Rahasia Amira bersama Dosen Killer

Rahasia Amira bersama Dosen Killer
Surat Perjanjian.


__ADS_3

Pernyataan Mila barusan membuat Axel terperangah.


"Mama mau cucu?" tanya Axel sekali berharap salah dengar.


"Iya! ih ... Anak Mamah pinter ternyata ... padahal Mama belum ngomong kayak gitu tapi udah bisa nebak!" tukas Mila santai sampai mengedipkan matanya berkali-kali.


Belumlah selesai Axel mencerna, menerima perkataan sang Mama. Tangan Mila sibuk mengeluarkan sesuatu dari dalam tas.


Kemudian meletakkan secarik kertas itu diatas meja.


"Ini apa Ma?" tanya Axel.


"Baca aja!" jawab Mila singkat seraya tersenyum simpul.


Secara hati-hati Axel kadang melirik sang Mama, dengan tangannya meraih kertas itu. Mata Amira yang sedang duduk disamping suaminya ikutan melirik.


"Ha? Ini serius?" seru pasangan dingin bersama setelah membaca isi surat yang diberikan oleh Mila.


Mila hanya mengangguk pasti. Bibirnya dipaksa menutup, melihat wajah lucu Mereka berdua.


"Perjanjian tentang meminta keturunan berdasarkan kekurangan yang dimiliki karena ingin segera menimang cucu"


"Akan ada hadiah yang disediakan sebagai apresiasi ungkapan terimakasih serta rasa syukur"


"Saya Milla Fauziyah bersedia memberikan satu unit Perusahaan berserta apapun yang terkandung didalamnya untuk Axel dan Amira"


"Saya yang kehilangan rahim menyebabkan tidak bisa memiliki keturunan berharap Kalian memberikan bayi untuk pelipur rindu, sebagaimana yang telah Saya rasakan sejak dulu."


Setelah membaca isi surat Axel menoleh ke arah Amira dan Amira juga menoleh kearah sang suami.


"He ... No comen deh Mas." tukas Amira pasrah dengan senyuman aneh dibibir tipisnya.


"Gimana udah dibaca semua kan?" sela Mila sekalipun tahu Mereka telah usai, tetap saja basa-basi.


"Ini gak harus kan Ma?" tanya Axel berharap ada keringanan.


Wajah Mila semula ceria, berubah menjadi sendu. Bibir mengerucut serta menundukkan kepalanya.


"Permintaan Mama terlalu berat ya buat Kalian? sampai cuma minta cucu aja gak diturutin ... sedih banget Mama." keluh Mila memainkan kain penutup meja sebagai pelampiasan.


Jelas saja Amira merasa bersalah, sekaligus tak tega.

__ADS_1


"Mama, Kita mau kok!" seru Amira tanpa berfikir panjang. Seketika Axel menghentikan tatapan matanya diwajah sang Istri.


"Mampus! Amira Kamu ini ngomong apa sih! Ya Tuhan bener-bener deh ini anak!" umpat Axel memaki Amira dalam hati lewat tatapan matanya.


"Serius? Kamu gak bohong kan?" sorak Mila bahagia seketika mengangkat tubuhnya yang lemas tadi.


"Iya Ma ... jadi, Mama gak usah sedih lagi ya?"


Mila mengangguk.


Karena Amira sudah memutuskan untuk menyetujui. Dengan sangat pasrah Axel menyandarkan bahunya dikursi. Menahan tangan untuk memijat pelipis dahinya yang sedang bergejolak dengan gelombang denyutan.


"Kok pada diem? ayo tanda tangan dulu!" tukas Mila menghardik secara halus. Kurang puas masih menyodorkan pulpen kepada Mereka.


Hembusan nafas pasrah tepaksa menggerakkan tangan untuk menulis tanda tangan dikolom yang sudah dipersiapkan. Axel mendapatkan urutan pertama dan kini giliran bagi Amira.


"Udah kan?" tanya Mila memastikan isi kolom.


Mata Mila semakin cerah bersemangat,


"Terimakasih Sayang-Sayangku." seru Mila amat bahagia karena apa yang diinginkan akan segera terwujud. Berkebalikan dengan Axel dan Amira isi fikiran Mereka sedang tidak baik-baik saja sekarang.


Malam semakin larut, jam menunjukkan pukul sembilan malam. Setelah usai acara makan malam. Axel dan Amira berpamitan bahkan sekarang telah ada didalam mobil sedang diperjalanan menuju Rumah.


"Sekarang Kita harus gimana?" tanya Axel tiba-tiba kembali membahas permintaan Mila.


