Rahasia Amira bersama Dosen Killer

Rahasia Amira bersama Dosen Killer
Bab 25. Rencana Mila untuk melindungi Amira


__ADS_3

Apa yang difikirkan oleh Anggoro sang suami untuk Mila istrinya. Tiba-tiba menentang Amira untuk tidak datang kerumahnya dulu.


"Ma, gak boleh kayak gitu dong? kan sebelumnya Amira tinggal disini, rumah itu tempat tinggal dia ... bahkan itu kan tempat dia lahir juga." timpal Anggoro melarang istrinya untuk tidak mengekang Amira. Padahal Mila hanya ingin menyelamatkan Amira dari perlakuan jahat Eva. Sedangkan Axel merasa setuju atas larangan sang Mama, karena tahu Ibu Tiri Amira selalu berbuat jahat.


"Tapi Pa, sebenernya kan ...." kata Mila terjeda, dirinya melihat Amira tertunduk lesu. Sehingga lebih memilih menghampiri gadis itu untuk bertanya apa keinginan Amira secara langsung.


"Sayang, gimana ? apa Kamu masih mau kesana? setelah semua yang udah terjadi?" tanya Mila lembut tak ingin menekan.


Perlahan Amira mengangkat wajahnya, memperhatikan wajah khawatir Mila hanya untuk dirinya seorang. Disusul dengan senyuman manis di bibirnya karena tak ingin membuat Mila semakin khawatir.


"Ma, kalo Papa udah minta berarti Amira gak bisa nolak ... Mama kan tahu, hubungan Amira sama Papa sempet renggang dan ini kesempatan bagus buat Amira, Ma ...." tukas Amira lirih, gadis ini sedang dilema. Ingin menolak namun Demien yang meminta secara langsung. Tetapi jika menolaknya pasti akan melegakan hati Mila sang Ibu mertua menghilangkan rasa kekhawatiran itu.


Tetapi Mila sendiri menyadari tidak ada hak untuk melarang Amira. Yang seharusnya Ia lakukan adalah memberikan dukungan untuk Amira tanpa harus melakukan kekangan kepada menantu kesayangannya itu.


"Hem ... Mama tahu Sayang ... yaudah sekarang Kamu mandi ya? keburu siang nanti biar dianterin sama Axel." seru Mila lembut. Almira menurut mengangguk lirih, dan bergegas menuju kamarnya.


Melihat kegelisahan diwajah Amira, membuat Mila harus melakukan sesuatu.


"Pa, hp Mama mana?" tanya Mila.


Anggoro menyerahkan ponsel istrinya yang selalu dia bawa kemanapun.


"Terimakasih Papa." balas Mila tersenyum simpul mulai sibuk menggerakkan jari tangan dilayar ponsel.


Entah apa yang hendak dilakukan Mila sekarang, Anggoro tak mau ikut campur dan memilih diam meneruskan membaca koran.


Diruang tamu Axel memang sudah mengenakan pakaian rapi lebih dulu. Menunggu Amira disana ditemani Anggoro pula. Dari arah dapur Mila membawa dua piring berisi kue basah dari pasar tadi.


"Ini sarapan kue dulu Xel," seru Mila sebelum Amira keluar.


"Iya Ma," jawab Axel mengambil satu potong kue bolu. Tiba-tiba teringat Amira,


"Amira suruh sarapan dulu aja Ma ... kasian nanti waktu ada disana gak dikasih makan lagi." keluh sang dosen tahu permalasahan Amira ketika ada dirumahnya.


"Tenang aja Xel, tadi kita udah sarapan beli bubur ayam." jawab Mila sehingga Axel bernafas lega diiringi dengan kepala manggut-manggut.


Seketika Anggoro mengernyitkan dahinya heran.


"Kalian kenapa sih? kok kayaknya gak rela banget Amira pulang? bukannya rumah sendiri itu lebih nyaman?"


"GAK!" tegas langsung oleh Mila dan Axel secara bersama, semakin membuat Anggoro bertanya-tanya.


"Lah, kompak banget kalian?" seru Anggoro tersenyum melihat pemandangan langka itu.


Dan terdengar langkah kaki Amira menuruni tangga menghentikan pembicaraan Mereka yang belum selesai.


"Ayo Pak, eh Mas." kata Amira gugup mulutnya yang kaku sama sekali belum terbiasa untuk menyebut Axel dengan sebutan berbeda.


Axel mengangguk, dan beranjak berdiri.


"Ma, Kita berangkat dulu ya?" pamit Axel berjalan keluar rumah.

__ADS_1


Sedangkan Amira memberikan salam perpisahan berupa ciuman pipi kanan dan kiri untuk Mila.


"Hati-hati ya Sayang ... pokoknya Kamu gak usah khawatir, Mama udah siapin sesuatu buat Kamu." tukas Mila mengantarkan kepergian Amira kedepan teras.


Sebenarnya masih ada hal yang ingin Amira tanyakan lebih jelas perihal pernyataan Mila barusan. Tetapi, diluar Axel telah menunggu bahkan terdengar sudah menghidupkan mesin mobilnya.


"Dah, Ma ...." seru Amira tertelan badan mobil.


Dari teras Mila masih setia menunggu melambaikan tangannya hingga mobil sang putra tak terlihat lagi. Mereka telah pergi meninggalkan halaman rumah.


"Awas aja ya Eva! gak akan Aku biarin kamu sakitin Amira walaupun cuma seujung kukunya!" ketus Mila tenang karena keselamatan Amira dipegang kendali olehnya.


Dari kursi kemudi, diam-diam Axel sering melirik Amira dari pantulan kaca yang tergantung. Wajah Amira terlihat tenang sekalipun terkesan lebih banyak pasrah.


