Rahasia Amira bersama Dosen Killer

Rahasia Amira bersama Dosen Killer
Doni jatuh cinta?


__ADS_3

Setelah selesai mengutarakan permintaan maaf dan melakukan kewajiban sebagai mahasiswa. Ani keluar kelas dengan wajah lesu. Karena salahnya sendiri dia menjadi target cibiran dari para teman-temannya.


Karena terbiasa hidup kekurangan dan sering mendapatkan hinaan, Ani sama sekali tidak menggubris dan tetap saja berjalan tanpa peduli.


"Iya iya Aku emang salah nggak usah diingetin lagi." kata Ani setiap saat berpapasan dengan orang lain.


"ANIIII," suara Doni memanggil dari halaman parkiran terdengar cukup keras, padahal jaraknya lumayan jauh dari posisi Ani berdiri.


"Buset deh suara Pak Doni udah kayak toa aja." kata Ani bernada pujian juga ejekan.


Terlihat Doni melambaikan tangannya sebagai tanda Ani agar kesana. Awalnya Ani merasa ragu tetapi karena memiliki hutang budi akhirnya tetap melangkahkan kakinya.


"Ada apa Pak?" tanyanya saat jarak mereka sudah lebih dekat.


"Ayo, Saya anterin Kamu ke Rumah Sakit buat minta maaf secara personal sama Amira." ajak Doni.


"Emangnya Bapak nggak repot?" tanya balik Ani.


"Enggak kok emang repot kenapa?" tanya Doni kepada Ani lagi.


"Lah, mana Saya tahu? kok malah tanya Saya!"protes Ani dengan wajah juteknya.


Mendapat balasan kata-kata se epik ini dari Ani membuat Doni tersenyum getir.


"Gila ini anak benar-benar pedes omongannya barusan, mana enteng banget lagi ngomong sama Dosen kayak gitu!" batin Doni kesal. Namun sebagai tenaga pendidik yang baik sabar dan budiman, dirinya harus bisa mengatur diri berbagai macam jenis perasaan marah dan emosional.


"Udah deh nggak usah cerewet lagi! mendingan sekarang Kita ke Rumah Sakit." ajak Doni sekali lagi.


Beberapa saat Ani terdiam sedang memikirkan apa yang akan dia putuskan.


"Lumayan sih Pak Doni bisa nemenin, tapi kalau Gue pergi pakai satu mobil sama Pak Doni nanti dikira Gue dong yang jadi ayam kampus." batin Ani seraya melirik kearah Doni. Sadar sedang diperhatikan Ani dari ujung kaki Doni mencoba mencari adakah sesuatu yang salah melalui pantulan kaca mobil.


"Ah, Gue tahu!" kata Ani menjentikkan jarinya, dan membuat Doni juga mengernyitkan keningnya atas sikap Ani ini.


"Oke saya setuju tapi, Saya mau naik ojek aja Bapak berangkat pakai mobil sendiri ya." katanya.


"Lah kenapa emangnya Kan bisa berangkat bareng aja?" tanya Doni entah keberapa kalinya sejak tadi sang Dosen terus menerus bertanya.


Ani mendengus lirih, bisa-bisanya Doni tak sadar dengan apa yang terjadi. Padahal sejak mereka mengobrol banyak pasang mata yang sedang mengawasi.


"Bapak ini jadi Dosen tapi kok pinternya nggak dipake!"

__ADS_1


"Jleb" seperti duri kata-kata Ani mampu membuat Doni tertohok.


Bahkan Doni sampai tak bisa berkata-kata karena mendapatkan serangan secara beruntun.


"Daripada Bapak penasaran lihat deh ke sekeliling, nggak lihat apa mata mereka sampai mau jatuh karena terus melotot kearah sini!" kata Ani melangkahkan kakinya untuk menjauhkan diri dari Doni.


Setelah mendengarkan penjelasan Ani padanya. Doni memutar kepalanya untuk memastikan sendiri. Dan benar saja bagai kamera pengawas diam-diam anak-anak yang lain sedang melihat posisi Dirinya.


"Eh beneran ternyata ... hampir aja Gue bikin gosip baru ...."


"Ah, ternyata Ani itu orangnya waspada banget ya?" puji Doni mengakui.


Tidak seperti yang sedang Doni ulu-ulukan. Nyatanya Ani juga melakukan kesalahan.


"Lah bego! kan Gue nggak tahu alamat Rumah Sakitnya dimana?" keluh Ani menepuk dahinya keras.


Padahal tadi dirinya sangat percaya diri menolak ajakan Doni. Dan sekarang menyesali keputusannya karena lupa menanyakan alamat Rumah Sakit yang merawat Amira.


