Rahasia Hati (Mencintai Kakaku)

Rahasia Hati (Mencintai Kakaku)
Part 37


__ADS_3

Saling melempar pandangan, sepasang mata mereka menatap sosok perempuan yang duduk di sebuah taman di area pengadilan. Nina dan Irma menarik napas panjang sebelum melangkah untuk mendekatinya.


Dalam hati, Nina dan Irma tak berhenti beristighfar dan melafadzkan bassmallah. Berharap sekali bahwa Sinta bersedia untuk berdamai dan melupakan dendamnya di masa lalu.


Lima hari sebelum resepsi pernikahan anaknya, Nina dan Irma menuju Jakarta untuk memenuhi panggilan sidang dari pengadilan, atas kasus penculikan Zara yang di lakukan oleh Sinta.


Ketika pandangan mereka bertemu, perempuan yang tengah duduk bersandar dengan tatapan kosong, langsung berdiri tanpa melepas kontak mata mereka.


"Boleh kami ikut duduk disini?" pinta Nina dengan Nada sangat lembut.


Sinta kembali mendudukan dirinya, di ikuti oleh Nina dan Irma. Mereka sempat sama-sama terdiam selama hampir dua menit


"Kalian mau apa?" tanyanya memecah keheningan, seolah tak ada insiden apapun.


Nina menghirup udara, berharap mampu mengurangi rasa khawatirnya. "Kami menemuimu, untuk meminta maaf padamu Sinta"


Sinta mendengkus pelan, ia masih enggan untuk mengatakan sesuatu.


"Sinta, maafkan saya telah menamparmu dan menertawakanmu" Kali ini Irma bersuara, nadanya terdengar sangat parau.


"Kenapa kamu datang ke penjara dan tiba-tiba langsung menamparku?"


"Maaf Sinta, maaf, waktu itu saya benar-benar tidak terima karena kamu hampir menghilangkan nyawa sahabatku" ujar Irma, pipinya sudah di basahi oleh air dari kelopak matanya. "Saya ingin membalas rasa sakit yang di alami Nina dan bayinya saat itu"


"Tidakkah kamu tahu perasaanku?" Sinta menjeda kalimatnya, menghirup nafas untuk menghilangkan rasa nyerinya "menjalani hukuman tanpa dukungan dari keluarga"


"Maaf" Seloroh Irma


"Aku memang menyesal, aku bahkan sudah melupakan kalian, tapi saat aku datang ke rumah tanteku, aku melihat foto Nina, dan hatiku kembali merasa tercubit. Di situlah aku mulai mencari kalian untuk membalas rasa sakit hatiku"


"Sinta" panggil Nina "Maukah kamu berdamai dengan kami?"


Sinta menatap Nina seraya mencerna ucapannya.


"Maukah kamu memaafkan kami?"


"Kenapa kalian mencabut tuntutannya, padahal aku sudah menyakiti kalian?"


"Kami ingin berteman denganmu Sin" jawab Nina "Tidak ada gunanya hukuman itu untukmu, kami tidak mau lagi di selimuti rasa bersalah terhadapmu" lanjut Irma berkata tanpa memutus kontak matanya.


"Mari kita jalin hubungan baik layaknya saudara, mari kita berteman Sinta"

__ADS_1


Menelan saliva, Sinta kembali di buat terkejut oleh ucapan Nina.


"Aku sudah banyak salah padamu Nin, kenapa kamu masih baik padaku?"


"Karena aku yakin kamu akan menggunakan kesempatan ini untuk merubah dirimu menjadi lebih baik"


"Sekuat itu keyakinanmu?"


Nina mengangguk, lalu meraih tangan Sinta di atas meja untuk di genggam.


"Sinta, kita lupakan masa lalu dan mari kita awali pertemanan kita"


"Sin" sambar Irma "Aku punya tiga anak, dan Nina memiliki dua anak, kamu bisa menganggap mereka seperti anakmu sendiri" tangan Irma yang tadi ia sembunyikan di bawah meja, kini beralih melingkupi genggaman tangan Nina dan Sinta.


