
Suasana menjelang tengah hari, Axel masih menikmati obrolan bersama Doni di kedai angkringan.
"Mau kemana?" tanya Doni saat melihat Axel beranjak dari tempat duduknya.
"Mau ke toko buku ... cari bahan buat ngajar besok ...." tukas Axel mengeluarkan dompetnya untuk membayar sejumlah makanan dan minuman yang telah dibeli olehnya.
Mbok Jumi menerima uluran uang yang diberikan Axel padanya. Dan,
"Mas Axel, jangan lupa lho ya? gak boleh nikah kontrak!" seru Mbok Jumi melarang sekali lagi, sebelum Axel pergi dan kian menjauh.
"He, iya Mbok doain aja!" jawab Axel meskipun niatnya hanya untuk menenangkan Mbok Jumi saja. Mbok Jumi tersenyum manis, seraya memasukkan uang kedalam toples yang biasa digunakan sebagai wadah penyimpanan uang disana.
"Eh, Gue ikutlah ... lagian gak ada kerjaan ini! gabut juga dirumah." kata Doni ikut beranjak.
"Ya udah, Lo bawa mobil sendiri kan?" tanya Axel dengan berjalan lebih dulu.
"Ho.oh Lo duluan aja, nanti gue nyusul." tukas Doni berganti menyelesaikan pembayarannya pada Mbok Jumi.
Dengan langkah tenang, Axel hendak menghampiri mobilnya, di tempat parkiran dekat dengan Spbu. Sebenarnya tempat itu lebih layak dikatakan sebagai lahan kosong yang memang bebas untuk digunakan apa saja. Pemilik memperbolehkan Mbok Jumi untuk memakai lahan sebagai tempat parkir karena posisi kedainya terletak persis dibahu jalan raya.
Nampak Seorang bapak tua sedang menyulut rokok, memperhatikan gerak-gerik Axel. Matanya menyelidik, karena seperti mengenali wajah sang Dosen.
"Sebentar! itu kan bukannya Anak sialan! cih, bukan salah lagi bekas luka itu udah jelas pasti itu Dia!" ketus Dargo dengan tampilan beringas, rambut gondrong dan pakaian lusuh menjadikan tampilannya sangat menyeramkan. Dibuangnya putung rokok seenaknya sendiri.
Rupanya Dargo telah bebas dari penjara, dan sekarang hidup luntang-lantung dijalan karena tak memiliki tempat tinggal lagi. Hidupnya hanya memalak atau mengemudi secara paksa, bahkan tak ragu untuk mencopet. Hingga matanya melihat Axel sedang menunju kesebuah mobil mewahnya.
"Bangsat! udah jadi orang kaya ternyata! jadi anak gak tahu diri! Bapaknya dipenjara malah gak pernah ditengok!" umpat Dargo.
"Gak bisa dibiarin! itu anak Gue harus kasih perhitungan!" kecam Dargo lagi mempercepat langkahnya untuk mengejar.
Ada bahaya yang sedang mengancam sang Dosen, Axel telah bersiap untuk membuka pintu mobil. Tetapi,
__ADS_1
Hantaman keras mengenai bahu kirinya, membuat tubuh Axel menabrak badan mobil. Mendapatkan serangan secara tiba-tiba, Axel mencoba untuk menoleh. Betapa terkejutnya Dia ketika melihat sosok yang sering menyakiti dan menyiksa dirinya sedang berdiri dengan wajah kejam yang tak pernah berubah dari dulu.
"Dasar anak gak tahu diuntung! Kamu mau jadi anak durhaka hah!" maki Dargo masih mencengkram kuat kerah kaos Axel.
"Bapak, udah bebas?" seru Axel melihat wajah yang sama sekali tak ingin Ia temui lagi. Nafas kurang sedap ketika Dargo mendekatkan wajahnya, entah mungkin saja selama ini laki-laki tua ini jarang membersihkan diri. Sekuat tenaga Axel mengatur nafasnya bahkan beberapa detik menahan agar tak bernafas. Berusaha untuk tidak bersikap mencolok karena tahu Dargo akan semakin menyiksa dirinya.
"Kenapa? Kaget? cih, mentang-mentang udah kaya malah gak sadar-----"
"BRAKKK!" Doni melayangkan pukulan hingga menyebabkan laki-laki tua itu melepaskan tangannya. Memegangi kepalanya yang pening akibat pukulan itu.
"Bangsat! siapa yang udah berani pukul Gue!" sentak Dargo. Tetapi Doni tak perduli, dia bergegas menyelamatkan Axel dengan menarik tangannya.
"Lo, gak papa? Dia siapa?" tanya Doni berhasil meraih tubuh Axel agar menjauh dari genggaman Dargo.
