
"Ada apa kenapa kok muka kamu kayak gitu?" tanya Mila saat memperhatikan Axel terdiam sesaat menatap layar ponselnya.
"Papa Demien diusir Ma dari rumahnya." jawab Axel menunjukkan kiriman pesan dari Amira.
Mata Mila tercengang beberapa detik, kemudian menggerakkan tangannya untuk menekan ikon gambar gagang telepon.
"Nut ...."suara nada tersambung mengejutkan Axel. Dia langsung membalikkan sisi ponselnya lagi.
Ternyata Mila telah melakukan panggilan tetapi Axel langsung mengubahnya menjadi video call.
Melihat adanya panggilan video Amira langsung menekan ikon gambar berwarna hijau.
"Hallo Ma, Mas ...." sapa Amira saat melihat wajah suami dan Ibu mertuanya menyapa dilayar. Sebuah pemandangan yang mampu menyejukkan hati untuk sementara.
"Hallo Sayang, Mama udah baca semuanya, terus sekarang kalian mau kemana? pokoknya tenang aja nanti Mama telvon itu si nenek sihir biar kita beli lagi rumah Kamu itu!" ucap Mila menggebu-gebu menguasai layar ponsel hingga hanya menunjukkan wajahnya saja. Axel sampai terdepak karena Mila menggeser posisinya. Tidak terbayangkan betapa sayangnya Mila terhadap Amira bahkan tanpa ragu untuk membantu.
"Gak usah Bu Mila, terimakasih banyak! kalo seumpama dibeli nanti Dia bakal cari cara buat rebut lagi." kata Demien menjawab lebih dulu. Sebagai pemilik utama dan kepala keluarga dirinya yang berhak untuk memutuskan.
Memang benar, meskipun kali ini Mila dan Anggoro mampu untuk merebutnya dengan cara membeli berapapun yang Mereka minta. Tapi suatu saat pasti Eva akan berbuat ulah lagi.
"Iya sih, terus sekarang Bapak mau tinggal dimana?" tanya Mila.
"Kalo gak ada tempat, tinggal aja dirumah kita Pa." sela Axel juga.
Demien tersenyum, namun kepalanya tetap menggeleng.
"Makasih Xel, tapi Papa masih ada tempat kok." ucapnya.
"Tuh bentar lagi juga udah sampai." imbuh Demien lagi.
"Mas, udah dulu ya? nanti aku share lokasinya." pamit Amira menekan ikon penutup panggilan.
*
Demien membayarkan sejumlah uang kepada sang driver saat akhirnya Mereka tiba disebuah apartemen mewah.
"Ini punya siapa Pa?" tanya Amira seraya mencari lokasi dan mengirimnya kepada Axel.
"Punya Papa dong ... masuk yuk?" ajak Demien menarik koper. Mbok Darmi juga berjalan mengikuti langkah sang Tuan.
Mereka masuk kedalam lift dan Demien menekan angka 15. Dorongan dari ruangan bergerak naik keatas cukup membuat Mbok Darmi takut dan memegangi pegangan di sisi samping.
"Sini Mbok pegang aja tangan Amira." ucap Amira mengulurkan tangannya. Dan secara senang hati Mbok Darmi menerimanya. Dan akhirnya Mereka tiba, pintu lift terbuka lebar. Demien melaju ke sisi kiri untuk. Hanya berjarak tiga ruangan Demien mencari card dalam dompetnya kemudian digesekkan ke papan yang telah disediakan.
"Klek."
Pintu apartemen terbuka, tetapi ada yang lebih menarik perhatian Amira.
__ADS_1
Banyaknya foto kenangan milik keluarganya ada di setiap dinding. Bahkan dari dirinya masih kecil hingga remaja. Juga potret wajah Rani tengah tersenyum bagai menyapa kedatangan Mereka kemari.
"Kenapa kaget?" tanya Demien ketika melihat wajah Amira.
"Ini sejak kapan Papa punya apartemen? terus semua foto ini?" tanya Amira menoleh terheran-heran.
Demien tersenyum, melepaskan koper dari tangannya. Mulailah berjalan untuk mendekati sebuah meja diruang tengah.
"Udah lama Sayang, bahkan Papa udah bikin apartemen ini sebagai museum kenangan kita." ujar Demien dengan senyuman teduhnya.
"Jadi selama ini Papa gak buang foto Amira?" tanya Amira lagi. Beberapa tahun yang lalu dirinya ingat semua foto kenangan itu dibawa dan dimasukkan kedalam kendaraan truk besar. Kala itu hubungan Mereka yang sempat merenggang membuat Amira tidak berani untuk bertanya perihal semua foto itu kepada Demien.
Demien tersenyum getir, memang pahit bila harus mengingat perang dingin diantara mereka.
