Rahasia Hati (Mencintai Kakaku)

Rahasia Hati (Mencintai Kakaku)
Bab 56


__ADS_3

"Za" panggil Ika


"Yes" sahut Zara tangan kanannya sibuk mengaduk jus yang ia pesan menggunakan sedotan.


Mereka berdua, kini tengah duduk untuk makan siang di kantin kantor.


"Semenjak nikah sama bosmu, aura kamu semakin bersinar deh" ujar Ika yang menopang dagu di depan Zara


"Bersinar gimana?" tanya Zara setelah menyesap jus alpukat "Perasaan biasa aja"


"Ya beda aja sama sebelum kamu menikah, Pasti hal baik selalu terjadi dalam rumah tangga kalian kan?" di tambah Punya mertua seperti pak Danu, dan bu Nina.


Zara tersenyum menanggapi ucapan Ika.


"Memang sebelum aku menikah, auraku seperti apa?"


"Jarang senyum si menurutku"jawab Ika cuek lalu meraih lunch box miliknya yang sedari tadi di anggurin di atas meja.


"Bawa bekal apa kamu?" Zara berusaha mengganti topik pembicaraan, sebab jika dia mengingat hal-hal yang berkaitan dengan Kennan, ia pasti akan senyum-senyum sendiri.


"Nggak tahu Za, ini tadi mas Tama yang tahu-tahu udah di depan gerbang kantor, terus ngasih ini"


"Enak ya punya pacar chef, tiap hari di masakin pasti nanti"


"Enak nggak enak Za" Sahutnya dengan bibir sedikit mengerucut "dari subuh loh, dia udah telfon-telfon aku, ngomong apa juga nggak jelas, aku iyain aja biar cepet di tutup"


"Ya jangan gitu ka"


"Ya habisnya masih ngantuk Za"


"Jangan di biasain, nanti kalau sudah nikah nggak boleh gitu kan?"


"Iya-iya. Oh ya, ngomong-ngomong pak Ken, kok kelihatan lesu Za, berbanding terbalik denganmu. Auramu bening, pas liat pak Ken kayak nggak bisa woles gitu. Padahal senyum dikit kan bisa"


"Akhir-akhir ini memang nggak suka makan, tiap hari cuma mau telur dadar sama sambal terasi, padahal aku sama mertuaku masak banyak"


"Pasti kecapean tuh tiap malam konser"


"Konser apaan Ka, ngaco ih?"


Sebelum Ika berbicara yang kian nyeleneh, Zara bangkit dari duduknya "Aku duluan Ka, bosku bentar lagi selesai meeting" ujarnya lalu meninggalkan Ika yang memanggil namanya berkali-kali.


**


Beberapa menit setelah duduk di meja kerjanya, datang Widia dengan setumpukan berkas yang harus Zara cek keabsahanya, lalu akan meminta Kennan untuk menandatanganinya.


"Za, nggak istirahat makan siang?"


"Baru saja mbak"


"Tapi ini belum waktunya kerja kan?"

__ADS_1


"Enggak apa-apa, nyicil kerjaan mumpung ada waktu"


"Kalau Ken tahu pasti dia melarangmu Za"


Seketika Zara menghentikan tangannya yang tengah membuka lembar demi lembar berkas yang sedang ia cek.


"Enggak juga mbak" sahutnya seraya tersenyum


"Itu pasti Za, Ken itu orangnya sangat care loh, selain itu, dia juga pencium yang handal"


"Maksud mbak Widia?"


Sebelum menjawab pertanyaan Zara, Widia tersenyum memperlihatkan gigi gingsulnya. "Jangan marah ya Za! hmm aku pernah ciuman dengan Ken, itu pas kalian belum nikah loh, beneran jangan di ambil hati"


"Enggak mba, itu masa lalu kalian, kejadian saat aku sama mas Ken belum menikah. Lain kalau mas Ken sudah menjadi suamiku, terus kalian ciuman, baru aku marah" Ujar Zara sambil tersenyum berat.


"Ya sudah Za, aku balik ke ruanganku ya, itu berkasnya jangan lupa di kerjain"


"Iya mbak"


Zara kembali memikirkan ucapan Widia, fokusnya bubar, saat mengingat bahwa mereka pernah berciuman.


"Ternyata aku di bohongin sama mas Ken, dia bilang enggak pernah melakukan skinship pada pacar-pacarnya, faktanya, mbak Widia mengatakan mereka pernah berciuman"


"Hhhh, melihat mas Ken duduk berdekatan dengan mbak Widia saja aku cemburu, apalagi membayangkan mereka berdiri dengan jarak yang begitu dekat, hingga melakukan kontak fisik"


Mengatupkan bibir, Zara berusaha menepis ucapan Widia, namun tetap saja tidak bisa.


