Rahasia Amira bersama Dosen Killer

Rahasia Amira bersama Dosen Killer
Rencana Mila


__ADS_3

Dunia bayangan telah dirangkai Mila seindah mungkin tiba-tiba runtuh begitu saja. Bagaimana tidak, sekarang tangannya sampai bergetar tertampar kenyataan pahit yang baru saja dilihat oleh indra penglihatannya itu.


"Aku, sempet khawatir sih kemarin ... Secara Mereka berdua tanpa hubungan tiba-tiba nikah ... tapi Mereka berdua gak ada yang cerita atau bahkan keberatan sama sekali, dan ku kira hubungan Mereka udah sedekat layaknya pasangan suami istri ... tapi ternyata??" guman Mila tertekan sebuah kenyataan.


Bunyi hentakan ketika daging bokongnya ketika menyentuh kursi kerja milik Axel. Tubuhnya rasanya langsung lemas tak berdaya.


Mila membaca isi surat sekali lagi, tetapi didalam surat tertulis.


"Saya bersedia menafkahi bahkan membiayai semua pendidikan kuliah sampai akhir ...."


"Lah, kalo gitu kenapa harus pakai acara nikah kontrak? kan Mereka bisa aja tinggal bareng selamanya." protes Mila mana mungkin ada pernikahan kontrak seroyal ini bahkan sampai bersedia menafkahi pula. Biasanya pernikahan kontrak hanya akan mendapatkan satu keuntungan saja.


"Bentar, ini malah lucu lagi." jeda Mila.


"Karena tidak ada perasaan cinta diantara satu sama lain."


"Cih, alasan apa lagi ini? darimana Kamu tahu kalo kalian gak saling cinta woy! Mama lihat aja Kamu perhatian banget sama Amira, Axel ... bahkan waktu Amira kerumahnya Kamu aja khawatir juga kan? masak gak sadar juga sih!" keluh Mila memaki kertas putih yang telah dibuat menjadi alas surat oleh putranya. Seakan-akan benda itu menjadi sosok Axel.


"Ini gak bisa dibiarin! pokoknya Mama harus bikin pernikahan kontrak ini gagal! titik!lagian rencana pernikahan kontrak apalah ini!" tekad Mila langsung menyobek surat itu tanpa ampun, hingga bentuk surat menjadi ukuran lebih kecil bahkan sulit untuk dibaca ataupun dijadikan menjadi satu lagi.


"Nah, sekarang Aku harus lihat laptop! pasti Axel bikin surat disini kan!" ketus Mila mulai mengotak-atik peralatan modern itu.


Matanya sampai dibuka selebar mungkin, mencari nama file yang berhubungan dengan surat yang telah dicetak. Hingga akhirnya ada beberapa file yang baru saja disimpan.


"Nah, ketemu!" sorak Mila menekan kotak file, dan benar saja terdapat surat berbentuk elektronik tertulis dengan jelasnya.


"Klik, klik, klik." Mila tanpa ragu menekan delete untuk menghilangkan jejak.


"Bodo amat dibilang gak sopan! Ini semua demi menyelamatkan bahtera rumah tangga anak tercinta." kata Mila bersungguh-sungguh tidak perduli dengan tindakan tak sopan yang sedang Ia lakukan.


Setelah selesai menyelesaikan misi penghapusan file, akhirnya Mila mengembalikan kondisi laptop menjadi ke layar utama, berupa background.


Mila mengibaskan kedua tangannya, dengan senyuman merekah meninggalkan kamar Axel.


"Mah, darimana kok tadi Papa cari keatas gak ada?" tanya Anggoro akhirnya menunggu diruang tengah.


"Mama habis tugas misi penyelamatan Pa!" jawab Mila terkesan seperti seorang agen rahasia.

__ADS_1


"Dih, apaan sih Ma gak jelas!" sungut Anggoro mengira istrinya sedang bergurau.


"Udah, yuk kita pulang aja! Mama ada misi selanjutnya." ajak Mila menarik tas kecilnya, padahal sebelumnya dirinya belum akan pulang ataupun pergi sebelum Axel kembali, tetapi sekarang tiba-tiba wanita yang berstatus sebagai ibunya Axel malah berubah pikiran.


"Eits! jangan banyak tanya! ayo kita cus!" ajak Mila lagi, mulut Anggoro yang semula telah bersiap membuka seketika tertutup rapat. Apalagi mendapatkan peringatan Mila yang jarang sekali keluar. Laki-laki itu tahu lebih baik tetap mengunci mulut daripada harus terkena gertakan yang kedua kalinya.


"Okedeh sesuai yang Ibu Ratu mau, kita cus!" balas Anggoro membuat mereka berdua terkekeh bersama.


*


Dirumah Demien,


Eva harus gigit jari karena gagal melakukan aksi balas dendam. Lihat saja, Pak Jaka menjaga pintu ataupun tak pernah jauh dari posisi Amira sekarang.


Akhirnya Amira dengan leluasa bergerak tanpa harus merasa khawatir lagi.


