
Usai mandi, Kennan bersiap ke kantor hendak memberikan pelajaran pada Widia. Rasanya ia ingin sekali membunuh wanita yang sudah merenggut kebahagiaan sampai ke akarnya.
Semalam, Kennan tidak bisa memejamkan mata hingga pukul tiga dini hari. Bayangan video itu berputar ulang terus-menerus di kepalanya.
Kebencian dan amarah terhadap Widia kian menjadi, rasa hormat dan simpatik terhadapnya menghilang tanpa jejak.
Sinta yang semalam menemani Kennan di rumah sakit untuk menjaga Zara, ekor matanya langsung tertuju pada Kennan yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan penampilan rapi. Begitu juga dengan Zara, ia menatap heran pada suaminya yang tidak biasanya sudah rapi di jam segini.
"Mas mau kemana?" tanya Zara menyelidik.
"Mas ada urusan dek"
"Urusan kantor?"
"Iya"
Tatapan Sinta semakin curiga, ia takut jika Kennan akan berbuat di luar kendalinya pada Widia.
"Ibu nggak akan mengijinkan kamu pergi Ken"
Mendengar ucapan Sinta, otomatis Zara memindai pandangan pada wanita yang memegang piring sedang menyuapinya sarapan.
"Ken tetap ingin pergi bu"
"Kalau begitu biar ibu yang pergi menggantikanmu" jawab Sinta lalu berdiri dan meletakan piring di atas nakas.
"Ibu di sini saja jagain Zara, sebentar lagi mami sama bunda kesini"
"Tidak bisa" jawab Sinta cepat. "Ibu yang akan pergi" tambahnya ketika sudah di hadapan Kennan.
Sementara Zara menatap bingung pada kedua orang yang sepertinya sedang terlibat adu argumen.
Tak merespon ucapan Sinta, Kennan langsung ambil langkah lebar keluar dari ruang rawat inap yang terbilang sangat mewah. Dimana di kamar perawatan ada satu bed masing-masing untuk pasien dan penunggu, lemari, ada ruang keluarga yang di lengkapi dengan sofa, AC dan LED Tv, kamar mandi dengan air panas dan dingin, beserta perlengkapan mandi, serta lemari pendingin.
"Kennan" pekik Sinta namun di abaikan oleh Kennan.
Tidak ada pilihan lain, Kennan sudah menghilang di balik pintu, Sinta akhirnya kembali duduk di samping Zara dan kembali menyuapinya.
"Ada apa bu?"
"Nggak ada apa-apa nak?"
"Tapi mas Ken mau kemana?"
"Mau ke kantor" jawab Sinta tanpa menatap wajah Zara.
"Ayo makan lagi, setelah ini kita jalan-jalan ke taman rumah sakit, sekalian kita jemur.
Ketika Sinta mengulurkan sendok berisi nasi dan sayur, dengan cepat kepala Zara menggeleng.
"Zara sudah kenyang bu"
"Kok kenyang, ini baru setengahnya loh"
"Sudah kenyang bu"
Melihat perubahan Zara, Sinta menghirup napas berat.
"Kamu memikirkan mas Ken?"
__ADS_1
"Kenapa ibu Sinta ingin menggantikan mas Ken pergi ke kantor?"
"Karena selama mas Ken menemanimu di sini, ibu yang menggantikan pekerjaan kalian di kantor ayah"
Mengernyitkan dahi, Zara di buat makin bingung. "Ibu bisa?" tanyanya.
"Kamu jangan salah, ibu dulu wanita karir, dan sampai sekarang, ibu ngurus perusahaan suami ibu di Thailand" jawab Sinta, ia terus berusaha mengalihkan topik. "Dan bukan cuma ibu, mamimu dulu juga wanita karir, dia bekerja di sebuah perusahaan besar di jakarta, sedangkan bunda Nina, kamu tahu sendiri kan karir bunda bahkan sampai ke manca negara"
Zara mengangguk.
"Kami ini wanita-wanita hebat, sampai-sampai ayah dan papimu tidak bisa meninggalkan istri-istrinya yang kelewat hebat"
Ucapan sinta memantik bibir Zara untuk meyunggingkan senyum.
"Mba Za harus bisa seperti mami dan bunda yang baiknya di luar batas, sabarnya begitu hebat"
"Seperti ibu juga, ibu juga wanita yang hebat"
Mata Sinta menatap Zara yang juga sedang menatapnya. Baru kali ini Sinta di bilang wanita hebat, dan ucapan itu terdengar tulus dari mulutnya.
"Benarkah itu?" tanyanya yang tanpa sadar setetes bulir meluncur dari sudut matanya.
"Benar bu" sahut Zara sambil mengusap pipi Sinta dengan ibu jarinya, menghapus titik yang meluncur dengan tidak sopannya.
"Kamu adalah orang pertama yang bilang ibu hebat setulus ini"
"Berati aku adalah orang yang cerdas bu"
Sinta mengernyitkan dahi
"Yang lain bodoh karena tidak bisa melihat kehebatan ibu"
"Besok ya bu kalau sudah sembuh"
"Dan ibu akan menemanimu sampai sembuh"
Kedua wanita beda generasi itu saling melempar senyum.
****
Jam menunjukan pukul setengah sembilan pagi ketika Kennan sampai di kantornya, kakinya terus melangkah melewati lobi dan meja resepsionis, para karyawanpun terheran melihat atasannya berjalan dengan wajah dingin sekaligus menakutkan, bahkan dari mereka tidak ada yang berani menyapanya.
