
Sekembalinya Zara ke kantor, ia menangkap sosok Kennan tengah duduk di kursi meja kerjanya. Kennan sedang mengerjakan hasil meeting yang sebenarnya menjadi tugas Zara.
"Dari mana bun?" Tanya Kennan tanpa mengalihkan pandangan pada Zara yang sudah berdiri di depan meja.
"Keluar sebentar"
"Keluar kemana?" pandangan Kennan masih fokus ke arah monitor, sesekali menatap kertas di meja.
"Taman kota" jawab Zara datar, membuat Kennan seketika menatapnya.
"Sama siapa, ngapain?"
Alih-alih menjawab, justru Ia pamit untuk ke kamar mandi.
"Aku ke toilet dulu" Melihat sikap Zara yang tidak seperti biasanya, membuat Kennan mengerutkan kening. Lantas ia menyusul sang istri ke toilet.
Tepat ketika Zara akan mengoles cream pada sudut bibirnya yang membiru, tampak sosok Kennan berdiri di belakangnya. Sepasang mata mereka sempat bertemu melalui cermin, namun Kennan belum menyadari ada warna biru pada wajah istrinya.
Tatapan yang hanya berlangsung selama 3 detik, Zara memutus kontak mata lebih dulu, dan segera mengoleskan cream untuk menyamarkan warna biru di sudut bibirnya.
"Ada apa?" tanya Kennan yang tahu-tahu sudah memeluknya dari arah belakang, tengannya melingkar di perut dan dagunya ia daratkan di bahu Zara.
Pikiran Zara kembali mengingat ucapan Frea.
"Apa mas dulu satu kampus dengan Frea?" tanya Zara sambil mengusap punggung tangan sang suami yang melingkar di perutnya.
"Enggak" jawab Kennan singkat "Memangnya kenapa?" lanjutnya seraya mencium ceruk leher Zara.
"Enggak kenapa-kenapa" Membalik badan, Zara segera merangkum wajah Kennan yang terlihat sangat lelah, tangan Kennan masih bertahan melingkar di pinggang Zara "Mas tahu, apa yang paling membuatku takut?" tanya Zara menatap matanya "Saat cintamu perlahan menghilang di telan waktu" tambahnya mencoba mengungkapkan ketakutan yang mendadak singgah.
"Aku merasa sikap Frea kian menjadi, dan_"
Kalimatnya terpotong saat Kennan mengecup bibir Zara "Mas akan selesaikan semua" Bisiknya tepat di telinga Zara "Mas akan datangi dia dan memberi peringatan padanya"
Menarik napas panjang, dan menahannya sebentar sebelum kemudian menghempaskannya perlahan. Ganti Kennan yang merangkum wajah Zara.
"Sampai kapanpun, cinta mas nggak akan hilang"
Kembali Zara menghembuskan napas tanpa mengatakan apapun.
"Kita lanjut kerja yuk!" ucap Kennan lalu mengecup pucuk kepala Zara yang tertutup hijab.
******
Malamnya, sebelum tidur, Kennan mengajak Zara bicara, sebab semenjak kembali setelah menemui Frea, Kennan merasa ada sesuatu yang di sembunyikan Zara.
"Dek, apa ada sesuatu yang menganggu pikiranmu?" tanya Kennan dengan suara pelan. Manik matanya menyorot tajam menatap wanitanya. Ia duduk di tepi ranjang, menghadap ke Zara yang duduk bersandar pada headboard.
__ADS_1
Mengatupkan bibirnya rapat-rapat, Zara terdiam menatap lekat wajah Kennan.
"Bicara dek"
"Maaf"
Sontak Kennan megernyitkan dahinya, lalu menggenggam erat tangan Zara "Maaf untuk apa?"
"Sebenarnya, aku menemui Frea tadi siang"
Kennan terkejut mendengar ucapan Zara, namun detik berikutnya, kembali menampilkan gestur santai.
"Apa yang kalian bicarakan?"
"Frea bilang, dia akan mengambil mas dariku" Zara mengatakannya dengan pandangan tertunduk.
