
Waktu terus berjalan maju tanpa ada yang bisa menghentikannya. Sebulan lebih Widia menjalani perawatan, dan kondisinya kian membaik.
Sebagian sidang pun sudah di lalui dari mulai sidang pertama, kedua, dan ketiga.
Hari ini, Kennan beserta keluarga mendapat undangan sidang ke empat, dengan agenda pembacaan putusan.
Zara yang sudah kembali bisa berjalan, dan kata dokter sudah bisa memulai proses hamil, sejak beberapa hari lalu Kennan selalu menghajarnya setiap malam.
Kennan dan Zara sudah siap dengan keputusan yang sudah ia tentukan. Ia memilih untuk menghukum Widia yang sudah membuatnya kehilangan calon anak.
"Jangan mikir yang macam-macam" ucap Kennan sembari memeluk Zara dari arah belakang. Zara yang sedang mematut dirinya lewat pantulan cermin, tangannya reflek menumpuk di lengan Kennan yang melingkar di perutnya. Sedikit memberikan usapan ketika Kennan mencium batang lehernya.
"Enggak kok" jawabnya lirih, lalu menghirup udara. "Demi anak kita, orang itu harus di hukum" lanjutnya sambil memutar tubuhnya. Tangannya langsung melingkar di pinggang Kennan.
"Kalau saja itu nggak terjadi" ucap Kennan dengan manik mata fokus menatap Zara. "Sebentar lagi pasti kamu lahiran"
"Jangan di sesali" sahut Zara satu tangannya menyingkirkan anak rambut Kennan yang sedikit panjang menutupi keningnya.
"Bukan menyesali, mas cuma berandai-andai"
"Its ok, tapi jangan terus-terusan, kita nggak akan pernah melupakan anak kita, tapi juga jangan mengingat dia terus. Si kecil kita akan selalu ingat anak kita dalam doa kita"
__ADS_1
"Siap nyonya Kennan" Sahutnya cepat. "Kita harus kerja keras lagi bikin dedeknya" Kennan mengerlingkan salah satu matanya.
"Kalau soal itu aja mas selalu semangat, andai aku ngajakin sekarang, pasti mas juga nggak akan nolak, iya kan?"
"Ya kamu pikir saja sendiri, siapa si yang nggak mau di ajak bobo bareng sama kamu"
"Ish mas" desisnya sambil mencubit pinggang Kennan, membuat dia melentingkan tubuhnya.
"Anna uhibbuki fillah" ucap Kennan lirih, sangat lirih.
"Ahabbakilladzii ahbabtani ilahuu". Jawab Zara sambil tersenyum. "Semoga Allah mencintaimu, Dzat yang telah membuatmu mencintai ku karena-Nya" lanjut Zara yang langsung di respon kecupan singkat di bibir oleh Kennan.
"Jangan pernah takut selama ada mas" pungkasnya lalu Sedetik kemudian mereka kembali mempertemukan bibirnya. Lebih intens, lebih dalam, dan lebih lama.
Zara hanya bisa mengangguk, dan Kennan kembali mel*umat bibir Zara lembut.
"Kita berangkat sekarang, bunda sama ayah pasti sudah nungguin kita di bawah" Kata Kennan usai melepas ciumannya.
*****
Bertempat di Ruang Sidang Utama Pengadilan Tinggi Surabaya, berlangsung sidang pembacaan putusan perkara Pidana.
__ADS_1
Perkara Nomor : 119/PIR/2222/PLG dengan terdakwa Widia Guinea Arimbi, diperiksa, diadili dan diputus oleh Ketua Majelis Afit Ramli, SH., MH., selaku Ketua Majelis dengan anggota Majelis Hakim Tinggi Falery, SH., MH., dan Rafi bachtiar, SH., MH., dibantu oleh Panggih Raharja, SH., MH
Dalam perkara ini, Majelis Hakim Memberikan putusan Pengadilan pidana yang dijatuhkan terhadap terdakwa yakni tujuh tahun penjara.
Mendengar ucapan yang di ikuti ketukan palu oleh majelis hakim, Kennan menghirup napas lega, lalu mengeluarkannya dengan sedikit berat, kedua tangannya reflek mengusap wajah, hingga bertahan selama beberapa detik.
Danu, Rio dan Nina, mereka bersalaman pada Pak Jaya dan bu Jaya selaku orang tua Widia. Dalam hati orang tua Widia mengharapkan mereka mau meringankan hukuman pada Widia, namun dengan adanya bukti yang kuat dan saksi dari sang OB, para majelis hakim hanya memotong hukumamnya dua tahun, yang sebelumnya adalah sembilan tahun.
Berkali-kali ucapan maaf itu keluar dari mulut orang tua Widia, mereka merasa malu pada keluarga Buana serta keluarga kakek Arifin yang notabennya adalah seorang Kyai yang di segani oleh siapa saja.
Sementara Widia, masih duduk di kursi roda di dorong oleh salah satu polisi wanita melewati Kennan tanpa menolehnya sama sekali, di kawal oleh beberapa polisi menuju selnya.
"Semoga penjara ini menyadarkanmu dari semua tingkah gilamu, semoga waktu tujuh tahun ini, bisa merubahmu menjadi lebih baik lagi Widia, meskipun aku dan istriku membencimu, kami akan selalu mendoakanmu agar kamu segera mendapat hidayah dan di sembuhkan dari segala penyakit hati yang menyerangmu selama ini"
Mengambil napas dalam-dalam sebelum kemudian membuangnya perlahan.
"Seharusnya dari dulu aku menyadari perbuatan Widia, Zara dan calon bayi kami tak akan pernah mengalami ini semua.
Ayah sama Bunda selalu sayang sama kamu, yang tenang di sana ya anak ayah yang pemberani, doain bunda sama ayah selalu"
Sekarang semua selesai.
__ADS_1
Dia di penjara, Zara akan hidup tenang tanpanya.
...🌷E.N.D🌷...