
Sesampainya Axel di Kampus. Keadaan ramai dari beberapa mahasiswa yang telah datang memenuhi halaman dan lorong area Kampus.
Ani yang sejak tadi telah menunggu, melihat kedatangan mobil Axel sampai menyelidik.
"Loh, kok Pak Axel berangkat sendiri? Amira mana?" kata Ani mencari Amira namun hanya Axel saja yang terlihat keluar dari mobil.
Karena penasaran Ani mendekati sang Dosen.
"Pak Axel!" panggil Ani berteriak sambil berlari, mendengar seseorang telah memanggil namanya. Axel menoleh, dan mendapati Ani sedang menuju kemari.
"Ya, ada apa Ani?" tanya Axel menutup pintu mobil mengambil tas tenteng berisi beberapa materi dan juga laptop.
Sebelum menjawab Ani melihat kesekeliling adakah seseorang menguping pembicaraan Mereka ataukah tidak. Setelah dirasa aman. Ani mendekatkan wajahnya, kemudian menutup bibirnya itu dari samping.
"Pak, Amira kok gak kelihatan?" tanya Ani kemudian.
"Oh, Kamu nanyain Amira? sekarang sampai tiga hari kedepan dia gak berangkat mau istirahat dulu." jelas Axel sambil berjalan, terkejut Ani mendengarkan penjelasan dari sang Dosen. Bahkan sampai mempercepat langkahnya untuk melihat lebih dekat.
"Loh, kok gitu Pak? kenapa emangnya? atau jangan-jangan ini gara-gara Saya?" tanya Ani lagi.
Sedetik kemudian langkah Axel terhenti,
"Maaf ya Ani kemungkinan sih iya, soalnya Amira masih trauma." jawab Axel jujur, walaupun terpaksa.
"Iya sih, pasti Amira malu banget ...." Ani juga mengakui kejadian kemarin menimbulkan luka yang berat bagi Amira.
"Eh, Pak ... tolong nanti sampein sama Amira ya? gak usah takut dateng ke Kampus ... kalo ada yang usil nanti Saya yang lawan!" kata Ani bersemangat mendedikasikan diri sebagai pengawal.
Mendengar pengakuan Ani akhirnya membuat Axel tergelak.
"Oke-oke siap ... nanti kalo sampe rumah Saya sampaikan ke Amira ya?" sudi Axel kemudian meneruskan langkahnya untuk ke ruang Dosen.
Walaupun beberapa hari yang lalu, suasana kampus sempat tegang. Tapi tidak untuk sekarang. Mereka telah melupakan video viral Amira. Yah, meskipun sebagian orang masih beranggapan bahwa Amira memanglah seorang Ayam kampus. Tetapi itu hanya sebagai orang saja banyak yang percaya bahwa Amira bukanlah orang seperti itu. Apalagi ketika Ani membuat siaran permintaan maaf.
Suasana pagi yang hangat dengan pancaran sinar matahari menjadi pembuka. Memacu rasa semangat untuk menjalani hari.
Namun, ada yang sedang bersitegang. Angel dan Eva berada di mobil yang sama.
"Mama yakin mau ke club?" tanya Angel ragu.
__ADS_1
"Iyah! Mama mau cari hiburan ... Angel tolong jangan protes! tadi, kita udah sepakat kan? Mama tarik keputusan cerai tapi Kamu harus anterin Mama ke club!" tegas Eva.
Ketika di rumah saat Eva mengutarakan niatnya yang ingin bercerai. Angel merengek agar Eva tidak melakukannya. Sebab bagaimanapun juga meskipun Demien tidak terlalu suka dengan Angel. Kenyataannya Demien masih bersedia memberikan fasilitas dan uang saku untuk anak sambungnya itu.
Kehidupan Mereka pernah ada di titik terendah dan Angel tidak kembali ke masa itu. Sehingga dirinya memohon agar Eva tetap bertahan demi memperpanjang kelangsungan hidup mewah Mereka.
"Oke oke Angel bakal anterin Mama kesana." kata Angel mengalah akhirnya membawa Eva ketempat yang dimau.
Benar saja mobil Angel mulai memasuki halaman sebuah diskotik. Saat tiba di depan pintu utama mobil Angel berhenti.
"Makasih ya Sayang ... sekolah yang beneran biar jadi orang kaya!" celetuk Eva turun dari mobil.
