
"Lo tahu Amira dimana?" tanya Angel tertarik bertanya, jelas bukan karena ingin marah sebaliknya malah menemukan peluang untuk membuat Amira menderita.
"Tadi Gue kan jalan ya dilorong gak sengaja ketemu Pak Axel sama Amira lagi kiss." cerita Ani mengulang.
"Ah, Gue tahu! kan diperjanjian Gue emang dilarang bongkar pernikahan ... tapi kalo orang lain tahu sendiri bukan salah Gue kan?" batin Angel menyeringai.
"Emangnya Lo juga baru tahu? kalo ternyata Amira itu jadi ayam kampus?" celetuk Ani tiba-tiba.
"Eh?"
Semula Angel terkejut namun timbul ide licik baru yang timbul dari otaknya.
"Ah, iya Gue baru tahu? duh jadi tercemar kan kelas kita gara-gara Dia." balas Angel si wanita jahat berusaha memancing amarah Ani agar berbuat sesuatu.
Mata Ani tiba-tiba menyala, seakan menunjukkan perasaan geram.
"Gue gak bisa diem aja! harus Gue kasih pelajaran itu anak!" ketusnya.
"Njel, Lo gak papa kan kalo Amira Gue kasih perhitungan?" tanyanya kepada Angel karena status mereka sebagai saudara.
"Oh, gak papa kok! slow aja!" ucap Angel dengan mimik wajah menyakinkan.
"Oke, tenang aja! kalo Lo gak tega tinggal merem aja ... Gue yang akan maju!"
"Dah, ya Gue pergi dulu." seru Ani berjalan meninggalkan Angel dilorong.
"Haha ... gak tega? Gue sih malah seneng banget lihat Kakak Tiri sangat menderita!" tawa licik Angel tak sabar menantikan kejadian buruk yang akan menimpa Amira nanti.
*
Langkah kaki lesu Reyno. Bola matanya memandang lantai kampus sekalipun hanya tatapan mata kosong.
"Amira, Aku gak salah lihat kan?" gumannya.
Akhirnya seseorang yang telah Reyno fikirkan sedang berjalan kearahnya. Datanglah Amira dan langsung menghampirinya.
"Hai Rey, rajin banget udah berangkat." sapa Amira senyuman merekah karena bunga cinta sedang bermekaran di dalam hatinya sekarang.
Reyno memutar malas wajahnya itu, ditatapnya Amira penuh rasa. Wajah pucat dan suara lirih tak bertenaga, menyadarkan Amira ada sesuatu yang terjadi menimpa sang sahabat.
"Reyno Kamu kenapa?" tanya Amira khawatir bahkan sampai memutar bahu Reyno.
Pertanyaan yang terdengar aneh bagi telinga Reyno, sebab dirinya telah menemukan kasus baru yang telah Amira perbuat.
"Kamu yang kenapa Amira bukan Aku!" tegas Reyno akhirnya membuka mulutnya itu.
__ADS_1
Sedangkan Amira justru merasa pertanyaan Reyno sebagai tuduhan. Sebab pagi ini Dirinya sangat baik-baik saja.
"Rey, Aku gak papa kok!" jelasnya dengan wajah penuh keyakinan.
"Bohong!" sentak Reyno langsung menentang ucapan Amira barusan.
"Aku beneran gak papa Reyno! bahkan Aku baik-baik aja!" balas Amira lebih menyakinkan.
"Semenjak jadi ayam kampus?" celetuk Retno
tiba-tiba, mengutarakan tuduhan yang Ia dapatkan dari Ani.
"Eh, aa--paa?" kata Amira terbata-bata.
"Jadi itu alasan Kamu tiba-tiba punya blackcard? ditelvon gak pernah diangkat terus waktu aku kerumah Kamu juga gak pernah kelihatan?" cerca Reyno lagi. Setelah semua bukti yang Dirinya kumpulkan semua terasa pas dan masuk akal.
"Aku? gak jadi ayam kampus Reyno! sumpah!" tegas Amira agar Reyno berhenti salah paham padanya.
Sungguh sebenarnya Reyno juga ingin percaya terhadap kata-kata Amira ini. Tetapi bukti dari Ani tidak mungkin dapat terelakkan.
"Terus kenapa Ani bisa foto Kamu lagi ciuman sama Pak Axel dimobil?"
"Blaarrr." Seperti api besar menyambar. Amira tersentak mendengarnya.
"Ani foto Aku? sama Pak Axel?" ulang Amira.
"Jadi, itu beneran?" tanya Reyno masih bertanya sebelum mendapatkan jawaban langsung dari Amira.
