Rahasia Hati (Mencintai Kakaku)

Rahasia Hati (Mencintai Kakaku)
Bab 45


__ADS_3

Hari terakhir cuti menikah, Kennan dan Zara sudah memutuskan tinggal di rumah Danu. Dan di hari sabtu malam minggu, mereka akan menginap di rumah Rio. Mereka berdua tidak di ijinkan keluar dari rumah Danu, karena rumah ini akan menjadi milik Kennan.


Danu dan Nina sudah sepakat akan tinggal bersama putra dan menantunya, sedangkan Ayu, nantinya yang akan keluar dari rumah ini jika menikah. Danu akan membuatkan rumah untuk Ayu dan suaminya kelak.


Saat ini, Zara dan Ayu sedang sibuk memasak sarapan pagi, untuk orang tua dan juga Kennan.


"Mba"


"Ada apa dek" Zara yang tengah mencuci taoge dan bawang bombay, sekilas menoleh ke arah Ayu.


"Aku seneng mbak bersedia tinggal disini" Ucap Ayu tangannya sibuk mengiris bawang merah "Setidaknya ada yang jagain bunda sama ayah"


"Meskipun mbak tidak tinggal disini, mbak pasti juga jagain bunda sama ayah kok"


"Iya si, tapi kalau serumah kan lebih gampang jagainnya. Nggak bisa ngebayangin kalau mas Ken nggak nikah sama mbak Za"


"Kenapa memangnya?" tanya Zara sambil menyalakan api.


"Takutnya kalau mas Ken nikahnya sama orang lain, dia nggak mau di ajak tinggal bareng bunda" sahut Ayu berusaha jujur "Kebanyakan menantu kan nggak akur sama mertua" lanjutnya.


"Tapi bunda kan baik dek, pasti dia juga enggak keberatan tinggal sama bunda"


"Ah belum tentu deh mba"


"Kamu ini" Zara menjeda ucapannya sejenak "Bunda baik, ayah juga baik, siapa coba si, yang nggak betah tinggal sama beliau?"


"Yang jelas aku bersyukur mas Ken nikah sama mbak Za"


"Kalian bikin apa buat sarapan" Sela Nina tiba-tiba.


"Mau bikin kwetiau goreng bun, sama bakwan udang"


"Bunda bantu ya, biar cepet selesai"


"Nggak usah bund, cuma masak gini doang kok" Sahut Zara seraya menggoreng bakwan "Sebentar lagi juga selesai bun"


"Ya sudah bunda bikin teh aja buat ayah sama mas Ken"


"Ayahnya dimana bun?" sudah bangun memangnya?" timpal Ayu


"Loh ayah kan sudah bangun dari tadi" jawab Nina, tangannya meraih wadah berisi gula.


"Lagi nge gym bareng mas Ken dek, tadi mbak lihat ayah masuk ke ruang fitnes"


"Oh"


"Oh ya mbak, ada salam dari ibu Sinta, kemarin bunda ke rumah nenek umi, beliau mau balik ke Thailand"


Zara memandang lekat wajah mertuanya, tampak ia sedang tersenyum tipis "Ibu Sinta bilang kangen sama mbak Za, pengin ketemu katanya"

__ADS_1


Ucapan Nina cukup menyentakan hati Zara.


"Masa bun?" baru beberapa hari ketemu loh"


"Iya sayang, Beberapa kali ibu Sinta nanyain embak. Zara sehat kan Nin?" bunda jawab; sehat kenapa?' dia jawab nggak apa-apa, cuma masih kangen, pengin ketemu, terus bunda bilang lagi, ya sudah besok aku suruh kesini sama Kennan, besok kebetulan masih cuti"


Reflek Zara mendengkus geli mendengar cerita Nina.


"Nanti siang embak ke rumah Nenek umi ya, beliau ingin bertemu denganmu sama mas Ken. Kalau enggak salah lusa mau balik"


"Ya bun, nanti siang mbak ke sana"


"Mba Za ini gimana rasanya, ayo mbak cobain, masih kurang apa" tanya Ayu, dia yang saat ini sedang menumis kwetiau, meminta Zara untuk mencicipi rasa masakannya.


"Ok dek, sudah pas rasanya"


"Berati daun bawang sudah boleh di masukin kan mba?:


"Iya boleh" jawab Zara dengan pandangan tetap fokus meniriskan bakwan.


