
Dargo mulai bergerak mencari dokumen penting di dalam lemari. Membelah tumpukan pakaian hingga tampak benda tertutup map coklat. Kemudian Dargo menariknya keluar. Membuka kancing bewarna merah dan perlahan menarik kertas terlindungi plastik.
Tampak secara jelas tulisan akta tanah dan juga surat kendaraan.
Bibirnya menyeringai puas. Kemudian membawa berkas penting itu keluar.
*
Ditempat lain. Mila sedang duduk menunggu seseorang di kantor. Hingga terdengar suara ketukan pintu.
"Masuk!" titah Mila memutar kursi kerjanya untuk melihat. Hingga tampak seseorang lelaki mengenakan jaket berjenis kain jeans member salam hormatnya.
"Gimana Kamu siap kan? yakin bisa berhasil?" tanya Mila dengan wajah serius menatap wajah lelaki itu dengan netranya.
"Tenang aja Bu, serahin saja semuanya sama Saya!" jawab lelaki itu.
*
Dargo berangkat menggunakan motor. Tiba ditempat judi dengan wajah gembira. Sebelumnya membawa beberapa surat kedalam kantor pegadaian untuk mendapatkan uang cash.
"Tenang aja Sayang, nanti Aku bakal ganti berkali-kali lipat kalo menang." seringai Dargo melepaskan helmnya setelah memarkirkan motornya ditempat parkir.
__ADS_1
Ramainya tempat yang biasa untuk berjudi sekaligus menyediakan beberapa hiburan negatif dari wanita penghibur juga minuman memabukkan tersedia disana. Dargo membuka pintu goyang itu dengan cara mendorongnya.
"Wah, lihat tuh Dargo dateng!" seru teman-temannya melihat sosok lama yang berubah.
Dargo duduk diantara Mereka.
"Coy gak salah lihat kan gue? Sumpah Lo ganteng banget Cok! mana kayaknya bajunya juga mahal habis menang lotre Lo? kok tiba-tiba bisa kaya?" celetuk Mereka bertanya tentang perubahan Dargo.
"Udahlah diem gak usah kepo! mendingan sekarang kita mulai aja!" ketus Dargo menunjukkan beberapa uang banyak di dalam tasnya.
Siapa yang tidak hijau melihat uang sebanyak itu. Dengan semangat melakukan tindakan negatif itu tanpa menunggu lama lagi.
Sorak dari bibir bau alkohol juga kepulan asap rokok menyelimuti tempat itu. Tetapi Mereka seperti sudah terbiasa dan sangat menikmatinya.
"Halah, ini baru permulaan! cepet kocok lagi!" kata Dargo belum menyerah.
Begitulah kisah Dargo yang terus menerus mendapatkan kekalahan tanpa pernah menang. Padahal uang sudah hampir habis namun belum juga mendapatkan hasil satu rupiah pun.
*
Meninggalkan dunia hitam Dargo. Di kampus, Amira dan Ani sedang melakukan makan siang bersama. Tidak seperti Amira yang membeli beberapa makanan. Ani sibuk menyantap nasi bekal yang dibawa dari rumahnya.
__ADS_1
"An, kayaknya makanan kamu kok enak banget sih boleh nyoba nggak?" tanya Amira melihat Ani tampak sedap makan bekal itu bahkan sampai tidak menoleh ke arahnya.
"Boleh sih tapi ini makanan orang miskin nggak papa?" ujarnya ragu.
"Ya ampun Ani, nggak beracun kan itu?" balas Amira dengan wajah kesalnya. Ani tertawa saja kemudian langsung menyuapi Amira.
Tentu saja Amira menerima dan membuka mulutnya. Citra rasa aroma masakan ala rumahan mampu meledak di dalam mulut Amira.
"Woah, enak banget! padahal cuma oseng tempe sama buncis aja ya ... tapi kok rasanya luar biasa." puji Amira sungguhan.
"Lebay deh lo Amira! makan kayak gini aja masak sampai bilang kayak gitu? eh tapi emang luar biasa ding." sahut Ani sempat meragukannya namun akhirnya berbalik arah.
Hingga akhirnya obrolan konyol mereka harus terhenti ketika melihat Angel hanya berdiri di depan etalase makanan.
Bibirnya tampak mengulum salivanya tanpa memilih, seakan cuma ingin berdiri untuk menatap banyaknya makanan yang tertata.
"Adik lu ngapain disono terus, mana kayak patung lagi?" tanya Ani kepada Amira. sesaat Amira menoleh melihat Angel, terlihat tangan adik tirinya itu mengusap perut namun tidak juga memilih makanan yang Ia inginkan.
"Bu boleh nggak hutang dulu." kata Angel menahan perasaan malunya karena terpaksa mengatakan hal ini.
"Sial banget sih mau beli makanan aja pakai ngomong kayak gini mana punya uang buat nanti beli bensin lagi." batin Angel kesal.
__ADS_1
"Lah, utang? gak salah denger Saya Non?" tanya Ibu kantin.