
"Saya yakin bisa bikin Bapak jatuh cinta sama Saya!" pernyataan Amira selalu terngiang-ngiang di dalam fikiran.
Setelah mengatakan akan membuat suami mencintai dirinya, senyuman manis terpancar jelas diwajah keduanya.
"Ini anak ternyata nyalinya gede juga ya? coba lah Kita buktiin beneran bisa gak bikin jatuh cinta." batin Axel
Hingga tak terasa Mereka tiba di rumah.
"Terus gimana? ini masih tidur sendiri-sendiri atau tidur bareng?" tanya Axel sengaja untuk menggoda Amira.
"Ih, Bapak mah nafsu banget! pelan-pelan lah masak langsung trabas!" protes Amira sama ngaconya.
Gelak Axel makin tak tertahankan,
"Hahah, Kamu dapet darimana kata-kata kayak gitu? emangnya mobil pakai diterabas?" balasnya masih dengan nada kekehan.
"Udah ah, Saya mau tidur dulu Pak ... besok kan udah masuk kuliah." sungut Amira meninggalkan Axel di lantai dasar. Lebih dulu melangkahkan kakinya melewati anak tangga.
"Loh, katanya mau bikin jatuh cinta? masak tidurnya pisah?" teriak Axel benar-benar semakin membuat Amira salah tingkah.
Mempercepat langkahnya untuk menghindari ajakan Axel tidur ditempat yang sama.
"Dasar anak labil! tadi percaya diri banget bilang mau bikin jatuh cinta? giliran ditagih malah marah-marah ... apa-apaan!" protes Axel berguman sendirian.
"Udahlah, daripada pusing ngomong sendiri macem orang gila , mendingan tidur aja!" imbuh Axel beranjak ke kamar.
Malam kian larut, dua insan yang sedang tumbuh benih-benih cinta masih terjaga dikamar masing-masing.
"Aduh, Aku tadi kok bisa banget ngomong kayak gitu ya?" seru Amira dengan wajah merona. Menutup setengah wajahnya dengan kain selimut. Memaki dirinya sendiri.
"Habisnya Aku sendiri udah kepalang tanggung banget, mana udah setuju tanda tangan juga kan?"
"Hem ... gak tahu lah pusing! mendingan tidur aja!" tutup Amira segera memejamkan mata.
*
Keesokan harinya,
Langit masih bewarna ungu, matahari belum terbit masih bersembunyi.
Amira telah bangun lebih dulu untuk membuatkan sarapan.
Membuka lemari pengisi untuk melihat bahan sayuran.
Hingga dirinya terkejut melihat nasi goreng telah tersaji diatas piring bahkan tertata diatas meja makan.
"Kamu udah bangun?" sapa Axel muncul dari pintu.
"Bapak udah masak? sepagi ini?" tanya Amira heran,
__ADS_1
"Iya! ini malahan Saya juga udah selesai nyuci mobil kok!" jawab Axel berjalan menjadi dispenser mengisi air mineral dalam gelas.
"Ha? serius?" tanya Amira dengan mulut ternganga. Dirinya kalah rajin dari suaminya sendiri yang notabene seorang laki-laki.
"Tapi kan, cowok biasanya bangun siang Pak?" ucapnya.
"Kata siapa? Saya emang udah biasa bangun pagi kok! sarapan yuk! udah laper!" ajak Axel menarik kursi segera duduk.
Amira masih mematung, melihat wajah Axel sesaat.
"Kenapa? baru sadar kalo suaminya ganteng?" kata Axel mengejutkan Amira, segera mengalihkan pandangannya kearah lain.
Sebenarnya beberapa kali Axel lah yang bergerak menunjukkan perasaan cintanya lebih dulu. Tapi karena Mereka berdua masih sama-sama polos, tidak ada yang menyadari kenyataan ini.
Suasana hangat ketika melakukan sarapan pagi, Amira dengan tenang melahap nasi goreng buatan Axel. Rasa yang lezat dan penuh rempah sungguh memanjakan lidahnya.
"Kita mandi terus nanti berangkat ke kampus bareng aja!" titah Axel beranjak dari kursi.
"Bukannya Bapak ngajarnya masih jam kedua?" tanya Amira melihat jadwal jam pagi untuk Axel kosong.
"Kamu ada jam pagi kan?" tanya Axel justru berbalik bertanya.
"Iya!" jawab Amira singkat dengan wajah polosnya.
"Ya gak papa ... Saya gak masalah berangkat sama Kamu ... tinggal nunggu aja kan?" jelasnya santai kemudian meneruskan kakinya untuk segera membersihkan diri.
Tatapan penuh tanda tanya, dari bola mata Amira memperhatikan kepergian Axel yang tinggal terlihat bahunya saja.
"Udahlah! mendingan mandi aja! nanti malah jadi beban Pak Axel lagi!" seru Amira bergegas.
