
Assalamualaikum...
Buat reader yang menyukai gaya kepenulisanku, aku ada karya baru. Ini menceritakan tentang gadis bernama Khansa, gadis yang selalu ceria dan sudah menjadi pengusaha di usianya yang masih muda. Dia seorang gadis dengan kepribadian yang ceria, sederhana, suka usil terutama pada kakak dan adiknya.
Bisa di bilang dia seorang Introvert tapi enggak juga si 😀... yang jelas dia suka suasana tenang, suka menyelesaikan masalahnya sendiri, dengan kata lain enggak suka merepotkan keluarga. Dan enggak suka menjadi pusat perhatian.
Dia harus berjodoh dengan pria yang setengah malas, yang enggak suka bangun pagi. Sifat yang berbanding terbalik dengan dirinya yang disiplin.
Khansa Laura Dhaniswara anak ke empat dari Anjar Dhaniswara dan Diana Aisyah Rahmania.
Pemain protagonis di WA Story istriku.
Sinopsis :
Khansa Laura : "Jangan malas, nanti miskin"Â
Aksara Galileo : "Jangan lupa makan, nanti sakit"
Seorang gadis Cantik, baik dan ceria, berpipi chubby dan bermata hazel. Memiliki keberanian yang cukup tinggi, serta inovatif dalam Mengembangkan bisnisnya. Akan tetapi pada suatu saat ia harus menerima kabar buruk tentang penyakit yang bersemayam di dalam tubuhnya. Selain itu, dia terpaksa harus menerima perjodohan dari orang tua. Karena ternyata calon suaminya adalah lelaki yang telah menidurinya secara paksa. Dan itu alasan dia menerima perjodohan.
Khansa Laura Dhaniswara, harus mengulur sabar panjang-panjang saat membangunkan sang suami di pagi hari.
________________________________________
Pria tampan yatim piatu sedikit malas, keras kepala dan minim kesabaran, tapi pengendalian diri dan rasa tanggungjawabnya sangat besar.
Aksara Galileo, pria berusia dua puluh tujuh tahun, seorang dokter ahli bedah, dan pewaris tunggal perusahaan Dandelion Group, harus berjodoh dengan pengusaha muda di bidang kuliner.Â
Wanita yang memiliki nilai kedisplinan tinggi. Sikap yang sangat berlawanan dengan rasa malasnya, membuat dia harus memaksakan diri dengan aturan yang istri.Â
Akankan perdebatan mereka dalam menyelesaikan persoalan akan membuat hubungannya tetap kasual, atau malah berhasil?
Perjuangan apa yang mereka lakukan demi untuk melindungi cinta yang tak bersyarat?
__ADS_1
Khansa, dengan segala daya tariknya, mampu mengacaukan isi kepala Aksa.Â
Hanya dia satu-satunya wanita yang selalu membuatnya melupakan segalanya. Bahkan hanya dengan membayangkan wajahnya, pria itu harus menahan diri untuk menyingkirkan ingatan tentang semua hal yang berhubungan dengan wanitanya. Harus pintar-pintar melupakan tentang betapa indahnya mereka ketika bercinta.
TERJERAT IKATAN PERJODOHAN
Sebagian chapter dari Bab 4
Khansa tengah sibuk membuat pesanan catering untuk jamuan makan siang yang di pesan oleh salah satu sekolah menengah atas dalam rangka festival sekolah tahunan.
Suara musik yang berasal dari ponsel, menemaninya menata hasil masakan ke dalam dus makanan. Khansa sangat menyukai situasi seperti ini karena selain fokus dengan pekerjaannya, dia bisa sedikit rileks karena iringan lagu.
Gadis itu bersiap untuk menutup dus makannan satu-persatu saat semua dus berlogo nama restaurannya, sudah terisi menu masakan khas minang. Menu yang sudah di minta oleh pihak pemesan. Ada sekitar 500 box yang siap untuk di antar. Ia di bantu oleh beberapa chef, dan empat karyawan lain untuk menyelesaikan pesanan agar ready tepat pada waktunya.
Dering ponsel membuat Khansa yang tengah memegang bungkusan plastik berisi sendok dan selembar tisu yang hendak ia taruh di dalam box makannan, reflek menengok ke arah sumber suara. Dan di sana ia melihat layar ponselnya sedang berkedip tanda pesan masuk. Ia berjalan sebentar lalu meraih gawainya, dengan cepat membuka pesan dari nomor yang tidak di ketahui siapa pengirimnya.
Matanya melebar, dengan mulut menganga tak kalah lebar saat membaca pesan yang masuk ke ponselnya.
Tak membalas pesannya, Khansa berniat langsung menghubungi nomor asing yang ternyata pemiliknya adalah Aksa.
"Halo" Suara pria dari balik telfon.
"Mohon maaf saya mau tanya" ucap Khansa berusaha tenang. "Apa ini nomor mas-mas yang kemarin mobilnya saya tabrak?"
"Betul, sudah baca pesan saya kan?"
"Sudah, tapi apa masnya nggak salah ketik angka nominal, soalnya menurut saya nggak mungkin mengeluarkan biaya sebanyak itu hanya untuk memperbaiki goresan sedikit dan mengganti lampu sign yang rusak"
"Kamu nggak percaya sama saya" ketusnya dengan nada datar "Kamu pikir saya menipumu?"
"B-bukan begitu mas" sanggah Khansa cepat. "tapi kenapa lima puluh juta, coba di cek lagi angka yang tertulis di pesan yang mas kirim ke saya, mungkin saja maksud mas lima juta"
__ADS_1
"Benar kok, memang biayanya lima puluh juta"
Menghela napas dalam-dalam, Khansa berusaha keras mengendalikan diri agar emosinya tidak terpancing dengan ucapan entengnya.
"Tapi nggak mungkin sebanyak itu kan mas?"
"Lalu saya harus apa supaya kamu percaya"
"Saya bukannya tidak percaya, cuma heran saja dengan biaya yang besar padahal kerusakan sangat ringan"
"Mobil saya itu termasuk mobil mewah Nona, harga setiap sparepartnya juga sangat mahal" Katanya angkuh. "Baiklah Nona, kalau tidak percaya, akan saya sambungkan pada bengkel yang memperbaiki mobilku"
Alih-alih merespon ucapan Aksa, Khansa justru menanyakan hal yang membuat Aksa kebingungan.
"Kenapa nggak bengkelnya saja yang langsung menghubungiku?"
"Karena saya memberikan nomor ponsel saya, bukan nomor ponselmu"
"Kenapa?" bukannya masnya sudah aku kasih kartu nama?"
"Saya lupa dimana meletakan kertas itu"
Hening, mereka saling diam dalam sambungan yang masih tersambung.
"Nona, apa masih di situ?"
"Iya" jawab Khansa malas
"Baiklah akan saya sambungkan kepada pihak bengkelnya"
Hanya menunggu tidak kurang dari setengah menit, terdengar suara laki-laki yang berbeda. Mereka tengah melakukan panggilan conference
"Halo" Sapa pria lainnya.
__ADS_1
"Begini mas, saya Aksa, pemilik mobil yang tadi pagi memperbaiki mobilnya di bengkel mas, mas tidak salah menginformasikan biaya perbaikan mobil saya kan?"
"Tidak pak, memang biayanya segitu, karena mobil mas tergolong mobil mewah" Mendengar percakapan antara Aksa dan pemilik bengkel, seketika Khansa mengerutkan kening seolah masih belum percaya.