Antara kesal sekaligus tak habis pikir, karena setelah bertahun-tahun berteman dengan Widia, dia justru menghancurkan hidupnya tanpa ampun.
Menaiki lift, kennan menekan angka delapan di mana ruang kerja milik Widia berada. Sesampainya di lantai yang ia tuju, Kennan tak menemukan widia di dalam ruangannya.
Menuju lantai sepuluh, Kennan menemukan Ika tengah duduk di meja kerjanya depan ruangan Rio. "Papi ada ka?"
"Mereka sedang rapat pak"
"Kalau Widia?, kamu tahu ada dimana dia?"
"Mbak Widia juga ikut rapat pagi ini"
Usai mendengar respon Ika, Kennan segera menuju ke lantai empat yang khusus untuk mengadakan rapat dan meeting.
Sekian menit berlalu, Kennan sudah berada di depan pintu ruang rapat.
Tanpa mengetuknya Kennan membuka pintu itu, beberapa orang yang tengah mengikuti rapat, termasuk Danu, Rio, Widia, dan para petinggi perusahaan memindai pandangannya pada Kennan yang berdiri di ambang pintu dengan tatapan tajam fokus ke arah Widia.
__ADS_1
Matanya berkilat merah, wajahnya menahan amarah, tangannya mengepal kuat.
Widia yang sedang melakukan presentasi terlihat terkejut ketika mendapati tatapan Kennan yang seperti akan memakannya hidup-hidup. Detik berikutnya, Kennan menutup pintu dengan kasar, membuat penghuni ruang rapat berjengit karena kaget.
Dengan langkah lebar, Kennan menghampiri Widia yang sedang berdiri di depan para pejabat perusahaan.
Wajahnya memucat, ekspresinya panik, dan matanya menyorot takut, dan itu tak membuat Kennan iba. Apalagi saat mengingat video yang menampilkan kejahatannya.
Berdiri di depan Widia, seketika tangan Kennan menampar pipi wanita cantik yang baru saja hijrah dengan pakaian tertutupnya.
Danu dan Rio serta yang lain seketika berdiri.
"Kennan" panggil Danu dengan raut heran.
"Ini masalah istriku, ayah tidak usah ikut campur" sergah Kennan merespon panggilan ayahnya. Sepasang mata Kennan memerah.
"Kamu saya pecat!" ucap Kennan tegas dengan jari tangan menudingkan wajah Widia dan mata mendelik tajam.
"Ken, kendalikan dirimu" Danu berusaha meredakan emosi putranya yang tidak dia ketahui apa sebabnya. Sementara Widia membulatkan mata karena terkejut, dengan tangan yang masih memegang pipi bekas tamparan Kennan.
"Kamu pikir aku dan Zara tidak mengetahui perbuatan bejatmu?" Pekik Kennan dengan suara lantang.
" Aku dan Zara berpura-pura tidak tahu meskipun kami tahu kamu sudah menyuruh para pelayan cafe untuk memfitnah istriku, aku mengabaikan tingkah gilamu, karena ku harap kamu akan berhenti mengganggu istriku. Nyatanya, kamu justru semakin gila menghancurkan hidup istriku"
"Sudah Ken, Bunda akan marah kalau kamu marah-marah seperti ini"
Kennan sama sekali tak memperdulikan ucapan Danu.
"Aku akan lebih marah jika membiarkan wanita ini terus mengusik hidup istriku yah"
"Ok, tapi kendalikan dirimu Ken"
Mata Widia memerah menahan takut mendengar suara Kennan yang memekikan telinga, namun hal itu tak membuat Kennan mengasihaninya.
Sementara Rio, mendengar nama anaknya di sebut berulang kali, dia hanya bisa terdiam dengan tetesan air mata yang menderas. Dia sendiri belum paham apa maksud semua ucapan Kennan, tapi filingnya mengatakan jika Widia sudah menyakiti anaknya berulang kali.
"Ken, dengerin ayah"
"Aku tidak bisa membiarkannya hidup dengan tenang, sementara Zara hidup dengan rasa bersalah terhadap Frea dan juga bayinya, semua karena dia yah"
"Bunda akan marah kalau kamu dendam"
Widia sempat akan menunduk, tapi Kennan segera mengangkat dagunya.
"Jahat kamu Wid, padahal istriku selalu baik padamu, dan tidak pernah sekalipun berprasangka buruk terhadapmu" ucap Kennan mengabaikan raut cemas dan air mata yang mengalir membasahi pipi Widia.
"Dan kamu pikir aku tidak tahu apa yang sudah kamu lakukan pada mobil Zara?" tanya Kennan lirih.
"Aku pastikan hidupmu akan berakhir di penjara" lanjut Kennan tanpa memutus kontak mata mereka.
Mendengar ucapan Kennan, membuat Widia makin takut. Orang-orang yang berada di ruang meetingpun tak melepaskan pandangannya ke arah depan.
Widia merasa terancam, dengan cepat ia berlari keluar dan sedikit mengangkat gamisnya. Ia menuju ke arah tangga berlari dengan tergesa-gesa, karena dia belum terbiasa dengan pakaian barunya, dan langkahnya kian gugup, dia tersandung oleh rok gamisnya sendiri, di tambah sepatu heelsnya yang membuat dia akhirnya terkilir dan terjatuh.
"Aaarrggghhh" teriak Widia
Tubuhnya menggelinding dari tangga lantai empat hingga mendarat di lantai dasar, dalam keadaan tak sadarkan diri penuh dengan luka.
Bersambung
__ADS_1