Rahasia Hati (Mencintai Kakaku)

Rahasia Hati (Mencintai Kakaku)
Bab 39


__ADS_3

Pov Zara


Mengedarkan pandangan keseluruh kamar, tak kutemukan sosok mas Ken dimanapun, Namun samar kudengar suara gemercik air berasal dari kamar mandi yang pintunya tertutup rapat. Aku yakin kalau mas Ken sedang berada di dalam sana.


Wajahku memanas, ketika ku edarkan pandangan sekali lagi, dan aku melihat pakaianku berserakan di lantai.


Tunggu, bukan cuma pakaianku, pakaian mas Ken pun sama. Lengkap dengan pakaian dalamnya.


Reflek aku menarik selimut hingga menutupi kepala. Rasa malu membuatku ingin bersembunyi di balik selimut, seolah aku tidak siap menampilkan wajahku di hadapan mas Ken.


"Dek?"


Sepertinya ada yang memanggilku, kurasakan langkah kaki semakin mendekat.


"Sudah pasti itu mas Ken"


Memberanikan diri untuk menyibakan selimut, benar, sosok itu tengah berdiri menatapku, dengan hanya melililitkan handuk di pinggang, dan tangan bergerak mengeringkan rambut menggunakan handuk kecil.


"Kamu kok bangun?" tanyanya


"Sudah jam berapa mas?"


"Baru setengah tiga" jawabnya sambil berjalan ke arah lemari. "Kenapa bangun?" lanjutnya


"Aku mau mandi mas"


"Mau mandi?" mas Ken tampak menaikan alisnya lalu memakai kaos "Ini masih dini hari loh"


"Nggak apa-apa, sudah biasa"


"Mau ikut mas Qiyamul lail?"


Aku mengangguk


"Ok kamu mandi, mas tunggu"


Ada rasa nyeri di bagian tubuhku, sebab itu butuh beberapa menit untukku bangkit lalu memunguti pakaianku satu persatu, dan hanya beberapa saja yang bisa ku jangkau, karena aku melakukannya sambil duduk di tepian ranjang, dengan satu tangan menahan selimut agar tetap menutupi tubuhku.


Mas Ken yang menyadari tingkahku, seketika berhenti dari aktivitas mengeringkan rambut dengan hairdryer.

__ADS_1


"Kenapa?" tanyanya dengan langkah kaki mendekatiku "Susah mau berdiri?"


Melihatnya sekilas, aku menunduk kembali sambil menggelengkan kepala. Ku lihat kedua kakinya sudah berada di depan kedua kakiku.


Tubuhku tersentak ketika mas Ken mengangkat tubuhku lalu membawaku ke kamar mandi. Reflek aku melingkarkan tangan di lehernya, dan menyembunyikan wajah di dadanya.


"Kenapa?" malu?" Ia lalu mendudukan tubuhku di atas kloset.


"Mau di mandiin?" tanyanya lagi membuatku terkejut lalu mendongak menatapnya yang tengah tersenyum.


Mungkin dia menertawakanku.


"Masih punya mulut kan


"Enggak"


"Enggak apa?"


"Enggak mau di mandiin" jawabku sekenanya.


Mendesah pelan, aku bergegas mengguyur tubuhku, karena mas Ken pasti sudah menunggu.


Badanku sudah lebih segar.


Waktu membuka pintu kamar mandi, dan satu kakiku baru melangkah keluar, tubuhku membeku sejenak ketika melihat suasana kamar yang terlihat begitu rapi. Tak ku duga mas Ken sudah merapikannya, sudah tidak ada lagi pakaian yang tergeletak di lantai.


Malu


Mas Ken memindai pandangan ke arahku ketika menggelar sajadah "Sudah selesai?"


Ku anggukan kepala untuk menjawabnya


"Sudah wudhu?"


Lagi, aku mengangguk, membuatnya tersenyum sambil menggeleng dan berjalan ke arahku.


"Masih malu sama mas?, mas ini loh suamimu, sebelumnya mas juga sering melihatmu tanpa pakaian, bahkan mas sering membantu mami memandikanmu" ujarnya dengan tatapan tak teralihkan menyoroti netraku.


"Itu dulu saat aku masih kecil mas"

__ADS_1


Mas Ken menyunggingkan senyum "Mas ambil wudhu dulu" sambungnya lalu melenggang menuju kamar mandi.


Ku hirup napas dalam-dalam, berusaha menetralisir rasa gugup, serta malu. Ah tapi bercak merah di sprei itu membuatku kikuk, dan tak bisa menyingkirkan rasa maluku.


Usai sholat malam, aku dan mas Ken kembali merebahkan diri di atas ranjang saling berhadapan. kami berbincang sejenak menunggu adzan subuh.


Perbincangan yang sesekali di sisipi candaan, membuat mas Ken merasa gemas karena aku yang terus salah tingkah.


Entah berapa lama dia menggodaku, samar-samar terdengar suara Adzan subuh berkumandang.


Malam pertama, yang ternyata tidak semenyenangkan yang ku bayangkan, Jujur aku sama sekali tidak merasakan sesuatu yang seperti mereka bilang, atau di buku yang mereka tulis, justru rasa sakitlah yang menyerangku.


Ketika rasa nyeri masih bersarang di sana, lagi-lagi aku di buat tak berkutik. Usai sholat subuh, mas Ken kembali melakukanya, dan ku pikir aku akan merasakan sakit yang sama, tetapi tidak.


Kedua kalinya baru aku merasakan sesuatu yang benar-benar membuatku ingin mengulang kembali aktivitas itu, apalagi cara mas Ken memperlakukanku begitu lembut.


"Kamu harus benar-benar bahagia" ucapnya dengan ibu jari mengusap pipiku, sesaat setelah purgumulan kami "Kurangi instingmu yang selalu merasa tidak enak terhadap orang lain, terutama widia"


"Ini aku lagi berusaha melakukannya" sahutku seraya melingkarkan tangan di lehernya, membuat jarak wajah kami kian dekat.


Mas Ken kembali mencium bibirku, akupun kembali terbawa suasana, dan perlahan ciuman itu menuntut seiring deru nafas yang tak terkikis. Saat mas Ken mengurai ciuman kami, napas kami saling bertubrukan tepat di depan wajah kami.


"Kenapa?" tanyaku dengan suara lirih, ketika mas Ken hanya diam.


"Kamu enggak ngantuk?" tanyanya balik "Kita cuma tidur tidak lebih dari tiga jam sejak semalam"


"Mas sendiri nggak ngantuk?"


Mas Ken menggeleng "Rasanya nggak ngantuk kalau kayak gini dek" Bisiknya dengan sangat syahdu, membuatku tersenyum dan reflek menoel otot perutnya. Dia tergelak membuatku gemas dan langsung mengecup bibirnya singkat.


"Ah, hambar sayang, nggak ada rasanya" Satu tanganku bergerak turun dari lingkar lehernya, menyisakan tangan lainnya bertahan di tengkuknya, lalu mencubit hidungnya.


"Menyingkir dari atas tubuhku"


Mas Ken pun menuruti perintahku dan menjatuhkan tubuhnya di sisiku, dengan gerak cepat, tangannya menariku ke dalam dekapannya. Posisi ini membuatku nyaman, hingga penglihatanku mendadak kabur, dan perlahan kesadaranku menghilang.


Kami sama-sama tertidur hingga pukul delapan pagi. Mungkin jika ponsel mas Ken tidak berdering, kami masih hanyut berada di alam mimpi.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2