
Usai membersihkan diri, sembari menunggu Zara yang tengah bergantian mandi, Kennan menggelar dua sajadah untuk dirinya, dan juga sang istri. Mereka bersiap untuk melaksanakan sholat sunah malam pengantin dua rokaat.
Menit berikutnya, mata Kennan memandang lekat istrinya yang tiba-tiba berdiri di ambang pintu kamar mandi. Ia tampak memakai bathrobe, dengan kepala di lilit handuk.
"Mau sampai kapan berdiri di situ?" Pertanyaan sepele dari Kennan, namun berhasil membuat jantungnya berdesir sekaligus salah tingkah.
Dengan langkah pelan, Zara segera menghampiri piyama yang teronggok di atas kasur, ia sempat melirik Kennan yang telah siap di atas sajadahnya.
"Sudah wudhu dek?"
"Sudah" jawabnya singkat sambil mengenakan mukena setelah memakai piyama. Sepertinya memang Kennan yang sudah mempersiapkannya.
Entah kenapa suasana mendadak canggung di antara mereka, padahal tadi saat di pelaminan, Kennan begitu frontal saat mengeluarkan candaan.
"Aku sudah siap mas"
"Ushalli sunnatan nikaahi rak'ataini ba'diatan lillahita'alla"
Niat itu terukir di hati keduanya, dengan khusyu Kennan melantunkan bacaan sholat, hingga bacaan salam yang terucap menandakan sholat telah usai.
Kennan berbalik menatap Zara yang tengah menunduk, ia mengangkat dagunya mempertemukan netranya. "Sudah siap ibadah sama-sama?" tanya Kennan yang langsung di anggukan kepala oleh Zara.
Dengan cepat ia mengangkat tubuh istrinya lalu mendudukannya di atas ranjang.
Kennan meraih gelas berisi susu jahe di atas nakas "Minum dulu"
Zarapun menuruti perintah Kennan, ia meminum hanya setengah, dan setengahnya akan di habiskan oleh Kennan.
Selagi Kennan meneguknya, Zara meraih selembar tisu dan di usapkan ke mulutnya, tak lupa ia memberikan tisu juga pada Kennan.
Tak ada yang di lakukan setelah itu, mereka diam saling menatap dan berbalas senyum, hingga ketukan pintu membuyarkan konsentrasinya.
Reflek Zara mengalihkan ekor matanya ke arah pintu.
"Siapa yang berani mengganggu kita?" Tanya Kennan yang di jawab kekehan serta gelengan oleh Zara
Ketukan pintu kembali terdengar untuk kedua kalinya sebab mereka tak kunjung membukanya "Buka dulu, siapa tahu penting" perintah Zara seraya mengusap pipi Kennan.
Dengan berat hati Kennan bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah pintu.
Setelah pintu terbuka, menampilkan Bagas dan Ridho "Sory ganggu bentar" kata Ridho dengan senyuman jahilnya "Belum mulai kan?"
"Cepat katakan ada apa?"
"Kita udah makan, udah ngucapin selamat ke kamu, udah foto-foto juga, dan sekarang kita mau pamit pulang" Ucap Bagas
__ADS_1
"Opo tooo?, mau balik saja harus pamit ke aku?" pekik Kennan kesal "Ada bunda kan?"
Kedua lelaki itu terkikik "Ok silakan bisa di lanjut"
Tanpa ba bi bu, Kennan segera menutup pintunya "Dasar brengsek" umpatnya sambil berjalan kembali ke arah tempat tidur.
"Jangan gitu mas"
"Kita lanjut sayang, tadi sudah sampai mana?"
"Sampai mana memangnya?"
"Di tanya malah balik nanya" jawab Kennan "Sudah on belum?" tanyanya sambil menyingkirkan anak rambut milik Zara
"Ap_" ucapan Zara terputus karena tiba-tiba Kennan menciumnya lembut, tangannya yang juga tak kalah jahil, bergerak liar menyentuh bagian atas tubuh Zara.
Hingga lewat bermenit-menit, Kennan melepaskan ciumannya dengan napas memburu dan terasa panas menerpa wajahnya. "Semoga Allah selalu merahmatimu" ucapnya tepat di depan wajah Zara.
Dia yang tadi memposisikan diri duduk bersila di depan Zara yang duduk bersandar pada headboard, tahu-tahu sudah menempatkan dirinya di atas Zara.
Mengerutkan Kenning, Zara dengan fokus yang terbagi antara menatap langit-langit kamar dan merasakan sentuhan bibir di batang lehernya, bahkan ia tak sanggup untuk mengamini doa sang suami, sebab tangannya semakin bebas menjamah setiap jengkal tubuhnya hingga menyusup di balik punggung.
