
Sudah sebulan Zara bekerja dari rumah, tidak ada yang berubah dari segi apapun kecuali perut Zara yang sudah mulai menampakan baby bump-nya.
Kini Zara sedang berkutat di depan komputer, di meja kerja milik suaminya di kamar.
Zara benar-benar tidak di izinkan untuk bertemu orang lain tanpa dampingan dari Kennan ataupun orang tua. Dan Zara tidak menyadari akan hal itu, yang Zara tahu, itu merupakan bentuk perlindungan dari orang tuanya sebab kehamilannya.
"Mbak makan dulu" perintah Ayu dari ambang pintu.
"Bentar dek"
"Bunda nyuruhnya sekarang"
Mendengkus pelan, akhirnya Zara menuruti ucapan sang adik ipar. Ia meninggalkan kamarnya, dan membiarkan komputer tetap menyala.
"Nggak cape apa dari pagi di depan komputer terus" tanya Nina ketika Zara sudah berada di ruang makan.
"Banyak pekerjaan bund"
"Nanti bunda bilang ke mas Ken deh, supaya ngurangin pekerjaan buat kamu"
"Tapi senang bun, jadi nggak bosen di rumah aja"
"Tapi kan kamu cape sayang"
"Kerja dari rumah nggak ada capenya sama sekali, kalau capek tinggal tidur, mau makan bunda sudah siapin, capeknya di mana coba"
"Tapi kan bunda khawatir mbak"
"Kata ayah bunda juga dulu gitu kan, apalagi pas hamil mas Ken, bunda nggak di dampingi keluarga, bunda kuat kan?, bunda bisa, aku juga pengin kayak bunda jadi bunda yang kuat untuk anakku"
"Kamu sama-sama keras kepala sama mas Ken"
"Bunda nggak lupa kan bun, ada botol pasti ada tutupnya" sambar Ayu, membuat Nina dan Zara kompak menatapnya. "Mas Ken sama mbak Za emang cocok, kayak botol sama tutup itu, hehe" lanjutnya nyengir kuda
"Terus kamu sendiri gimana projectnya?" tanya Nina sambil mengunyah makanan.
"Project apa bund?"
"Kuliahmu?"
"Ya begitu bund" sahut Ayu singkat
"Kamu nggak ngeri apa dek, kuliah kok ambil jurusan dokter forensik?" Zara bertanya setelah melihat ke arah Ayu sekilas. "Bedah-bedah mayat, kalau embak mah nggak akan pernah bisa tidur"
"Ngeri si iya, rasa takut pun ada, tapi beda loh mbak, nolongin orang yang udah meninggal, kalau nolongin orang yang masih hidup kan udah hal biasa, nah kalau nolongin orang yang udah meninggal itu luar biasa"
"Sudah-sudah jangan bicara hal begituan" potong Bunda sambil mengedikkan bahunya
__ADS_1
"Asyik loh bun, bedah-bedah mayat, apalagi kalau korbannya pembunuhan, atau bunuh diri, atau meninggal yang enggak wajar"
"Bunda bilang cukup Ayu"
"Iya bund"
"Kita lagi makan, kasian mbak Za"
"Sama aja kayak Kanes bund" Ucap Zara lalu meneguk air dalam gelas "Dia juga antusias banget kalau ngomongin kuliahnya"
"Karena asik mbak, jarang banget ada dokter forensik kan, kita aja satu kelas paling cuma 20 anak"
"Karena mereka pada takut mau ambil jurusan itu" kayaknya di kabupaten sini juga cuma kamu sama Kanes doang"
"Prospeknya bagus, aku sama Kanes juga sudah di gadang-gadang untuk tugas di Jakarta, setelah lulus nanti"
"Kita bakal jauh-jauhan dong" timpal Zara
"Kemarin pas ke Jakarta juga sempat ketemu sama mas Bagas bun, mbak. Dokter forensik kan kerja samanya sama polisi"
"Masa si, berati kalau di Jakarta bunda nggak perlu khawatir ya, bisa minta tolong mas Bagas buat jagain kamu sama Kanes nanti"
"Ya nggak gitu juga bund, kita bisa jaga diri sendiri kok"
*****
Dengan langkah lebar Nina berjalan untuk melihat tamu yang datang.
"Waalaikumsalam"
"Selamat siang bu" ucap Widia meraih punggung tangan Nina
"Selamat siang mbak Widia, lama nggak ketemu, apa kabar?"
"Baik bu. Bu Nina sendiri bagaimana?"
"Alhamdulillah baik juga" sahutnya sambil menutup pintunya kembali. "Mari masuk"
"Makasih bu"
Nina tersenyum lalu membawa Widia menuju ruang tamu dan mempersilakan duduk.
"Bu saya cari Zara, ada berkas yang harus di diskusikan dengannya" ujar Widia sesaat setelah duduk di sofa.
"Kenapa repot-repot kesini, kan bisa di bawa sama Ken atau suami saya"
"Tidak apa-apa bu, sekalian pengin ketemu Zara, sudah lama tidak bertemu"
__ADS_1
"Kangen ya sama Zara?" Widia tersenyum merespon ucapan Nina. "Tunggu ya, saya panggilkan" Nina pergi mencari Zara setelah mengatakannya.
Tidak menunggu lama, Zarapun sudah berada di ruang tamu, duduk berseberangan dengan Widia. Ada beberapa lembar kerja memenuhi meja ruang tamu.
"Kapan rencana masuk Za" tanya Widia memecah konsentrasi mereka.
"Belum tahu mbak"
"Tapi kamu baik-baik saja kan?"
"Alhamdulillah baik"
"Kandungan juga baik?" tanyannya lagi sambil melirik perut Zara yang sedikit membuncit
"Baik mbak" Zara tersenyum, lalu kembali fokus pada laporan yang sedang dia kerjakan.
"Ok mbak ini sudah clear semua, insya Allah sudah beres"
"Makasih ya Za" Widia menata kembali berkas-berkas yang ia bawa, dan memasukannya di tas kerja miliknya.
"Aku langsung pamit ya Za, mau ke acara pengajiannya Almarhum Frea"
Bukan tidak sengaja Widia mengatakan itu, dia memang sudah berniat memberi tahu Zara bahwa Frea sudah meninggal satu bulan lalu.
"Almarhum Frea?" tanya Zara mengintimidasi.
"Hem" Widia masih sibuk dengan berkasnya.
"D-dia sudah meninggal?"
Widia mengangguk acuh.
"K-kapan"
"Kamu nggak tahu Za, sudah hampir sebulan loh"
"Kenapa mbak?"
Widia mengedikkan bahunya sambil berucap "Depresi yang ada hubungannya sama Kennan itu. Aku dengarnya gitu si Za"
Maaf ya Za, aku pengin tahu gimana reaksimu setelah tahu kalau Frea sudah meninggal, aku harap pikiranmu kacau dengan kabar ini.
Widia membatin, tidak lama setelah itu dia berpamitan, sementara Zara, masih syok atas kabar dari Widia.
Frea meninggal, dan itu karena mas Ken menolak menolongnya.
Dada Zara berdesir, pikiran tak lagi fokus, sedangkan hatinya merasa tercubit saat Widia mengatakan bahwa meninggalnya Frea ada hubungannya dengan Kennan.
__ADS_1