
Eva membaca isi penonaktifan kartu kredit dari pihak bank yang memberitahukan dalam pesan email. Tentu saja Eva dibuat terkejut akah hal ini.
"Katanya mau biayain hidupku? tapi kenapa malah di cabut?" sungut Eva kesal.
Dargo bisa melirik isi pesan, layar ponsel yang besar dan terang sebagai penunjang. Menyebabkan mata nya bisa melihat secara jelas.
"Apa mungkin suami Kamu tahu?" tanya Dargo akhirnya. Karena Mereka melakukan hubungan ini secara terang-terangan di depan umum.
Tidak ada jawaban yang mampu Eva katakan. Sebab dirinya juga tidak tahu.
"Yaudah Eva ... kita putus aja! nanti Kamu malah cerai sama Suamimu." ucap Dargo sadar diri. Dargo hendak pergi setelah mengakhiri hubungan mereka. Tetapi.
"Jangan dong Mas!" larang Eva menarik tangannya.
"Kenapa Kita harus pertahankan hubungan ini Eva? Kamu tahu Aku ini cuma laki-laki miskin yang tak punya apa-apa." terang Dargo. Dibandingkan dengan Demien sungguh tidak mampu.
Eva tahu itu tetapi,
"Terus menurut Kamu, apa Aku bahagia Mas? padahal Aku dinikahin tanpa adanya cinta?" balasnya.
"Aku gak mau pisah sama Kamu Mas, pokoknya gak mau!" imbuh Eva lagi semakin mempererat tangannya.
"Eva ... Aku juga gak mau pisah sama Kamu, tapi kalo hubungan ini Kita terusin ... Kamu bakalan kehilangan semuanya." ucap Dargo menganggap hubungan mereka susah diketahui oleh Demien, dan pemutusan debit bisa saja sebagai peringatan.
"Aku gak perduli Mas! Kita kan udah rencana mau bikin perhitungan! dan kamu udah setuju kan?" kekeuh Eva tidak lagi perduli asal dirinya masih bisa bersama Dargo.
Dargo melihat kesungguhan diwajah Eva. Walaupun terlihat iba sebenarnya hatinya sedang tertawa jahat dan puas.
"Cih! ini sih namanya ketiban untung setinggi langit .... bisa-bisanya ni cewek cinta mati sama Gue? udahlah gak papa sikat aja!"
"Yaudah Aku nurut gimana mau Kamu aja." ucapnya di kenyataan mengundang senyuman bahagia dibibir Eva.
"Nah, gitu dong! pokoknya Aku gak mau putus sama Kamu Mas." ucap Eva sekali lagi.
Mereka berdua pergi keluar bersama, hubungan gelap yang terancam berakhir akhirnya tidak jadi dan terus berlanjut.
*
Di Kantor.
Demien tengah sibuk memijat pelipis dahinya yang berdenyut. Melihat jumlah tagihan milik kartu kredit Angel dan Eva tembus di nominal fantastis.
"Sebenarnya uang sebesar ini buat apa sih?" keluhnya.
"Terpaksa Aku non aktifkan dulu kartu Mereka ... nanti kalo udah sampai di rumah mau Aku sidang!" tegas Demien seraya menutup buku laporan dan kembali bekerja.
__ADS_1
*
Sedangkan Angel tengah bersombong ria berbelanja memilih banyak makanan. kemudian hendak membayar jumlah pesanannya di kasir.
Angel mengeluarkan kartu kredit dalam dompetnya dan memberikan nya kepada menjaga. Saat tangan Penjaga menggesekkan di mesin. Tiba-tiba saja matanya melirik ke arah Angel.
"Maaf mbak ini kartunya udah nggak bisa dipakai!" ucapnya.
"Ha? nggak mungkin lah Mbak, coba deh sekali lagi." Sesuai perintah Angel penjaga kasir mencoba untuk menggesek satu kali lagi tetapi hasilnya tetap sama.
"Maaf Mbak tapi tetap nggak bisa! di sini tertuliskan kartu sudah nonaktif." terangnya.
Angel merasa malu setengah mati, terpaksa meninggalkan barang belanjaannya karena dirinya juga tidak memiliki uang cash.
Baru kali ini Angel mengalami hal memalukan. Padahal biasanya Dia akan sangat sombong mengunggulkan kekayaan milik Ayah sambung dan berbelanja sesuka hatinya.
