
Blurb :
Jantungku berdetak sangat kencang ketika napas hangatnya menyapu tengkukku. Mas Pandu yang tiba-tiba berdiri di belakangku usai aktivitas mandinya. Dalam sepersekian detik tubuhku seperti tersengat listrik, sebab ku rasakan bibirnya menyentuh sisi leherku, menggigitnya lembut, lalu menyesapnya sangat kuat.
Aku yang berdiri di depan lemari, hendak memilih piyama untuknya, urung ku lakukan karena dengan cepat dia memutar tubuhku hingga kami saling berhadapan. Wangi aroma sabun dan shamponya menguar menusuk hidungku. Kedua tangannya terulur pada sisi kepala mengungkungku.
"A-Ku akan ambilkan piyama untuk mas"
"Tidak perlu" sahut mas Pandu
Ketika aku hendak menunduk, seketika tangan mas Pandu menyentuh dagu, dan membuatku mendongak melihatnya "Kamu tahu kan, tugas seorang istri"
"Ta-hu" jawabku dengan terbata.
"Lalu?" Mata mas Pandu memicing
"A-aku tidak keberatan b-buat melayanimu" kataku dengan gugup "Tapi u-untuk malam ini, aku belum siap"
"Terus apa yang membuatmu belum siap?"
Terdiam sejenak, aku berusaha mengumpulkan keberanian untuk memberikan jawaban atas pertanyaannya. "Aku masih ingin tahu alasan sebenarnya mas menikahiku" ucapku pelan
"Sudah pernah ku katakan sebelumnya bukan?"
Dengan susah payah ku telan salivaku, sebelum kembali berucap "Tapi aku sempat mendengar percakapan mas dengan Clara waktu itu"
Satu alis mas Pandu terangkat "Percakapan apa?" tanyanya dengan wajah kian dekat. "Katakan yang jelas, jangan setengah-setengah" bisiknya tepat di telingaku.
Tubuhku mengerut ketika pucuk hidungnya menyentuh daun telingaku, helaan napasnya ku rasakan begitu hangat.
"Sekarang" jawabku mencoba untuk tenang "Aku tidak akan menjelaskan tentang percakapan yang ku dengar" lanjutku dengan debaran yang kian tak menentu "Cukup katakan alasan mas mencintaiku, padahal yang ku tahu kita baru saja bertemu" kataku akhirnya
__ADS_1
Tak terjadi apa-apa selama beberapa saat, yang kami lakukan hanya diam dan saling menatap. Berbeda dengannya yang menatapku dengan tatapan mengejek, sementara aku, menatapnya dengan sorot bingung.
"Sebesar itu rasa ingin tahumu?" tanyanya tanpa memutus kontak mata kami
"Jangan melempar pertanyaan ketika aku belum menerima penjelasan dari mas" Ku hirup napas dalam-dalam, sembari menormalkan detak jantungku. Entah dari mana datangnya keberanianku ini, tetapi ku pikir, aku berhak mendapatkan penjelasan tentang itu.
Mas Pandu menyunggingkan senyum miring, membuatku kian geram, dan reflek mengeratkan rahangku. Apalagi salah satu tangannya kini mempermainkan helaian rambutku. Bersamaan dengan itu, sorot tajamnya tertuju ke netraku, dan aku nyaris tersedak salivaku sendiri. "Karena kamu cantik" pungkasnya dengan senyum meledek. "Sudah mendapat jawabanku kan?"
Mendengar jawabannya, rasanya aku ingin sekali menamparnya, tapi aku takan pernah bisa melawannya. Aku hanya diam membalas tatapannya dengan gelegak yang kian menyesakkan.
Tanpa peringatan apapun, tiba-tiba mas Pandu menciumku lembut, sedikit memberikan lum*atan hingga lewat bermenit-menit.
"Percaya atau tidak" ucapnya setelah mengurai tautan bibir kami "Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu"
"Secepat itu mas mencintaiku?"
"Tidak" jawabnya kilat
Alih-alih menjawab, mas Pandu kembali menciumku lembut, sampai-sampai aku tak sadar dengan posisi kami saat ini. Mas Pandu duduk di tepian meja rias, dengan kedua tangan yang melingkar di pinggangku, sementara bibirnya, masih terus mel*umat bibirku.