"Dek, mas lapar" kata Kennan yang tiba-tiba membuyarkan lamunan Zara "Tapi nggak mau makan nasi"


"Mau bakso, pesenin ya" setelah mengatakannya, Kennan segera masuk ke ruangannya.


Menghirup napas panjang, Zara meraih gagang telfon lalu memesan bakso permintaan sang suami.


****


Untuk menghindari pertanyaan Kennan yang sedari tadi menanyakan kenapa mendadak Kalem, dan nggak banyak bicara, Zara menuju dapur untuk memasak buat makan malam.


"Ini timun sama kobis mau di apain bun?"


"Di bikin lalap mbak, udah bunda cuci, tinggal potong-potongin"


"Potongnya belakangan saja ya bun" pinta Zara lalu tangannya meraih wadah berisi ikan bawal. "Kalau ikannya mau di apain?"


"Di goreng sayang, tadinya bunda mau bikin pecel lele, tapi karena lele di pasar lagi kosong, jadi di ganti ikan itu" ucap Nina sambil menunjuk Ikan di atas wadah "Mas Ken yang minta di bikinin pecel lele mbak"


"Aku bikin sambal tomatnya ya bund"


"Boleh, pakai blender sayang"


"Di uleg saja bun, mas Ken kurang suka kalau di blender"

__ADS_1


"Tapi banyak loh"


"Nggak apa-apa, dari pada nanti di suruh bikin ulang"


"Ya sudah nanti gantian nguleknya kalau mbak cape"


Makan malam kali ini hanya dengan ikan goreng, sambal tomat plus lalapan, sehingga tidak membutuhkan waktu lama untuk mengolahnya


"Kennan yang tengah duduk dengan tangan terlipat di dada, masih heran pada Zara yang menunjukan sikap acuh terhadapnya.


Ia memperhatikan gerakan sang istri yang sibuk melayaninya di meja makan tanpa senyum dan tanpa ekspresi.


"Ken kemarin pas di kantor polisi, dapat keterangan apa saja mengenai Bima?" tanya Danu setelah menelan kunyahannya.


"Cuma itu saja yah, berkelahi, sampai salah satu dari mereka masuk rumah sakit" jawab Kennan sekenanya "Kenapa yah?"


"Mungkin nggak, kalau Bima sudah menghamili seorang gadis?"


"Kok ayah tanya gitu yah?" kali ini Zara bertanya, sebab ucapan Danu memantik rasa terkejutnya.


"Ya mungkin saja"


"Ngomong yang jelas yah?" sambar Kennan sambil mengunyah makannan


"Tadi pagi ayah nemuin tespek di nakas tempat Bima tidur semalam, dan sepertinya milik pacarnya Bima"


Sepersekian detik Zara tersedak makanannya, lalu menolehkan wajah ke samping kiri dimana Kennan pun menolehkan wajah ke samping kanan. Mereka saling bertemu pandang.


"Pelan-pelan mbak" ujar Nina


"Tapi si Bima masih belum ngaku tentang tespek itu"


Zara dan Kennan sama-sama menatap Danu penuh selidik


"Memang hasilnya gimana yah" tanya Kennan penasaran.


"Dua garis"


"Itu punyaku yah" sela Zara membuat Danu, Nina dan juga Kennan memindai wajah Zara.


Zara yang mendapat tatapan penuh intimidasi dari tiga orang sekaligus, merasa gugup serta malu.


"Punyamu?"


"Kayaknya begitu bun" jawab Zara ragu "Soalnya tadi pagi mbak sempat masuk ke kamar Bima, bawa itu"


"Coba bun mana tespeknya, untuk meyakinkan bahwa itu memang punya Zara"


"Bentar yah bunda ambil" Nina lalu berdiri meninggalkan meja makan


"Semoga itu benar punyamu dek" bisik Kennan dengan sudut bibir tersungging serta satu alis terangkat

__ADS_1


Tidak lama kemudian, Nina sudah kembali ke ruang makan "Ini benar punyamu sayang" Nina memperlihatkan benda tipis itu pada Zara. Dengan tangkas Zara meraihnya dari tangan Nina. Setelah di perhatikan, ternyata benar bahwa benda itu memang miliknya "Iya benar bun, ini punya embak"


BERSAMBUNG


__ADS_2