Rahasia Amira bersama Dosen Killer

Rahasia Amira bersama Dosen Killer
Detik-detik sweet moment


__ADS_3

Seperti melupakan niatnya untuk mencari Amira, dan malah terpedaya oleh ajakan Doni yang mengajak dirinya pergi ke kantor. Selepas itu Axel malah masuk kedalam kelas untuk mengajar.


Sedangkan istri alias si gadis muda sedang menghentikan taksi untuk segera mencari kado dan kue ulang tahun.


"Pokoknya Aku mau bikin acara ultah Pak Axel paling berkesan." guman Amira melihat Taksi datang dan menghentikannya.


Mobil akomodasi itu akhirnya membawa Amira pergi meninggalkan kampus ketempat yang sudah dikatakan, sebelum akhirnya sang supir menginjak gas mobil.


Selang tiga jam kemudian, ketika Axel tengah melakukan kegiatan mengajar. Seperti kilat yang datang, tiba-tiba saja Dirinya teringat akan Amira.


"Ya Tuhan! Gue kan tadi mau cari Amira?"


"Kenapa malah disini?"


Keadaan hatinya yang tenang akhirnya menjadi terganggu. Padahal sebelumnya Axel memusatkan fikirannya untuk mengajar, dan sekarang buyar berubah menjadi rasa khawatiran.


"Mana udah terlanjur masuk kelas ... kalo Gue tiba-tiba berhenti kan gak sopan banget kesannya, apalagi Gue kan Dosen." seru Axel bimbang. Karena tuntutan profesi akhirnya Axel tetap mengajar dan meneruskan sampai akhir.


Walaupun sesekali Axel melirik jam berharap waktu cepat berakhir.


*


Disebuah kantin.


Elena sedang duduk, mulutnya masih mengerucut kesal. Mengaduk es lemon tea untuk menghilangkan hawa panas dalam hatinya itu.


Dan datanglah Doni memasuki tempat penjualan makanan yang ada didalam Kampus ini, melihat Elena sedang duduk tanpa ada teman. Doni berniat untuk menghampirinya.


"Brakk."


Suara kaki kursi tergeser menyentuh lantai keramik, berhasil membuat Elena menoleh.


Saat mengetahui ternyata Doni yang datang, Elena kembali memalingkan wajahnya.


"Kenapa? macem tahu di injek aja itu muka!" ledek Doni memperhatikan Elena.


"Berbisik deh Lo Don! gak usah ganggu!" ketus Elena melirik sinis.


Sejak dulu Doni lah yang sebenarnya memiliki perasaan khusus untuk Elena. Tetapi justru Elena malah tergila-gila dengan Axel. Sejak mengetahui Elena memiliki perasaan untuk sang sahabat Doni memilih mengurungkan niat dan memendam cintanya sendiri sampai sekarang.


"Kayak gak ada cowok lain aja El-el ... Emangnya di LA gak ada yang mau sama Lo?" goda Doni untuk mencairkan suasana.


Posisi duduk Elena yang awalnya menghadap kelain arah, seketika langsung memutar. Mengubah posisi saling berhadapan dengan Doni.


"Don, Lo kan tahu Axel itu cuma anak pungut! Gue dari dulu udah ada niat untuk bantu Dia! dan Lo juga tahu itu!" sungut Elena dengan wajah serius.


Mendengar pengakuan Elena, timbulah senyuman tipis dibibir Doni. Alasan sama Elena dari dulu katakan tidak pernah berubah.


"Terus menurut Lo gimana?" tanya Doni,

__ADS_1


"Maksud Lo?" tanya Elena justru bingung.


Doni mengubah posisi duduknya untuk mencari posisi ternyaman. Dan sedikit membungkukkan badannya hingga tersandar diatas meja kantin.


"Ya, Lo lihat! kehidupan Axel sesuai dengan perkiraan Lo gak? kan Lo bilang Axel anak pungut bisa aja suatu saat Dia diusir terus hidup dijalan, dan Lo akan bersedia menawarkan sebuah bantuan? gitu kan?" ulang Doni sampai hafal betul kata-kata Elena bahkan nada bicaranya pun sama.


Sejujurnya hal ini terlihat lucu, bahkan Elena sedikit menyudutkan senyuman simpul, namun segera menahan dan mengubah menjadi ekspresi serius kembali.


Doni yang mengetahui hal ini, berlagak tak tahu, dan memilih mendengarkan jawaban apa yang akan keluar dari bibir Elena.


"Ya Gue lihat sekarang Axel masih baik-baik aja sih."


"Nah, kan? itu tahu ... bahkan Lo juga tahu mobilnya Axel yang amat mewah itu juga orangtuanya yang kasih!" jeda Doni memotong ucapan Elena langsung.


"Tapi, kalo setahun dua tahun kemudian tiba-tiba berubah gimana?" tanya Elena seakan malah berharap dengan moment buruk yang akan terjadi kepada Axel.


