
hari hari berlalu, waktu sudah menunjukkan pukul 13:30 siang, waktu nya lia pulang sekolah, seperti biasa, dia yang sedang tidak di tanya atau di cueki oleh semua orang, kecuali radit, hendak pulang sendiri
"apa kamu akan pulang sekarang taa, kamu nggk mau nunggu om aldi terlebih dahulu, biasa nya kamu nunggu jemputan jam segini?" tanya radit sambil melihat arloji di pergelangan tangan kiri nya
"nggk ppa kha, aku pulang sendiri saja, aku bisa jaga diri kok, lagi pula, ayah sedang meeting hari ini, aku lihat ayah yang terburu buru berangkat ke kantor tadi pagi" jawab nya
"baiklah, jika itu memang mau kamu, aku nggk bisa paksa, kamu di tawarin aku anterin nggk mau, aku khawatir taa, biar aku antar pulang yaach?" tanya radit meyakin kan
yach, sudah berapa kali radit menawarkan diri untuk mengantar nya pulang agar rasa khawatir nya sedikit berkurang, entah lah, hari ini, radit merasa sangat khawatir yang berlebihan pada nya, radit sendiri tidak mengetahui nya, namun dia selalu menolak tawaran nya dengan lembut
"nggk ppa kha radit, aku sendiri aja, nggk baik juga kalo aku pulang dengan kha radit yang anterin aku, nanti apa kata tetangga?" ucap nya berusaha bercanda
"hmm,," jawab radit yang pasrah
sesampai nya kedua nya di depan halte, kini lia pun mulai meninggalkan radit sendiri di sana
“rasa nya perasaan ku nggk enak, aku akan mengikuti nya dan menjaga nya dari jauh saja, akan ku pasti kan, dia pulang dengan aman ke rumah” batin radit dalam hati seraya mulai mengikuti langkah kaki nya yang tanpa suara itu
beberapa saat kemudian
"akh, waalaikum salam warahmatullah om, iya, tadi, adit sudah menawarkan diri untuk mengantar nya pulang sampai rumah, tapi, dia tetap tidak mau, jadi, adit ikuti saja dari belakang diam diam om?" ucap radit pada seseorang di sebrang panggilan yang tak lain adalah om aldi, ayah lia
“baiklah, om juga tengah melihat kalian kok, om bisa melihat nya yang berjalan melewati halte bis, kamu terus awasi dia, jangan sampai dia curiga yach?”
"om ada di sini, di mana?" tanya radit sambil celingak celinguk mencari ayah dari calon makmum nya, eh, salah, ayah dari sahabat nya ini
mendengar hal itu, ayah pun melambaikan tangan kanan nya ke arah radit, hingga radit pun tersenyum dan mengangguk guna menyapa
saat akan menyebrang jalan, ia tidak melihat, jika ada mobil dengan kelajuan di atas rata rata pengendara sedang melaju kencang ke arah nya, hingga,,,
bruk,,,
tubuh nya terhuyung lemas ke arah jalan
"OM ALDIIIIIIIIII,,, DITTAAAAA,,," sontak radit berteriak dalam panggilan ini dengan menyebut nama itu
ayah yang melihat dan menyaksikan itu kini langsung tertegun sesaat,,, sebelum akhir nya berlari ke arah nya terbaring lemah di jalanan, dengan mata yang masih terbuka, juga darah yang tidak berhenti mengalir dari setiap penjuru wajah mulus nya
"a,,, ayyyah d,,d,,di ssssini?" tanya nya yang memang terkejut dengan kehadiran ayah nya di samping nya, juga dengan radit, yang menjadikan paha nya sebagai bantalan bagi kepala nya saat ini
"shayang, bertahan lah, ahayah akan panggil kan ambulan untuk mu" ucap sang ayah dengan mengotak atik ponsel pintar nya
dengan perlahan dan tangan yang sudah melemah, ia mulai menurunkan ponsel di genggaman sang ayah, membuat ayah nya mengerut kan kening nya heran
__ADS_1
"ng,,ngghk ppperlu ayah, a,,akuu,, a,,akuu,, bbaik bbaik sssajjja,, a,, ayyyah jangngann,, khkhawatttir,," ucap nya terbata
melihat darah yang terus mengalir deras, kini tanpa ragu, ayah pun mulai membuka niqab yang tengah di kenakan nya, menampilkan wajah yang sangat langka orang lain pandang itu
