
Zara tersenyum menatap Danu memeluk Nina dari arah belakang. Nina yang tengah memasak sarapan, merasa ruang geraknya menjadi terbatas akibat gangguan dari sang suami.
Jika di luar sana banyak sekali lelaki yang memiliki lebih dari satu wanita, dan bahkan memiliki sugar baby, faktanya masih ada lelaki yang setia hanya dengan satu wanita. Yaitu Danu dan Rio.
"Ayah, bunda?" Panggil Zara yang membuat tubuh Nina reflek berjengit, dan Danu, seketika mengurai pelukannya.
"Selamat pagi" ucap Zara lalu tersenyum.
Danu dan Nina merasa kikuk, kedapatan tengah bermesraan oleh Zara.
"Selamat pagi" jawab Danu, ia berjalan ke arah kulkas.
"Maaf ya mbak, ayah memang suka jahil"
"Nggak apa-apa bund, mbak juga biasa lihat Papi peluk mami kalau lagi masak gini"
Danu tersenyum "Itu karena Ayah sayang sama bunda, dan Papi sayang sama mami" ucapnya lalu meraih botol minum dan langsung menenggaknya.
"Iya yah, mbak justru senang lihat kalian begini, jadi pengin punya suami kayak Ayah kayak papi"
"Jadi istri ke dua ayah mau?" goda Danu seraya berjalan ke arah meja makan, lalu menarik sebuah kursi.
"Nggak mau" sahut Zara "Mbak bantu naruh di meja makan ya bund" lirihnya saat berada di samping Nina "Embak maunya jadi anak ayah saja" lanjutnya di iringi gerakan tangan menata piring di meja makan.
Danu terkekeh, "Ngomong-ngomong gimana ta'arufnya?"
"Mbak batalin yah"
Jawaban Zara membuat Danu mengerutkan dahi membentuk lipatan kecil, sekaligus Nina yang menghentikan gerakan memasak lalu menoleh ke arahnya. "Kok di batalin mbak?"
"Kurang cocok bund"
"Kurang cocoknya di mana?" sahutnya lalu melanjutkan aktifitasnya "Mami bilang dia pria baik, sholeh, arsitek juga"
"Iya si" Zara memberikan jeda untuk dirinya sendiri. "dia sempat punya tunangan bun, terus memutuskan pertunangannya, karena tunangannya itu nggak bisa punya anak, setelah itu ta'aruf dengan mbak" Zara menceritakan tentang Karisa pada Danu dan Nina tanpa melewatkan sedikitpun"
"Emang si Yusufnya nggak bilang di awal kalau dia baru saja memutuskan pertunangannya?" tanya Danu penuh selidik.
"Nggak yah" jawabnya sambil menyidukan nasi goreng untuk di serahkan pada Danu "Itulah yang membuat mbak ragu"
Sembari menikmati sarapan, mereka mengobrol banyak hal, hingga sesi makan pagi hampir selesai.
"Jadi belanja bulanannya dek?" tanya Danu lalu menyuapkan sendok terakhir
"Jadi, mumpung Zara di sini, sekalian nanti ke salon"
"Ya udah mas mau ke rumah abi" Danu meneguk air dalam gelas yang tersisa setengahnya. "Nanti pulang jam berapa?"
"Belum tahu mas, tapi biasanya kalau nyalon itu lama"
"Yang penting hati-hati" Pesan Danu lalu berdiri dari duduknya "Hati-hati nyetirnya mbak?" lanjutnya berpesan pada Zara sebelum benar-benar melangkah.
"Ok yah"
__ADS_1
**********
Perawatan salon yang meliputi lulur, dan perawatan facial serta chemical peeling, membutuhkan waktu hampir 4 jam. Kini jam sudah menunjukan pukul 4 Sore, karena mereka berangkat dari rumah sekitar ba'da Dzuhur.
Sebelum berbelanja, mereka menunaikan sholat ashar di salon, tempat sholat berukuran kecil yang memang sudah menjadi fasilitas pelanggan.
"Kita langsung ke mall bun?" tanya Zara sebelum menginjak pedal gas
"Iya sayang"Jawabnya sambil memakai seatbelt "Temenin bunda belanja bulanan, setelah itu baru kita pulang"
Di mall, Zara mulai mencurigai seseorang, bahwa ada dua pria seolah membuntutinya, tadinya Zara berpikir, hanya seorang pengunjung yang akan berbelanja, saat sama-sama memarkirkan mobilnya. Namun setelah di perhatikan, Dua pria itu masih mengikutinya hingga Mereka selesai belanja.