"Kalo Kamu berubah fikiran, Kita bisa kok puter balik lagi?" celetuk Axel kepada Amira tentang tawarannya.


Bibir Amira menyunggingkan senyuman tipis, walaupun dalam keadaan kepala tertunduk Axel masih bisa melihatnya dengan jelas.


"Gak papa kok Pak ... sekarang kan hari libur, Papa pasti ada dirumah." jelas Amira hanya untuk menenangkan sang dosen. Walaupun saat ini dirinya benar-benar sedang dilanda ketakutan.


Padahal belum sempat hari berganti. Amira tak menyangka secepat ini Eva bergerak untuk melakukan balas dendam padanya.


"Hah, ya Tuhan aku pasrah." batin Amira berdoa semoga Yang Maha Pencipta memberikan perlindungan.


*


Di rumah mewah milik Demien tepatnya dikamar Mbok Darmi. Papa kandung Amira itu sedang menemani sosok yang paling tua dirumah ini.


"Gak papa Mbok ... hari ini Saya kan libur." jawab Demien santai meletakkan mangkuk kosong. Sebelumnya sebagai wadah bubur.


Dari celah pintu yang terbuka, terlihat tatapan sinis berasal dari retina Eva. Terbakar api cemburu melihat sikap lembut Demien hanya untuk seorang pelayanan.


"Itu Mas Demien mau banget nungguin pembantu?" kesalnya.


Angel mendengar keluhan sang Mama dari sofa ruang tengah.


"Ya Mama harus protes dong! jangan cuma diam aja." balasnya enteng. Eva dibuat kalang kabut langsung berlari menghampiri putrinya.


"Angel! jangan keras-keras dong! nanti kalo Papa Demien tahu bisa gawat!" kecam Eva memaki Angel. Segeralah Angel memutar kepalanya, dan Demien tetap dalam posisinya tanpa bergerak sedikitpun.


"Tenang Ma! Papa gak denger." jawab Angel santai kembali mengunyah snack ringan dengan mulut jahatnya itu.


Besarnya rumah megah Demien, terletak sangat jauh dari halaman. Amira telah tiba bersama juga dengan suaminya.


Langkah kaki yang tenang, sampai di ruang tengah.


"Ma, Papa mana?" tanya Amira membuat Eva terkejut. Sekaligus tersenyum licik akhirnya korban penyiksaan telah tiba.


"Ada tuh, dikamar Mbok Darmi!" ketus Eva menunjuk posisi Demien ada dikamar.


Amira segera menuju ketempat itu, saat Axel ingin menyusul tangannya tiba-tiba ditahan oleh Eva.

__ADS_1


Seketika langkah Axel terhenti,


"Kenapa Ma?" tanyanya.


"Udah tugas Kamu udah selesai, mendingan sekarang Kamu pulang!" usir Eva.


"Loh, Kenapa baru aja Saya dateng?" tanya Axel menyelidik.


Jawaban pertama Eva berupa senyuman seringai, kemudian.


"Kan kemarin kamu udah gak sopan usir Saya! jadi, sekarang gantian dong?" jelasnya.


Barulah Axel menyadari kepribadian Eva memanglah sangat jahat tidak ada tandingannya.


"Mas, udah gak papa ... Aku gak mau bikin keributan disini." ucap Amira agar sang suami mengalah saja.


"Tapi, Amira."


"Please Mas." sela Amira langsung, sehingga Axel mengalah terpaksa memutar kakinya untuk pergi dari sini.


"Nah, gitu kek daritadi!" seringai Eva puas.


Walaupun terpaksa, Axel mulai putus asa. Ada yang mengulik hati kecilnya memikirkan nasib Amira berada dirumah ini.


Tetapi ketika tiba dihalaman, ada yang membuat matanya terbelalak.


"Loh, Pak Jaka? kok kesini?" tanya Axel melihat anggota kepolisian yang biasa mengawal Mila justru ada disini.


"Selamat pagi Tuan Axel, tadi Saya dikasih perintah sama Nyonya Mila buat kasih penjagaan ketat untuk Nyonya muda Amira." jelas Pak Jaka memberikan hormat tegasnya.


Wajah lesu Axel seketika menjadi cerah, ada saja perlindungan Mila yang dilakukan untuk menolong Amira.


"Ah, gitu ya? selamat bertugas ya Pak! kalo ada Bapak sih udah pasti aman." kata Axel.


"Tenang Pak, keselamatan Nyonya Amira pasti terjamin." balas Pak Jaka yakin.


Axel mengangguk seraya tersenyum.


"Oke Pak, lebih baik sekarang Saya pulang dulu." seru Axel berpamitan dengan hati penuh kelegaan.


"Mama, Mama ... ada-ada aja." gumannya Axel lagi akhirnya melangkahkan kakinya dengan sangat rela. Kemudian tanpa ragu menginjak gas meninggalkan kediaman Demien.


*


"Maaf Bapak cari siapa ya?" tanya Eva melihat anggota penegak hukum datang kerumahnya. Jujur saja ada perasaan takut karena mengira Mila telah melaporkan kejadian tadi pagi.


Demien mendengar suara asing bergegas keluar untuk melihat.


"Selamat pagi Pak, perkenalkan Saya Pak Jaka anggota kepolisian yang diberikan tugas Nyonya Mila untuk memberikan penjagaan ketat untuk Nyonya muda Amira."


"Deg!"

__ADS_1


"Sialan! bisa-bisanya Mila kirim anggota Polisi buat kawal Amira!" sungut Eva kesal bukan kepalang.


__ADS_2