Sinta menatap Irma dan Nina bergantian, mencoba memahami maksud ucapan Irma.


"Kalian benar-benar ingin menjalin hubungan denganku?" aku sudah sangat jahat pada kalian" Ujarnya di sertai tatapan menerawang.


"Jangan ungkit masa lalu, kami hanya butuh anggukan kepalamu. Maukah kamu berteman dengan kami, berbagi cerita dengan kami?" Genggaman Nina kian erat.


Hening, satu detik, dua detik, hingga berganti menjadi tiga detik, Wanita itu menganggukan kepala di iringi air mata yang tiba-tiba meluncur.


Beberapa menit berlalu dengan cepatnya, Mereka mengurai pelukannya


"Lima hari lagi, Zara dan Kennan akan menikah, datanglah ke Surabaya"


Sinta mengerutkan dahinya "Kennan?"


Nina mengangguk "Anak pertamaku" jawab Nina seolah paham dengan gumaman Sinta.


"Anak yang sudah ku dorong saat dalam kandunganmu, namanya Kennan?"


Lagi Nina mengangguk "Dia akan menikah dengan Zara anak Irma"


Sinta memindai pandangannya pada Irma.


"Boleh aku menganggapnya anak?" Pinta Sinta memohon "Dia sangat manis, aku menyukainya sejak pertama kali melihatnya"


"Boleh" jawab Irma dengan bibir tersungging " Kennan dan Zara juga sering ke Thailand untuk urusan bisnis, aku akan meminta mereka untuk mengunjungimu nanti"


"Dan tidak hanya Zara. Ayu, Kanes, Kennan dan Bima adalah anakmu" timpal Nina "Mereka juga sangat menggemaskan, kamu pasti akan di buat pusing jika mereka berkumpul"

__ADS_1


Tertawa lepas, seolah beban berton-ton yang menimpa mereka, medadak hilang entah kemana.


"Ingat, hari selasa, kamu harus datang ke pernikahan anakmu" ucap Nina setelah tawanya reda. Dan di anggukan kepala oleh Sinta.


*******


"Kamu kenapa si dek?" tangan Kennan tak berhenti mengusap punggung tangan Zara.


"Sinta" Gumamnya sorot matanya tajam menerawang jauh.


Kennan langsung mengalihkan pandangan pada wanita yang tengah menghampirinya.


Tangan Zara yang menggamit lengan Kennan, semakin erat ketika langkah Sinta kian dekat.


Sinta berlutut ketika sudah berada di hadapan Kennan dan Zara, membuat pasangan pengantin baru terheran lalu saling menatap.


"Maafkan saya Kennan, sudah hampir mencelakaimu dulu" gumamanya dengan pandangan menunduk "Maafkan saya Zara sudah menyekapmu tanpa perasaan"


Aksi Sinta di saksikan oleh beberapa pasang mata.


"Nyonya, jangan seperti ini, bangkitlah" perintah Kennan sambil memegang lengan Sinta agar berdiri.


Sinta berdiri tetapi masih menundukan pandangannya. "Sekali lagi saya mohon maaf"


Kennan dan Zara sempat melirik ke arah Nina dan Irma, mereka tampak menganggukan kepala seraya tersenyum "Sudah bu, jangan menangis" Zara yang tadinya takut, kini di buat terharu. Dia benar-benar salut terhadap Nina dan Irma, dua wanita yang mampu merubah permusuhan menjadi pertemanan di antara mereka.


"Maaf Zara" mohonnya sambil menangkupkan kedua tangannya.


"Saya sudah memaafkan Ibu, seperti bunda dan mami, saya memaafkan ibu ikhlas lahir batin"


"Terimakasih" sahutnya "Boleh saya memeluk kalian?"


Zara dan Kennan saling melempar pandangan sebelum akhirnya mengangguk.


Mereka bertiga saling berpelukan sangat erat "Kalian benar-benar memaafkanku?" tanya Sinta masih berada dalam pelukan. Kennan dan Zara kompak mengangguk, dengan tangan mengusap punggung wanita paruh baya itu.




Bersambung

__ADS_1


__ADS_2