
Duduk di sebuah kursi, Kennan menunggu sang menejer sembari memutar pandangan seolah tengah menilai interior dari cafe ini.
"Cafe elit seperti ini, tapi waitresnya seperti tidak punya moral" Kennan bergumam, sambil sesekali menyesap minuman yang dia pesan. "Semoga menejernya nggak ikutan gila seperti pegawainya"
"Selamat pagi" sapa seorang pria muda. Ia mengulurkan tangan pada Kennan.
"Selamat pagi" Kennan berdiri menyambut uluran jabat tangannya, lengkap dengan ulasan senyum dari bibirnya, lalu duduk kembali.
Pria yang memiliki nick name Aji di dada sebelah kirinya tampak menarik satu kursi, lalu mendudukinya.
"Ada yang bisa saya bantu" tanyanya dengan ramah.
"Begini mas" Kennan memanggilnya mas, karena sepertinya pria ini masih sangat muda.
"Tempo hari, istri saya makan siang di sini, dia merasa tersinggung dengan perlakuan dari pegawai mas" ujarnya tanpa basa-basi, karena memang Kennan tidak memiliki banyak waktu, ia harus ke kantor sebelum pukul delapan. "Saya kesini untuk bertanya sedikit, kenapa mereka menyinggung istri saya dengan perkataan yang sangat menyakitinya. Mohon maaf mas, saya bukannya tidak terima, tapi saya ingin sekali tahu, atas dasar apa mereka memojokan istri saya" ucapnya panjang lebar.
"Oh begitu ya pak" Sahutnya dengan senyum tipis. "Kalau boleh tahu, pegawai yang mana pak?, biar saya panggilkan" lanjutnya.
"Saya tidak tahu yang mana, tapi istri saya bilang salah satu dari mereka adalah seorang kasir"
"Kalau begitu akan saya konfirmasikan kepada semua pegawai saya, siapa saja yang sudah menyinggung istri bapak" ucapnya lalu berdiri.
Kennan mengangguk meresponnya.
Sekian menit kemudian, sang menejer sudah kembali dengan tiga wanita suruhan Widia. Mereka terlihat begitu gugup, campur takut.
"Silakan duduk" Ucap atasannya.
"Mohon maaf ya" ucap Kennan mengawali pembicaraan mereka. "Apa benar, kalian yang sudah membahahas tentang kematian Frea di depan istri saya kemarin lusa?" tanya Kennan setenang mungkin.
Mereka tampak menganggukan kepala.
"Kenapa?" tanya Kennan lembut.
"Kami hanya di suruh pak?"
"Disuruh" Alis Kennan menukik tajam, dengan rahang mengatup keras. "Siapa yang nyuruh kalian?" tanyanya lagi mengintimidasi.
"Kami tidak tahu namanya siapa pak, tapi dia yang makan bareng bersama istri bapak"
"Widia" Batin Kennan.
__ADS_1
"Coba kalian cerita yang jelas, bagaimana dia bisa menyuruh kalian"
Sang menejer seperti geram mendengar kejujuran dari salah satu pegawainya.
Ketiga wanita itu tampak ragu-ragu mengatakannya. Namun walau bagaimanapun mereka harus mengatakan yang sebenarnya.
"Maaf atas kesalahan kami pak" ujar salah satu dari mereka. "Embak yang nggak pake hijab yang menyuruh kami untuk mengungkit kematian Frea, supaya embak yang berhijab merasa tertekan pak"
"Kenapa kalian mau di suruh untuk membuat mental seseorang down, apa kalian tidak takut, jika saya melaporkannya pada polisi?"
"Maaf pak, dia memberi kami uang satu juta. Dia juga sudah mengatakan bahwa embak yang berhijab adalah penyebab dari kematian Frea, dan kami percaya begitu saja"
"Jadi Widia menggiring opini, supaya kalian percaya dan mau menghujat istri saya"
Mereka lagi-lagi mengangguk. "Karena cerita dari embak itu sangat meyakinkan, dan sedikit memelas, di sertai raut sedih di wajahnya"
Menghela napas panjang, Kennan mengeluarkannya sedikit kasar. "Apalagi yang dia katakan?" tanya Kennan penuh selidik lengkap dengan tatapan menyeringai tajam.