"Eh, Maemunah! Lo tahu gak istrinya Axel itu orang kaya raya! jadi semisal Axel diusir tinggal hidup aja disana!" balas Doni lagi.


"Lah, ngapain ikut Istrinya? Mendingan ikut Gue?" celetuk Elena sungguh diluar dugaan.


Doni sampai menekan dahi Elena.


"Lo, jangan-jangan balik dari LA karena mau berobat ke psikiater ya? gila deh Lo kayaknya El." seru Doni, merasakan sambaran tangan Elena untuk menjauhkan tangannya.


Tidak seperti tadi, Elena yang selalu membantah akhirnya diam karena tahu dirinya tak lagi memiliki celah untuk merebut Axel lagi.


"Gak usah sedih!"


Seharusnya Elena merasa berterima kasih karena Doni perduli dan memberikan masukan. Tetapi rasa egois, telah menguasai hati Elena sekarang.


"Lo gak usah ikut campur deh Don!"


"Gara-gara Lo Gue jadi gak nafsu!" ketus Elena beranjak kemudian pergi meninggalkan Doni sendiri.


"Dasar buta!" ketus Doni tak terdengar oleh Elena yang sudah tak terlihat lagi ada dimana.


"Ah, iya! Gue kan masih ada tugas Negera ya?" imbuh Doni, kini mulai menggerakkan jari tangan untuk memainkan layar ponsel.


"Xel, kata Pak Direktur kita disuruh lembur bikin penelitian! harus dateng gak boleh enggak!"


"Kirim!"


"Haha, beres! ah, mendingan Gue isi perut dulu lah." seru Doni bergegas untuk membeli beberapa makanan.


*


Padahal sebentar lagi detik-detik kelas Axel akan berakhir.


Dan,

__ADS_1


"Astaga! apa lagi sih? ini Doni gak tahu apa kalo Gue ada masalah?" keluh Axel seraya membaca kiriman pesan Doni.


Rencana yang dirancang akan dilaksanakan setelah mengajar, harus gagal lagi.


Wajah sedih, serta hilangnya kekuatan menjadikan dirinya lemas tak bertenaga.


"Widih, ayo kita kerjain sekarang!" ajak Doni datang menjemput untuk mengalihkan perhatian Axel.


"Gue bolos aja ya Don?" seru Axel lirih.


"Gak bisa! ini wajib! Tenang aja Xel nanti jam 12 pulang kok!" ucap Doni, hingga membuat mata Axel terbelalak.


"Ah, gila Lo! masak sampai jam 12 malam? Don Lo kan tahu Gue harus cari Amira!" ucap Axel sendu.


"Lah, kenapa dicari? tenang aja Dia pasti pulang ... udah ayok! semakin cepat semakin baik kan?" gegas Doni menarik Axel untuk kesuatu tempat.


Beberapa jam kemudian.


Perasaan kalut yang sedang dirasakan Axel, sejak memasuki ruangan hanya sibuk melamun.


"Don, ayo udah jam sebelas ini! Kita lanjutin besok aja!" pinta Axel. Keadaan Kampus yang sepi dan gelap menjadi saksi sekaligus teman.


"Iya, ini bentar lagi kelar!" kilah Doni sedari tadi mengerakkan jari di atas papan keyboard. Padahal dirinya hanya asal pencet tanpa melakukan apapun. Itu Ia lakukan guna mengulur waktu saja.


Dan akhirnya sekarang berakhirlah akting Doni .


"Lo itu masak nomer telepon istri sampai gak punya xel-xel! nyesel lagi kan Lo?"


Axel Hanya menjawab dengan anggukan kepala.


"Nih, lihat!" seru Doni menyerahkan ponselnya.


Sebuah rekaman video Amira berteriak mengungkapkan perasaan diatas loteng.


"Jadi, jangan sampai nyesel lagi! gue rasa Lo bukan lagi anak kecil! sana pulang!" hardik Doni.


Jantung Axel berdegup, mengembalikan ponsel lebih dulu kemudian berlari.


"Amira, maafin Saya! Saya gak tahu! tapi mulai hari ini, Saya gak akan buta lagi sama perasaan Saya sendiri!"


Secepat mungkin Axel berlari, tujuannya adalah pulang kerumah.


*


Dirumah Amira menunggu kedatangan sang Dosen, mempersiapkan kue juga kado. Sebelumnya Doni sudah memberikan kabar tentang rencana ini padanya. Sehingga Amira tahu alasan Axel pulang hingga larut malam.


Dan sosok yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba,suara mesin mobil terhenti didalam garasi.


"Ah, aku harus siap-siap." ucap Amira gugup berdiri diambang pintu.

__ADS_1


Sekalipun dirinya gugup.


Dan terdengar langkah kaki terdengar seperti berlari.


__ADS_2