
"Dia sakit jiwa" gumam Kennan hanya menggerakan mulut tanpa menimbulkan suara.
Setelah membaca pesan itu, tanpa pikir panjang ia segera menghapusnya, sekaligus mendelete nomor Frea dari ponselnya.
******
Beberapa hari setelah makan malam, Frea mengajak Kennan kembali bertemu, tepatnya pada malam hari setelah kepulangannya dari Thailand. Kennan yang mengatakan akan lembur pada Zara hingga pukul sepuluh malam, faktanya, Dia menemui Frea di sebuah loby hotel sepulang lembur. Dan ajakan itu, Frea utarakan secara langsung padanya.
"Kita bisa melakukannya malam ini Ken" Ucap Frea saat itu "Just one night stand, free for you"
"Maaf Fre, aku bukan lelaki seperti itu, Aku tidak bisa melakukannya, apalagi tanpa ikatan pernikahan"
"Its Ok, bukannya kita akan menikah, orang tua kita sudah merencanakannya kan?" tanya Frea menggenggam tangan Kennan.
Kennan berusaha tersenyum sebelum menjawab, lalu melepas genggamannya dan menyembunyikan tangannya di bawah meja.
"Maaf sekali lagi, aku tidak bisa"
"Why?"
"Aku sudah punya kekasih, dan akan menikahinya dalam waktu dekat ini"
Terpaksa Kennan mengatakan itu, agar Frea tidak mengharapkannya. Padahal Kennan sendiri belum yakin pada perasaan Zara.
"What?" tapi ayahmu bilang kamu tidak memiliki kekasih, dia juga tidak mengatakan kalau kamu akan menikah"
"Aku memang tidak pernah memperkenalkan kekasihku pada orang tuaku Fre"
"Tidak Ken, aku menyukaimu sejak ayahmu memperlihatkan fotomu padaku, dan aku mencintaimu, sejak pertama kali kita bertemu" Pungkasnya dengan sorot mata kearah mata Kennan. "Aku tahu kamu juga menyukaiku, itu sebabnya kamu tidak menolak ajakan makan malamku, dan semakin yakin ketika kamu mengantarku, aku mencium bibirmu, kamu menerima kecupanku waktu itu. Kamu sama sekali tidak marah, masih ingat kan Ken?"
"Aku ingat" jawab Kennan masih dengan fokus tertuju ke atas meja "Tapi harusnya kamu paham sendiri bagaimana caramu menciumku saat itu. Kamu menciumku secara tiba-tiba, iya kan?" Jika aku tahu kamu akan melakukan itu, sudah pasti aku menolaknya" Kennan menghela napas sejenak, berharap Frea bisa mencerna ucapannya dengan baik.
"Asal kamu tahu, justru saat itu aku ingin marah, hanya saja aku tidak tahu bagaimana caranya marah apalagi pada wanita"
"Baiklah, setidaknya kita coba, just once"
"No, I'm sory..." Kennan menghirup napas panjang, lalu menghempaskan sedikit kasar.
Kennan pikir pertemuan dengannya akan membahas tentang pekerjaan seperti yang Frea katakan di telfon, tapi nyatanya sama sekali tak ada pembicaraan yang menyangkut kerja samanya.
"Ok Fre" ucap Kennan sambil melihat jam yang melekat di tangan "Aku harus pulang, permisi selamat malam" lanjutnya lalu berdiri dan bergegas meninggalkan Frea yang masih duduk membatu.
Dan alasan penolakan Kennan itulah, yang menyebabkan kerja sama di perusahaan mereka batal.
Frea berfikir jika dia dan papanya membatalkan kerja samanya, Kennan akan berubah fikiran, dan akhirnya mau menerima perjodohan mereka. Tapi faktanya, Pria itu lebih memilih rugi hingga miliaran rupiah demi Zara.
*****
__ADS_1
"Mas" panggil Zara untuk yang kedua kalinya
"Iy-iya sayang"
"Mau ini" Zara menunjuk piring berisi telur dadar
"Boleh" jawab Kennan singkat lalu memasukan ponsel ke dalam saku celananya, bola mata Zara tak lepas dari tangan Kennan yang tengah menyimpan ponsel miliknya.
"Kalian besok mau pulang ke rumah siapa?" tanya Rio pada Kennan dan Zara.