"Itu, eem ... itu." Amira hanya berguman tak jelas, bibirnya terasa kaku seakan sulit untuk mengatakannya.
Sadar akan sikap Amira terlihat gugup, Reyno akhirnya memegangi kedua bahu Amira. Perasaan perduli serta dalamnya tatapan matanya mampu Amira rasakan. Seakan membuat Amira terhipnotis untuk saling memandang.
"Amira, Aku kan udah pernah ngomong!"
"Kalo kamu perlu apa aja bilang sama Aku, jangan kayak gini!" ucap Reyno tentang permintaannya yang menginginkan Amira menggunakan bantuannya.
"Tolong berhenti kerja haram kayak gitu Amira!" tutup Reyno.
Disebuah kelas yang hendak dimasuki Axel terletak tak jauh dari posisi Reyno dan Amira saat ini. Melihat pemandangan romantis ala anak-anak kuliahan memang terlihat indah.
Sayangnya tidak bagi sang Dosen karena sedang menaruh perasaan cemburu.
"Lah, ngapain itu anak beraninya pegang-pegang istri Gue?" sungutnya. Axel hendak menghampiri tetapi.
"Pak, mau kemana? malah mau pergi! ayo masuk!" ajak salah satu mahasiswa menarik tangan Axel kedalam kelas.
__ADS_1
Dengan terpaksa Axel akhirnya mengurungkan niatnya untuk menghampiri Amira. Diam-diam bibirnya mencebik, melihat Amira disentuh laki-laki lain.
Kembali ke Amira yang sedang mendapatkan interogasi dari Reyno.
"Rey, kayaknya Kamu salah paham deh." ucap Amira akhirnya berniat untuk menjelaskan daripada Reyno berfikir terlalu jauh.
Hanya kening yang berkerut saja yang Reyno lakukan, masih gagal untuk memahami perkataan Amira.
"Sebenarnya, Aku sama Pak Axel udah nikah." jawab Amira akhirnya.
"Jleb"
"Apa?" Reyno menyunggingkan senyuman tipis, tentang peryataan Amira ini
"Kamu kalo bercanda kok kelewatan banget sih, Amira?" ucapnya meragukan pernyataan itu.
"Beneran Aku gak bohong! sebenarnya istri Pak Axel itu Aku, Reyno!" tegas Amira sekarang lagi untuk meyakinkan.
Setelah mendengarkan pernyataan Amira tentu saja membungkam mulut Reyno tak mampu berkata-kata lagi.
Dan akhirnya Amira menunjukkan sesuatu dari dalam tasnya itu. Muncul buku nikah bewarna coklat, Amira membuka lembar pertama yang menunjukkan foto dirinya berjajar dengan foto Axel.
"Ini buktinya biar Kamu percaya!" kata Amira.
Melihat bukti yang lebih jelas bahkan tidak ada celah penipuan. Reyno seharusnya merasa senang karena ternyata Amira bukan bekerja sebagai ayam kampus.
Namun, yang terjadi justru hatinya terasa amat sakit. Ternyata gadis yang berhasil memikat hati sudah dipinang oleh orang lain.
Berbeda dengan Reyno yang terluka, Amira malah tersenyum bahagia. Mengembalikan lagi buku nikah kedalam tas.
"Hehe, maaf yah ... Kamu pasti kaget banget ... Aku dari kemarin mau ngomong tapi belum berani, soalnya malu banget." ucap Amira tanpa beban.
Seandainya dirinya tahu, sejak dulu tentang isi hati Reyno yang telah memendam perasaan padanya.
"Kenapa kamu tiba-tiba nikah sama Pak Axel?" tanya Reyno menahan air matanya agar tak jatuh. Sebagai lelaki kuat Dirinya berusaha menyembunyikan kesedihannya dari Amira.
"Kita duduk dulu yuk!" ajak Amira menarik tangan Reyno untuk duduk disebuah kursi yang memang disediakan untuk bersantai atau bahkan belajar.
Kemanapun Amira membawanya Reyno hanya menurut saja.
"Nah, gini kan enak."
"Jadi, sebenarnya ...." Amira mulai menceritakan kembali tentang kejadian awal bagaimana dirinya bisa menikah.
"Jadi Mama Eva jual Kamu?" sela Reyno geram rasanya mendengar cerita Amira. Bila ternyata Eva adalah dalang yang mengharuskan Amira menikah.
__ADS_1
"Iya Rey, jadi gara-gara itu Aku bisa nikah sama Pak Axel." kata Amira sudah menerima kenyataan, apalagi sekarang hubungan pernikahannya berjalan baik-baik saja.
"Terus gimana sama Aku?" celetuk Reyno tiba-tiba.