"Ah Gue hadang aja Pak Doni di pintu gerbang, pasti masih ada waktu kan?" tekad Ani segera berlari untuk mengejar Doni.


Bagai kekuatan super kilat, Ani yang memang terbiasa berjalan memiliki kaki yang kuat. Meskipun tetap saja banyak air keringat yang keluar dan menyebabkan nafasnya tersengal-sengal.


Memang benar usaha tidak akan mengkhianati hasil. Terlihat mobil Doni baru saja keluar dari halaman parkir.


"Kenapa Kamu berubah pikiran?" tanya Doni melihat Ani menghentikan mobilnya.


"Bukan saya cuma mau tanya alamat Rumah Sakit Amira dimana ya?"


Terang saja Doni tersenyum masam, sungguh mahal sekali harga diri mahasiswanya ini.


"Rumah Sakit Kenanga!" jawab Doni.


"Oke Pak, makasih banyak ya." kata Ani bergegas untuk mencari pangkalan ojek.


Doni melihat tanpa berniat untuk mencegah sebab Dia tahu watak keras Ani tidak ada tandingannya. Laki-laki itu hanya tersenyum merasakan sensasi aneh yang timbul dihati kecilnya.


*


Di Rumah Sakit hanya ada Mila Axel dan Amira. Para kepala keluarga telah kembali ke kantor untuk melakukan tugasnya.


Karena tiba lebih dulu Doni menunggu di depan pintu utama Rumah Sakit. Selang lima belas menit kemudian Ani datang dan turun dari motor.

__ADS_1


"Lah, Bapak nungguin Saya?" tanya Ani tak mengira Doni sampai setia menunggu kedatangan dirinya.


"Udah deh nggak usah cerewet!" balas Doni langsung membungkam mulut Ani. Anak dedeknya itu terlihat memanyunkan bibirnya saja tanpa berani melawan, itu sangat menghibur Doni bahkan nyaris saja tertawa sampai terkekeh.


"Astaga gemes banget nggak sih ekspresinya, bisa gitu orang galau kayak dia tiba-tiba berhenti waktu disuruh diem?" batin Doni selalu mendapatkan kejutan dari sikap Ani. Dan akhirnya memimpin jalan menuju kamar inap Amira.


Doni yang berhasil tiba lebih dulu ketuk pintu kamar inap.


Karena letak posisi Mila lebih dekat, Dia pun membukakan pintu.


"Selamat sore Tante," sapa Doni.


Saat Mila telah berhasil membuka pintu dan siap menyunggingkan senyuman ramah dibibirnya, namun melihat Ani hadir di sini. Mendadak senyuman itu pun lenyap menjadi wajah datar dan dingin.


"Doni kenapa Kamu bawa Dia kesini?" tanya Mila tegas akan sambil menunjuk kearah Ani.


Ani menelan salivanya mendapatkan tatapan tajam ditambah mengakui dirinya memang bersalah.


"Siapa Ma, yang datang?" tanya Axel, Karena penasaran menghampiri mereka untuk melihat siapakah tamu yang datang.


Susah payah Ani menguatkan mental, agar tubuhnya tidak bergetar. Sayangnya harus gagal, saat Axel datang dengan tatapan killernya.


"Mampus deh lo Ani! hari ini tamat riwayat Lo!" batin Ani mengumpat dirinya sendiri.


"Mas suruh Dia masuk dong, Kenapa kalian masih di luar aja?" sela Amira menyadarkan Axel dan Mila.


"Ayok, masuk!" ajaknya kemudian.


*


Dargo terheran-heran mengapa ada mobil harus berhenti disini.


Dan terbukalah jendela mobil tampak gadis cantik menatap wajahnya.


"Saya dengar Bapak ini bapaknya Pak Axel?" tanya Angel memastikan lebih dulu.


"Iya! Saya Bapaknya Axel! kenapa? Kamu gak percaya?" ketus Dargo kesal mengira Angel akan bersikap sama seperti Security tadi.


"Ah, enggak kok! Saya percaya dong ...."


"Pak, ini Saya kasih uang tolong cari ojek terus kita ketemuan di sebuah cafe diujung sana." Kata Angel melemparkan uang seratus ribu itu tanpa berniat menyerahkan secara baik-baik.

__ADS_1


"Dih, ngapain Saya nurut sama situ?" tanya Dargo enggan melakukan permintaan Angel tapi tetap mengambil uang pemberian dari gadis itu.


"Bapak mau uang banyak gak? kalo gak mau sih yaudah ... Saya tunggu jangan pakai lama!" ketus Angel menutup kaca mobilnya.


__ADS_2