
Setelah mengedarkan pandangan, dari kejauhan netranya menangkap lelaki yang selalu ingin dia tatap. Terlihat sedang bersandar di pintu mobil bagian kemudi.
Tadi Kennan menelpon Zara untuk secepatnya keluar. Padahal baru saja Zara duduk dan akan menekan tombol power pada CPU.
Kennan langsung berdiri tegak, ketika melihat Zara melangkah menghampirinya.
"Ada apa?" tanyanya setelah berdiri tepat di hadapan Kennan.
Kennan tersenyum, sebelum menjawab pertanyaannya. "Mas harus menemui pak Pranoto, perusahaannya membatalkan kerja sama dengan perusahaan kita"
"Pranoto?"
"Papanya Frea" potong Kennan cepat.
"Kenapa?" Kok mendadak?" tanya Zara yang tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Padahal setahunya, tak ada omongan apapun tentang kerjasama yang batal dengan perusahaan milik keluarga Frea.
"Nanti mas jelaskan, mas menyuruhmu turun, karena mas ingin melihatmu"
Ucapan Kennan membuat Zara merasa kikuk.
Setelah itu, mereka sama-sama saling diam. Zara menunduk dengan fokus menatap sepasang sepatu mereka yang saling berhadapan, sambil menautkan jari-jemarinya.
"Mas sudah ngomong ke ayah sama bunda" ucapnya seolah membuat Zara tenang "Insya Allah nanti malam mas mau ngomong juga ke papi sama mami"
Zara mendongak menatapnya dalam. Jujur ini membuat Zara senang, tapi juga sedikit takut.
"Apa?" tanya Kennan saat Zara hanya diam sambil mengunci netranya.
"Ayah sama bunda bagaimana?"
"Mereka setuju, asal kamu juga cinta sama mas, dan kamu mau jadi istri mas"
Hening selama beberapa detik, Jantung Zara mendadak berpacu sangat kencang, melebihi kencangnya kendaraan yang melewati jalan raya di depannya.
"Diam lagi?" pungkasnya "Apa nggak mau jadi istri mas?"
Seketika Zara melempar tatapan tajam.
"Mas pergi dulu, Mas nggak balik ke kantor nanti"
"Kenapa?"
"Mas harus pergi ke beberapa rumah sakit, tahu kan kalau ada banyak urusan yang harus mas selesaikan?"
Zara mengangguk mengerti. Usai mengusap pucuk kepala Zara, Kennan akhirnya membuka pintu mobil dan masuk. "Pulang kantor langsung pulang. Jangan ngebut naik motornya" ulang Kennan yang di balas dengan anggukan oleh Zara.
"Pergi dulu ya" Pamitnya "Assalamu'alaikum" Kennan tersenyum sebelum benar-benar melajukan kendaraannya.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam, hati-hati" sahut Zara seraya mengulas senyum.
*******
Jam kantor sudah menunjukan waktu pulang, namun Zara masih saja berkutat dengan komputer di meja kerjanya. Edisi akhir bulan, Mau diapakan lagi.
Lebih dari setengah jam, akhirnya Zara menyudahi pekerjaannya, ia akan membawanya pulang untuk di kerjakan di rumah.
Merapikan beberapa lembar kertas yang berserakan di atas meja, lalu ia menatap layar ponsel memastikan tak ada pesan masuk, sekalian melihat jam di layar gawainya.
"16:05" gumamnya
Dengan cepat ia mengenakan jaketnya, dan bergegas turun menuju tempat parkir. Zara sempat menyapa pak satpam yang mendapat giliran shift, membantunya membuka pintu gerbang.
Melajukan kendaraan dengan kecepatan sedang, alih-alih pulang ke rumah, justru ia membelokan motornya menuju pantai, Ia berniat menyaksikan matahari terbenam di pesisir laut.
Melepas kaitan helm, Zara menggantungnya tepat di spion sebelah kanan. Perlahan langkah kakinya mulai menjauh dari motornya. Langit berwarna orange pekat terlihat sangat menyilaukan. Hingga beberapa menit kemudian, datang empat orang pria mengerubunginya.
Dua di antaranya adalah pria yang pernah mengikuti Zara dan Nina satu minggu yang lalu.
"Mau apa kalian" ucap Zara dengan ketakutan level tertinggi.