"subhanallah,," gumam radit tanpa sadar, karna telah melihat kecantikan yang di miliki oleh sosok di pangkuan nya
"a,, ayyyah, mmmaaf, kkkkuatttkan, mmmmma, a,, akuu,, aku pppammitt,," ucap nya yang berhasil membuat kedua orang yang menyaksikan nya memandang intens wajah nya
sesaat kemudian, pandangan nya bertemu dengan pandangan sosok yang tengah di kagumi nya itu, ia menyirat kan luka yang begitu besar dalam mata nya, yang memang dapat di lihat oleh radit sendiri, namun radit tetap bungkam
“ini kah kamu ditta, kamu sangat cantik, tidak salah om aldi menyuruh mu untuk mengenakan niqab ini” batinan hati radit
"asyhadu'allaailaahaillallah,, hhh waasyhaduanna,, muhammadar rasulullah,, hhh" ucap nya terbata, sebelum akhir nya menghembus kan nafas terakhir nya
"nggk sayang nggkkkkk, maaf kan ayah yang telah mendiam kan mu selama ini, ayah mohon sayang, jangan pergi sejauh ini dari ayah, liaaaaa" ucap ayah yang sedikit berteriak
"ngghk, bertahan lah sayang!!" dengan panik, ayah berusaha terus menghubungi ambulans hingga yang di tunggu tunggu pun tiba
"dhitta, jangan menyerah, kamu kuat, aku di sini, di samping mu" ucap radit sambil menggenggam tangan nya kala sudah duduk di mobil ambulans samping nya
tetapi dia sudah tidak mendengar apa apa, percuma Radit berusaha keras menguatkan semua yang dirasakannya tampaknya sia sia, dalam ambulans yang membawanya ke rumah sakit, Dita Alya Aliansyah benar-benar menghembuskan nafas untuk yang terakhir kalinya.
"bangun taa, bangun, kamu nggk boleh pergi" seru Radit yang terlihat putus asa sambil tetap memegang tangan kanannya dengan bertambah erat "jangan pergi! aku mohon! ingat pendidikanmu! ingat lomba yang akan kamu lalui!" kamu nggak boleh meninggalkannya"
"ahapa dia sudah pergi dhiit?" tanya ayah lemah hingga membuat radit tersadar
sesaat Radit tertegun tidak percaya Lia sudah pergi baru beberapa saat yang lalu mereka pulang bersama mengobrol mustahil sekarang ditta nya sudah tiada!!!
dari luar ruangan yang memang hanya dilapisi oleh kaca dapat dilihat kedua belah tangan Lia diletakkan di atas perutnya tangan yang kuat tangan yang ahli dalam menulis dan tangan yang lahir dalam menggambar gini tangan itu terlukai lemah tak berdaya...
lama Radit memandangi pemandangan yang sangat menyakiti hatinya itu serabut wajah yang selalu terlihat lugu yang selalu ditunjukkan.
sekarang dia sudah tidak ada kepintarannya hanya tinggal sejarah prestasinya cuma tinggal legenda pergilah gadis lugu yang menjadi kebanggaan begitu banyak orang, di depan maut jago menulis kata-kata itu cuma seorang manusia biasa yang tidak mampu menolak takdir yang telah digariskan untuknya.
...***...
semua keluarga tertegun ke aku di depan jenazahnya, semua tampak seperti mimpi, mimpi buruk di siang bolong seperti ini!!!
sosok yang begitu kuat sosok yang begitu lama sosok yang selalu berjalan yang hidupnya begitu bahagia seperti tidak mengenal susah... kini dia terbujur kaku matanya tepat jam berapa wajahnya pucat pasi, senyumnya tak lagi menghiasi bibirnya untuk selama-lamanya!!!
mama tak akan pernah lagi mendengar candaannya manjaannya tawanya semua sudah tinggal kenangan!!!
pergilah sosok yang paling dekat dengannya orang yang selalu membantunya menyelesaikan pekerjaan dapur, selalu memperhatikannya, sayang padanya walau tak pernah bisa diungkapkannya
__ADS_1
kemana manusia pergi setelah kematian? benarkah ada dunia lain di atas sana? mungkinkah mereka bertemu lagi kelak? bergurau mengobrol dan bercanda ria seperti yang selalu mereka lakukan selama ini?