"Enggak dong! Papa mana tega buang foto Kamu." ujarnya.
Namun ada yang mengganjal di hati lelaki itu,
"Tapi sebenarnya Apartemen ini tadinya mau buat hadiah Mama Eva biar dia gak ngomel suruh buang semua foto kalian, tapi baru nikah beberapa bulan aja sikap aslinya mulai kelihatan." ujar Demien akhirnya mengurungkan niatnya.
Amira mengangguk saja, sebab tidak tahu harus berkata-kata seperti apa lagi.
"Sayang, Kamu marah ya?" tanya Demien mengartikan berbeda diamnya Amira.
Jelas Saja Amira menggoyangkan kedua tangannya.
"Eh, enggak kok Pa bukan kayak gitu." jelasnya.
"Papa nyesel banget kenapa harus nikah lagi." ujarnya.
Amira segera menghampiri Demien memeluk dari sisi belakang. Mengaitkan tangannya yang melingkari pinggang sang Papa.
"Papa, Amira emang sedih ... tapi kan Amira gak boleh egois ... karena Papa berhak untuk bahagia, sedangkan Amira aja gak bisa buat temenin Papa terus kan?" jelas Amira.
"Amira cuma sedih kenapa Mama Eva bisa sejahat ini? salah Papa apa?" imbuh Amira lagi, hatinya teramat sakit melihat Demien diperlakukan seperti ini.
"Papa cuma cinta sama Mama Rani, Amira ... gak ada yang bisa ganti Dia dihati Papa." ungkap Demien akhirnya menangis karena rasa rindunya terhadap Rani terus bertambah.
"Besok kita ke makam Mama ya Pa?" ajak Amira lagi. Dibalas Demien dengan anggukan kepala.
Datanglah Axel di depan apartemen.
Dia segera menghubungi Amira.
"Hallo Mas?" sapa Amira santai.
"Kamu udah sampai? oh ya Apartemennya di lantai 15 no 3." jelas Amira memberitahu.
__ADS_1
"Pasti Axel?" ucap Demien dengan wajah penuh arti.
"Hehhe iya Pa." jawab Amira tersipu.
Hingga akhirnya terdengar suara pintu diketuk. Mbok Darmi langsung bergegas untuk membukanya.
Melihat pintu telah terbuka, Axel langsung melangkahkan kakinya.
Tetapi ada yang lebih menarik saat matanya melihat sebuah foto seorang wanita yang sangat familiar.
"Loh, itu kan?" serunya sambil menunjuk kearah foto Rani.
"Kenapa Mas? itu kan foto almarhum Mama Rani." tukas Amira.
Jelaslah Axel tercengang, kemudian melirik foto dan wajah Amira secara bergantian.
"Serius? tapi Beliau ini yang dulu pernah nolongin Aku." balas Axel lagi.
"Ha?"
Amira yang tak paham hanya membuka mulutnya saja.
"Kamu gak bercanda kan Xel?" sela Demien juga menanggapi.
"Gak Pa, Axel gak bohong ... Ibu ini yang udah bantuin Axel buat lapor Polisi,coba aja kalo Ibu ini gak ada pasti Axel udah mati ditangan Papa waktu itu juga." terang Axel semakin memperjelas lagi.
Cerita yang dikatakan Axel memang sama dengan cerita Rani dulu. Saat Rani pulang dari pasar hanya berjalan kaki. Melihat seorang anak disiksa dan segera menolongnya.
"Astaga! ternyata Aku nikah sama Anaknya?" ucap Axel sama sekali tidak pernah terfikir akan terjadi seperti ini.
Dia langsung menggenggam jemari tangan Amira.
"Aku seneng banget! akhirnya ada cara buat bilang balas budi." ujarnya.
Walaupun sempat merasa bingung, namun sekarang Amira tersenyum bahagia.
"Takdir Tuhan itu indah ya Mas? Mama Mila ternyata sahabat Mama Rani ... dan sekarang ternyata Kamu juga cari keberadaan Mama Rani." ujar Amira tertawa kecil.
"Bener banget! sekarang Aku percaya bahwa Tuhan ternyata adil, ada bahagia di setiap luka." ucap Axel lagi.
"Nah, udah dong romantisnya, sekarang bantuin Papa buat beberes." sela Demien membuat Mereka semua tertawa lepas.
*
Di dalam kamar Angel mengenakan baju tidur bermodel dress mini. Dia lupa ada lelaki asing yang hidup diantara Dia dan Mama nya.
Mengenakan pakaian itu keluar berjalan keluar dengan percaya diri.
__ADS_1
Berpapasan dengan Dargo yang juga keluar dari kamar utama.
"Gila! bodynya oke banget! mana masih kenceng lagi." ucap Dargo mulai memikirkan niatan bejat. Ditambah lagi Eva sedang berada di kamar mandi.