Rahasia Amira bersama Dosen Killer

Rahasia Amira bersama Dosen Killer
Aku ada untukmu (Axel)


__ADS_3

Seperti anak kucing yang duduk meringkuk, Amira berusaha menutupi tubuhnya menggunakan sepasang tangan mungilnya.


Nasib baik. Ia ditolong seorang bapak-bapak yang memang berjualan gorengan didepan gerbang kampus.


"Neng ada yang luka gak?" tanyanya khawatir terhadap Amira. Penampilan kotor dan basah serta wajah sembab itu sungguh menjadi pemandangan yang sangat memilukan bagi Mamang penjual.


Amira hanya menggelengkan kepalanya saja, ingin berdiri tetapi tiba-tiba tenaganya malah hilang dan membuatnya lemas tak mampu bergerak.


Segera Mamang penjual gorengan menolong Amira untuk bangkit.


"Ayo, Mamang anterin pulang." tawarnya.


Amira sebenarnya ingin menerima ajakan sang penjual tetapi dia malah melirik ketempat jualan yang pasti menjadi korban, sebab ditinggal oleh empunya.


"Gak papa, tenang aja Neng ... itu ada temen kok nanti Dia yang bantu jaga." tukas Mamang bagai peramal saja. Mampu membaca dan persis yang sedang difikirkan oleh Amira sekarang.


"Udah ayo! nanti masuk angin!" ajaknya lagi, Amira yang terdesak keadaan malu akhirnya mengikuti Mamang, dan terlihat motor tua sedang terparkir diujung gerobak.


"Maaf ya motor Amang jelek." katanya.


"Gak papa Mang, Saya yang seharusnya terimakasih." balas Amira lirih.


Mamang penjual tersenyum kemudian Mereka pergi untuk mengantarkan Amira pulang.


Sayangnya belum sempat Axel tiba di pintu gerbang, Amira telah pergi lebih dulu.


*


Disebuah ruangan Doni sedang melakukan interogasi terhadap Ani.


Membawa gadis yang disinyalir menjadi tersangka sekaligus orang yang telah menyebar luaskan berita bohong tentang Amira.


"Pak, tapi bukan Saya! Saya kan yang nyiram mana mungkin Saya juga yang udah bikin videonya?" balas Ani ketika Doni menuding dirinya tentang pembuatan Video yang menjadi trending topik saat ini.


"Bener juga sih! Dia kan yang nyiram, terus yang udah nyebar siapa dong?" batin Doni bertanya-tanya.


"Oke, itu masuk akal ... tapi kenapa Kamu kok malah tega ngelakuin penyiraman Amira?" tanya Doni lagi.


Kali ini Ani tak bisa mengelak lagi.


"Ya, karena Saya mau Amira berhenti!" jawabnya asal. Walaupun memang inginnya seperti itu.


"Berhenti jadi istri Orang maksud Kamu?" balas Doni memutuskan untuk membuka rahasia itu.


"Maksud Bapak?" tanya Ani lagi.


Doni mulai mengeluarkan sesuatu sebuah foto pernikahan dan beberapa berkas pernikahan milik Axel. Meletakkan diatas meja agar Ani bisa melihatnya dengan jelas.


"Jadi, istrinya Pak Axel itu Amira?" tanya Ani tak percaya dengan apa yang tengah dirinya lihat.


Kemudian Doni mengeluarkan secarik kertas yang lain. Lagi-lagi Ani melihat dan membaca tulisan di kertas itu. Isi penjelasan dari surat perjanjian yang sudah disepakati oleh Axel dan keluarga Amira mampu dibaca dan sangat di mengerti oleh Ani.


Dia pun menyadarkan tubuhnya dibahu kursi, tangannya yang bergetar karena sadar saat ini dirinya telah melakukan kesalahan fatal.

__ADS_1


"Pak, Saya harus gimana?" tanyanya menyesal.


"Apalagi? ya minta maaf dong!" jelas Doni lagi, Sejujurnya laki-laki yang sedang mengintrogasi Ani sedang dibuat takjub. Setelah tahu dirinya salah, Ani langsung mengakui kesalahannya tanpa harus berbelit-belit.


"Apa mungkin Amira mau maafin Saya?" ucap Ani ragu, setelah apa yang sudah terjadi.


"Saya rasa Amira itu anak yang baik ... asal Kamu minta maaf yang tulus pasti dimaafin." ucap Doni berusaha untuk menenangkan.


"Kalo Amira sih Gue percaya bisa maafin ... tapi kalo Axel? Hemm ... gak jamin sih Gue!"


Doni justru lebih takut dengan Axel daripada dengan Amira yang telah menjadi korban. Karena sorot mata Axel terlihat menakutkan dipenuhi amarah.


"Pak, Saya boleh minta tolong?" pinta Ani kepada Doni.


"Apa?" jawab Doni.


Tanpa ragu Ani mengutarakan permintaan tolong nya itu.


"Kamu yakin?" tanya Doni memastikan sekali lagi.


