
"Mas mau ke gazebo dulu ya" Kata Kennan yang baru saja membantu Zara mengelap meja, usai makan malam.
Zara menoleh sambil meniriskan piring sebelum di letakan di rak. "Mas mau merokok?"
"Iya" sahutnya dengan tangan meraih bungkus rokok di atas kulkas. "siapa tahu eneg di perut hilang dek" sambungnya tanpa melihat ke arah Zara.
"Hmm alasan" Zara bergumam sambil meletakan piring di samping wastafle.
Zara merasa kikuk tiap kali sepasang matanya bertemu dengan sorot tajam milik suaminya. Meskipun sudah lebih dari sebulan menikah, namun tetap saja dia masih suka deg-degan ketika Kennan menggodanya, seperti yang Kennan lakukan saat ini.
Sembari memainkan asap rokok, Kennan sesekali mencuri pandang pada Zara, lalu mengedipkan satu mata dengan mulut mengerucut seolah akan mencium. Dan Zara hanya bisa menunduk tersipu, di sertai senyuman tipis dan gelengan kepala.
"Belum selesai bundanya?" tanya Kennan sambil menggeser lalu menutup pintunya rapat-rapat.
"Sudah, ini lagi ngrendem jamur, mau di masak besok buat sarapan"
"Besok mau masak apa, kok pake jamur?"
"Mau bikin sup tomyam, kayanya enak"
"Mau di bantu ?" tawar Kennan
"Mmm tolong mas keluarin fishball dari frizer ya, biar besok nggak terlalu lama nunggu cairnya. Sekalian sama bakso udang, crabstik, sama chikua. Taruh dalam satu wadah terus masukin kulkas"
Kennan langsung melakukan apa yang Zara katakan.
"Ini masing-masing satu bungkus bun?"
"Iya" jawab Zara sambil mencuci tangannya.
Jarum jam sudah menunjuk di angka sembilan ketika mereka meninggalkan dapur. Mereka berpapasan dengan Nina yang hendak masuk ke area memasak.
Tangan Kennan yang terulur hendak menekan saklar lampu dapur, urung melakukannya.
"Jangan di matiin Ken, bunda mau bikin teh buat ayah"
"Ayahnya di mana bun?" tanya Kennan
__ADS_1
"Ada di ruang kerja"
"Mau di bantu masak airnya bun?" Kali ini Zara yang bertanya.
"Nggak usah sayang, kalian istirahat saja"
"Ya sudah, kita ke kamar ya bun" timpal Kennan lalu menggandeng tangan Zara.
"Gimana enegnya?" Zara menanyakannya ketika berjalan menaiki tangga.
"Masih ada sedikit"
"Sebelumnya makan apa?"
"Mas makan yang kamu kasih lah"
"Besok ke dokter ya!, mungkin lambung mas bermasalah"
"Hmm"
*****
Mas Ken : "Belum ngantuk nyonyah?"
Satu pesan gambar dari Kennan, padahal mereka berada di tempat yang sama.
Zara melirik sejenak ke arah ponsel, lalu meraihnya dan segera membuka pesan dari sang suami.
Pandangannya beralih menatap Kennan yang juga sedang menatapnya sambil tersenyum miring.
My Muse : "Minta di tampol mulutnya sayang?"
Balasan dari Zara Send...
Mas Ken : "Tampol pakai bibirmu"
My Muse : "Pakai teflon"
__ADS_1
Mas Ken : "Pakai kompor sekalian"
My Muse : "Hahaha boleh-boleh, hayuk ke dapur 😛"
Kennan tak lagi membalas, namun ia beranjak dari duduknya dan hendak menghampiri Zara, dan Zara segera bangkit lalu berlari, dengan cepat, Kennan mengejarnya.
"Mau kemana kamu?" ucap Kennan sambil terus mengejarnya.
"Mas mau ngapain ngejar-ngejar aku?"
"Mana orangnya yang mau nampol pake kompor?" tanyanya sambil berkacak pinggang.
Mereka tengah berdiri berhadapan, yang di pisahkan oleh ranjang berukuran kingsize.
"Maaf sayang" sahut Zara dengan gelak tawa
Tiba-tiba, dengan gesit Kennan berlari menaiki ranjang dan dengan tangkas ia merengkuh tubuh istrinya, kemudian membawanya berbaring di atas tempat tidur.
Saat posisi Kennan berada di atasnya, Tangan Kennan melepas kacamata yang Zara kenakan.
"Serius mau nampol pakai kompor?" tanya Kennan seraya menyingkirkan anak rambut yang menutupi mata Zara.
"Enggak ayah?" jawabnya kedua tangannya menggamit kaos di sisi pinggang Kennan, sesekali mencubit lembut pinggangnya.
"Cukup, jangan cubit lagi" seru Kennan sambil menindih tubuh Zara, lalu mengecup bibirnya kilat. Pria itu tersenyum yang membuat Zara kian salah tingkah.
Saat Kennan menyentuhnya lebih dalam lagi, senyum Zara kian merekah, bahkan terus tersenyum dalam ciuman yang panjang. Lalu tiba-tiba terdengar bunyi ponsel
"Assalamu'alaikum"
"Waalaikumsalam, benar ini Kennan?"
"Iya, maaf ini siapa?"
"Saya mamahnya Frea"
Kennan dan Zara saling memandang, Zara yang ikut mendengar suara di sebrang telfon, wajahnya seketika memanas.
__ADS_1
Senyum yang baru saja terlukis indah di wajah Kennan dan Zara, seketika lenyap, mendengar permintaan mama Frea yang meminta untuk membantu pemulihan sang anak dari depresinya.
BERSAMBUNG