
"Boleh bunda masuk?"
Zara yang tengah berkutat di depan laptop, seketika menoleh ke arah pintu kamar yang tidak tertutup rapat.
"Boleh bun"
"Tadi bunda lihat mas Ken keluar, mau kemana dia mbak?" Tanya Nina sambil meletakan mangkok berisi potongan melon di atas meja.
"Mau cari durian bun"
"Durian?"
"Iya" sahut Zara lalu melahap melon yang di bawakan nina "Mas Ken bilang nggak enak makan bun, katanya hambar, jadi mbak saranin makan Durian"
Nina semakin di buat bingung, kerutan di dahinya kian menajam. "Nggak enak makan kenapa?" sudah ke dokter?"
"Sudah, tadi pagi pergi ke tempat tante Sandra, terus katanya cuma kecapean"
"Rokok sama kopinya suruh di kurangi mbak, bunda kalau ngomong dia nggak dengerin, bilangnya iya-iya, tapi masih saja hobi merokok" gerutu Nina seraya mendesih lengkap dengan gelengan kepala.
Zara tersenyum geli mendengar perkataan Nina.
"Kalau bunda saja nggak di dengerin, apalagi mbak bund. Tapi agak mending si, nggak kaya dulu, satu bungkus satu hari, sekarang sehari paling dua batang"
"Baguslah, sukur-sukur bisa berhenti total"
"Iya bun"
"Soal Frea" ucap Nina membuat Zara seketika mempertemukan manik matanya "nggak usah di pikirin ya mbak, dia udah langganan depresi"
"Langganan depresi bun?" Zara bertanya dengan rasa heran. Mulutnya yang tadi mengunyah melon, seketika memperlambat gerakannya.
__ADS_1
"Tadi pas siang, ayah nyuruh bunda ke kantor, bunda kira ada apa, ternyata ngajakin buat jenguk Frea"
"Terus kondisinya gimana?"
"Sangat memprihatinkan sayang. Bentar teriak, bentar bengong, bentar ngamuk-ngamuk, Naudzubillah, padahal anaknya cantik" Nina mendesah pelan sebelum kembali bersuara "Untung si Kennan dulu nggak mau sama dia"
"Pasti kasihan ya bun?"
"Iya si, tapi pas bunda denger cerita ayah, kalau mamanya Frea datangi kamu ke kantor, bunda jadi greget sendiri"
"Ayah tahu mamanya Frea ke kantor bun?"
Nina mengangguk "Katanya ayah lihat kamu lagi di teriakin sama mama Frea" Jelas Nina, matanya tak teralihkan menatap Zara, begitupun Zara, yang terus fokus mengunci manik hitam milik Nina. "terus ayah langsung temuin dia, ayah bicara sama dia, ayah tanya ada apa?, si dia jawab katanya putri satu-satunya sakit gara-gara mas Ken. Ayah kaget dong, nggak langsung percaya kan ayahnya, masa iya Kennan membuat anak orang sakit. Pas mama Frea pergi, ayah langsung panggil Kennan ke ruangan ayah, ayah crita sama Kennan apa yang ayah liat, terus menanyakan kejelasan soal Frea. Alih-alih menjelaskan, mas Ken justru lihatin pesan dan foto-foto Frea"
"Termasuk videonya bun?"
"Iya"
"Berati mas Ken sama ayah sudah lihat fotonya Frea yang nggak pake baju?" sama videonya juga?"
"Jadi mas Ken sudah liat tubuh polosnya Frea" Batin Zara "Untung banyak kamu mas"
"Mbak?"
"Awas kamu mas" Zara masih sibuk dengan pikirannya.
"Mbak" panggil Nina
"Iy-iya bund"
"Nggak apa-apa kan?"
__ADS_1
"Enggak bund, nggak ada apa-apa" jawab Zara dengan senyum berat.
"Ngomong-ngomong mas Ken kok lama?"
"Masih nyari-nyari mungkin bun, kan sekarang nggak musim durian"
"Ya sudah bunda tinggal dulu ya, jam segini pasti ayah minta di buatin chamomile" ujarnya sambil meraih mangkok kosong bekas melon.
"Iya bund, makasih melonnya"
"Sama-sama sayang" jawabnya seraya melenggangkan kaki keluar kamar.
*****
Tidak membutuhkan waktu lama bagi Kennan untuk mendapatkan durian merah permintaan sang istri. Empat buah durian sudah berada di tangannya, masing-masing tangan membawa dua durian.
Saat berada di dalam mobil, Kennan yang baru saja memutar kuncinya, tiba-tiba di kejutkan dengan dering ponsel. Dengan cepat tangannya meraih benda itu dia atas dashboard.
Sebuah panggilan dari nomor baru, membuat Kennan mengernyit. Ia sama sekali tak berniat mengangkat. Ibu jarinya reflek menggeser ikon berwarna merah.
Beberapa detik kemudian, ponsel kembali berdering. Kennan menyangka itu adalah Frea, dan untuk kedua kalinya pria itu merijek panggilannya.
Saat memutar roda kemudi ke arah kiri, ponselnya kembali mendapat panggilan dari nomor yang sama. Sontak Kennan mengurungkan niat melajukan mobil, dan memilih untuk mengangkatnya.
Saat tombol hijau sudah tergeser, ia segera menempelkan ponsel di telinganya. Tak langsung berbicara, dia sengaja menunggu suara dari sebrang telfon.
Sesaat setelah panggilan di tutup, Kennan mengurungkan niatnya, untuk melajukan mobil ke arah rumah, ia justru putar balik menuju ke kantor polisi, untuk menemui seseorang yang tengah berada di sana.
Mendesah pelan, kemudian Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan lumayan tinggi. Karena kondisi malam hari, jalanan sedikit lenggang. Membuat Kennan bisa dengan mudah melajukan mobilnya.
Sesampainya di kantor polisi, langkah Kennan terhenti, tatapannya lurus tertuju pada sosok yang tengah duduk dengan kedua siku bertumpu di atas lutut, dan kedua tangan menutupi wajahnya.
__ADS_1
Reflek Kennan mendesah seraya menggelengkan kepala.
Bersambung