Rahasia Hati (Mencintai Kakaku)

Rahasia Hati (Mencintai Kakaku)
Bab 58


__ADS_3

Kabar kehamilan Zara sudah tersebar ke keluarga dan para karyawan kantor. Mereka bahkan selalu rutin menanyakan kabar kesehatan, serta memberi banyak wejangan agar kehamilannya terjaga dengan baik.


Kennan sendiri tak kalah perhatian, justru dialah yang paling menonjol dalam memberikan perhatian pada Zara. Terutama saat mood Zara sedang menurun. Hampir setiap hari Kennan bertanya apa yang dia rasakan, tak henti-hentinya mengingatkan agar tidak menyembunyikan apapun darinya.


Soal Frea, mungkin keluarga Kennan sedikit lebih lega, karena gadis itu kini sedang berobat ke luar negri.


"Seneng deh lihat Bumil kaya kamu Za" ucapan Ika membuat Zara tersenyum setelah menggigit kue lumpur.


"Kenapa memangnya?" tanya Zara dengan mulut terisi makanan.


"Biasanya aura ibu hamil, setahuku ya, mereka suka kusut, suka malas, tapi aku nggak lihat kamu seperti itu, sebaliknya justru semangat dan auranya bersinar. Eh tapi, aku malah lihat pak Kennan yang terlihat kusut"


Zara tergelak mendengarnya, bukan tanpa alasan, dia teringat bahwa sang suamilah yang justru setiap hari mengalami morning sickness.


"Kamu ada rasa takut nggak Za?"


"Takut bagaimana?"


"Takut melahirkan gitu, apalagi kata orang-orang nyawa yang menjadi taruhannya"


Zara tersenyum sebelum kemudian berucap "Takut si ada, tapi di bandingkan takut, aku justru penasaran"


"Masa si?"


"Iya, terlebih ada kehidupan di dalam perut, yang sangat bergantung padaku, jadinya nggak sabar, pengin cepet-cepet lahiran"


"Sesuatu banget ya Za" sahut Ika takjub


"Hu'um"


"Semoga sehat selalu ya Za, sampai lahiran"


"Aamiin" Zara menimpali sambil meraih satu kue lumpur lagi lalu menggigitnya.


"Kamu pengin makan apalagi Za, besok aku bilang mas Tama suruh bikinin spesial buat kamu"


"Kenapa enggak kamu saja yang buatin?"


"Yang chef kan dia Za"


"Kayaknya makan pana cota enak tuh Ka?" dulu kan masmu pernah bawain buat kamu, Aku jadi terbayang lagi segernya pana cota buatan masmu itu"


"Ok Za, besok aku bawain buat kamu"


"Makasih" ucap Zara setelah meneguk air mineral dalam botolnya.

__ADS_1


***


"Kamu nggak ada niat buat berhenti kerja mbak?" tanya Irma, mereka kini tengah menyiapkan makan malam.


Kennan dan Zara akan menginap di rumah maminya malam ini.


"Belum mi"


"Tapi jangan kecapean ya!"


"Enggak, justru pekerjaan embak, banyak yang di kerjain sama mas Ken"


"Mbak duduk saja sama papi sama mas Ken sana, biar mami yang masak"


"Nggak apa-apa mi?"


"Enggak dong"


"Ya sudah, makasih ya mi, mbak panggil Kanes deh buat bantu mami"


"Boleh sayang"


Berjalan pelan, Zara menuju ruang keluarga, dimana sang papi sedang beradu catur dengan sang suami, ia membawa biskuit di tangannya. semenjak hamil, mulut Zara seolah tak berhenti mengunyah makanan.


Kennan yang tengah fokus, dengan papan caturnya, melihat sekilas ke arah Zara.


"Bumil ya nggak apa-apa mas banyak makan" timpal Kanes seraya menatap layar laptop.


"Dek bantu mami masak ya, kasian mami masak sendiri"


"Ok mbak, bentar"


"Pi?" panggil Bima yang juga ikut bergabung dengan fokus menatap layar ponsel.


"Hmm"


"Kenapa si kita manggilnya papi sama mami, bukan ayah sama bunda seperti mas Ken"


"Nggak penting kayak gitu di tanyain" sahut Kanes sambil menjentikan jarinya di kepala Bima, lalu bergeras lari menuju dapur.


"Ya nggak apa-apa kan pengin tahu mbak?" jawab Bima seraya mengusap kepala bekas jentikan Kanes "Kenapa pi?"


"Apanya, Bima?"


"Kenapa panggilnya papi bukan ayah"

__ADS_1


"Mas Ken yang pertama panggil papi, Bima?"


Zara yang tengah menikmati biskuit sambil membaca majalah, tidak begitu menyimak percakapan papinya dengan adiknya.


"Mbak"


"Ada apa?" jawab Zara merespon panggilan Bima


"Mbak kan udah fitnah aku kemarin, karena aku kena skors dari pesantren, jadi dapat pembelajaran secara daring"


"Terus?"


"Mbak harus membayarnya, dengan cara bantuin aku kerjain tugas-tugasku"


"Terus kamunya ngapain, main ponsel?"


Bima terkekeh sambil memamerkan giginya.


"Plis mbak"


"Kamu di skors kan gara-gara mukulin anak orang sampai giginya rontok, kenapa jadi mbak yang harus ngerjain tugas"


"Karena mbak udah ceroboh naruh benda laknat di nakasku, sampai-sampai ayah marahin aku, maksa aku buat ngaku, padahal aku nggak tahu kan itu benda apaan"


Menarik napas panjang, Zara akhirnya mengalah "Mbak cuma bantuin, yang kamu enggak tahu ya?"


"Iya mbak iya" Bima seketika berdiri lalu mengecup pipi Zara, setelahnya berlari ke kamar untuk mengambil buku-bukunya. "makasih mbakku"


Beberapa menit berlalu, Bima sudah kembali ke ruang keluarga. Sementara Kennan dan Rio fokus bermain catur, Zara sibuk membantu adiknya mengerjakan tugasnya.


Hingga lewat lebih dari tiga puluh menit, Rio dan Kennan pun tampak selesai beradu catur, Kanes datang menghampirinya mereka, memberitahu bahwa makan malam sudah siap.


Ketika mereka tengah menikmati makan malam, dering telfon rumah berbunyi, Rio menyuruh Bima untuk mengangkatnya, dengan cepat, Bima melakukan perintah papanya.


"Pah, ayah yang telfon mau bicar sama papi"


"Ada apa Bim"


"Mana Bima tahu" sahutnya.


Rio pun bangkit dari duduknya lalu menuju meja tempat menaruh telfon rumah.


Dua menit kemudian, kembali dengan raut wajah tanpa ekspresi.


"Ken setelah makan temuin papi di ruang kerja ya?"

__ADS_1


Tanpa banyak bertanya, Kennan mengiyakan perintah Rio.


next...


__ADS_2