
Amira berlari menghampiri Demien dan memberikan salam sapa berupa pelukan.
"Sayang ... Kamu gak papa kan?" tanya Demien justru menghawatirkan Amira. Padahal dirinya sendiri baru saja mengalami tragedi penculikan. Alasannya adalah Eva kondisi emosional Eva sedang tidak stabil dan sangat membenci Amira. Tentunya menimbulkan rasa kekhawatiran bagi Demien.
"Papa, kenapa ngomong kayak gitu? seharusnya Amira yang tanya bukannya malah Papa!" protes Amira.
"Yaudah kan Kamu tinggal tanya aja." celetuk Demien malah bergurau mengusap rambut puterinya penuh rasa cinta.
"Ah, Papa mah bercandanya gak lucu." sungut Amira mendangakkan kepalanya. Demien menyentil hidung mancung itu. Sama sekali tidak mempertunjukkan wajah sedih ataupun yang lain.
"Eh, iya Mbok Darmi?" seru Demien hampir saja melupakan keberadaan Mpok Darmi di dalam kamar.
Dia melepaskan pelukan tangannya dan berlari kesana. Sontak Amira juga mengikuti sang Papa untuk melihat apa yang terjadi.
Terlihat Mbok Darmi meringkuk dengan badan bergetar. Karena baru saja Eva melakukan kekerasan kepadanya secara membabi buta.
"Ya ampun Mbok!" Amira segera menghampiri Mbok Darmi dan menutupi tubuhnya menggunakan sebuah selimut.
Badan basah Mbok Darmi mungkin saja bisa mengartikan betapa kejamnya sikap Eva kepada wanita tua itu.
"Seharusnya Tuan nggak perlu nyelamatin Saya ... kalaupun Saya harus mati hari ini Saya rela." ucap Mbok Darmi menatap wajah Demien.
"Nggak papa Mbok ... udah nggak usah dibahas!" jawab Demien.
"Tapi Saya terlalu mahal buat seharga mobil dan rumah ini Tuan!" ujar Mbok Darmi secara tidak langsung memperjelas bahwa ada penukaran ketika Demien menyelamatkan nyawanya.
"Jadi Mama Eva minta mobil sama rumah?" sela Amira.
Demien tidak bisa mengatakan apapun, Iaa takut membuat Amira kecewa karena menyerahkan tempat sebagai kenangan antara dirinya dan almarhum Rani.
"Non maafin Mbok ... karena cuma bisa ngerepotin keluarga Non aja." ujar Mbok Darmi kesal dengan kekurangan yang dimiliki dirinya karena tidak bisa berkontribusi untuk melakukan sesuatu demi menyelamatkan Demien.
Seharusnya Amira marah ataupun kecewa sesuai ketakutan yang Demien rasakan. Namun dia adalah seorang gadis yang baik, dipeluknya Mbok Darmi penuh perhatian.
"Nggak papa Mbok karena bagi kita nyawa Mbok lebih penting ... Apalagi Mbok udah kita anggap sebagai nenek kandung kita ... bener kan Pa?" ucap Amira kepada Demien.
Demien mengangguk setuju, betapa beruntungnya Dia memiliki anak pengertian seperti Amira. Anak yang pernah dia buang dan diacuhkan karena dianggap sebagai pembawa sial ternyata sosok yang paling mengerti dirinya lebih dari siapapun.
"Ayo sekarang kita beresin baju dulu, karena Eva cuma kasih waktu 2 jam aja." ujar Demien.
__ADS_1
Amira dan Mbok Darmi mengangguk, mereka bergegas untuk merapikan pakaian.
Tidak ada yang sibuk beradu argumen atau menyalahkan satu sama lain. seolah mereka sudah menerima keputusan yang terjadi tanpa adanya perdebatan lagi.
*
Di sebuah restoran. Eva dan Dargo masih menunggu Angel yang sedang tidak sadarkan diri di kursi belakang.
Hingga akhirnya terdengar rintihan suara dari bibir Angel dan mulai membuka matanya.
"Ehm."
Eva menoleh dan benar saja tatapan mata mereka saling bertemu.
"Kok dia masih ada disini sih?" tanya Angel ketika melihat sosok Dargo lelaki yang dianggap sebagai selingkuhan Eva.
"Angel tolong dengerin Mama dulu." ucap Eva mencoba untuk merayu.
"Mama Angel udah bilang ya, jauhin dia!" seru Angel tetap menginginkan Eva agar berpisah.
