
Elena terperangah mendengar kata-kata Amira barusan. Terus memperhatikan wajah polos itu sedang melirik sinis ke arahnya.
"Kenapa kok mukanya kayak kaget gitu? bingung ya kenapa Saya bisa tahu?" kata Amira lagi mulai menyerang Elena tanpa henti.
"Nona Elena, tolong ya! jangan manfaatin kebaikan Saya lebih jauh lagi!"
"Saya mengalah karena posisi Anda itu lagi sakit! tapi ternyata ... Anda cuma pura-pura ya?" ucapnya lagi.
"Sialan tahu darimana ini anak kalo Gue cuma pura-pura?" batin Elena bertanya-tanya.
"Saya nggak bohong tuh! Kamu nggak lihat tangan Saya ada luka, dan noda darah dibaju Saya emang gak kelihatan?" balas Elena masih bersikukuh untuk berbohong.
"Cih! gitu ya? Saya baru tahu aroma darah baunya kok kayak pewarna makanan!"
"Deg!"
Barulah wajah Elena terlihat gugup serta salah tingkah.
"Biasa aja dong jangan banyak gerak kayak gitu! kan Saya jadi tambah curiga!" kata Amira semakin mendesak Elena saja.
Daripada mengakui kesalahan ataupun memohon ampun atas tindakannya ini. Justru bibir Elena menyunggingkan senyuman tipis.
"Terus kalo iya kenapa Kamu nggak terima?" tantang Elena.
"Saya bakalan lakuin apa aja untuk rebut Axel dari Kamu!"
"Blarr." Memang tidak punya rasa malu, secara terang-terangan Elena mengakui niatan jahatnya itu.
Terang saja memancing amarah Amira, kenapa pula banyak wanita jahat yang selalu menganggu kebahagiaan yang Tuhan berikan untuknya.
"Saya nggak akan pernah kasih kesempatan lagi! ini bakal jadi yang terakhir kalinya Mas Axel boleh ketemu sama Kamu!" seru Amira memperingati.
Dan terdengar langkah seseorang datang kemari. Axel membawa plastik berisi obat untuk diberikan kepada Elena.
Namun, belum sempat Elena menarik tangan Lelaki itu. Tapi Amira lebih dulu menerima lebih dulu. Sehingga obat itu ada ditangannya.
"Biar Aku aja Mas, takut jadi fitnah kan." kata Amira benar-benar mempertunjukkan sifat posesif secara live.
Dalam hati Elena mencebik bibirnya. Meremas kuat kain celana jeans yang melekat pada tubuh bagian bawah itu.
__ADS_1
"Sayang, Aku mau bayar total tagihan dulu ya ... tadinya sih mau Aku bayar sekalian tapi gak jadi, karena mau anterin obat ini dulu." pamit Axel meninggalkan kedua wanita ini.
Akhirnya suasana tegang kembali menyeruak di kamar IGD.
"Saya tekankan sekali lagi ya Nona Elena yang terhormat ...."
"Ibarat kata Kita ikut berpatisipasi lomba kemerdekaan 17 Agustus, Nona itu udah kalah telak ... dan Saya pemenangnya!"
"Terus hubungan Pernikahan nih Kita contohin aja sama sebuah Negara ..."
"Nah, Nona mau jajah Negara yang udah merdeka jelas aja itu nggak bisa! karena surat pernikahan udah dideklarasikan alias dicetak secara hukum sebagai sahnya kemerdekaan Saya sebagai istri sekaligus juga sebagai pemenangnya!" ungkap Amira dengan status tertinggi yang sudah di sandang olehnya. tidak ada yang bisa melawan sekalipun itu Elena.
Dengan nafas memburu serta hidung kembang kempis sebenarnya Elena ingin melawan tetapi tidak memiliki alasan lagi.
"Tolong ya buka mata dan hati Anda, jangan kotorin wajah cantik itu sama sifat kotor Anda sendiri!" tegas Amira sekali lagi.
Kata terakhir Amira ditutup dengan langkah kaki Axel yang telah datang kembali.
"Gimana udah Mas?" tanyanya seraya menoleh kearah suaminya.
"Udah kok, tadi bayar pakai uang Aku dulu sih." jawab Axel memasukkan dompetnya ke dalam saku.