Aku yang awam dengan kissing, hanya bisa diam tak membalas lum*atannya. Saat aku coba melepaskan diri, dengan cepat mas Pandu menekan punggungku, aku berdiri di antara kedua kakinya.
Hinga akhirnya, tautan bibir kami terlepas, seketika wajah dan tubuhku merasakan panas yang luar biasa, dan rambutku, tahu-tahu sudah tergerai.
"Masih belum percaya, bahwa aku mencintaimu?" tanyanya dengan wajah mendongak, sebab level matanya, lebih rendah dariku.
"Kalau masih belum percaya juga", katanya membuat tubuhku reflek berjengit karena sentuhan tangannya menyusup di balik kaos yang kukenakan "Akan aku tunjukan sesuatu yang lebih dari ini" sambungnya sembari melepaskan kancing pakaian dalam di balik punggungku. Aku terdiam karena jaringan di otakku tak bisa bekerja secara normal.
"Akan aku buktikan bahwa aku mencintaimu" ucap Mas Pandu yang tiba-tiba mengangkat tubuhku, lalu membaringkanku di tempat tidur.
Jemari kirinya mengunci celah jemari kananku, ia terus menciumku, bahkan dia sudah mencumbuku kian intens. Tangan lainnya tak kalah jahil, menjamah setiap lekuk tubuhku yang masih berpakaian lengkap, hanya saja, pakaian dalamku sudah nyaris berantakan karena kancingnya terlepas.
__ADS_1
Sentuhan yang begitu lembut, membuatku lupa diri, sampai ketika dia menyentuh bagian tubuhku yang paling sensitive, mendadak kesadaranku terkumpul, lalu gegas menghentikan aktivitasnya.
"Jangan sekarang" ucapku menyela gerakan tangannya.
Seketika dia membuka mata, lalu menatapku, dengan tatapan yang sulit ku artikan.
"Aku belum siap" lanjutku sambil berusaha melepaskan diri dari kungkungannya.
Namun, alih-alih melepasku, dia justru menahanku, dan menyuruhku tidur dalam pelukannya. Dan bagiku ini aneh, tidur dalam pelukan pria yang tanpa mengenakan pakaian sehelaipun
"Jangan kau pertanyakan lagi soal cinta" ucapnya dengan nada yang sangat lembut. Kupikir dia akan marah, sebab ku lihat rahangnya mengatup keras, tetapi tidak, justru dia membuatku kian nyaman berada dalam dekapannya. "Yang terpenting, aku akan menjagamu sampai kapanpun"
"Tapi aku tidak akan pernah nyaman, menjalani hubungan, jika tidak tahu alasan yang masuk akal kenapa mas menikahiku dalam waktu singkat"
"Dan aku, tidak akan menghentikan usahaku hanya karena kau bilang tidak nyaman" mas Pandu mengatakannya setelah melihatku sekilas. "Aku akan merubah rencanaku untuk menyesuaikan denganmu, supaya kamu mengerti bahwa aku benar-benar mencintaimu. Satu hal yang perlu kamu tahu" ucapnya sarkasme "Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku"
Ku hirup napas dalam-dalam, sembari menenangkan debaran jantungku yang mungkin terdengar oleh telinganya.
"Tidurlah" lirihnya dengan dagu tepat di atas kepalaku.
Sudah lebih dari tigapuluh menit, mataku belum juga terpejam, sementara mas Pandu, kurasakan nafasnya kian teratur. Mungkin dia sudah terlelap.
Dan aku, entah kenapa merasa bahwa mas Pandu memiliki alasan lain, atau mungkin hanya mempermainkanku untuk memenuhi kebutuhan biologisnya, setelah bosan, mungkin juga dia akan menyingkirkanku.
Jaman sekarang, mana ada lelaki tajir melintir, mau menikahiku, yang jelas-jelas adalah gadis dengan latar belakang yang menyedihkan, di tambah tidak memiliki orang tua. Kasarnya, aku adalah gadis gelandangan, yang terpaksa tinggal di rumah tanteku dan di jadikan sapi perah.
Ku tarik napas dalam, berusaha memejamkan mata yang kian terasa panas. Malam ini aku bisa lepas dari malam pertamaku, tetapi untuk besok, aku tidak yakin bisa menggagalkannya kembali.
karya lama dan baru di publish. Karena Kennan Zara bentar lagi mau end
__ADS_1
Bersambung