
"Gimana mbak?" tanya Rio ulang, sementara Kennan masih diam tanpa gerakan apapun dengan rahang terkatup rapat.
"Lanjut aja mbak, aku udah nggak mau loh, mbak masuk kamar aku, terus nangis-nangis" Kata Kanes saat Zara masih mengunci bibirnya.
"Nangis-nangis gimana Nes?" Selidik Rio pada Kanes.
Kanes masih menatap Zara, dan yang lain juga ikut menatap dirinya, Zara yang tadinya hendak menggelengkan kepala pada Kanes, seolah memohon untuk tak menjawab pertanyaan sang ayah, akhirnya hanya bisa mematung seraya menelan ludah.
"Si embak suka nangis di kamarku, kalau di kantor lihat mas Ken deket-deket sama mbak Widia, terus sama wanita yang pernah datang ke kantor mas Ken, tapi aku lupa siapa namanya. Mbak Za suka curhat ke aku kalau mbak cinta sama mas Ken" ungkap Kanes tanpa jeda.
Mendengar kejujuran Kanes, rasanya Zara ingin kabur dari hadapan mereka. Malu tentunya.
"Cemburu tuh mbak Zara" imbuh Kanes membuat Zara semakin ingin menyembunyikan diri. Andai punya sihir, bahkan Zara ingin membuat mereka semua lupa dengan apa yang di katakan Kanes barusan.
"Udah lah mbak, jadi kakak ipar aku aja" Giliran Ayu menguliti Zara tanpa perasaan "Nggak baik loh mbak, jantung tiap hari di bikin ribut, ntar lama-lama runtuh tuh jantung"
Ayu yang pernah memiliki pengalaman menyukai seseorang, dan setiap kali bertemu dengan orang yang dia sukai, mendadak jantungnya jedag-jedug tak nyaman, menguatkan pendapatnya.
"Kayak mangga di kampus kita Yu, kena angin ribut, terus runtuh"
"Bener banget Nes"
"Ayu, Kanes" Pekik Danu dengan delikan mata, namun tak membuatnya takut.
Seketika dua gadis itu mengatupkan bibirnya
"Terserah embak, kita nggak akan memaksa" ucap Irma kemudian. "Apa mau bicara berdua saja sama mas Ken?"
"Nggak usah mi" Setelah sekian menit, akhirnya Zara mengatakan sesuatu "Mbak setuju dengan pernikahan ini"
Kalimat terahir Zara membuat Kennan menghembuskan napas lega, namun hanya sesaat, karena Zara mengajukan syarat.
"Tapi" lanjut Zara seketika Kennan menatap wajah istrinya "Mas Ken nggak boleh menyentuhku sebelum resmi secara negara"
"Kok gitu si" protes Kennan tak terima "Dosa loh dek"
"Tapi aku maunya gitu mas"
"Tapi mas nggak mau dek"
"Harus mau!"
"Kalau nggak gimana?"
"Aku batalin"
Bukan tanpa alasan Zara memberikan syarat, dia hanya butuh waktu untuk mempercayai statusnya yang dadakan. Selain itu dia juga ingin memepelajari kitab Qurratul uyyun terlebih dulu.
"Tapi peluk cium boleh kan dek?" usul Kennan tiba-tiba, membuat seisi rumah tergelak. tak terkecuali Danu, Ia menggelengkan kepala mendengar permintaan absurt putranya.
__ADS_1
Sedangkan Rio, tersenyum lega, ia berharap keputusan menikahkan anaknya dengan Kennan adalah keputusan yang tepat.
"Ok, nanti kita bicarakan lagi kapan resepsinya" seloroh Rio
"Hufftt, pas belum sah nggak mau ngaku kalau cinta, sekarang udah sah nggak mau di sentuh" Ucapan Kennan spontan membuat Zara tersipu malu.
"Kalau mas Ken nggak mau sabar" kata Ayu sambil meraih makanan ringan dari dalam kemasan "Batalin aja mbak"
"Enak aja batalin, nggak bisa lah" sahut Kennan cepat, lalu berdiri hendak melangkah keluar.
