
Usai makan malam, Danu, Nina, Kennan dan juga Zara, duduk berkumpul di ruang keluarga, minus Ayu yang saat ini sedang ada uji praktikum di rumah sakit untuk membantu mengautopsi jenazah korban pembunuhan.
Mereka sedang mendiskusikan tentang pemindahan Widia ke devisi lain, sesuai dengan permintaan Zara.
"Kenapa mas, kok mendadak" tanya Danu sambil mengunyah buah apel yang sudah di potong-potong oleh Zara.
"Ayah nggak tahu ya, kalau cemburunya menantu ayah berada di level teratas"
Jawaban Kennan memantik Danu dan Nina kompak menatap Zara, sementara Zara melempar tatapan tajam pada Kennan. Kennan yang mendapat tatapan dari sang istri tersenyum miring sembari meraih potongan apel di piring atas meja.
Dan sepersekian detik, tangan Zara mencubit pinggang Kennan, membuat tubuhnya seketika melenting, di sertai gelak tawa.
"Enggak yah" kata Kennan setelah tawanya reda "Widia yang udah buat Zara kemarin pingsan".
Dahi Danu mengerut mendengar ucapan Kennan.
"Maksudnya gimana mas?" tanya Nina menyelidik.
Dan Kennan pun menceritakannya mulai dari awal hingga akhir, termasuk saat Widia dengan sengaja memberitahu Zara tentang kematian Frea. Kennan pun memberitahukan bahwa Widia masih sakit hati karena Kennan menolaknya.
"Masa si mas?" Nina seolah tak percaya bahwa Widia sudah melakukan hal itu. "Di lihat dari luarnya dia baik loh" sambungnya menatap lekat wajah Kennan.
"Serius bun, maka dari itu mas Ken dan Zara mau mindahin dia diam-diam, takutnya nanti kalau di balas dengan cara yang menyakiti, bukannya sadar, malah semakin dendam, kayak ibu Sinta"
"Bunda setuju banget, ide siapa itu?"
"Ide Zara bun" sahut Kennan cepat
"Wah menantu ayah bijak juga yah?" timpal Danu, yang membuat Zara tersipu.
"Dia kan lahir dari perut Irma, sahabat bunda yang baik, terus bunda juga ikut merawatnya, jadi otomatis sifat bunda dan juga mami Irma melekat dalam dirinya" Nina memuji dirinya sendiri dengan PD nya dan tanpa ragu.
"Iya-iya, bunda sama mami memang yang terbaik"
"Ini fakta loh, Zara memang lahir dari rahim mami Irma, tapi tangan bunda juga ikut merawat dan mendidiknya, iya kan yah" Nina bertanya pada Danu. "mas Ken juga ingat kan, kalau kita sering bawa Zara buat bobo di rumah kita waktu kecil"
"Waktu kecil Ken juga pernah tinggal sama mami bun, baiknya bunda sama mami pasti juga melekat di Kennan"
"Udah deh, baiknya mas Ken sama mbak Zara ngikut bunda sama mami Irma" kali ini Danu ikut menimpali "Tapi yang masih di perut Zara, baiknya nanti ngikut Ayah sama papi"
Mereka tergelak sebelum kemudian mengakhiri duduk santainya karena waktu semakin larut.
"Ayah sama bunda masuk kamar, pintu sama lampu-lampu biar Ken yang urus"
"Ok sayang, kalian langsung istirahat ya" Nina menjawabnya sembari melangkahkan kaki menuju Kamar, tangannya saling bergandengan dengan tangan Danu.
"Besok pengin jalan-jalan kemana?" tanya Kennan sambil menaiki anak tangga satu-satu.
"Kerumah kakek Abi lah seperti biasa, kita harus ikut kajian minggu di rumah kakek kan?"
"Maksudnya setelah dari sana sayang"
"Gimana kalau kerumah kakek Anggara sama kakek Rusdi"
"Kamu nggak cape memangnya?"
"Cape ngapain si, kita kan mau main bukan mau nyangkul" Seloroh Zara membuat Kennan tertawa. "Besok setelah kajian minggu, kita langsung ke rumah kakek Anggara, terus setelah Ashar kita baru ke rumah kakek Rusdi, nanti kita makan malam di sana"
__ADS_1
"Ok deh siap"
****
Melirik ke samping kiri, ia mendapati sang suami masih terlelap. Zara memiringkan tubuhnya berhadapan dengan Kennan, sepasang matanya lekat menyoroti mata, hidung lalu mulut. Tanpa sadar bibirnya mengulas senyum, tangan kanannya terulur membelai pipinya. Sentuhan lembut yang membuat Kennan terbangun lalu menggeliat, kedua tangan kekarnya terlentang menyentuh headboard.
"Sudah bangun?" tanya Kennan parau.
Zara hanya tersenyum meresponnya. "Mandi yuk, terus sholat"
"Jam berapa ini?"
"Sudah hampir subuh" jawab Zara, lalu mengecup bibir Kennan kilat.
"Siaran ulang dulu yuk" seloroh Kennan lengkap dengan senyum memohon.
"Jangan lihatin aku ala-ala puppy eyes deh. Nggak cocok tahu, Mendingan bangun mandi terus sholat"
"Jadi nggak mau siaran ulang yang semalam"
"Nggak mau" jawab Zara cepat, lalu bangkit dan langsung melangkah ke kamar mandi.
***
"Assalamu'alaikum" ucap Danu dan Nina serta Kennan dan Zara.