"Ya, gak tahu Pak ... jangan tanya sama Saya!" ketus Amira.


Hingga Axel menginjak rem hampir membuat Amira terbentur dasbor. Masih untung mengenakan seatbelt sebagai pengaman.


"Lah, enteng banget ngomongnya? Kamu lupa? ini semua gara-gara Kamu Amira!" ketus Axel tanpa sadar menyalahkan Amira. Pernyataan Amira barusan memang memancing amarahnya.


Amira tertunduk, seperti yang telah Axel katakan. Semua yang terjadi memang salah dirinya.


"Maaf! Saya cuma gak bisa lihat Mama sedih." jelas Amira lirih.


"Tapi, Kamu gak bisa gegabah Amira! rencana Kita kan cuma mau nikah kontrak tapi gara-gara perjanjian ini! sekarang Kita harus gimana?" tegas Axel meminta Amira untuk mencari jalan keluar walaupun kenyataannya malah terjebak dijalan buntu.


"Saya gak lupa Pak jadi gak usah dibahas perkara nikah kontrak!" ketus Amira, bibirnya bergetar menahan sakit hati ingin menangis serendah itukah pernikahan Mereka. Sampai Axel memarahi dirinya seperti ini.


"Kalo sampai Kamu hamil terus punya Anak? dan perjanjian kontrak udah kita buat? kamu mau besarin Anak itu sendiri?" seru Axel, laki-laki dingin yang sedang marah besar sebenarnya mengkhawatirkan Amira dimasa mendatang. Bila nanti Mereka berpisah Axel tak tega Amira merawat anak itu sendiri. Andai saja Axel bisa merangkai kata lebih bijak dan lembut, mungkin Amira tahu perihal isi hati laki-laki ini.

__ADS_1


Tetapi karena Axel sendiri memiliki banyak kekurangan dalam menilai perasaan. Serta nol pengalaman dalam menjaga hati seorang wanita.


"Apa Bapak gak bisa cinta sama Saya?" ucap Amira tiba-tiba.


"Bapak gak mau menjalin hubungan pernikahan selamanya sama Saya?" imbuh Amira lagi.


Pertanyaan yang dilontarkan Amira membuat Axel diam seribu bahasa.


"Jawab Pak! jangan diam aja!" desak Amira.


Bagaimana caranya mengungkapkan apa yang sedang dirasakan, sedangkan Axel sendiri kebingungan menilai jati dirinya.


"Amira, Saya gak tahu apa itu cinta? apa itu kasih sayang! maaf tapi Saya gak paham akan perasaan itu!"


Amira menoleh, melihat wajah Axel sesedih ini sedikit membuatnya paham atas pengakuan sang Dosen.


"Mau Saya ajarin Pak?" tawar Amira tanpa ragu. Karena sejak hidup bersama Amira bisa menilai kepribadian sang suami seperti apa. Sebenarnya Axel adalah tipikal laki-laki yang baik dan bertanggung jawab. Hanya saja Axel perlu dituntun agar mengerti.


Tiba-tiba Axel menyunggingkan senyuman tipis dibibirnya.


"Saya ini Dosen Kamu loh? yakin mau ajarin Saya?" tanyanya. Gemas sekali saat Axel melihat wajah polos Amira yang bahkan sedang terlihat ketakutan seakan berjuang untuk memberanikan diri.


"He, ya Bapak mah Dosen kan bukan pakar cinta!" balas Amira membuat Mereka berdua tergelak.


"Saya bakalan buat Bapak jatuh cinta sama Saya!" seru Amira yakin.


"Caranya?" tanya Axel penasaran cara apa yang akan digunakan Amira untuk membuat dirinya bisa mencintai.


"Rahasialah!" jawab Amira singkat semakin membuat Axel gemas dan rasa penasaran semakin tertumpuk.


"Maaf ya Amira gara-gara tawaran Saya! Kamu harus terikat sama Saya!" sesal Axel andai saja waktu itu tak memberikan penawaran nikah kontrak dan memilih menolak saja.


"Gak bisa Pak! karena semua ini udah jadi takdir Saya dari Tuhan!"


"Mungkin Bapak berani nolak tapi enggak untuk Mama Eva yang punya hutang segunung ... pasti Dia bakal suruh Saya goda atau pura-pura bunuh diri biar Bapak mau nikah sama Saya!" jelas Amira.


"Iya sih Kamu bener!" setuju Axel.


"Pak ...?" panggil Amira lagi.


Axel menoleh.

__ADS_1


__ADS_2