"Bun" Panggil Zara, kedua tangannya membawakan barang belanjaan milik Nina, sedangkan Nina hanya membawa satu kantong plastik besar.
"Ada apa?" Nina menyahut tanpa mengalihkan pandangannya yang tengah fokus melihat beberapa potong gamis yang terpajang di patung manekin.
"Bunda ngerasa enggak, kalau ada yang ngikutin kita?"
Ucapan Zara reflek membuat Nina menghentikan langkahnya "Mana?"
"Di belakang bun, pria yang memakai jaket kulit warna hitam, dan jaket levis abu-abu"
Perlahan Nina menengok ke belakang. Benar saja, ada 2 pria yang terlihat begitu menyeramkan, Nina bergidik ngeri. Pikirannya langsung tertuju pada beberapa tahun silam, ketika ada tiga pria yang tiba-tiba menghadang dirinya dan juga Irma, saat di Jakarta.
"Bun, sebaiknya kita masuk ke restauran, kita duduk dulu, apa mereka masih mengikutinya, nanti kalau iya, kita langsung telfon ayah minta jemput"
"Iya ayo" Sahut Nina singkat.
"Mereka duduk di meja belakangmu Za" Lirih Nina dengan tangan gemetar dan keringat dingin sedikit membanjiri telapak tangannya.
"Kita telfon ayah saja ya bun?"
"Iya sudah cepetan telfon ayah, suruh kesini naik taksi"
Zara segera mencari kontak bertuliskan Ayah Danu. Setelah menunggu beberapa detik, panggilan pun tersambung
"Assalamu'alaikum yah"
"Wa'alaikumsalam"
"Ayah dimana yah?" tanya Zara sedikit berteriak karena pengunjung restauran sangat ramai
"Ayah di rumah sama Ayu. Kenapa mbak?"
"Ayah jemput mbak sama bunda sekarang ya?"
"Loh kok minta jemput"
"Sekarang yah naik taksi ya jemputnya, nanti posisinya mbak sharelok"
Karena jarak tempat duduk mereka yang cukup dekat, dua pria asing itu samar mendengar percakapan antara Zara dan Nina.
"Gimana sayang?" tanyaa Nina saat Zara memutuskan panggilannya
__ADS_1
"Iya bun, ayah mau jemput" jawabnya sambil mengirim pesan lokasi lewat whatsap "Kita tunggu saja" lanjutnya.
"Duh bunda jadi ingat dulu saat bunda sama mami lagi jalan terus di hadang orang, sambil menodongkan senjata tajam"
"Terus gimana bun?"
"Ya uang sama ponsel bunda dan mami di minta"
"Mereka masih duduk bund?"
"Masih, yang satu beberapa kali ngelirikin bunda"
"Kira-kira kenapa mereka ngikutin kita bun?"
"Bunda juga nggak tahu, mungkin mereka suruhan musuh bisnis ayah, tahu kalau bunda istri Ayah, dan kamu kerja di perusahaan ayah"
Zara melihat jam di pergelangan tanganya, sudah sekitar 20 menit namun Danu tak kunjung sampai. Karena kepanikan dan rasa was-was, Nina sampai tersentak saat ponselnya berbunyi.
"Mas dimana?" selorohnya tanpa mengucap salam terlebih dulu
"Mas di dalam restauran, kalian duduk di sebelah mana?" Tanya Danu di balik telpon
"Deket kaca sebelah kiri mas"
Tidak butuh lama, netra Danu menangkap sosok istri dan anaknya
"Mas lihat kalian" Ucapnya lalu melangkah menghampiri dua wanita yang sangat familiar, lalu menggeser ikon merah di ponselnya
"Kalian nggak apa-apa?" tanya Danu saat sudah berada di mejanya, lalu mendudukan dirinya di kursi.
"Nggak apa-apa mas"
"Mana orangnya?" bisik Danu
"Ada di belakang Zara" Danu sedikit mendongak lalu melirik dua pria dengan penampilan yang memang menakutkan seperti preman.
"Ini sudah lewat maghrib loh, kalian udah sholat belum?"
"Belum" jawab Nina bersamaan dengan gelengan kepala Zara.
"Ya sudah, kita mampir dulu ke mushola di area mall"
Mereka bertiga beranjak lalu meninggalkan restauran dan dua pria yang masih duduk di tempat tadi.
"Bos, baru saja wanita itu dan anak perempuannya meninggalkan restauran, mereka di jemput oleh seorang pria"
Pesan singkat untuk atasannya
Bersambung dulu... 😀
Regards
Ane
__ADS_1