"Ke rumah papi dulu, besoknya pulang ke rumah ayah"
"Ok, besok mami siapkan kamar buat kalian"
Begitu sarapan selesai, Danu dan Rio beserta keluarga, akan kembali ke rumah mereka masing-masing. Kennan dan Zara mengantarkannya hingga ke tempat parkir.
Selepas itu, pasangan baru menikah kembali ke kamar mereka.
"Mas benar, kemarin nggak liat mbak Widia?" tanya Zara, mereka kini berjalan bersisian melewati lorong hotel menuju kamar.
"Enggak datang kali, mas nggak lihat"
"Mas nggak kasihan sama dia?"
"Kasihan kenapa?" tanya Kennan sambil mengeratkan tautan tangannya.
"Dia cinta sama mas, mas beneran nggak ada rasa sama dia, dia cantik loh?"
Diam dan hanya saling menatap, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
Hening, hanya gerakan bola mata yang sama-sama bergerak gelisah saling mengunci.
"Kamu tahu kan mas menikahimu secara ijbar, apa kamu belum mengerti jika mas mancintaimu?"
"Aku hanya tidak enak saja padanya mas" ucap Zara sedikit terbata. "Apalagi kita kerja bareng"
"Apa yang membuatmu merasa tidak enak?" Perlu kamu ingat, kalau mas mencintainya, sudah pasti namanya yang mas sebut di depan penghulu"
Zara hendak menunduk, namun tangan Kennan buru-buru mencegah dagunya.
"Tatap aku Za"
Diam-diam Zara menelan saliva, karena jarak wajahnya begitu dekat, membuatnya semakin tak nyaman.
Tiba-tiba tangan Kennan bergerak meraih ponsel dari sakunya.
Zara bisa melihat siapa yang menelpon, namun tidak tahu siapa pemilik nomor ponsel itu, sebab tak ada nama, dan hanya nomor saja yang muncul.
__ADS_1
"Panggilan dari siapa?"
"Mas nggak tahu, itu nomor baru"
"Kenapa tidak di angkat?"
"Nggak penting"
"Dari mana mas tahu kalau itu telfon nggak penting?"
"Kamu banyak tanya sekali"
"Aku hanya bertanya, apa itu salah?"
"Enggak salah, tapi kamu tahu kan?" Kennan mengatakannya dengan sorot mata tajam "Kita sedang bicara, bagiku nggak ada yang lebih penting kecuali kamu"
"Ya sudah aku nggak akan tanya-tanya lagi, termasuk tentang Wid_"
Kalimat Zara terhenti karena tiba-tiba Kennan mencium bibirnya.
"Sekali lagi kamu mempersoalkan Widia, mas akan marah padamu" ucap Kennan setelah berhenti menciumnya.
"Maaf"
Kennan mengangguk "Cuma kamu yang mas cintai, mas ingin kamu berhenti memikirkan orang lain. Keraskan hatimu untuk hal-hal yang berhubungan dengan Widia, itu hanya akan merusak rumah tangga kita. Paham?"
Zara mengangguk. Anggukannya bersamaan dengan notif pesan di ponsel Kennan.
Pandangan Zara yang sangat dekat, membuatnya bisa membaca pesan itu.
081xxx : "Kenapa susah sekali di hubungi?" (10:02 Wib)
"Siapa dia mas?"
"Nggak tahu" jawab Kennan cepat
"Mas nggak balas?"
"Kan sudah mas bilang, nggak ada yang lebih penting kecuali kamu" Dengan senyum miring, lalu kembali mengecup bibir Zara. Kali ini sentuhannya benar-benar lembut. Kedua tangan Kennan sudah melingkar di pinggang Zara, sementara bibirnya tak berhenti mel*umat bibir istrinya, mereka saling membalas ciuman itu, ciuman yang menenangkan jiwa, seolah mengekspresikan betapa mereka sangat mencintai satu sama lain.
Saat Zara hendak mengakhiri pagutannya, karena kehabisan napas, satu tangan Kennan menekan punggungnya.
Dengan posisi mereka yang berdiri, membuat Zara harus berjinjit dan sedikit mendongakan kepala. Terus menyesap hingga cumbuannya semakin dalam.
Ketika napasnya benar-benar habis, kedua tangan Zara yang ia daratkan di dadanya, sedikit mendorong. Kennan pun segera melepaskan tautan bibirnya.
"Aku nggak bisa nafas, mas mau membunuhku?"
__ADS_1
Kennan tersenyum meledek lalu mengangkat tubuh Zara dengan mudahnya.
Bersambung