"Kurang ajar! kenapa Papa malah kasih izin itu Polisi masuk kedalam rumah!" sungut Eva, duduk dengan sofa panas karena tubuhnya terlalap api kekecewaan.


"Ya, kalo gak boleh tambah curiga lah Ma." balas Angel lebih menggunakan akal logikanya. Bahkan anggota pemerintahan pun tidak berani melawan aparat kepolisian juga.


"Hih, kesel banget sih! tangan Mama udah gatel banget padahal!" sungut Eva lagi mengepalkan kuat serasa ingin melakukan penyiksaan kepada Amira. Tetapi yang terjadi janganlah penyiksaan, untuk mendekat dalam jarak satu meter saja Dirinya tak mampu.


"Syukurin Nyonya! emangnya enak?" serunya hingga Amira bisa mendengar.


"Ada apa sih Mbok?" tanya Amira tertarik, karena dirinya sibuk mengupas kulit jeruk. Walaupun sebenarnya bisa mendengar jelas tetapi berlagak tak tahu saja.


"Itu, Non Ibu Tiri yang paling jahat sedunia ... lagi sibuk cari cara buat bikin ulah ...." tukas Mbok Darmi dengan mulut menye-menye.


Tentu saja Amira hanya tersenyum simpul, kemudian menyuapi Mbok Darmi dengan jeruk yang telah Ia kupas. Sama sekali Amira tak berniat untuk melihat ataupun menoleh kebelakang, bila dirinya melakukan itu. Maka Eva hanya akan menilai dengan arti yang berbeda.


"Gak usah nengok nanti dikira ngeledek lagi." batin Amira memilih pura-pura untuk buta tanpa mengubah posisi duduknya.


Tiba-tiba obrolan dua wanita ini harus terhenti saat Demien datang dan bergabung.


"Eh, Papa." seru Amira mengubah posisi tubuhnya hingga tak lagi membelakangi posisi duduk Demien.


"Gimana Mbok, udah enakan?" tanya Demien.

__ADS_1


"Ah, udah kok Pak tinggal batuknya aja ... makasih ya Pak malah jadi ngrepotin." tukas Mbok Darmi tak enak hati.


"Mbok, jangan kayak gitu lah ... Mbok kan udah dianggap Rani sebagai orangtua ... Saya ingat pesan Rani, katanya harus bisa rawat Mbok sampai tua ...." jelas Demien. Ternyata inilah yang menjadi alasan Demien dengan rela merawat Mbok Darmi, atas permintaan Almarhum.


Mbok Darmi tersenyum, hatinya sangat terharu. Memang Rani sangatlah baik padanya. Tetapi tak akan mengira kebaikan itu akan diteruskan oleh Demien saat Rani telah tiada.


"Terimakasih banyak ya Pak." ucap Mbok Darmi untuk yang keberapa kalinya.


"Amira, kamu mau nginep atau pulang?" tanya Demien, berharap jawaban Amira mau bermalam disini. Tetapi tak diucapkan hanya terlihat penuh harap dan terucap dalam hati.


"Gak tahu Pa, nanti tunggu Mas Axel maunya gimana," kilah Amira menggunakan Axel sebagai alasan, karena tak berani menolak secara langsung. Masih berperasaan meskipun keberadaannya pernah diabaikan oleh sang Papa.


"Oh, gitu ya? iya sih kalo udah jadi istri harus nurut sama suami ... Kamu mirip banget sama Rani." ucap Demien dingin, kemudian memperhatikan wajah sang putri, kemudian tersenyum simpul.


"Papa kangen sama Kamu Amira, tapi Papa gak hak lagi sekarang." batin Demien menelan kekecewaan dengan menunjukkan senyuman palsunya.


"Yaudah Papa, mau lihat file dulu ya? tadi ada aja klien yang minta check dihari libur." pamit Demien meninggalkan Mereka berdua.


Amira mengangguk, dan Mbok Darmi juga sama.


Diruang tengah Eva memantau keadaan, melihat Demien pergi membuatnya menyeringai.


"Hallo Angel, Papa udah naik ... Kamu udah siap belum?" tanya Eva melalui sambungan telepon.


"Beres Ma, nanti Aku turun pura-pura minta tolong sama Polisi itu ya!" jawab Angel.


"Oke, Mama tunggu!" tutup Eva menunggu Angel untuk melakukan akting.


Selang lima menit terlihat Angel menuruni anak tangga, wajahnya terlihat gusar.


"Pak, boleh gak Saya minta tolong?" pinta Angel.


"Ada apa ya Mbak?" tanya Pak Jaka.


"Ah, itu dikamar ada tikus, Saya takut banget." tukas Angel berbohong hanya untuk mengalihkan perhatian Pak Jaka saja.


Pak Jaka terlihat berfikir sejenak, melihat kearah Amira, sosok utama yang harus dirinya jaga.

__ADS_1


"Maaf Mbak tugas Saya buat jaga Nyonya Amira bukan menangkap tikus!"


__ADS_2