Masih berpakaian nyaris utuh dan sudah sama-sama berantakan, tiba-tiba terdengar lagi suara ketukan pintu.
"Mas" Panggil Zara mencoba menghentikan gerakan Kennan yang sedang membuat kissmark di bagian dada. "Mas" Ulangnya seraya menangkup kedua rahangnya, lalu mengarahkan untuk menatapnya "Ada yang ketuk pintu" ujar Zara yang tak lama kemudian terdengar kembali ketukan pintu dari luar.
Bergerak bangkit, dengan posisi masih di atas tubuh istrinya, Kennan bertumpu pada kedua lutut yang ia daratkan tepat di sisi pinggang kanan dan kiri Zara, dia mengenakan kaos tipisnya kembali, padahal baru beberapa detik yang lalu ia lepaskan. Setelahnya ia turun dari ranjang dan membuka pintu.
"Maaf mas ganggu" Ucap Kanes menahan senyum karena melihat kakak iparnya dengan tampilan rambut yang berantakan "Kok lama banget bukanya?" Mata Kanes bergerak liar menerawang jauh ke dalam kamar.
"Ada apa?" tanya Kennan yang sebenarnya menahan kesal.
"Mau ambil carger, tadi siang aku selipin di tas mbak Za" jawab kanes lalu menggigit bibir bawahnya.
"Tunggu mas carikan. Di situ saja, awas kalau masuk"
Hampir satu menit Kanes menunggu, akhirnya Kennan muncul di hadapannya dengan membawa carger ponsel di tangan kanannya.
"Ini?" tanya Kennan seraya menunjukan benda berwarna putih
"Betul" jawab kanes sambil menengadahkan tangannya "Makasih ya mas" Kanes nyengir kuda "Semangat buatin aku keponakan yang lucu" gadis itu lalu balik badan dan segera meninggalkan Kennan.
"Bisa di lanjut lagi?" tanya Kennan mengunci tubuh Zara.
"Mas nggak cape?"
__ADS_1
"Enggak" Sahutnya cepat "Kamu cape dek?"
Zara menggeleng pelan, dengan debaran jantung yang mendadak di atas batas normal, sebab sekian detik setelah menggelengkan kepala, Zara merasakan telapak tangan Kennan menyentuh kulit perutnya, dan perlahan bergerak melepaskan piyamanya.
Zara yakin bahwa Kennan bisa merasakan detak jantungnya yang kian menggila.
Ketika pakaian terlepas seluruhnya, Kennan melafadzkan sebuah doa untuk mengawali penjelajahannya.
"Bismillah, Allahumma jannibnaassyyaithaana wa jannibi syaithoona maarazaqtanaa"
Usai berdoa, Kennan langsung meraup bibir Zara, dengan lihai dia membuat tanda merah di sekujur tubuh wanitanya, lalu kembali melu*mat bibirnya, hingga ciumannya kian intens.
Menempel begitu rapat, menatap sangat lekat, lalu meminta persetujuannya.
"Lanjut" tanya Kennan sambil menyingkirkan anak rambut yang menutupi mata Zara.
Untuk kesekian kali setiap di tanya, Zara hanya mengangguk atau menggeleng.
Setelah mendapat persetujuan, Kennan segera melancarkan aksinya, butuh hingga bermenit-menit untuk sampai ke tujuan.
"Sakit mas"
"Maaf" ucap Kennan lalu menciumi ceruk lehernya, Kennan kembali melu*mat bibir Zara, berharap sentuhan lembut yang ia berikan, mampu mengurangi rasa sakit yang di alami.
"Mas akan tunggu sampai perihnya berkurang" Kali ini mengecup kening Zara, lalu mengusap keringat yang membasahi pelipisnya.
Sedangkan Zara, hanya bisa memejamkan mata, dan menggigit bibir bawahnya.
"Mas boleh lanjutkan sekarang" Ucap Zara sedikit ragu.
"Ok, mas akan pelan-pelan"
Sentuhan yang begitu intens hingga membuat keduanya melambung di atas awan.
Sebuah doa terucap lirih dari mulut Kennan, mengawali jutaan sel yang tersebar di dinding rahim sang istri.
Allahummaj’alnuthfatna dzurriyyatan thayyibah.
Artinya: “Ya Allah jadikanlah nutfah (air mani) kami menjadi keturunan yang baik (saleh).”
Tubuh Kennan seketika ambruk di atas tubuh Zara.
Tak ada pergerakan apapun selama beberapa menit "Masih sakit" bisik Kennan dengan napas yang memburu.
Malam pertama sesi pertama
__ADS_1
BERSAMBUNG