Rahasia Amira bersama Dosen Killer

Rahasia Amira bersama Dosen Killer
Bab 8. Axel garda terdepan


__ADS_3

Eva yang lepas kendali tak sadar sekarang dirinya ini sedang berada di rumah Axel.


Apalagi menantunya itu sedang menatap tajam wajahnya karena telah menyakiti perasaan istrinya. Tangan Axel sampai mengepal dengan detak jantungnya juga berirama cepat.


"Mama Eva tolong jaga ucapan Anda ya? Mama emang orangtuanya Amira ... tapi Saya selaku suami saya Amira juga gak terima kalo Amira diperlakukan kayak gini! bahkan berani sekali Mama secara terang-terangan nyakitin Amira didepan Saya!" tegas Axel. Semua kata yang keluar dari bibirnya sekarang karena dorongan dari hati nuraninya. Memang secara logika Axel sendiri tak sadar atas semua perkataan dari bibirnya, semua keluar begitu saja. Apalagi melihat Amira sampai menangis seperti ini dan teganya Eva terus memojokkan dia si gadis tak berdaya. Tentu saja Axel harus serta turun tangan demi menghentikan kata-kata kasar yang terus Eva lontarkan kepada Amira.


"Axel, kamu gak usah ikut campur! ini urusan Mama sama Amira!" balas Eva melarang Axel untuk menyela obrolan mereka.


Senyuman getir dari bibir Axel menyiratkan rasa bencinya untuk Eva seorang. Rupanya, peringatan yang Ia lontarkan sama sekali tak mempan untuk menghentikan Eva si wanita.


"Oh, jadi sekarang Mama berani nantang Tuan rumah?" tantang Axel lagi sekuat tenaga menahan amarahnya yang seperti bom waktu bisa meledak kapan saja. Namun, sebagai laki-laki jantan dirinya tidak mungkin berlaku kasar kepada seorang wanita apalagi umurnya lebih tua darinya. Sekalipun untuk hal semacam ini, Eva terlalu mahal untuk menerima penghormatan itu.


Wajah padam Eva hanya mampu memandang , Ia pun bergidik ketika melihat mata menyala Axel terus saja mengarah padanya tanpa berniat mengubah arah fokus matanya kearah lain.


"Mendingan sekarang, Mama pergi dari sini! mumpung saya masih berbaik hati nyuruh Mama pergi secara baik-baik atau mungkin Mama mau saya seret?" usir Axel sungguh melihat wajah Eva membuat dirinya muak.


Eva mengulum salivanya, ancaman yang Axel katakan terdengar menakutkan untuknya. Segera Eva meraih tas diatas meja, meninggalkan rumah Axel tanpa mengucapkan kata pamit. Hanya bunyi keras dari pintu utama menandakan kepergian Eva dari rumah ini.


Seperti patung berdiri. Amira tidak mengubah posisi tubuhnya, sama sekali tak bergerak. Ia hanya menunduk mengusap pergelangan tangannya itu. Hancur perasaannya tak bersisa, teringat tentang Eva masih saja menyerang Ibunya yang telah tiada.


Ingin rasanya Axel menghampiri Amira, memberikan pelukan agar dia tenang. Tetapi hubungan mereka tidak sedekat itu. Sehingga Axel merasa tak pantas untuk melakukannya.


Merasa seperti tontonan Amira bergegas meninggalkan Axel. Arah kakinya membawa dirinya masuk kedalam kamar.


Tangan Axel ingin menahan. Bibirnya yang kaku terlihat membuka dan menutup tetapi sampai Amira pergi, Axel tetap saja diam.


"Hah." Hembusan nafas lirih dibibirnya, Axel menutup pintu utama dan duduk di sofa ruang tamu.


"Kenapa sih Orangtua selalu aja egois? selalu aja jadiin anak sebagai sasaran ... andai mereka tahu? kita sebagai anak gak akan mungkin bisa lahir sendiri!" guman Axel memaki takdir berat menjadi anak yang tak diinginkan.


Nasib Amira tak jauh berbeda dengan dirinya, mendapatkan perlakuan kasar hingga siksaan dari orang tua. Bedanya Amira mendapatkan serangan batin sedangkan Axel mendapatkan serangan psikis. Bekas luka panjang ditangan Axel menjadi saksi betapa kejamnya Ayahnya dulu.

__ADS_1


Lagi-lagi Axel kembali teringat kejadian kelam itu. Kepalanya berdenyut sakit, tentu tak sebanding dengan luka dihatinya.


*


Didalam kamarnya,


Amira membenamkan kepalanya diatas bantal empuk. Menangis kencang hingga menggema keseluruh ruangan kamarnya.


