
Melihat mata keranjang sedang memperhatikan tubuh moleknya. Seketika Angel berlari kedalam kamarnya.
"Astaga!" Angel menutup kembali pintu kamar dengan nada yang terengah-engah. Jantungnya berdegup kencang. Dirinya kembali bergidik saat mengingat tatapan mata mesum Dargo padanya.
"Mama kok bisa sih jatuh cinta sama orang kayak gitu?" ucapnya lagi.
"Aduh mana perutku laper banget lagi, tapi kalau mau keluar kan takut juga." imbuh Angel ketakutan. Niat hati ingin mengambil makanan demi mengisi perut menjadi tertunda.
Apalagi hari sudah larut, Angel yang terbiasa makan cemilan semenjak ada Dargo tidak bisa lagi untuk melakukannya.
"Mas Dargo kemana ya? kok gak ada?" seru Eva keluar dari kamar mandi, melihat ruangan kamar kosong tidak ada siapapun disana.
Baru saja ingin menyusul keluar Dargo dari luar membuka pintu.
"Darimana Mas?" tanya Eva.
"Biasa dari luar mau lihat isi rumah ini aja." terang Dargo.
"Menurut Kamu gimana Mas? mewah banget kan rumah ini?" kata Eva membanggakan rumah mewah hasil dari merampok.
"Iya bagus kok! tapi surat-suratnya udah Kamu pegang kan? jangan sampai enggak loh, percuma kan nempatin kalau nggak ada suratnya." jelas Dargo sebenarnya memancing Eva untuk menunjukkan dimana surat itu berada.
"Enggak kok masih ada di lemari kamar tuh ... tadi aku taruh disana." jawab Eva melakukan kesalahan besar karena telah memberitahukan letak surat itu kepada Dargo.
"Oke ada di dalam lemari, Gue tahu sekarang!" batin Dargo senang.
"Udah malam istirahat yuk! badanku juga capek banget." ajak Dargo menarik tubuh Eva.
Angel menyelinap keluar, dia membuka celah pintu untuk melihat keadaan.
"Ah,aman!"
Angel segera berlari agar tidak bertemu dengan Dargo lagi. Secepat mungkin meraup beberapa camilan juga makanan dalam toples dibawa naik ke lantai atas menuju kamarnya.
Tidak terbayangkan oleh Angel harus bersusah payah seperti ini hanya untuk melakukan senam mulut. Hal yang pernah dilakukan Amira dan Mbok Darmi saat mencari cara hanya untuk mengisi perutnya tanpa sepengetahuan dirinya dan juga Eva. Sesuai hukum alam kehidupan bagaikan roda yang berputar kini Angel merasakan penderitaan yang pernah dialami oleh Amira.
*
__ADS_1
Keesokan pagi harinya.
Suasana di apartemen cukup membuat siapapun tersentuh. Amira dan Mbok Darmi tidur di atas ranjang. Sedangkan Axel dan Demien tidur di bawah menggunakan kasur lantai. Sebenarnya terdapat dua kamar di dalam apartemen ini. Tetapi karena mereka ingin tidur bersama jadi dipilihlah situasi semacam ini.
Mbok Darmi terbiasa bangun pagi ketika matahari masih berwarna jingga kebiruan. Bagaikan saklar on off matanya langsung terbuka.
Dia bergegas untuk ke dapur melakukan tugasnya untuk membuat makanan.
"Eh iya yah kan kita baru pindah mana ada sayuran." ujarnya.
Apartemen yang sebelumnya tidak dihuni mana mungkin terdapat stok sayuran ataupun beras di dalam wadah. Beberapa saat Mbok Darmi terdiam dan mulai kebingungan.
"Mbok Darmi nyariin apa?" tanya Amira ternyata sudah bangun melihat Mbok Darmi berdiri mematung di depan dapur.
"Ini Non, Mbok bingung mau bikin sarapan tapi nggak ada apa-apa ... mau keluar juga nggak bisa naik lift!" sahut Mbok Darmi.
"Oh gitu ya udah yuk belanja sama Aku aja!" ajak Amira.
Untuk pertama kalinya berbelanja. Amira sengaja melalui jalan tangga bukan melewati lift lagi. Mbok Darmi sibuk menghafalkan rute jalanan agar tidak merasa bingung ketika harus keluar sendirian.
