Rahasia Hati (Mencintai Kakaku)

Rahasia Hati (Mencintai Kakaku)
Bab 21


__ADS_3

"Mereka sudah mulai curiga bos"


^^^"Kalau begitu,^^^


^^^hentikan pengintaian beberapa hari,^^^


^^^setelah itu jalankan rencana selanjutnya"^^^


"Siap laksanakan"


🌹🌹🌹


Selama beberapa hari ini, Zara disibukan dengan pekerjaan di akhir bulan, dimana segala laporan harus terselesaikan dalam rekapitulasi jurnal. Beruntung di saat-saat seperti ini, Kennan sedang mengaudit anak perusahaan di Thailand, membuatnya bisa berkonsentrasi dengan pekerjaannya. Karena kesibukan ini juga, Zara mampu melupakan bayangan Kennan dari pikirannya untuk sesaat.


"Hari ini papi pulang mbak, Embak di suruh bawa mobil ke kantor"


Ucapan Irma membuat Zara berhenti sejenak menyuapkan sendok ke mulutnya.


"Papi bilang begitu mi?" tanyanya sambil menatap sang mami


"Iya. Kanes sama mbak, selalu hati-hati lho ya" Ucapnya sambil melirik ke wajah Zara dan Kanes bergantian "Dan mulai malam ini, Ayu akan menginap di sini, sampai benar-benar aman, kalian akan selalu di antar oleh sopir"


"Kok pakai sopir segala si mi" Protes Kanes dengan mulut terisi makanan.


"Kamu tuh nggak usah protes, ini udah perintah papi sama ayah Danu"


"Iya dek, untuk sementara aja, kalian nurut sama orang tua" sambar Zara "Takutnya nanti ada yang ngikutin kalian, terus jahatin kalian"


"Dengerin tuh kata embak, beberapa hari lalu embak sama bunda juga di ikutin kan?"


"Tapi mi, palingan juga preman yang ngikutin bunda sama mbak waktu itu, cuma mau ngerampok" Sanggahnya "Emang udah ada sopir barunya mi?" tanya Kanes lalu meneguk air dalam gelas


"Ayah Danu sudah mencarikan untuk kalian, Ayah juga sudah cari satpam buat jaga di rumahnya sama di rumah kita"


"Segawat itu ya mbak, mi?"


"Pokoknya nggak usah banyak tanya, nggak usah banyak protes" Timpal Irma sambil berdiri lalu menumpuk piring kotor bekas makan "Kamu sama Ayu, akan di antar sopir ke kampus, dan kalau sudah tidak ada kegiatan di kampus, langsung pulang" Irma membawa piring itu ke wastafel "Kalau ada sesuatu, yang kalian cari, tunggu papi atau mas Kennan pulang kantor, mulai sekarang, kemana-mana kalian akan di antar"


"Ingat lho dek" Bisik Zara lirih "Kalian jangan coba-coba melanggar. Ini untuk keamanan kalian" Zara berdiri dari tempat duduknya, sedikit membungkuk dia berbisik tepat di telinga kanan Kanes "Dunia bisnis itu kejam, You know lah"


Bisikan Zara membuat Kanes menelan ludah, lalu menatap sang kakak tajam "Harusnya mbak yang lebih hati-hati, siapa tahu mbak yang di incar" lanjutnya santai lalu mengelap mulutnya dengan selembar tisu.


***


Setibanya di kantor, Zara bertemu dengan Ika di tempat parkir


"Akhir-akhir ini kamu makin dekat deh sama pak Ken"


"Aku kan memang sudah deket dari dulu sama dia ka" sahut Zara lalu menekan tombol lock pada kunci mobilnya, setelah terdengar suara bahwa mobil sudah terkunci dengan baik, Zara dan Ika berjalan bersisian


"Tapi dari sorot matamu" Ika menggantung ucapannya, takut teman semasa kuliahnya akan tersinggung.

__ADS_1


"Kenapa dengan sorot mataku?" tanya Zara sambil memicingkan matanya


"Kamu suka ya sama pak Ken?"


Seketika Zara menelan salivanya "Masa aku suka sama kakaku sendiri" elaknya sambil berusaha menormalkan ekspresi terkejutnya.


"Bukan kakak kandung kan nggak apa-apa. Lagian keluarga kalian kan deket, kenapa orang tua kalian nggak jodohin kalian saja?"


Tak ada jawaban dari Zara atas pertanyaan Ika, beberapa detik kemudian, sepasang mata Zara berbinar ketika menatap ponsel yang baru saja ia ambil dari dalam tasnya.


Mas Ken : "Mas sudah sampai bandara, ini lagi jalan bareng papi menuju tempat pengambilan bagasi" ( 07:15 Wib)


"Siapa?" tanya Ika penasaran sembari terus melangkah, ia menoleh ke wajah Zara


"Bukan siapa-siapa" sahut Zara, lalu menyunggingkan senyum, tanpa sadar helaan napas lega lolos dari celah bibirnya.