Empat puluh lima menit kemudian, Axel dan Amira keluar dari kamar dalam waktu yang sama.
"Udah siap?" tanya Axel menyapa lebih dulu.
"Udah kok Pak." jawab Amira.
Amira melihat ketampanan Axel kian bertambah saat melihat suaminya memakai baju formal, apalagi sepatu kulit bewarna hitam juga menambah citra gagahnya.
Sedangkan Axel melihat penampilan Amira yang sederhana mengenakan rok sebawah lutut dengan kemeja panjang berwarna krem. Kesederhanaan itu malah memancarkan kecantikan alami, sangat cocok dengan wajah lembut Amira.
Mereka berjalan beriringan, beberapa kali jemari tangan mereka sering bertabrakan.
"Mau Aku gandeng nanti kalo Amira nolak gimana?" batin Axel terbuyar ketika merasakan ada sentuhan tangan yang menggenggam jarinya.
Siapa yang sangka ternyata Amira malah melakukan lebih dulu.
"Heehe, maaf ya Pak ... Saya takut nanti Bapak jatuh!" kilah Amira menggunakan alasan tidak masuk akal. Meksipun Axel tersenyum mendengarkan alasan itu. Dia menahan diri agar tetap diam dan memilih menikmati saja.
"Udah Xel, gak usah komen nanti gemeteran ini Bocah! kalem-kalem!" batin Axel.
__ADS_1
Walaupun canggung dan menahan perasaan malu, Amira tetap melakukannya hingga tiba di pintu mobil.
"Nah, Kita lepas dulu ya Pak." ucap Amira melepaskan tangan saja memberikan aba-aba.
"Iyalah terserah Kamu aja!" balas Axel tersenyum masam. Kemudian beranjak ke pintu mobil kemudi.
Kali ini Amira memilih duduk tepat disamping Axel. Lagi-lagi Axel tersenyum. Banyak perubahan yang terjadi pada Amira.
Perasaan bahagia merasakan jarak sekat diantara keduanya mulai memudar.
"Kamu nanti kalo mau turun di Kampus gak papa kok," seru Axel membuka percakapan, memecahkan keheningan.
Seketika Amira menoleh,
"Jangan dong Pak! itu kan bisa jadi resiko!" tolak Amira, bagaimana jadinya bila nanti para mahasiswa lain malah menjadi curiga, sedangkan ada perjanjian untuk merahasiakan hubungan pernikahan ini.
"Gak papa! udah Saya pikirin kok! jadi, udah gak ada masalah lagi sekarang!" balas Axel, sampai kapanpun pernikahan ini pasti akan tetap terbongkar. Sekalipun tertutup rapat itu takkan bertahan lama.
"Tapi Saya yang belum siap Pak! kasih Saya waktu buat ngomong sama Reyno ya?" seru Amira memikirkan perasaan Reyno, bukan karena cinta melainkan perasaan menghargai sebagai sahabat. Pasti Reyno akan kecewa saat malah mengetahui dari orang lain padahal Mereka berteman sudah sangat lama.
"Oh, Reyno pacar Kamu itu?" celetuk Axel. Ia pun tahu hubungan istrinya dengan laki-laki itu memang sangat dekat. Dan bahkan banyak orang yang mengira Mereka beda adalah pasangan kekasih. Saat ini ada perasaan terbakar dihati kecil sang Dosen.
"Eh, bukan kok Pak! Dia cuma temen!"
"Pak udah sampai! Saya berhenti di halte aja!" seru Amira,
Axel mulai menekan lampu sen, tetapi terlihat Doni sedang turun dari kendaraan umum.
"Loh, mobil Lo kemana?" tanya Axel lebih dulu membuka jendela mobilnya,
"Rusak! eh, kok Amira malah turun?" tanya Doni ketika Amira mulai membuka pintu mobil.
"He, Saya gak mau jadi bahan gosip Pak ... jadi mendingan Saya turun disini aja." jelas Amira. Tetapi Doni malah mendorong tubuh gadis itu untuk duduk kembali.
"Pak, pak."
"Udah Kamu duduk yang manis! Saya juga bakalan ikutan naik mobil ya!" jelas Doni membuka kursi belakang.
"Udah, ayo Xel lanjut!" titah Doni menggebu-gebu kepada Axel.
"Iya-iya gak usah berisik!" balas Axel kembali memacu gas mobilnya menuju kampus.
Selang sepuluh menit mereka tiba dihalaman kampus. Tiga orang turun dalam mobil yang sama.
Wajah Amira terlihat sangat tegang, tetapi Doni dengan tenang memberikan pengertian.
"Santai aja dong Amira, kalem! kalo Kamu tegang kayak gitu orang malah makin curiga!" jelasnya.
"Axel my baby cintaku sayangku!" panggil seseorang wanita menyapa kedatangan Mereka bertiga.
__ADS_1
"Eh, dari suaranya kok kayak ....?" Doni dan Axel langsung membalikkan badan.