"Mau kemana?" tanya Nina
"Paling mau bakar-bakar uang bund" Jawab Ayu
"Orang kaya" timpal Kanes terkikik
"Bakar uang?" Nina memicingkan matanya menatap Ayu
"Udud bun udud, merokok kan sama aja bakar uang. Di saat yang lain cari uang, mas Ken justru membakar uangnya"
Ucapan Ayu di interupsi oleh kedua orang tua, dan papi maminya, dengan mulut membentuk huruf O.
*******
Beberapa hari berlalu, semenjak penculikan itu, Kennan mendadak sangat protective terhadap Zara. Kemanapun Zara pergi, tak lepas dari genggaman Kennan.
"Mas" panggil Zara, mereka kini duduk di sebuah cafe shop untuk makan siang setelah beberapa jam berputar-putar di area mall.
Kennan menggeleng sambil menyesap minuman. "Kenapa sayang?"
"Nggak apa-apa" jawab Zara reflek menggigit bibir bawahnya.
Kennan yang menyadari perubahan wajah Zara, segera meraih tangannya "Ada apa?"
Hening, mereka saling menatap dalam diam. Zara yang masih sibuk mencari dan menyusun kata, dan Kennan yang santai menunggu jawaban.
"Bagaimana dengan mbak Widia?" tanyanya "Mbak Widia menyukai mas kan?" Jantung Zara yang beberapa hari ini berdetak normal, kini mulai ribut tak tahu aturan.
Kennan masih bertahan menatap Zara tanpa suara. Dan kondisi seperti ini, membuat Zara kian gugup.
"Kamu tuh jangan mikirin orang lain" tegas Kennan, tangannya kian erat menggenggam tangan Zara.
"Aku cuma nggak enak, apalagi dia pernah meminta bantuanku supaya hubungan kalian semakin dekat"
"Dia meminta itu padamu" tanya kennan yang langsung di anggukan oleh Zara. "Kapan?"
"Waktu kita ke Jakarta" Mendengar jawabannya wajah Kennan mendadak terasa panas
"Dia cerita apa saja ke kamu?" tanya Kennan penuh selidik
__ADS_1
"Enggak ada mas, cuma itu"
"Jangan di biasakan bohong dek"
"Aku?" bohong?"
"Nggak ada orang lain di depan mas kecuali kamu kan?" sahutnya masih dengan mengunci manik hitam milik Zara "Waktu di laut, saat mas tanya dia bilang apa lagi, kamu jawab nggak ada, dan sekarang, tahu-tahu kamu bilang dia meminta bantuanmu"
Zara diam seperti mengingat-ingat sesuatu, membuat Kennan mengernyitkan dahi.
"Nggak ada mas"
"Yakin?"
"Entahlah lupa"
Jawaban Zara membuat Kennan menghirup napas panjang lalu menghembuskannya kasar.
"Mas kenapa?" Entah kenapa Zara seperti punya filing, bahwa Kennan menyembunyikan sesuatu, tapi pikiran itu segera ia tepis.
Bukannya menjawab, lelaki itu justru bertanya balik "Memangnya mas kenapa?"
"Mau kemana setelah ini?" tanya Kennan setelah beberapa saat saling diam.
"Pulang saja"
"Pulang ke rumah bunda mau?" nanti nginep sana"
"Nginep di rumah bunda?"
"Hmm" sahut Kennan seraya mengangguk "Mau ya?" bujuknya "Nanti bobo sama mas" lanjutnya lengkap dengan kejahilan level atas.
Zara sempat ragu mengingat mereka yang memang belum pernah satu kamar semenjak menikah beberapa waktu lalu.
"Ayolah dek, udah lama banget loh, kita nggak bobo bareng"
"Emang kapan terakhir bobo bareng?"
"Kalau nggak salah pas usia mas sekitar 9 tahun dan kamu masih 6 tahun"
"Udah berapa tahun tuh?" tanya Zara
Kennan bergidik "Udah lama yang jelas, lagi pula" lanjut Kennan "Mas nggak akan sentuh kamu sesuai permintaanmu"
"Janji ya?"
"Janji" sahut Kennan dengan senyum miringnya
Bersambung
__ADS_1
semoga nggak ada sesuatu yang di sembunyikan oleh kennan dari Zara ya...