Dicengkeram kuat sprei tebal itu, kemudian ia tepuk kuat-kuat.


"Bluk ... bluk ... bluk."


"Mama Rani gak mungkin rebut Papa dari Mama Eva! bohong! bohong!" pekik Amira tak terima mediang ibunya disalahkan.


Amira terus saja menangis hingga Axel pun dibuat khawatir. Laki-laki itu mencoba melihat keadaan Amira. Sekarang dia sedang berdiri didepan pintu. Seperti pencuri Axel menguping dari luar, mendekatkan telinganya ke daun pintu kamar Amira.


"Kayaknya Amira masih nangis deh ... gimana ya? apa boleh kalo aku ketuk pintu? tapi nanti kalo dia marah gimana?" gusar Axel belum bisa memastikan apa yang hendak Ia tentukan. Ia takut Amira keberatan karena Axel terlalu mencampuri urusannya.


Dilihatnya Amira tidur dalam posisi tengkurap. Axel berjalan hati-hati takut membangunkan istrinya itu. Wajah manis Amira dalam posisi terlelap, meskipun nafasnya masih sesenggukan selepas menangis tadi.


Udara dingin dari air conditioner membuat Axel menarik selimut untuk Amira. Dia juga membenarkan posisi tidur Amira menjadi terlentang.


"Maaf ya Amira ... tidur sambil tengkurap itu gak bagus untuk pernapasan." guman Axel kaku peduli dengan kesehatan gadis muda sekaligus istrinya itu.


Axel mematikan lampu kamar Amira, kemudian keluar menutup pintu.


Jam dinding menunjukkan pukul sembilan malam. Suasana hening senyap dirumah besar ini. Hanya ada dua insan yang mengisi. Dikamar, mata Axel masih awas melihat materi dari dalam bukunya. Diliriknya kertas putih isi perjanjian kontrak mereka. Masih kosong karena belum jadi mereka diskusikan karena mendapatkan tamu dadakan.


*


Didalam mobil Eva hampir tiba dirumah. Sepanjang perjalanan mulut cerewetnya itu tidak berhenti mengumpat.

__ADS_1


"Kurang ajar banget Axel! berani-beraninya dia ngusir aku! mentang-mentang orangtuanya kaya!"


"Brak." Eva melemparkan keras pintu mobilnya. Dari pintu gerbang Angel melihat wajah ketus Eva dari dalam mobilnya.


"Woy ... woy sabar bisa kali Ma," ucap Angel mencoba menenangkan sang Mama.


"Angel, kamu tahu gak? tadi Mama kan baru ngasih perhitungan buat Amira ... eh, tiba-tiba Axel malah usir Mama!" jelas Eva kesal bila teringat Axel menghancurkan citranya didepan Amira. Terbiasa menang selalu berhasil membuat Amira tunduk membuat Eva merasa seperti itu.


Angel malah menyunggingkan senyuman simpul, dirangkulnya bahu Eva.


"Oh, jadi Mama kayak gini gara-gara anak pungut?" tanyanya.


Langkah kaki Eva seketika terhenti.


"Maksud kamu siapa Angel?" tanyanya berbalik.


"Ya siapa lagi kalo bukan suaminya Amira Ma, Axel!" jawab Angel mengangkat kelopak matanya itu.


Kenyataan tentang Axel adalah anak adopsi tidak diketahui sama sekali oleh Eva.


"Kamu serius?" tanya Eva seakan tak percaya dengan pernyataan Angel barusan.


"Seriuslah ... makanya Angel gak mau nikah sama Pak Axel, Ma ... bisa hancur reputasi Angel, kecuali kalo Pak Axel anak kandung, udah deh Angel maju." tukas Angel tersenyum jahat menatap Eva.


"Ah, jadi anak songong itu cuma anak pungut! woah kabar bagus sih ini!" seringai Eva melihat ada peluang untuk menyerang.


Demien duduk sendiri diruang tamu. Mbok Darmi pembantu dirumah ini hanya bisa menjadi saksi kekejaman Eva terhadap Amira.


"Lega banget akhirnya Non Amira bisa keluar dari rumah ini." guman Mbok Darmi didepan wastafel mencuci piring.


Demien meletakkan koran itu di atas meja. Matanya melirik ke arah kamar Amira berada. Sudah lima hari lamanya mereka berpisah rumah Demian tak bisa menatap lagi wajah putrinya itu.

__ADS_1


"Kenapa lihatin kamar Amira terus Pa? kangen?" seru Eva masuk dari i pintu utama.


__ADS_2