Dan Ani sangat mengangguk yakin atas permintaannya ini.


*


Mamang penjual telah kembali, setelah mengantarkan Amira pulang.


"Mang, lihat cewek yang bajunya basah gak?" tanya Axel kepada Mamang. Baru saja Mamang kembali dan menyentuh penjepit, kemudian kembali meletakkan alat bantu ambil itu diatas rak wadah gorengan.


"Udah Saya anterin pulang Pak ... kasian banget hampir aja tadi ketabrak mobil." jawabnya.


"Terus sekarang gimana Mang? Astaga! Amira!" ucap Axel panik.


"Gak papa kok, tadi Saya tarik tangannya ... udah Saya anterin pulang Pak." ucap Mamang membuat Axel bernafas lega sekarang.


"Oh, gitu ya? yaudah makasih banyak ya Mang." ujar Axel kemudian berlari untuk mengambil mobilnya.


*


Amira membersihkan diri dengan tangisan kencang. Sengaja menghidupkan air shower tanpa dimatikan, Walaupun air yang keluar mengalir sampai keluar kamar. Kejadian memalukan ini cukup meninggalkan trauma dan luka dihati kecil Amira.


"Mama ... maaf Amira gagal jadi Sarjana." guman Amira.


"Amira gak mau lagi dateng ke Kampus Ma, Amira malu." tukasnya lagi.


Suara air yang mengalir menjawab teman, Amira tak perduli dengan tubuhnya yang terus diguyur air dingin.


*


Saat Axel hendak meninggalkan Kampus. Dari jauh Ani berlari,


"Tok, tok, tok." Mengetuk jendela kaca mobil sang Dosen.


"Ada apa? puas Kamu udah bikin Amira kayak gini?" ucap Axel dingin dan ketus, namun masih bersedia untuk membuka jendela.

__ADS_1


"Pak, maafin Saya! Saya ngaku salah Pak." ujar Ani membungkukkan badannya sebagai permintaan maaf.


"Ani, awas aja kalo sampai terjadi sesuatu sama Amira! Saya gak akan pernah bisa maafin Kamu!" kecam Axel memberikan peringatan kemudian menutup kaca mobilnya.


Ani hanya diam, dan melihat mobil sang Dosen pergi dengan kemarahan.


"Kamu yang tenang, Saya yakin Pak Axel pasti mau maafin Kamu," tukas Doni menepuk bahu Ani.


"Iya Pak." jawab Ani mengangguk lirih.


"Ani nanti kalo kamu butuh teman buat datang jenguk Amira ... Saya pasti siap temenin Kamu." jelas Doni sebelum melangkah pergi.


"Oh, ya Kamu bisa kan jaga rahasia tentang pernikahan Pak Axel?" pinta Doni kepada Ani.


"Siap Pak! tenang aja dijamin aman!" jawab Ani hormat siap segera.


Tingkah lucu Ani mampu menggelitik perutnya, Doni pun tertawa meskipun tetap ditahan untuk menjaga martabatnya sebagai Dosen. Kemudian bergegas pergi setelah selesai memberikan bantuan juga peringatan bagi Ani.


*


Setelah menempuh perjalanan singkat karena Axel memacu kecepatan tinggi. Hanya membutuhkan waktu lima belas menit saja untuk tiba dirumah.


"Sayang?" panggil Axel melihat bekas noda langkah kaki disepanjang lantai rumahnya.


Setengah berlari Axel menaiki anak tangga, untuk mencari.


Terdengar suara air kencang berasal dari kamar Amira yang dulu.


Amira yang memaksa diri, akhirnya tumbang dan jatuh pingsan karena kedinginan.


Tubuhnya tergeletak diantara banyaknya air yang menggenang.


"Astaga, AMIRA!" pekik Axel berlari menyelamatkan Amira. Segera mengangkat tubuh basah itu untuk menjauh dari Air.


Meletakkan diatas tempat tidur, tak perduli dengan pakaiannya yang basah.


Bibir Amira yang biru, serta tubuh menggigil karena kedinginan. Secara spontan Axel melepaskan pakaian Amira untuk mengurangi hawa dingin.


"Sayang, maaf ya?" ucapnya meskipun untuk pasangan suami istri tidaklah salah.


"Kenapa malah ditolong? Aku mau ikut Mama aja Mas," ucap Amira lirih dengan mata terpejam.


"Gak boleh! Kita kan ada janji! Kamu gak boleh ikut Mama, Amira!" tolak Axel seraya mengambil pakaian kering untuk Amira.


Mengenakan secara asal agar tubuh itu menjadi hangat.


"Nah, udah hangat belum?" tanya Axel menambah selimut tebal untuk menutupi tubuh Amira.


Amira mengangguk,


"Maafin Aku! semua ini gara-gara Aku!" keluh Axel seolah mengakui Amira seperti ini karena menjadi istrinya.


"Brukk." Amira jatuh pingsan, Axel menekan dahi istrinya terasa panas.

__ADS_1


"AMIRA!!" pekik Axel panik.


__ADS_2