
siang ini, lia sedang duduk di tepi tempat tidur nya, dengan memandangi sebuah paper bag di hadapan nya dengan wajah yang sulit di artikan
"huuh, dari siapa sich paper bag ini, bikin mati penasaran aja?" tanya nya pada diri sendiri
tok tok tok
tiba tiba, terdengar suara pintu di ketuk dari luar
"deek, apa kamu di dalam?" tanya seseorang di balik pintu kamar lia yang masih tertutup
"akh, kha rara, iya bentar khaa" jawab nya dan segera sedikit berlari menghampiri pintu dan beralih membuka kan pintu untuk sang kkk ipar
"masuk kha?" ucap nya sambil membukakan pintu lebar lebar untuk sang kkk
zahra pun masuk ke kamar lia, dan melihat sebuah paper bag besar di atas tempat tidur sang adik
"hlo, kamu belum membuka paket nya li?" tanya zahra sambil melirik ke arah lia yang sedang kembali menutup pintu kamar nya
"belum kha hehe, aku,,, aku,,," jawab nya terbata sambil menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal
"hmm, kenapa belum di buka?" ujar zahra sambil duduk di tepi tempat tidur lia
"aku,,, aku nggk tau paket itu dari siapa kha, jadi,,, aku nggk yakin, kalo paket itu, benar benar tertuju pada ku" ucap nya menundukkan pandangan nya dan mendudukkan dirinya di sebelah sang kkk
"kamu ragu untuk membuka nya, kenapa, siapa tau, kamu kenal sama orang yang mengirimkan nya?" ucap zahra mengelus lembut punggung sang adik
"entah lah kha, aku merasa sedikit ragu" jawab nya penuh dengan keraguan dalam hati nya
"duuh, kkk lupa, ada dua orang teman kamu yang tungguin di bawah, katanya mau tanya perihal penting sama kamu" ucap zahra dengan tersenyum ke arah sang adik
"teman, siapa?" tanya nya memandangi sang kkk di samping kiri nya
"nggk tau, keduanya cariin kamu" jawab sang kkk dengan tersenyum
"tapi aku nggk buat janji hari ini, apa sefti dan jihan yach, atau salsa tya sama rani?" gumama nya yang masih di dengar oleh sang kkk
"yang pasti bukan semuanya, laki laki, kkk nggk tau, tapi kek nya, kkk pernah liat, tapi di mana, akh sudah lah, eh iya, ayah sama kkk kamu ke kampus, mma sedang ada urusan di luar, trus kesya ada kelas pagi, kalo kamu butuh apa apa, panggil kkk aja yach, di kamar?" ucap sang kkk seraya hendak melangkah pergi
"eh tunggu kha, mma kemana, kok tumben keluar, sendiri lagi?" tanya nya membuat sang kkk kembali mengurungkan niat nya untuk melangkah
__ADS_1
"emm, nggk tau, kek nya ada rencana apaa gitu, katanya sich ada urusan mendadak, kkk juga kurang tau, mending kamu sendiri aja yang tanyain itu sama mma saat mma pulang nanti, dah yach, kkk ke dapur dulu, mau nyuci" ucap sang kkk
"hlo, katanya mau ke kamar, kok jadi ke dapur sich khaa?" tanya nya yang melihat sang kkk melanjutkan langkah nya
"hhe, salah, lupa tadi" jawab sang kkk cekikikan sendiri
"khaa, jangan capek capek yaach, aku nggk mau hlo, kkk kecapekan?" ujar nya berteriak
mendapat perhatian yang lebih dari sang adik, zahra pun hanya berbalik wajah dan menyatukan jari telunjuk dan jempol nya, membentuk huruf o sambil tersenyum dan kembali melangkahkan kakinya menuju dapur
'laki laki, dua?' tapi siapa, aku nggk buat janji hari ini?' ucap nya pada diri sendiri
"sudah lah, lebih baik aku lihat saja orang nya, toh mungkin ada di ruang tamu" ucap nya sebelum benar benar melangkah pergi ke dalam kamar kembali
setelah kepergian sang kkk ipar dari kamar nya, ia pun beralih kembali ke dalam kamar nya setelah bergumam sendiri dan segera mengenakan manset nya yang memang belum ia kenakan sejak pagi
ia pun bergegas pergi dengan tujuan ke ruang tamu, melihat siapakah sosok yang menemui nya di pagi hari seperti ini
melihat kedua sosok yang membelakangi nya, ia pun merasa menjadi semakin penasaran, perihal siapa kah yang ada di hadapan nya?
