
Berdiri di sebuah balkon kamarnya, Kennan mengapit sebatang rokok dengan jari telunjuk dan jari tengahnya. Dengan memainkan asapnya membentuk sebuah gelembung, ia menatap langit senja yang mulai menampakan warna orange.
Ia sedang mengumpulkan keberanian untuk mengatakan pada orang tuanya, bahwa dia hanya menginginkan Zara.
Sembari menyesap rokok, tangan kanannya meraih sebuah benda di saku celana yang ia kenakan. Perhatiannya kini teralih pada layar ponsel, jarinya dengan lincah memilih menu gallery. Matanya tertuju pada folder bertuliskan my leaves. Ketika di buka, ada begitu banyak foto Zara yang tersimpan di folder itu.
Kennan tersenyum mengingat bagaimana cara ia mengambil gambar milik Zara, yang sebagian besar di ambil tanpa sepengetahuannya.
"Cantik" gumamnya dengan bibir tersungging.
Selesai aktifitas merokok, dan puas menatap wajah Zara di ponselnya, Kennan melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia akan melaksanakan sholat maghrib, sebelum turun untuk makan malam.
"Mas Ken, bisa tolongin bunda ya, anterin ini ke depan buat Danang?"
"Satpam baru namanya Danang bund?" Tanyanya yang di anggukan oleh Nina.
"Makasih mas" Nina memindahkan nampan ke tangan putranya.
"Sama-sama bund" sahut Kennan yang langsung mengayunkan kaki menuju depan rumahnya.
"Dek, gimana hari ini?" ada seseorang yang mencurigakan di sekitar rumah?" Danu menatap sang istri lekat-lekat
"Seharian ini nggak ada si mas" sambil menyidukan nasi di piring Danu, sesekali Nina meliriknya dengan ekor matanya
"Untuk sementara kamu jangan keluar dulu ya, sampai benar-benar aman"
"Iya, Makan dulu mas"
"Makasih" Sahutnya lalu meletakan ponsel di samping piring yang baru Nina letakan di depannya
"Kalau mau belanja" ucap Danu kemudian "Suruh mbak Harti untuk pergi, di tulis saja apa yang mau di beli"pokoknya mas pesen, kamu jangan sampai keluar"
"Ada apa yah?" Kennan yang baru saja datang ke ruang makan, langsung menyela pembicaraan kedua orang tuanya "Sepertinya serius bun?" lanjutnya sambil menarik kursi lalu mendudukinya.
"Lagi ngingetin bundamu, supaya jangan keluar sendirian"
"Iya bun jangan keluar dulu ya!"
Kini giliran Nina menyidukan nasi untuk Kennan "Lagian bunda ya mau kemana" jawabnya sambil menaruh beberapa lauk dan sayur di piring putranya "Bunda lebih suka di rumah jahit baju atau bikin jilbab"
"Apa ada perlengkapan jahit yang ingin di beli?"
"Belum ada mas, semua masih lengkap"
Danu tampak mengangguk sambil mengunyah makanan "Sudah sampai mana perkenalanmu sama Frea Ken?"
Sebelum menjawab pertanyaan ayahnya, Kennan menyempatkan dirinya untuk meneguk minumannya.
"Biasa saja yah, Frea baik, orangnya ramah, pembawaannya juga menyenangkan" jawabnya lalu kembali menyendok nasi
"Nggak ada feel gitu?"
"Feel apa?"
__ADS_1
"Kamu benar-benar nggak mau tawaran dari papahnya Frea, Beliau berniat menjodohkan kalian loh"
"Enggak yah, Ken nggak suka sama Frea. Ken sudah punya pilihan sendiri"
Sontak ucapan Kennan membuat Danu dan Nina menatap lekat wajah tampan putranya.
"Kamu sudah punya calon mas?" tanya Nina terkejut.
"Sudah bun"
"Siapa?" timpal Danu yang tak kalah terkejut.
"Yah, bun,,," dia menjeda ucapannya sejenak, membuat Danu dan Nina saling melempar pandangan "Ken mau Zara yah?" sambungnya sedikit ragu.
Lagi-lagi Danu dan Nina di kejutkan untuk yang ke dua kalinya. Padahal setau mereka, antara Kennan dan Zara benar-benar tidak ada sikap yang menunjukan bahwa mereka saling mencintai
"Sayangnya Ken ke Zara bukan sekedar sayangnya kakak ke adek, Ken cinta sama Zara yah" Ia menatap Danu yang juga tengah terpaku menatapnya "Bun, Ken pengin nikahin Zara" kali ini pandangannya ia alihkan pada wajah Nina.