"Kok bisa mati sih?" keluhnya, akhirnya Ia pun memutuskan untuk menghubungi sang Mama.
Eva yang sibuk memadu kasih di kosan Dargo, merasakan ponselnya yang bergetar menyentuh lantai keramik.
"Bentar Mas ... Angel telepon."
Dargo mengangguk saja dan membiarkan Eva untuk mengangkat panggilan lebih dulu.
"Mama kenapa kartu kredit Angel mati?" kalau Angel setengah menangis. Padahal hanya masalah seperti ini saja Gadis itu sampai merengek layaknya seorang anak kecil.
"Jadi kartu Kamu juga mati?" tanya Eva ternyata sang Putri mengalami hal sama dengan dirinya.
"Jangan bilang punya Mama juga mati? duh terus sekarang gimana dong? Angel sama sekali nggak ada uang cash."
Niat hati ingin meminta kartu kredit milik Eva agar bisa dipakai olehnya. Namun ternyata Angel harus menahan kekecewaan lagi.
"Ini kenapa sih Papa kayak gini?" protesnya.
Eva memainkan bola matanya melirik wajah Dargo. Saat ini ada yang sedang dipikirkan oleh perempuan jahat itu.
"Angel kamu tenang ya nanti Mama transfer ... walaupun nggak banyak ... Kita atur siasat atau kalau nggak waktu papa pulang kita tanya kenapa Dia matiin kartu kredit Kita." terang Eva untuk menenangkan.
"Ya udah deh, cepet ya Ma transfernya soalnya Angel udah lapar."
Angel memutuskan panggilan telepon dan menunggu. Beberapa menit muncul notifikasi pengiriman uang yang diberikan oleh Eva.
"Kurang ajar banget Mas Demien mau dia apa sih kenapa malah matiin kartu kredit punya Angel juga?" kecam Eva menepuk tangan yang menggunakan ponsel karena geram.
"Gimana kalau Kita kerjain aja suami Kamu?" ucap Dargo mengutarakan rencana.
__ADS_1
Eva menoleh wajah Dargo, kemudian menyunggingkan senyuman tanda setuju.
"Bolehlah Mas, kayaknya asik juga deh." seringainya.
Dargo mulai mengutarakan niatnya dengan membisikan sesuatu ditelinga Eva. Hanya kedua orang itu saja yang tahu rencana apa yang sedang mereka rencanakan.
Eva mengangguk mengerti melemparkan pandangan jauh menembus dinding tembok membayangkan betapa menyenangkan melihat wajah Demien memohon ampun.
Tetapi dia tidak tahu di rumah ada tukang pos yang mengantarkan surat panggilan dari kantor polisi.
Mbok Darmi sedang sibuk membersihkan rumah. Kemudian mendengar bel rumahnya berbunyi.
"Siapa yang datang ? kalau sampai pencet bell sih berarti orang lain." terangnya sambil berjalan.
Mbok Darmi tidak melihat siapapun namun didalam kotak pos terlihat ada satu surat.
"Oh Tukang Pos ternyata." ucapnya mengambil surat itu dari tempatnya.
Mbok Darmi melihat nama penerima tertulis nama sang Nyonya.
"Waduh surat apa ini kok dari kepolisian?" ucapnya panik.
"Tapi kan Nyonya Eva pergi dari tadi gimana kalau ternyata surat ini penting? Udahlah Saya coba telpon aja."
Mbok Darmi membawa surat itu ke dalam rumah kemudian langsung memberikan kabar kepada Eva.
Eva melihat notifikasi panggilan masuk dari panggilan dari telepon rumah langsung bisa menebak.
"Ngapain Mbok Darmi telepon?" tanyanya.
Tanpa menunggu lama Eva menggeser icon terima.
"Ada apa Mbok?" tanyanya.
"APA surat dari kepolisian? buat Saya?" terkejut sudah Eva mendengar penjelasan dari Mbok Darmi.
"Coba Mbok sobek terus baca isinya! biar tahu kenapa itu ke Polisi harus repot-repot kirim surat ke rumah."
Mbok Darmi menuruti perintah dari Eva untuk membuka surat itu. Tangan asisten rumah tangga siapa lagi jika bukan Mbok Darmi sampai bergetar saat membaca isi pesan.
"Cepet Mbok baca!" hardik Eva lebih keras.
"Anu Nyonya ... isinya surat panggilan buat Nyonya karena diduga melakukan penculikan kepada non Amira."
"Deg!"
__ADS_1