"Bunda bantu siapin piringnya ya"


Zara dan Ayu tengah menata hasil masakannya. Ada Kwetiau goreng, bakwan udang, dan sambal terasi. Nina bergegas memanggil dua lelaki kesayangannya yang sedang berolah raga.


Para pria akan membersihkan diri terlebih dulu sebelum sarapan. Termasuk Ayu yang sebentar lagi akan berangkat kuliah, sedangkan Zara dan Nina, mereka sibuk membersihkan dapur beserta peralatan memasaknya, sembari menunggu yang lain.


Sebelum mengisi piringnya, Zara dan Nina lebih dulu melayani suami mereka masing-masing. Ayu, dia tampak mengisi piringnya sendiri.


Setelah semua siap, baru mereka mulai menyuapkan sendok demi sendok ke dalam mulutnya. Sesekali Zara mengambilkan bakwan udang untuk suaminya.


*******


"Masih mikirin Frea sayang?"


Zara menyendarkan punggungnya pada kepala ranjang sambil menatap Kennan yang tengah sibuk berkutat di depan laptopnya. "Kenapa aku bisa cemburu gini ya mas?"


"Itu lumrah sayang, bahkan malah ada yang marah" Sahut Kennan tanpa melihat Zara "Jadi aneh kalau kamu nggak cemburu" lanjutnya jari tangannya tampak bergerak mengetikkan sesuatu pada keyboard.


"Kok aku jadi cemburu gini sih"


"Kennan terkekeh, ia memutar tempat duduknya menghadap Zara, lalu melipat tangannya di perut.


"Pertama, karena cintamu sama mas sangat besar"


Zara masih bertahan menatap Kennan, dia pikir saat ini Kennan sedang menggodanya, terlihat jelas bahwa Kennan mengataknnya sambil tersenyum miring.


"Aku heran, ada wanita seperti itu. Pertama mbak Widia yang sangat berani bilang cinta ke mas, dan sekarang Frea, malah dia lebih parah dari Widia"


"Mas" panggil Zara seraya bangkit dari kasurnya, lalu menghampiri Kennan

__ADS_1


"Ponsel mas boleh aku pegang?"


Mendengar ide Zara, reflek Kennan mengerutkan kening.


"Aku sedikit was-was dia akan kirim foto aneh lagi" sambung Zara, seolah menanggapi keterkejutan Kennan dalam hati.


"Setakut itu kamu?"


Mengatupkan bibir, Zara mengangguk pelan.


"Tapi ada syaratnya"


"What, mau pegang ponsel suami harus pake syarat?"


"Iya dong, Mas pengin denger kamu bilang cinta ke mas" Ujar Kennan sambil menegakkan duduknya "Setiap kali mas menyatakan cinta ke kamu, kamu tidak pernah menjawabnya"


Kennan menarik tubuh Zara ke pangkuannya, kedua tangannya melingkar di pinggang Zara.


"Kenapa masih menanyakannya?" Kata Zara lirih "Tanpa aku mengatakan, mas tahu kan bagaimana perasaanku?"


"Tapi harusnya di jawab, aku juga cinta kamu mas, minimal gitu, bunda"


Zara terkekeh geli "Memangnya wajib di jawab ya ayah?"


Kennan menjentikan jarinya pada bibir Zara, membuat Zara mengerucutkannya


"Tapi sesekali kan nggak apa-apa, untuk nyenengin hati suami misalnya"


Zara menangkupkan tangannya pada pipi Kennan dan sedikit menekan hingga bibirnya mengerucut "Baiklah bila memang itu yang mas mau"


Perlahan jarak yang tercipta antara keduanya terhapus. Kennan sedikit medongak, karena level mata Zara lebih tinggi darinya.


"I love you" Ucap Kennan lembut


"Aku juga mencintai mas, selamanya" jawab Zara tak kalah lembut "Anna uhibbuka fillah" lanjutnya sedikit merunduk lalu menempelkan keningnya.


"Kerumah kakek abi yuk, ibu Sinta pengin ketemu, lusa beliau kembali ke Bangkok"


"Tapi main-main dulu yuk" pinta Kennan tangannya mulai jahil menyusup di balik punggung Zara.


"Nanti malam saja, takut bunda tiba-tiba ketuk pintu"


"Kita pura-pura enggak dengar saja sayang"


"Isht nggak boleh gitu. Udah ya aku mau mandi, setelah itu kita on the way"


Zara mengecup kening Kennan kilat sebelum beranjak dari pangkuannya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2