"Lah kan dari tadi emang Aku ajak pulang tapi Kamunya nggak mau." sungut Axel mengingat kejadian ajakannya sebelum tiba disini.
"Hehehe maaf Mas, Aku terlalu polos." jawab Amira sengaja untuk menyindir Elena. Agar wanita itu tahu Axel bisa datang kemari karena dirinyalah yang memerintahkan bukan atas inisiatif sendiri.
"Habis ini Kita ke mall yuk Aku kan janji mau beliin Kamu handphone baru." ajak Axel selagi masih ada waktu untuk kesana.
"Boleh tapi Aku pamit dulu ya!" kata Amira.
Kembali Amira a melangkah mendekati Elena, menyunggingkan senyuman termanis sepanjang masa untuk wanita itu.
"Nona Elena semoga cepat sembuh ... jangan lupa obatnya diminum biar nggak kumat-kumatan lagi oke, Aku sama Mas Axel mau belanja dulu ... bye!"
Sungguh muak sekali hati Elena melihat keromantisan yang dilakukan Amira bersama Axel di depan matanya.
"Oke Gua akuin sekarang ini kalah, tapi lain kali bakalan Gue bikin Lo nangis bombay Amira." tekad Elena belum juga sadar terus saja masih memiliki dendam.
Di luar ruangan Amira dan Axel berjalan sambil bergandengan tangan.
__ADS_1
"Kalian mau pulang?" tanya Doni seakan Dirinya tahu sesuatu yang telah dilakukan oleh Amira.
"Kita mau cari handphone baru dulu, Lo jagain Elena ya ... Kita pergi dulu." pamit Axel dan dibalas anggukan kepala Doni sebagai tanda Ya.
Dengan wajah bahagia Amira dan Axel meninggalkan Rumah Sakit menuju tempat yang akan Mereka kunjungi selanjutnya.
*
Setelah menempuh perjalanan selama lima belas menit. Mereka berdua akhirnya tiba di sebuah Mall mewah di pusat kota.
Kemudian menuju lobi untuk memarkirkan mobil di sana.
Dengan perasaan cinta yang dalam. Axel membantu istrinya untuk membukakan pintu mobil. Terpancar senyuman manis Amira dan keluar dengan anggunnya.
"Belinya nggak usah yang mahal-mahal ya Mas, cukup bisa dipakai sama berfungsi aja." pinta Amira seraya berjalan sebelum Mereka memasuki sebuah konter.
"Enggak ah enggak mau! Aku mau beliin Kamu handphone terbagus, kalau nggak Mama pasti nggak terima terus marahin Aku lagi." tolak Axel.
Amira mencebik bibirnya, namun hanya sekedar seperti itu saja tidak berani membantah lebih jauh lagi.
"Nah itu langsung ketemu, yuk Kita kesana." ajak Axel menarik tangan istrinya.
Di tempat yang sama Reyno dan Angel sedang berbelanja. Entah bagaimana caranya setelah tahu Amira menikah hubungan Reyno dan Angel bisa menjadi lebih dekat.
"Kamu mau cari laptop kayak gimana Rey?" tanya Angel saat Reyno belum memutuskan hendak memilih sebuah laptop.
"Belum tahu belum ada yang cocok sih." katanya malas.
"Coba aja kalau ada Amira, pasti dia bakal semangat banget cari di internet spesifikasi laptop yang bagus buat Aku." batin Reyno menghela nafas dalam.
"Eh itu bukannya Amira ya?" kata Angel.
Seperti berjodoh baru saja dipikirkan di hati ternyata orangnya sudah ada di sini. Reyno segera melihat ke arah di mana Angel menunjukkan sosok yang dimaksud. Awalnya wajah cerah itu terlihat bersemangat, namun tiba-tiba menghilang ketika melihat Amira tidak sendiri.
"Mau ngapain Mereka kesini? bikin kotor mata aja!" ketus Angel kesal. Niat hati ingin berkencan mesra namun malah melihat wajah sang Kakak sambung pernah mengisi hati lelaki disampingnya ini.
"Udah nggak usah buang-buang waktu buat marah-marah." kata Reyno.
"Coba deh Aku gandeng tangan Angel di depan Amira ... Aku mau tahu reaksi Dia gimana." batin Reyno meraih jemari tangan Angel.
__ADS_1