"Boleh kan?" tanyanya penuh harap "Ayah dulu juga pernah bilang kalau Kennan boleh nikah sama Zara, iya kan?"
"Kamu serius, sayang dan cinta sama mbak Zara?" Nina bertanya dengan nada selembut mungkin. "Bukannya kamu nggak pernah nunjukin kalau kamu cinta sama dia?" maksud bunda" Nina menghirup napas sebelum kembali berucap "Maksud bunda, bukannya kamu sering ngenalin perempuan ke bunda?" yang terakhir Widia"
"Sebenarnya Ken hanya main-main saja bund?"
"Kamu mempermainkan wanita Ken?" tanya Danu seolah tak percaya
"Bukan mempermainkan yang gimana-gimana yah, Ken cuma mencoba mengalihkan pikiran yang selalu ingin nikahin Zara, tapi ternyata tidak bisa"
"Kamu serius dengan apa yang kamu ucapkan?"
Danu meneguk air yang tersisa sedikit di dalam gelasnya "Apa Zara juga mencintaimu?"
"Ken rasa seperti itu"
"Maksudmu, kamu cuma punya insting kalau dia cinta juga sama kamu?"
Kennan mengangguk
Di sini Nina hanya mendengarkan kalimat-kalimat yang terucap dari suami dan anaknya, dengan pandangan yang sebentar menatap Kennan, lalu beralih menatap Danu.
"Zara mengatakan kalau dia juga cinta sama kamu?"
Kali ini Kennan menggeleng "Tapi Kennan yakin yah, kalau Zara juga cinta sama Kennan"
"Kamu nggak memaksakan kehendaknya kan?"
"Tidak ayah"
"Sama sekali tidak?"
"Sama sekali tidak yah" Kennan menjawab dengan mengulang ucapan sang ayah
"Tapi ayah belum yakin, ayah takut kalau Zara enggak cinta sama kamu"
__ADS_1
"Jadi ayah ngijinin Ken nikahin Zara atau tidak?"
"Tidak kalau Zara terpaksa mencintaimu" sambar Nina, membuat Kennan mengalihkan pandangannya pada sang bunda.
"Bunda nggak setuju, Ken nikah sama Zara?" tanya Kennan penuh menyelidik.
"Bunda setuju, tetapi jika Zara juga mencintamu, kalau Zaranya nggak cinta sama kamu, nggak mau nikah sama kamu, bunda nggak akan pernah nikahin kalian. Nggak enak rasanya berjuang sendirian Ken" ujar Nina panjang lebar, kalimat terahirnya di interupsi oleh deheman Danu, dan seketika Nina memindai netranya yang kelam.
"Enggak bund, Kennan yakin sekali, kalau Zara juga mau Kennan. Kita sama-sama ingin terus bersama"
"Yah, bun?" panggil Kennan ketika Danu dan Nina tak lagi berbicara "Kalian setuju kan?"
"Kamu benar-benar menginginkan Zara?"
"Iya yah"
"Nggak akan nyakitin Zara?"
"Enggak"
"Kamu tahu kalau Zara anaknya mami Irma kan?" kali ini Nina yang bertanya. Tahu konsekuensi yang harus di bayar jika kamu menyakitinya?"
"Tahu bun" Sahut Kennan "Pasti kalian akan membenciku kan?"
"Kalau kamu tahu itu, bunda pegang ucapanmu"
"Jadi bunda setuju kalau Ken nikahin Zara?"
"Tanya ke ayah?" jawab Nina sebelum menganggukan kepala, ia kembali menyuapkan sendok ke mulutnya.
Sedangkan Kennan langsung menatap Danu, berharap sang ayah juga menyetujuinya "Gimana yah?"
"Kamu tahu kan kalau menikah itu artinya, kita akan menghabiskan sisa umur kita dengan pasangan kita?"
"Tahu yah"
"Kamu juga tahu kan, kalau Zara anak kesayangan ayah sama bunda?" janji ya, nggak nyakitin Zara?"
"Janji"
"Yakin?"
Kennan mengangguk
"Siap terima konsekuensi dari bunda?"
"Siap yah" jawabnya lega "Ken saja nggak terima kalau ada yang nyakitin Zara, bagaimana bisa Kennan menyakitinya yah"
"Ayah cuma memastikan saja"
"Tapi ayah tahu kan kalau selama ini Kennan selalu ingin melindungi Zara. Ayah sama bunda tahu itu kan?"
"Kalau kamu benar-benar serius, kamu ngomong baik-baik ke papi Rio dan mami Irma"
__ADS_1
"Tapi ayah sama bunda juga bantuin ya?"
Bersambung