Tepat pukul 10, Kennan dan Rio tiba di kantornya, mereka akan langsung ke ruangan Danu untuk membahas sedikit tentang hasil audit perusahaannya di Thailand.


Zara yang kebetulan berada di ruangan Danu, karena ada hal yang perlu di tanda tangani olehnya.


"Assalamu'alaikum" Suara dari seseorang yang sangat di kenal oleh Zara. Danu dan Zara kompak menjawab salamnya seraya memalingkan wajah ke arah sumber suara, seketika dadanya berdesir, apalagi saat melihat senyumannya.


Zara kembali mengalihkan perhatian pada laporan yang tengah ia pegang. Akan tetapi pikirannya masih bertahan mengulang senyuman Kennan barusan.


"Sikapnya memang berubah sangat manis" Zara membatin saat Kennan tengah mencium punggung tangan ayahnya.


Semenjak Kennan mengungkapkan perasaanya, sikapnya memang berubah.


Setelah mendapat beberapa tanda tangan dari Danu, Zara segera keluar. Ia akan kembali ke mejanya di lantai 7.


"Hufftt aku harus mempersiapkan diri, sebentar lagi, senam jantung aerobik akan di mulai"


Menghela napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan, Zara mulai fokus dengan pekerjaannya.


"Dek, ikut masuk ya" ucap Kennan tiba-tiba saat melewati mejanya, membuat jantungnya mencelos.


"Nah kan,, Bukan hanya Bima, Ayu dan Kanes yang ujian, aku yang sudah lulus kuliah, masih ada ujian juga"


"Duduk dek" perintah Kennan saat Zara tengah membuka dan menutup pintu. Dengan tangan saling bertaut, Zara menghampiri kursi di depan meja milik Kennan


"Seneng nggak aku pulang?"


Zara diam karena malu campur gengsi "Masih ada yang ngikutin kamu?" tanya Kennan kemudian.


Zara menggeleng "Selalu hati-hati ya, jangan pergi sendiri" Hening, kennan mengatupkan bibir, seraya mencermati wajah Zara


"Kamu tuh suka banget menunduk, memang ada apa di lantai?" Tangan Kennan meraih benda di saku celananya, lalu menggesernya ke hadapan Zara. "Buka, terus di pakai" lanjutnya


Zara hanya diam menatap benda berbentuk kotak beludru berwarna merah terang. Semacam kotak perhiasan.


"Jangan buat aku mengulang ucapanku Zara?" Kennan sedikit menekan ucapannya.

__ADS_1


"Ap-apa ini?"


"Buka dulu, jangan buru-buru bertanya" jawab Kennan lalu menopang dagunya dengan kedua tangan di atas meja.


Perlahan Zara meraih benda itu, lalu membukanya. Sebuah cincin berlian dengan mata berwarna biru, membuat Zara mengerjap beberapa kali.


"Ini untuk apa?"


"Mau di pakai apa mau terus bertanya?"


"Aku nggak mau pakai kalau mas nggak mau jelaskan"


Menggelengkan kepala, akhirnya Kennan mengalah untuk menjelaskan. "Itu cincin, mas beli khusus buat kamu, kalau kamu mau, pakai sekarang, kalau nggak mau, biar ku kasihkan ke Ika"


"Kok ke Ika si?"


"Kok masih nanya juga?" sahut Kennan tak mau kalah "Aku hitung sampai tiga"


"Satu" matanya memicing dengan sudut bibir terangkat.


"Dua"


"Dua setengah" Ia mengatupkan rahangnya


"Tiga"


Zara memakainya bersamaan saat hitungan ketiga.


"Suka?" tanyanya.


Tanpa menatap wajahnya, Zara mengangguk.


"Kamu masih punya mulut kan?" ledek Kennan sinis "Jangan hanya mengangguk atau menggeleng"


"Suka" jawabnya pelan


"Terimakasih" sindir Kennan membuat Zara menatapnya. "Di ajarin untuk bilang terimakasih sama mami kan, kalau dapat pemberian?"


"Makasih"


"Kurang keras"


Alih-alih mengulang, Zara justru memberanikan diri menatap Kennan, lalu mempertemukan netranya. Seketika Kennan mengunci pandangannya.


Selama kurang lebih satu menit saling tatap, Zara pun mengalah dan langsung menunduk kembali.


"Nanti malam, mas akan bicara sama ayah, bunda" Laki-laki itu menyenderkan punggung di senderan kursi "Do'ain, semoga bunda sama ayah nggak terkejut, dan setuju buat mas nikahin kamu"


Mendengar kalimat terahir Kennan, jantung Zara seketika berdetak dengan ritme yang kian liar, seperti akan meledak.


BERSAMBUNG

__ADS_1


Regards


Ane


__ADS_2