menyadari sosok yang sedang di tunggu nya, kini ia pun beralih menyapa nya dan duduk setelah orang yang di tunggu nya menyuruh nya kembali duduk
Radit sedikit terkejut, dengan apa yang di lihat nya, pasalnya ditta yang dia kenal pasti sudah berganti baju pagi ini, namun kenapa yang ia lihat ini berbeda dari biasanya?
akh, sudah lah, kenapa dia harus memikirkan hal ini sich, nggk ada hubungan nya dengan nya juga,,, pikir nya sambil menggaruk tengkuk nya yang tak gatal
"wa-waalaikum salam warahmatullah, akh, kha radit rupanya, silahkan duduk kh-kha" jawab nya dan menyuruh orang yang datang duduk kembali yang tak lain adalah radit, dan,,,
"makasih ditta" jeda sebentar "akh iya, kenalin, ini Fachri, sahabat ku di pondok" ucap radit memperkenal kan sesama sahabat nya
"assalamualaikum, perkenalkan, saya Fachri, sahabat satu pondok nya dengan radit" ucap pria tegap bernama Fachri itu mengulurkan tangan kanan nya hendak bersalaman
"akh maaf, waalaikum salam warahmatullah, iya, saya lia" jawab nya menyatukan kedua tangan nya di depan dada nya, menolak halus salaman dari pemuda yang bernama Fachri itu
"akh iya, maaf, tapi,,," ucap pemuda yang di kenal dengan nama Fachri itu sambil melirik radit bingung
"akh, kha radit memang selalu panggil saya ditta, kamu juga boleh jika kamu mau" ucap nya tanpa ragu
Fachri yang mendapat kan izin langsung dari lia pun kini mendapatkan tatapan tajam dari radit, seolah hati nya berbicara 'jangan menyebutnya nama yang sama yang selalu ku sebut' isyarat radit pada nya
__ADS_1
"akh, makasih, tapi saya sebut lia saja, awal nya agak aneh mendengar radit memanggil mu dengan itu" tutur Fachri sambil menggaruk tengkuk nya yang tak gatal
"akh, seperti itu kah, baiklah, kamu boleh memanggil ku dengan sebutan apa saja" jawab nya tersenyum di balik niqab nya
"emm,,, lia, kamu bukan nya orang yang sama dengan orang yang kemarin bersama ustadz Mukhlis di taman yach?" huuh pertanyaan yang Fachri tanya kan itu membuat Radit kembali mengingat nya dengan perasaan yang penuh dengan rasa penasaran
"yach, itu aku, yang bersama dengan ustadz Mukhlis kemarin, kamu tau?" tanya nya merasa sedikit heran, pasal nya tidak ada murid yang tau kedekatan nya dengan sang ustadz
"yach, tentu saja aku tau, karna mmmppttt" ucapan yang akan Fachri katakan kini menjeda, kala Radit yang membekap mulut nya
"hehe, Fachri ini selalu asal dalam berbicara ta, jangan di dengerin" ucap radit yang berhasil membuat lia kebingungan
"akh, gitu yach" ucap nya sambil mengerutkan kening nya
"kamu ini apa apaan sich dit, jadi lia, kemarin itu aku nggk sengaja liat kamu sama ustadz Mukhlis sedang duduk di sebuah kursi, aku yang nggk sengaja waktu aku mau ke majlis ta'lim, maaf, tapi aku tidak menguping pembicaraan kamu sama ustadz Mukhlis kok, kamu tenang aja" ujar Fachri
"akh, gitu yach, nggk ppa kok ri, ini bukan pembicaraan rahasia kok" ucap nya memberikan kesimpulan
"maaf yach li, aku pikir, kamu itu orang nya sombong, waktu aku lihat di sekolah, ternyata kamu baik" ucap Fachri merasa bersalah
"kamu mengenal ku di sekolah juga?" tanya nya mengulangi, seolah tak percaya bisa satu sekolah dengan nya
"heem, iya, aku yang mau masuk sekolah nanti menjadi adik kelas kamu, tapi aku malah berpikiran buruk tentang kamu li" tutur Fachri merasa bersalah
"hmm, nggk ppa, semua orang yang belum mengenal ku dekat pasti akan mempunyai pikiran seperti itu" jawab nya mengerti ucapan Fachri
"makasih" jawan Fachri dengan tersenyum ke arah lia
"iya nggk ppa, sama sama" jawan nya
..._**Ketika Gus Jatuh Cinta_...
Alhamdulillah semua, author nya bisa SU lagi, terus nantikan kelanjutan ceritanya yach semua, salam hangat dari author
jangan lupa untuk tetap selalu tinggalkan jejak nya semua, jaga kesehatan juga, dan patuhi protokol kesehatan,
sampai jumpa di part selanjutnya
Senin, 31 Januari, 2022**
__ADS_1