Rahasia Dua Hati

Rahasia Dua Hati
rasa takut


__ADS_3

masih dalam waktu dan keadaan yang sama


"syukur lah, jika kalian menyukai kedua nya, aku kira, kalian nggk suka, karna kha radit tadi mengeluarkan ekspresi yang sedikit berbeda" ucap nya merasa tenang


"maaf yach taa, soal nya aku juga mau lihat kamu gimana reaksi kamu kalo liat ekspresi aku?" ucap radit tidak enak hati


"akh, iya nggk ppa kok kha, biasa aja kali, kek sama siapa aja" jawab nya


"eh li, aku mau coba yang ini juga dong, cara makan nya gimana?" tanya Fachri


"emm, pakek sendok yach ri, soal nya mengandung krim?" jawab nya memberi saran


"iya" jawab Fachri seraya mengambil sebuah sendok plastik


"waah, sendok nya unik yach, ada tempat nya juga, ini punya kamu li?" tanya Fachri membolak balikan sendok


"hmmm, bukan, ini cuman sample buat nanti souvernir pernikahan kkk aku aja" jawab nya


"hlo, kkk kamu ada yang mau nikah ta?" tanya radit bingung


"emm belum tau juga yach kha, soal nya baru nanti malam sich aku denger keluarga calon nya ke sini" jawab nya


"akh, gitu yach, ywdh, semoga semuanya lancar sampai hari-H yach ta?" ucap radit sambil tersenyum


"aamiinn, makasih do'a nya kha" ucap nya sambil tertunduk


"iya, eh, tapi, kkk kamu yang mana si', apa aku tau ta?" tanya radit


"emm kha kesya yang waktu itu jahilin aku" jawab nya seadanya


"akh, kalo nggk salah, kkk kamu yang itu bukan sich, yaang,,, waktu itu suruh kamu buat buka niqab kamu itu?" tanya radit mengingat lagi


"hmm, iya yang itu" jawab nya merasa malu sendiri


saat ketiga nya sedang asyik mengobrol, kini dering ponsel lia pun berbunyi, tanda ada pesan masuk


"bentar yach kha, aku angkat telpon dulu?" ucap nya sambil melenggang pergi


"akh, iya ta, nggk ppa, iya kan ri?" jawab radit meminta persetujuan Fachri

__ADS_1


"iya nggk ppa kok li, angkat dulu aja telpon nya, siapa tau penting" jawab Fachri mengiyakan


"halo assalamualaikum?" ucap lia pada orang di sebrang telpon nya


"Waalaikum salam warahmatullah, li, ini aku, Mukhlis, aku ganggu waktu kamu, maaf yach?" jawab Mukhlis dari sebrang telpon


"akh, iya ustadz, nggk ppa kok, nggk ganggu juga" jawab nya


"kalo lagi nggk ngaji, panggil nya kkk aja, kan di luar lingkungan pesantren" ucap Mukhlis


"akh, iya us,,, eh, mksd nya kha, maaf" ucap nya merasa sedikit berbeda


"iya nggk ppa kok, aku cuman mau tanya, nanti sore, kamu mau ngaji nggk, soal nya adel titipin sesuatu buat kamu?" tanya Mukhlis


"kha adel, titip apa kha?" tanya nya merasa sedikit penasaran


"kamu mau ngaji dulu nggk, nanti sore?" tanya Mukhlis mengulangi


"akh, iya insya Allah kha, saya akan mengaji, tapi maaf, kha adel titip apa?" tanya nya masih penasaran


"nggk tau" jawab Mukhlis singkat padat dan jelas


"ya nggk tau li, soal nya aku juga nggk di bolehin buka, ini katanya buat kamu, nggk boleh kkk buka" jawab Mukhlis sedikit menjelaskan


"akh, gitu yach, iya kha, insya Allah aku mengaji nanti sore" jawab nya


"iya, ywdh, kalo gitu, kkk tutup dulu telpon nya yach, masih ada yang harus kkk selesaikan?" ucap Mukhlis


"akh, iya kha, makasih informasinya, assalamualaikum?" ucap nya pada akhir nya


"iya, waalaikum salam warahmatullah" jawab Mukhlis dari sebrang telpon


setelah menutup panggilan nya, kini lia pun berjalan ke arah ruang tamu, tempat radit dan Fachri berbincang, ia pun duduk di sebrang sofa hadapan radit


"dari siapa ta?" tanya radit yang memang sudah penasaran, pasalnya radit ini mendengar tawa lia saat berbincang di telpon


"dari kha Mukhlis kha" jawab nya sambil meletakkan ponsel nya di meja kaca perlahan


"kha Mukhlis?" tanya radit merasa heran "apa itu ustadz Mukhlis yach?" batin nya

__ADS_1


"akh, iya, ustadz Mukhlis, katanya kalo di luar lingkungan pesantren nggk perlu panggil ustadz, panggil nya kkk aja" jawab nya mengingat pembicaraan nya dengan sang ustadz


"akh, gitu yach" ucap radit "bahkan seakrab itu kamu dengan nya ta" batin radit


"akh iya, kha radit ada apa ke sini pagi pagi, tumben?" tanya nya menyadari sesuatu


"akh, gini ta, aku mau minta pendapat mu, tentang dua pilihan" jawab radit meminta pendapat


"dua pilihan, apa itu?" tanya nya


"gini, andai jika kamu ada di posisi ku saat ini, kamu akan memilih tinggal di kampung halaman awal kamu yang serba berkecukupan tapi dengan hati yang kacau, atau di di kampung kedua mu meski hanya seadanya tapi kamu merasa senang?" tanya radit to the point


"emm di kampung kedua ku" jawab nya memberi saran hingga membuat Fachri melihat nya dengan seksama


"kenapa li?" tanya Fachri heran


"kenapa apanya?" tanya nya


"kenapa kamu memilih untuk tinggal di kampung kedua dengan keadaan serba berkecukupan sedangkan banyak yang menyarankan tinggal di kampung awal?" jelas Fachri


"aku lebih memilih untuk tinggal di kampung kedua karna jika memang itu akan membuat ku selalu merasa senang meski hanya seadanya, kalo kita tinggal di kampung awal meski dengan keadaan serba berkecukupan kalo pikiran kita selalu merasa kacau sich, itu kurang baik juga" jawab nya memberi tahu pendapat nya


"akh, gitu yach?" ucap radit sambil tersenyum


"emm memang nya kenapa kha radit tanya seperti itu sama aku, apa kha radit akan pulang ke kampung awal kha radit?" tanya nya merasa aneh


"akh, tidak ta, aku hanya bingung saja, orang tua ku suruh aku berlibur dan berkumpul di sana" jawab radit dengan wajah sedikit lesu


"bagus dong, kenapa kha radit seperti nggk mau berkumpul dengan keluarga kkk di sana?" tanya nya semakin penasaran


"bukan nya nggk mau ditta, hanya saja, aku selalu ingin tetap di sini, aku nyaman tinggal di sini, jika aku ke sana, aku takut" jawab radit seadanya


"kenapa seperti itu, aku juga selalu merasa nyaman ketika aku sedang berkumpul bersama keluarga ku, tapi kenapa kha radit,,," ucap nya terhenti


"entah lah ta, rasa ku berbeda dengan yang dulu, aku merasa enggan untuk bisa menemui keluarga ku" jawab radit


**bersambung,,,


Alhamdulillah semua, author nya bisa SU lagi maaf yach, lama nunggu, jangan lupa untuk tetap selalu tinggalkan jejak semua, salam hangat dari author

__ADS_1


Kamis, 20 Februari 2022**


__ADS_2