"Angel nggak mau hidup miskin Ma! kenapa mama gak pernah ngerti!" imbuh Angel lagi.
"ANGEL STOP!" seru Eva dengan nada bicara yang tinggi.
Tetapi Dargo mengalihkan bola matanya ke arah lain menghindari tatapan Angel untuknya.
sadar bentar lagi Angel akan menangis, tambah Eva menyadari perubahan sikap kasarnya. Dia segera mengubah ekspresi wajahnya.
"Sayang maafin Mama, tapi tolong untuk kali ini aja dengerin Mama." ucap Eva lembut menurunkan intonasi bicaranya.
Angel sekuat tenaga menahan air mata yang hendak keluar. Gadis itu benar-benar hilang kalau untuk membuat Mamanya sadar kembali.
Tidak ada jawaban yang terucap, karena Angel menggigit bibirnya agar tidak terlihat bergetar.
Mengambil sesuatu dari dalam tasnya, menunjukkan kertas itu kepada Angel. walaupun terlihat malas tetapi bola mata Angel mengikuti dan membaca setiap kalimat sampai akhir.
"Jadi kamu nggak pernah khawatir Sayang, walaupun nanti mama pisah sama papa demen kita nggak akan miskin! karena semua kekayaan Papa Demien udah berhasil Mama rebut!" ujar Eva percaya diri.
Dari sisi samping, meskipun Dargo tidak berucap. Tetapi hatinya mulai merancang beberapa rencana.
__ADS_1
"Mantap deh nanti surat rumahnya bisa buat gadein buat modal judi slot! tinggal nanti kita aturlah cara cantik aja buat cari alasan atau curi itu surat penting!" batin Dargo menyeringai.
"Yaudah kalau gitu terserah Mama aja!" ucap Angel pasrah. Terlebih saat melihat isi surat itu membuatnya lega. Demien memberikan kuasa penyerahan mobil dan rumah dengan kepada sang Mama.
"Nah gitu dong Sayang." ujar Eva tersenyum mereka melirik ke arah Dargo.
Dan Dargo mengangguk sekali saja.
"Udah yuk makan dulu ... lapar." keluh Dargo. hingga akhirnya Eva setuju dan mereka melakukan malam bersama.
*
Dari mulai semakin gelap, langit berwarna ungu sebagai background. Demien, Mbok Darmi dan Amira sudah berada di luar pagar rumah mewah Mereka. sesaat memperhatikan rumah megah itu seakan tergambar jelas kenangan didalamnya.
Datanglah Eva bersama mobilnya. Tampak lampu terang bewarna putih menyoroti kearah mereka.
"Brak!" suara hentakan pintu mobil saat Eva keluar dari roda kendaraan empat itu. menyapa dengan tak boleh penuh rasa mengejek.
"Wih udah siap-siap ternyata," ujarnya melihat beberapa tas ada disana bersama Mereka.
hanya memperhatikan wajah jahat itu tanpa ingin mengatakan apapun. Malas sekali mengeluarkan tenaga untuk berbicara ataupun berurusan dengan Eva lagi.
"Tenang aja Mas secepatnya aku bakal urus perceraian kita!" kata Eva seolah pernikahannya adalah hal yang penting.
"Terserah! Saya malah udah nggak nganggep kalo Kita ini nikah." balas Demien.
"Cih!" Seperti dibalas Eva hanya bisa mendengus saja.
"Ya udah cepetan pergi dari sini bikin sepat mata aja!" usir Eva.
Kebetulan taksi pesanan mereka sudah datang, dan berhenti tepat dimana mereka berdiri.
Sang driver keluar guna membantu para penumpang membawakan beberapa tas kedalam mobil.
"Bye bye sampai berjumpa lagi!" ejek Eva melambaikan tangannya ketika mobil taksi yang mereka tumpangi hendak pergi.
Mata Amira melirik saja, bukan karena ingin melihat Eva, melainkan ingin melihat bangunan kenangan itu untuk terakhir kalinya sebelum pergi.
"Semoga aja lain kali kita bisa beli rumah itu lagi ya?" ucap Demien berharap. Amira mengangguk kecil dan mengusap jemari tangan Demien. Kemudian mengalihkan pandangannya agar tidak memberatkan hati Demien merasa terus bersalah.
__ADS_1
*
Axel tidak tahu Amira sudah mengirim ini dirinya sebuah pesan. Masih sibuk mengupaskan buah apel untuk Anggoro. Setelah selesai dia pun mencuci tangannya bergegas untuk melihat ponsel.