Geisha menatap wajah adiknya dengan tatapan nanar nya, wajahnya yang masih secantik biasanya masih wajah yang selalu dihiasi dengan senyum manisnya setiap hari hanya wajah itu kini seputih tembok sekosong kertas yang belum ditulisi tak ada lagi tatapan memikat dan senyum menawan yang selalu menghiasi wajahnya
“kalau saja kakak dapat melukis tatapan dan senyum itu di wajahmu dek” keluh kesya penuh pilu
di depan sana papa masih membelai paras Putri ketiganya dengan berlinang air mata alangkah kejamnya perpisahan ini alangkah tragisnya kehilangan anak ketiganya Putri perempuan cantiknya Putri perempuan lugu nya, harapannya masa depannya,
tadi pagi mereka masih sarapan bersama meskipun kini ayah tengah terburu-buru dan masih mendinginkannya tapi mengapa ayah tidak merasakan firasat apa-apa?
ketika dia meninggalkan rumah pagi tadi tidak seorang pun menyangka dia tidak akan pernah kembali ke rumah dalam keadaan sehat lagi! bahkan tak kala berangkat sendiri, siapa yang dapat menduga, kesendiriannya itulah yang akan mengantarkannya ke pintu perpisahan yang teramat sangat menyesakkan ini,,
ayah mengusap air matanya yang seakan tak pernah kering sementara mama masih memeluk Lia sampai menangis tersedu-sedu
telah pergi anak kebanggaannya anak kesayangannya anak yang membuat hidupnya terasa sempurna tepat, di hari kelahirannya
yaach, selama ini mereka mendiaminya hanya satu alasan karena sebentar lagi tepatnya hari ini dia berulang tahun, namun di hari ulang tahunnya sendiri, di tengah pergi meninggalkan keluarganya yang selalu menyayanginya,,,
sampai berumur 14 tahun, lihat tidak pernah menyusahkan keluarganya, tak pernah ketinggalan pelajaran jika tidak ada kepentingan lain, tak pernah terlibat pergaulan yang salah,
dia memang mempunyai dua orang yang terlihat begitu mengaguminya, namun sampai sekarang belum punya pendamping tetap, tapi itu bukan salahnya semata-mata, salah siapa jika dia tumbuh menjadi sosok banyak yang diidam-idamkan, salah siapa kau dia lahir begitu sempurna?
jadi mengapa Tuhan menghukumnya? mengapa hidupnya begitu singkat mengapa umurnya begitu pendek mengapa Tuhan harus mengambil anak kesayangannya bukan penjahat yang seharusnya sudah dihukum mati tapi masih dapat menghirup udara segar selama bertahun-tahun?
begitu banyak pertanyaan yang tak pernah terjawab karena sampai kapanpun kematian masih tetap merupakan misteri,
hingga satu tepukan mendarat lembut di atas bahunya "maa,, kita harus berusaha bersama kita harus kuat mungkin Allah lebih menyayangi lia dibanding kita" ucapan ayah dengan tepukan di bahunya membuat Mama tersadar bahwa ini memang sudah menjadi garis takdir yang sudah Allah tuliskan untuk anak ketiganya
Mama terduduk lemas
"argh,, harusnya kita tidak menjauhinya selama ini, harusnya kita tidak mendiamkannya berhari-hari, makan kakak Lia kakak nggak ada maksud buat bikin kamu terluka" kacang Kesya sambil terlalu lemas, jangan lupakan dengan air mata terus terjun melalui pipi mulusnya
"sabar sya, dia hanya ingin kita ikhlas dengan kepergiannya aku yakin kita akan kuat kita berjuang bersama" tutur verry yang perlahan mengusap bahunya yang tengah bergetar karena menangis
"mas,, hiks,, liaa,, aku nggak nyangka kenapa waktunya sesingkat ini untuk hadir di dunia, padahal aku sangat menyayanginya?" racau Zahra dalam pelukan adil
"sabar sayang, kita berusaha, kita bisa melewati semuanya" ucap adil yang menenangkan sang istri
_**Ketika Gus Jatuh Cinta_
jangan lupa tinggalkan jejak semua
Selasa, 5 Juli 2022**
__ADS_1