"Waalaikumsalam"
Saat baru saja melangkah masuk, Zara dan Kennan di buat tercenung saat netranya menangkap Yusuf dan Karisa tengah duduk berdampingan, sementara kakek abi dan nenek tampak duduk di sebelah kirinya bersebrangan dengan mereka
Zara dan Kennan saling pandang mempertemukan netranya, sama-sama dengan sorot mata terkejut.
"Mbak Karisa"
Danu menyalami Yusuf dan menangkupkan kedua tangan pada Karisa, di ikuti oleh Nina yang menyalami Karisa. Hal yang sama di lakukan oleh Kennan dan juga Zara.
"Hamil berapa bulan mbak Za?" tanya Karisa setelah mereka di persilakan duduk oleh nenek umi.
"Empat bulan mbak"
"Selamat ya mbak Za, semoga sehat terus sampai lahiran"
"Aamiin" Sahut Zara lengkap dengan seulas senyum. "jazakillah khairan katsiiraa, mbak Karisa" lanjut Zara tulus.
Ucapan Zara di amini oleh seisi ruangan termasuk Yusuf dan Kennan.
Sebenarnya Zara masih bingung kenapa Yusuf dan Karisa duduk berdampingan seperti suami istri.
"Mereka suami istri" ucap Kakek abi menjawab rasa penasaran Zara.
"Iya mbak Za, yang namanya jodoh, nggak pernah kita duga"
"Betul" jawab Danu "Zara saja tahu-tahu nikah sama kakaknya"
"Bukan kakak kandung yah" Sergah Kennan cepat. "Siapa tahu ada yang terkejut" lanjutnya sembari melirik Yusuf.
"Sudah yuk, kajian sudah mau di mulai" ujar kakek abi. Meraka kompak bangkit lalu mberjalan menuju aula ponpes.
__ADS_1
"Gimana rasanya hamil mbak Za?" sambil berjalan, mereka saling melempar pertanyaan.
"Aku biasa aja si mbak, justru yang ngidam itu suamiku, dia yang alami morning sickness tiap pagi"
"Aku malah nggak doyan makan mbak"
Dahi Zara mengernyit "Mbak Karisa juga lagi hamil?" tanyanya sambil melirik perut Karisa.
Karisa menjawab dengan anggukan kepala.
"Waah selamat ya mbak, syukurlah akhirnya bisa hamil"
"Iya mbak Za, Masyaa Allah, kekuatan sedekah, seperti yang sering di sampaikan kakek abi, dan Alhamdulillah, empat bulan setelah pernikahan, aku dapat garis dua, dan sekarang usianya sudah dua minggu"
"Aku ikut senang mbak?", tapi bagaimana bisa kalian menikah?" satu hal yang sedari tadi ingin Zara tanyakan.
Karisa tampak mengulas senyum sebelum menjawab. "Jadi mbak Za"
"Zara saja kali ya, biar lebih akrab" sambar Zara sambil duduk karena mereka telah sampai di gedung tempat di adakannya kajian.
"Ya udah kalau gitu kamu juga panggil Caca saja"
"Ok" jawab Zara tersenyum
"Jadi pas kamu memutuskan taarufnya dengan mas Yusuf, dia merasa seperti kena tulahnya" lanjut Karisa. "Katanya mas Yusuf selalu mimpiin aku, akhirnya dia sadar bahwa selama ini dia hanya mencintai dunia, dan tidak mencintai Allah"
"Maksudnya?" tanya Zara dengan dahi mengerut.
"Maksudnya, jika dia mencintai Tuhannya, pasti dari awal dia akan menerimaku apa adanya Za, karena setiap manusia di ciptakan atas kuasa-Nya, termasuk aku yang di takdirkan tidak bisa punya anak. Kekuranganku itu Tuhan yang kasih kan?" ujar Karisa masih dengan raut muka serius. "Dan mas Yusuf benar-benar merenungi kesalahannya, pas waktu itu, kakek Arifin bilang padanya, jika seorang istri di takdirkan tidak bisa mengandung, itu artinya Tuhan menginginkan kita untuk merawat anak yatim, dan setelah itu mas Yusuf datang menemui keluargaku, dia ingin meminangku, meskipun aku nggak bisa punya anak, dia bilang ikhlas menerima itu, Ya udah Za, Bismillah kami menikah, dengan tujuan mencari ridho-Nya, sekaligus menyempurnakan agama kami, Lillahita'ala kami adakan ijab Qobul, sampai usia pernikahan kami empat bulan, alhamdulillah aku di nyatakan hamil" ungkap Karisa nyaris menangis.
"Masyaa Allah, setiap orang memiliki kisah sendiri-sendiri Ca"
"Iya, terlepas dari itu, kita harus selalu bersyukur Za"
"Betul"
"Terus bagaimana kamu bisa nikah sama pria yang ternyata ada di dekat kamu" tanya Karisa penasaran.
"Kami sama-sama saling memendam cinta"
"Ngomong-ngomong, kamu sering ikut kajian minggu ca, kok kita baru bertemu"
"Ini baru pertama kali aku di ajak mas Yusuf, sebenarnya sudah sering di ajak, tapi kali ini baru sempat, soalnya aku juga harus ngurus anakku"
"Anak?"
"Aku merawat anak yatim piatu, rekomendasi dari kakek Arifin juga"
"Kok nggak di ajak?"
"Enggak, katanya setelah ini mas Yusuf mau mengajaku jalan-jalan berdua, jadi dia aku titipin sama mamah"
"Kencan buta ya"
" Kencan buta yang halal" sahut Karisa yang di respon kekehan oleh Zara.
"Berapa tahun anaknya?" cewek atau cowok?"
__ADS_1
"Cowok, usia dua tahun"
Bersambung...