"Gak papa, haaah ... Dia itu Bapak kandung Gue!" jelas Axel mengatur nafasnya karena cengkraman kuat membuatnya kesulitan bernafas.
Mata Doni terperangah, melemparkan tatapan matanya secara bergantian. Sungguh tidak ada kemiripan diwajah Mereka berdua.
"Sialan! dasar gak punya sopan santun sama orang tua!" ketus Dargo mampu mendengarkan secara jelas, hinaan yang diucapkan Doni untuknya.
"Lah, Bapak sendiri gimana? baru aja dateng tapi udah nyerang orang?" balas Doni sebagai saksi perlakuan kasar yang telah Dargo lakukan.
"Eh, gak usah ikut campur! Saya ini bapak kandungnya Axel! Saya gak terima selama ada dipenjara Dia gak pernah tengokin keadaan Saya gimana!" protes Dargo tak tahu diri.
Sungguh Axel sendiri dibuatnya geram, bibirnya tersenyum getir. Ada saja yang dijadikan masalah, padahal Dargo sendiri memiliki sebanyak gudang permalasahan yang justru tak diakui.
"Jadi, menurut Bapak ini semua salah Axel?" tegas Axel berani.
"Iyalah, dasar anak durhaka!" balas Dargo masih bersikeras menyalahkan Axel.
"Terus gimana sama kasus Bapak yang udah tega menyiksa anaknya hampir mati? Bapak lupa? kalo aja waktu itu gak ada ibu-ibu yang lewat, Axel udah mati ditangan Bapak saat itu juga!" jelas Axel dengan mata berkaca-kaca. Tetapi Dargo masih tetap keras, reaksi wajahnya terlihat sama tidak tampak raut penyesalan. Namun, mulutnya masih diam.
__ADS_1
"Kenapa diem Pak? jangankan minta maaf ... harusnya Bapak itu seneng karena Axel masih hidup sampai sekarang!" ketus Axel meninggikan suaranya.
Jelas saja Dargo naik pitam, mendekat untuk memberikan tamparan. Untungnya dengan sigap Axel menahan tangan itu, sehingga tak sampai menyentuh wajahnya.
"Bapak! Axel minta maaf! tapi, Axel yang sekarang bukan lagi Axel yang dulu yang waktu di siksa cuma bisa diem aja! sekarang Axel harus bisa lawan Bapak!" tegas Axel dengan tatapan mata menyala.
Tatapan mata yang berbeda, sekalipun kali pertamanya Dargo melihat reaksi garang dari mata sang putra. Jujur saja ada perasaan takut dalam hatinya ini.
"Sialan! ternyata Axel sekarang udah banyak berubah! Gue gak bisa bikin Dia bertekuk lutut lagi, bisa gagal rencana Gue mau minta uang ... kalo Gue pakai kekerasan pasti udah gak mempan atau malah bikin gue babak belur ... ah, Gue tau!" batin Dargo mengatur strategi.
"Tenanglah, Bapak emang kecewa sama Kamu! tapi Bapak gak ada uang buat makan, sini bagi duit!" pinta Dargo, walaupun suara tegasnya telah berubah tetap saja bersikap tidak sopan.
"Enak aja! udah mukul minta uang lagi! bener-bener gak punya muka ini orang!" ejek Doni makin geram, berkali-kali matanya melirik Dargo dari kaki hingga ujung kepala.
"Eh, Lo mau kasih uang ke Dia?" tanya Doni saat tahu Axel malah mengeluarkan dompetnya dari saku celana.
"Udah gak papa ... biar cepetan pergi." jawab Axel mengeluarkan beberapa lembar uang bewarna merah. Mata Dargo mendadak hijau melihat uang sebanyak itu. Ketika tangan Axel masih sibuk menghitung.
"Srakk!" Dargo langsung merebut semuanya,
"Udah gak usah dihitung, udah pas! yaudah Bapak mau pergi dulu ... lain kali kalo ketemu tak usah ragu kasih uang lagi." ketus Dargo pergi tanpa mengucapkan kata terimakasih. Hanya melambaikan tangannya saja dan berlalu.
Doni semakin terheran-heran,
"Xel, Lo yakin Dia bapak Lo! bener-bener bikin Gue nyebut!" katanya seraya mengusap dadanya. Karena bagaimana pun usia Dargo lebih tua, dan terlebih lagi statusnya sebagai pengajar dituntut tetap bersikap baik dan santun, jangan sampai melakukan kesalahan dan namanya tercoreng.
"Huh." Axel mengembuskan nafas panjang, beberapa detik memejamkan matanya.
"Santai Bro! badai pasti berlalu!" tukas Doni menepuk bahunya.
Tiba-tiba ketika perasaan Axel belum membaik, nada dering ponselnya terdengar.
__ADS_1
"Eh?" serunya melihat nama pemanggil.