"Kami akan membawamu ke hadapan bos kami" jawab pria berbadan kurus. Sepertinya lelaki itu adalah bosnya para preman.
"Stop!, dan jangan mendekat"
"AKU BILANG BERHENTI" pekik Zara dengan kondisi tubuh yang kian gemetar "Kalau berani macam-macam, aku akan melaporkan kalian ke polisi" lanjutnya .
Sontak mereka tertawa "Polisi?" kamu sudah berada dalam genggaman kami, jadi menurutlah" Ucap si kurus lagi "Kalau tidak kami akan membawamu dengan paksa"
Entah kenapa mendadak suasana pantai yang biasanya ramai di jam seperti ini, menjadi sangat sepi. Ada beberapa orang itupun sangat jauh dari jangkauan Zara dan segerombolan orang asing ini.
Zara mencoba berteriak, dan berusaha melarikan diri, namun mereka menahannya. Sekuat tenaga Zara melawan, tapi apalah daya yang berbadan kecil dari ketiga pria yang mencengkramnya.
Tiba-tiba Zara merasakan bahwa kondisi sekitar memerah dan orange lalu mendadak semuanya menjadi gelap.
Salah satu pria itu membekapnya dengan sebuah sapu tangan yang tercampur jenis obat bius anestasi umum, membuat Zara pingsan dan tak sadarkan diri.
Saat dua pria membawa Zara menuju mobilnya, tanpa mereka sadari satu lembar photo terjatuh ke pasir dari salah satu saku jaket milik pria berotot itu.
Mereka akan membawanya ke hadapan bos yang sudah membayarnya dengan harga yang fantastis.
"Mangsa sudah berada di tangan kita bos"
^^^"Bagus"^^^
^^^"Segera bawa menuju tempat yang^^^
__ADS_1
^^^sudah ku kirim alamatnya"^^^
^^^"Pastikan tidak ada seorang pun yang tahu"^^^
"Siap bos, kami menuju lokasi saat ini juga"
********
Petang mulai menyapa, matahari pun sudah bersembunyi sejak beberapa menit yang lalu, Rio tampak sibuk menelfon beberapa teman Zara, dan Irma hanya bisa duduk lemas dengan beruraian air mata, menyaksikan sang suami yang terlihat begitu gelisah, karena anak sulungnya belum juga sampai di rumah.
Hingga mobil Danu dan Nina memasuki pelatarannya, dengan cepat mereka masuk, Nina menatap sahabatnya yang terlihat begitu menyedihkan, membuatnya menahan genangan air di pelupuk matanya.
"Bagaimana?" Tanya Danu yang di jawab gelengan kepala oleh Rio. Tidak jauh berbeda, Kanes pun tampak menangis memikirkan sang kakak. Sedangkan Ayu, berusaha menenangkannya.
"Kennan dimana?" tanya Rio pada Danu
"Dia sudah ku telfon, tapi tidak mengangkatnya, sudah ku tinggalkan pesan juga"
"Dia benar tidak bersama Zara?"
Danu menggeleng yakin. Karena tadi pagi dia sempat melihat Kennan berpamitan pada Zara di depan gedung kantor.
"Gimana pi?" tanya Irma dengan suara seraknya
"Kita akan terus mencari mi?"
"Sampai kapan?" buliran bening meluncur di pipi Irma.
Melihat Irma dengan deraian air mata yang kian deras, Nina pun tak bisa lagi membendung air matanya. Ia berusaha menenangkan sahabatnya.
Waktu sudah hampir pukul tujuh, tapi tak ada rasa lapar dalam diri mereka.
"Pi, mi?" panggil Kennan, dengan ketakutan yang luar biasa.
Ia langsung menuju rumah Rio begitu membaca pesan dari sang ayah
Kennan Berharap, ini hanyalah sebuah prank dari keluarganya, Namun harapannya pupus ketika sepasang matanya melihat keluarga yang tengah berkumpul dengan muka yang menyiratkan kesedihan mendalam.
"Apa ini benar? Zara belum pulang dan tidak ada kabar?" tanya Kennan
Rio mengangguk seraya mengusap wajahnya gusar.
Kaki Kennan luruh seketika, ia tak mampu lagi menopang berat tubuhnya. Dengan susah payah menelan salivanya, terbayang saat tadi pagi ia berpamitan pada Zara.
Bersambung
Regards
__ADS_1
Ane