Perlahan Kennan berpindah duduk di samping Zara, lalu memeluknya dari samping. "Apalagi yang dia katakan?" tangannya mengusap pelan lengan sang istri.
Zara menggeleng meresponnya. "Besok kita temui dia, kita ngomong baik-baik sama dia ya"
Sama-sama bersandar pada headboard, tangan Zara melingkar di pinggang dan kepalanya ia daratkan di pundak Kennan.
"Mas mau ngomong apa ke dia?" tanya Zara seraya mendongakan wajah dan mempertemukan netranya.
"Mas mau bilang supaya dia berhenti mengusikmu"
Melihat wajah Zara dari jarak dekat, membuat Kennan menyadari warna biru di sudut bibir wanitanya.
Sedikit menekan, Kennan meraih dagu Zara dengan paksa "Ini kenapa?" tanyanya ulang. manik matanya menghunus ke manik hitam milik Zara.
"Sudah mas bilang kan, jangan sembunyikan apapun"
"Aku menamparnya dan dia membalas menamparku" pungkas Zara "Aku menampar karena ucapannya memantik kekesalanku"
Sempat kaget, Kennan berusaha menormalkan ekspresinya. "Ucapan yang seperti apa?, ini kamu loh Zara, setahu mas nggak pernah emosi apalagi sampai nampar orang"
"Aku marah ketika dia bilang kalian akan bertukar liur dan berbagi keringat"
"Mulai sekarang kamu nggak usah pikirkan tentang Frea, kita anggap saja dia sakit jiwa. Dan mas nggak mau lagi kamu bertindak tanpa sepengetahuan mas"
"Maaf" ucap Zara yang di balas kecupan oleh Kennan.
"Lebih baik kita fokus bikin dedek bayi" Sahut Kennan cepat dengan gerakan mengunci tubuh Zara di bawah tubuhnya.
"Tunggu" ucap Zara saat Kennan hendak mencium bibirnya, tangan Zara menempel di mulut Kennan.
"Apa mas suka gonta-ganti pacar saat kuliah dulu?"
__ADS_1
Mata Kennan mengerjap "Kamu tahu dari mana?"
"Frea"
"Frea?" timpal Kennan dengan mata memicing.
Zara mengangguk "Benar apa yang di katakan Frea?"
"Haist, dulu mas cuma main-main sebab mas cinta sama kamu, mas berusaha mengalihkan wajahmu dari pikiran mas, dan mas jalan sama cewek-cewek itu supaya bisa lupa sama kamu" ungkap Kennan, membuat mata Zara membulat sempurna.
"Main-mainnya yang gimana?"
"Cuma jalan aja, pas udah nggak cocok ya udah bubar, dan wajahmu" ucap Kennan menyelipkan helaian rambut di telinga Zara "Sama sekali tak bisa di musnahkan dari pikiran mas"
"Terus mas ganti pasangan lagi, berharap pasangan mas yang baru, mampu membuat mas lupa sama aku?" tanya Zara mengintimidasi
Kennan menganggukan kepala sebagai jawaban.
"Sampai berapa kali?"
"Entahlah, yang jelas mas jalan sama mereka nggak pernah bertahan sampai dua bulan"
"Dan yang terakhir mbak Widia?"
Lagi Kennan mengangguk
"Apa ada kontak fisik dengan pacar-pacar mas dulu?"
"Nggak ada?"
"Masa si?" sahut Zara seolah tak percaya, membuat Kennan gemas lalu dengan cepat menggigit bibir Zara lembut.
"Mas kita belum selesai bicara"
"Sumpah nggak ada dek"
"Terus ngapain saja pacarannya?"
"Cuma jalan aja sayang, belanjain mereka, traktir mereka makan, nonton, gitu doang"
Hening, dengan pandangan mereka yang saling mengunci.
Kennan kembali menempelkan bibirnya di bibir Zara.
Entah berlangsung berapa lama, tahu-tahu, tubuh mereka tak terbalut pakaian sehelaipun.
Sentuhan demi sentuhan, membuatnya hanyut, hingga gelegak dahaga, berhasil mereka tuntaskan.
__ADS_1
Bersambung
Semoga nanti malam bisa up 1 bab lagi😀