Rahasia Amira bersama Dosen Killer

Rahasia Amira bersama Dosen Killer
Tidak semudah itu


__ADS_3

"Katanya Non itu orang kaya raya, kok tiba-tiba mau utang?" imbuh Ibu kantin lagi.


"Saya lupa bawa dompet Bu," kilah Angel, mana mungkin wanita Gadis itu mengatakan hal sejujurnya tentang uang saku yang diberikan oleh Eva untuknya.


"Udah Kamu tinggal pilih aja nanti Aku yang bayar." kata Amira datang menghampiri Angel.


Angel melirik saja dirinya sedang ragu.


"Bu ambilin yang biasanya Angel suka beli, nanti saya yang bayar ya." kata Amira pergi hendak meneruskan makan siangnya bersama Ani.


Bu kantin cukup pintar untuk menghafal kesukaan para pelanggannya, mengambilkan beberapa makanan yang memang sering Angel pada setiap harinya.


"Nih, Non!" ucapnya menyerahkan kantong berisi makanan itu kepada Angel.


Seharusnya Angel mengucapkan terima kasih, tetapi merasa gengsi dan pergi begitu saja.


"Buset itu anak ya!" keluh Ani ingin memaki.


Tetapi ya Amira memberikan kode menggelengkan kepalanya. Dia memperhatikan kepergian Angel dengan wajah lesu itu. Tampak hatinya bertanya-tanya apa yang sudah terjadi.


"Mereka kenapa ya? kan Papa udah diusir dari rumah tapi kok kayaknya Angel malah sedih?" guman Amira mampu menarik perhatian Ani.

__ADS_1


"Apa Lo bilang? Papa lu diusir dari rumahnya? sama Angel?" tanya Ani.


"Lebih tepatnya sama Mama Eva sih," terang Amira.


Tentu saja Ani semakin lebih terkejut, dengan wajah yang menggemaskan sebab mulutnya penuh sibuk mengunyah nasi.


"Ternyata Angel jahat karena titisannya juga udah jahat ya?" celetuk Ani lagi.


"Eh kita kan udah nggak ada mapel lagi kan?" tanya Ani kepada Amira.


"Masih ada tahu! Pak Axel masih 2 jam lagi." jawab Amira mengingatkan.


"Udah ah jangan kayak cucian nggak disetrika aja! masuk yuk bentar lagi kan udah jam satu." ajak Amira menarik tangan Ani untuk kembali kedalam kelasnya.


Tidak seperti Ani ada yang merasa kurang bersemangat, alasan Amira sangat bersemangat mungkin karena akan bertemu dengan sang suami tercinta.


Mereka tiba di kelas, berbeda dengan dulu Amira sangat kesal saat menanti kedatangan sang Dosen killer. Walaupun teman-temannya masih melakukan hal sama Gadis itu malah tidak sabar menantikan lelaki killer itu dengan bibir yang terus tersenyum.


"Selamat siang menjelang sore!" sapa Axel ketika tiba didalam kelas.


Lelaki itu sedang menahan diri untuk tidak memperhatikan wajah Amira saja. Dan mengalihkan netranya ke semua wajah mahasiswanya.

__ADS_1


Tetapi Amira malah menggoda dengan terus memperhatikan wajah Axel dengan senyuman manisnya.


"Sayang udah dong jangan lihatin aku kayak gitu, gak tau kenapa kok jadi deg-degan." batin Axel memohon lewat tatapan matanya.


"Pak, sebentar lagi kan kita biasa adain acara fashion busana? gimana kalau kita ada yang di puncak?" kata Edo tiba-tiba. sebetulnya bukan mendadak pula karena memang mereka mengadakan acara kegiatan untuk belajar secara praktek menunjukkan kreativitas mereka secara nyata.


Axel terlihat tertarik.


"Oke, boleh! Saya kasih waktu satu minggu buat bikin baju ataupun apapun yang Kalian mau, terus nanti kita akan bikin acara di puncak!" ujarnya.


"Yeay, akhirnya hiling." sorak Mereka girang.


"Oke, pas banget! Aku bisa ajak Amira sekalian bulan madu." batin Axel ikut bersorak. Mereka meneruskan pembelajaran tanpa ada kegaduhan yang berarti.


Ketika kegiatan belajar telah berakhir, Axel melihat kepergian Amira bersama Ani.


Gadis itu berlagak sibuk memainkan ponsel, walaupun sebenarnya memang ingin mengirim pesan kepada Axel.


"Mas aku mau pergi sama Ani dulu ya," isi pesan Amira.


"Lah mau ngapain? gak gak boleh pergi!" tukas Axel hendak beranjak untuk mengejar.

__ADS_1


__ADS_2