"Mereka bilang kalau istri bapak suka merusak dan merebut kebahagiaan orang lain, dan Frea lah yang sudah menjadi korban, karena kebahagiaannya sudah di rebut oleh istri bapak dan akhirnya meninggal karena depresi"
"Itu fitnah" sergah Kennan cepat. "Lain kali, kerja-kerja saja, mau orang nyogok kalian, seharusnya kalian bisa menolaknya, dan seharusnya, kalian bisa bekerja sesuai dengan aturan SOP di tempat kalian bekerja. Belum tentu juga apa yang di tudingkan itu benar kan?, lagi pula itu bukan urusan kalian untuk menghakimi seseorang yang bersalah, iya nggak?"
"Sekali lagi maaf pak"
"Baik pak, mohon maaf atas kesalahan pegawai saya"
"Satu lagi" Kennan menghirup napas panjang sebelum mengatakannya "Saya hanya ingin memberi tahu, kalau embak berhijab yang kalian hujat itu istri pemilik dari perusahaan Metro Group, perusahaan di sebrang sana" sambung Kennan seraya menunjuk ke arah gedung tinggi miliknya.
Mereka tampak syok mendengar ucapan Kennan.
"Bahkan saya bisa menutup cafe ini, hanya karena beberapa pegawai disini tidak memiliki attitude seperti kalian"
"Sekali lagi maafkan saya pak, karena saya yang bertanggung jawab atas semua kesalahan ini" pungkas Aji seraya menunduk pelan
"Saya juga minta maaf sudah menyita waktunya" Sahut Kennan seraya berdiri, lalu mengulurkan tangannya "Saya permisi"
Kennan berjalan keluar, sedikit berlari karena sudah terlambat masuk kantor, raut wajahnya menyiratkan kemarahan dan kebencian terhadap Widia. Namun, ia akan menahan amarahnya sebab Zara yang meminta untuk berakting pura-pura tidak tahu, sampai proses pemindahan tugas Widia ke devisi lain selesai.
****
Siang harinya, saat jam istirahat, Kennan mendapat titipan dari mami Irma, yang di bawakan oleh Rio berupa makan siang, Ia menikmatinya sembari berbicara via telpon dengan Zara.
__ADS_1
"Ini lagi makan, mami bawain bekal buat makan siang, tadi di titipin sama papi"
"Mami bawain apa?"
"Bawain kentang goreng, orek tempe, ada telur dadar juga ada tongseng kambing"
"Banyak banget mas"
"Iya, semua kesukaan mas juga" jawabnya sambil mengunyah makannan. "Bundanya dedek bayi lagi apa?"
"Aku" Sahut Zara lewat sambungan telfon
"Memangnya siapa yang mau punya bayi?"
"Ish,," Terdengar helaan napas Zara.
"lagi apa si bundanya dedek bayi?" tanya Kennan ulang.
"Lagi sibuk bujukin hati, supaya jangan kangen sama mas"
"Jadi lagi kangen sama mas?"
"Iya, makannya cepet pulang" seloroh Zara dengan nada meledek "Aku tunggu di kamar kita, di tempat tidur kita sayang"
Mendengar, kata tempat tidur, seketika tubuh Kennan menegang, di tambah panggilan sayang dari Zara, karena jarang sekali Zara memanggilnya dengan kata itu.
"Haiiss, mas jadi pengin pulang. Mas pulang sekarang aja ya?"
"Eh mau ngapain pulang sekarang?"
"Mau bobo panas, katanya di tunggu di tempat tidur"
"Selesaikan dulu urusan kantornya" Zara memutus sambungan telpon setelah mengucapkan salam.
TO be continue...
Masih mau next ya...
jangan lupa Voment-nya
Makasih yang udah setia membaca...
__ADS_1
maaf kalau up nya nanti lelet, lagi ada project juga sama editor NT buat bikin naskah cerita.. 😙😙😙