"Gak usah lebay deh Ma ... orang Mama aja malah perginya ke diskotik kok." protes Angel kesal, sebagai Ibu Eva gagal memberikan contoh yang baik.
"Bodo amat! pokoknya Kamu harus kaya biar Kita bisa pergi dari rumahnya Demien si sialan itu!" balas Eva lebih garang.
"Udahlah terserah Mama ... dah ya, Angel mau berangkat, bye!" Angel sama sekali tak ada niat untuk berdebat dan langsung tancap gas.
Sedangkan Eva tanpa ragu membalikkan badan dan segera masuk ke dalam ruangan.
Suara hingar-binger musik keras memekakkan telinga, ditambah lampu terang menyorot ke segala ruangan menyakiti mata.
Tetapi itu tidak berlaku bagi mereka yang terbiasa datang ke tempat ini.
"Pokoknya kasih saya minuman yang enak-enak ... apalagi yang bisa bikin nge-fly." pinta Eva kepada bartender.
Sesuai pesanan bartender mempersiapkan gelas kecil dan satu botol minuman memabukkan di depan posisi Eva.
"Gak usah! biar Saya sendiri!" tolak Eva ketika sang bartender berusaha membantu dirinya untuk menuangkan minuman.
Tanpa menunggu lama Eva menuangkan dan meminum kelas dalam sekali tegukan.
"Ah ...." Bahkan merasa kurang puas mencobanya sampai beberapa kali hingga tak terhitung lagi.
Belum ada setengah jam duduk di sini Eva sudah hilang kendali karena mabuk berat.
Dargo yang penat kebetulan tidak memiliki tempat tinggal datang ke club yang sama.
Melihat wajah familiar Eva terkulai lemas menyandarkan kepalanya di atas meja bar.
__ADS_1
"Widih ada kesempatan bagus nih bisa dapat minuman gratis." katanya seraya menghampiri Eva di sana.
"Boleh lah minta minumnya?" kata Dargo.
Eva mengangkat kepalanya melihat wajah Dargo berusaha meraih botol minuman.
"Masalah gratisan aja cepet banget Lo!" ketus Eva, namun tidak merebut minumannya lagi.
Dargo menyeringai menggunakan gelas bekas Eva untuk menuangkan minuman, kemudian menenggak minuman itu tanpa rasa jijik.
"Dilihat dari wajah Lo ini kayaknya lagi banyak pikiran, kenapa?" tanya Dargo kepada Eva.
Eva mendengus lirih, ternyata salah besar menilai Dargo yang pandai membaca mimik wajah seseorang.
"Gue nggak cantik ya?" celetuk Eva tiba-tiba.
"Cantik kok, Gue aja kalau dikasih Lo nggak bakalan nolak!" jawab Dargo dengan entengnya dengan memegangi gelas.
"Deg!" jantung Eva berdebar bahkan wajahnya juga merona.
"Badan Lo aja bagus, dan ...." Dargo mulai berani melirik bongkahan kenyal Eva yang terbuka. Kemudi menelan salivanya.
"Seharusnya untuk usia lo yang udah tua tapi gunung kembar lu masih kelihatan kenceng terus kelihatan menggoda." puji Dargo lagi menambah debaran dijantung Eva.
"Eleh ngomong doang, buktiin dong!" kata Eva malah memancing hawa panas diantara Mereka berdua.
"Yakin nggak nyesel?" jawab Dargo terpancing.
"Ahh." rintih Eva saat Dargo tiba-tiba mengangkat tubuhnya.
"Tenang aja Lo tinggal nikmatin aja!" kata Dargo dengan tawa mesum hendak membawa Eva kesebuah kamar hotel yang memang sudah ada di dalam club.
Seperti terperdaya Eva yang patah hati ingin melampiaskan sesuatu, apalagi semenjak menikah dengan Demien tidak pernah sekalipun dirinya mendapatkan pujian.
"Brakk." Dargo melemparkan Eva ke atas ranjang. Tanpa ragu menanggalkan semuanya.
Kemudian tampaklah lele besar yang menantang. Mata Eva saja sampai dibuat takjub.
"Wah, gila gede banget!" batin Eva mengakui gagahnya lele milik Dargo.
__ADS_1
Bibir Dargo menyeringai saat melihat ketertarikan diwajah Eva.
"Srakkk." Dargo mulai brutal melucuti bagian Eva.