"Tuh kan bener Mereka pergi belanja." ucap Demien.
"Hehe iya Pa," jawab Axel sempat berteriak mengira Amira dan Mbok Darmi pergi atau diculik seseorang. Bahkan kehebohan itu harus mengganggu tidur Demien sampai terbangun.
"Nih karena baru pertama kali kita tinggal disini, sarapannya beli dulu ya baru deh besok atau nanti siang kita masak." ujar Amira mengeluarkan nasi uduk dari dalam kantong plastik.
Mereka hanya menganggukkan kepalanya saja, tidak ada yang mempermasalahkan menu makan pagi ini malah sibuk menikmatinya.
*
Di Kampus sedang diadakan rapat bulanan. dari Rektor, Dekan, Ketua jurusan, Ketua program studi (kaprodi), dan semua Dosen sedang berkumpul. Satu-satunya Dosen yang tidak ikut hadir hanyalah Axel saja.
"Pak Doni dimana Pak Axel? Saya lihat dia nggak pernah ikut acara pertemuan? bahkan acara bulanan yang cuma sebulan sekali aja juga nggak datang kemana Dia?" tanya Rektor.
"Sibuk pacaran kali Pa!" celetuk Elena. Gadis itu berani menyela karena Rektor bernama Roby adalah Ayahnya sendiri.
"Elena tolong jangan ikut campur! Saya izinkan Kamu ikut rapat tapi nggak boleh berisik atau ngomong yang aneh-aneh!" tukas Roby kepada Putrinya.
__ADS_1
Elena mencebik bibirnya kemudian memutar kedua bola matanya kesal dan mengalihkan wajahnya.
"Maaf Pak, tadi Saya udah kasih kabar ke Pak Axel ... Dia bilang mau datang tapi mungkin agak terlambat." jawab Doni santun.
Elena sudah merangkai cerita baru untuk membuat hubungan Amira dan Axel menjadi terpecah belah.
Roby melihat beberapa laporan laporan dalam kotak saran berisi kesan dan pesan yang ditulis oleh para mahasiswanya demi kemajuan Kampus. Dan itulah kesempatan Elena menulis beberapa kekurangan Axel setelah sudah menikah.
"Bagus! ayo Pah baca aja semuanya, biar Papa tahu kalau semenjak Axel nikah dia udah nggak kompeten lagi buat jadi pengajar."
batin Elena puas. wanita itu tahu Axel membuat sebuah rahasia yang menyembunyikan identitas pernikahan dari semua warga kampus termasuk juga Rektor dan beberapa dekan lain.
Mata Roby terlihat membaca dengan sesama isi tulisan. Memang kebanyakan semua isi tulisan mengenai keluh kesal tentang Axel.
Lelaki paruh baya itu menghela nafas panjang. Dan akhirnya sosok yang sedang menjadi pusat perhatian datang kedalam ruangan.
"Selamat pagi Pak Maaf saya terlambat." ujar Axel membungkukkan badannya kepada semua orang.
"Pagi." jawab Roby singkat.
Axel yang belum sadar tenang tenang mencari tempat duduk. Kebetulan tempat duduk di sebelah Doni kosong menjadi tujuannya.
"Pak Axel bisa anda jelaskan kenapa pada bulan ini Anda sering alfa tidak memberikan izin dan pergi begitu saja?" tanya Roby.
Jelas saja pertanyaan itu mampu membuat Axel menjadi gugup. Dia tampak membenarkan posisi duduknya yang sama sekali tidak memiliki masalah.
"Emh, itu Pak ... kebetulan bulan ini saya banyak acara mendadak." jawabnya.
"Tapi Saya janji, kejadian seperti ini tidak akan terjadi lagi." imbuhnya lagi.
"Terus Saya juga baca ada salah satu tulisan mahasiswa katanya Anda tertangkap basah ciuman sama salah satu murid?" tanya Roby lagi.
"Deg!"
Semua orang terkejut terlebih lagi dengan Elena. Ternyata ada mahasiswa yang melaporkan kejadian itu dan memasukkannya di dalam kotak saran. Walaupun kenyataannya permasalahan itu sendiri sudah berakhir. Bagaikan nasi sudah menjadi bubur pesan yang sudah dimasukkan itu tidak bisa lagi ditarik keluar.
Axel menghirup nafas dalam-dalam, haruskah dia berkata jujur?
__ADS_1