapi nggak baik lho kalau Kamu terus kayak gitu sama Suami Kamu." kata Ani menyadarkan ada bahaya yang mengancam Amira bila terus melakukan hal ini.
"Iya Aku tahu kok, tapi kan Aku nggak tega buat nolak orang yang lagi sakit ... apalagi tadi Aku lihat tangan Elena keluar banyak darah." terang Amira menjelaskan alasannya mengapa dirinya berbuat demikian.
"Iya sih, tapi ada yang aneh loh serius ... waktu Aku gendong kok Aku nggak mencium bau amis ya? harusnya kalau darah tuh ada bau gimana gitu kan?" ungkap Ani saat membawa Elena seharusnya tercium aroma darah. Namun hidungnya tidak mencium aroma amis sama sekali.
"Tapi kan tadi Aku lihat ada luka ditangannya?" balas Amira ingin curiga namun ada bukti ditangan Elena.
"Yaelah luka segede upil nggak mungkin lah bisa bikin darah sampai ke baju segala." balas Ani berfikir menjalankan logikanya.
"Ada yang lebih aneh lagi tahu ... sebenarnya ...."
"Apa?" timpal Amira dan Doni secara bersamaan menanggapi pernyataan Ani yang belum sempurna itu.
"Aku kasih tahu tapi jangan nyesel ya Amira." ucap Ani lebih dulu memberikan peringatan kecil.
Amira hanya mengangguk saja dan memasang wajah antusiasme.
"Kayaknya Elena bohong deh kalau Dia habis dirampok ... coba deh Kalian bayangin, mana ada apartemen habis ada penjahat tapi nggak ada garis Polisi? harusnya kan ada Polisi yang ngamanin itu tempat? kan aneh!"
"Terus korbannya nggak dimintain saksi di kantor malah pingsan di apartemen? yang lebih bikin Gue bingung lagi kan kalau perampokan udah pasti ngacak-ngacak rumah ... tapi tadi Gue lihat apartemennya rapi banget loh ... bahkan ada buku yang masih kebuka di atas tempat tidur."
__ADS_1
"Prok, prok, prok, " suara tepuk tangan berasal dari tangan Doni memberikan apresiasi betapa telitinya pandangan Ani.
"Bapak kenapa sih tepuk tangan? udah kayak orang menang lomba 17-an aja!" sungut Ani kepada sang kekasih.
"Lah! Amira mana Pak?" Ani melihat kursi duduk milik Amira telah kosong.
"Brakkk."
Dan terdengar suara pintu tindakan yang terbuka saat Amira mendorongnya secara keras.
"Ini sih udah keterlaluan banget ternyata Elena emang sengaja mau rebut Mas Axel dari Aku! nggak! nggak boleh Aku harus berbuat sesuatu!"
Elena sedang menggenggam tangan Axel. Ketika tubuhnya sedang dilakukan pemeriksaan.
Dengan nafas memburu dada bergemuruh Amira menghampiri dan memaksa Elena untuk melepaskan tangan suaminya.
"Amira kenapa Kamu lepasin tangan Aku?" tanya Elena dengan wajah pura-pura polos.
"Nggak papa Nona Elena, takut Mas Axel cinta sama Kamu ... maaf ya Aku berubah pikiran, gimana kalau Aku gantiin aja?"
Tanpa menunggu lagi Amira menggenggam erat tangan Elena, kemudian tangan kanannya memegangi tangan Axel. Pemandangan yang menggelitik perut ketika Mereka di ruang tindakan sambil bergandengan tangan satu sama lain.
Axel sampai tak bisa berucap sibuk menekan perutnya yang bergetar karena tertawa.
"Sumpah ya Sayang, Kamu ini ada-ada aja sih." katanya.
Amira justru menyandarkan manja kepalanya di bahu sang suami. Memutar keadaan karena sekarang Elena lah yang sedang dilanda cemburu.
"Maaf wali dari pasien ini siapa ya? tolong tebus obatnya di apotek farmasi ... bisa?" Perintah seorang Dokter yang selesai memeriksa Elena dan menyerahkan secarik kertas berisikan resep obat.
"Kamu aja ya Mas? Aku yang nemenin Nona Elena di sini!" pinta Amira.
Tentu saja secara senang hati Axel tersedia dan membawa resep itu menuju tempat yang disebutkan tadi.
"Udah deh Amira nggak usah sok baik sama Aku!" ketus Elena akhirnya membongkar kedoknya sendiri.
"Nggak kebalik?" tantang Amira
__ADS_1
"Kan Nona Elena sendiri yang udah berani bohongin Kita semua?" imbuh Amira lagi.