
"Sekarang jelaskan kenapa kamu mengabaikan mas?"
Tak langsung menjawab pertanyaannya, Zara memilih diam seraya menatap penuh lekat wajah lelah suaminya.
"Apa mas pernah melakukan kontak fisik dengan mbak Widia?
Mendengar pertanyaan Zara, Kennan mendadak seperti mematung selama beberapa saat. Detik kemudian, ia mengernyitkan kening dengan satu alis terangkat. "Ada apa?"
Menggigit bibir bagian dalam, Zara menghembuskan napas pelan. "Ini pasti membosankan untuk mas dengar, tapi,,,," Zara berhenti sejenak seraya berpikir apakah tidak apa-apa kalau mengatakan hal itu.
"Tapi apa dek?"
"Tapi jika tidak aku katakan, rasanya seperti ada beban yang menghimpit"
"Katakan saja, mas akan berusaha memahaminya" pinta Kennan, kedua tangannya ia lipat di perutnya. Posisi mereka berdiri saling berhadapan di dalam kamar mereka.
"Mas pernah bilang kan, kalau mas nggak pernah melakukan kontak fisik sama pacar-pacar mas?" tanya Zara pelan
Kennan terdiam sambil menatap Zara selama beberapa detik sebelum bicara.
"Kamu nggak percaya sama mas?"
"Bagaimana aku percaya kalau Widia mengatakan pernah ciuman dengan mas"
"Ciuman?" tanya Kennan heran "Kapan dia mengatakannya?"
"Tadi siang"
"Jadi gara-gara itu kamu diemin mas?" tanya Kennan santai
"Dek" panggil Kennan ketika Zara tak kunjung menjawabnya "Kita udah janji untuk saling terbuka kan, kita sudah janji untuk mengatakan hal apa saja yang mengusik hidup kita?"
Zara mengangguk
"Jadi" ucapnya yang masih sabar menunggu Zara menjelaskan lebih detail.
"Apa mas pernah ciuman dengan Widia?" tanya Zara memastikan sekali lagi.
Kennan tak langsung menyahut, tetapi anggukan kepalanya membuat dada Zara tiba-tiba terasa nyeri. Meski hal itu di lakukan jauh sebelum mereka menikah, tetap saja hal itu memantik kecemburuannya.
"Kapan?" lirihnya pasrah
"Sebelum mas jawab, mas perlu lurusin dulu dek. Menurut mas itu bukan ciuman. Dia menempelkan bibir mas saat mas ketiduran, hanya sekian detik, tapi kalau Widia bilang itu ciuman, dan kamu percaya, mas nggak akan membantah.
"Tapi tetap saja itu kontak fisik, andai saja mas mengatakannya dari awal, mungkin aku nggak terkejut seperti ini, sedangkan saat aku tanya apakah pernah melakukan kontak fisik waktu itu, mas jawab tidak, iya kan?"
"Iya mas minta maaf, mas benar-benar lupa saat dia mencium mas"
__ADS_1
"Kenapa bisa lupa, aku saja nggak pernah lupa ketika pertama kali mas menciumku"
"Memangnya kapan mas pertama kali menciummu?" tanyanya dengan seringai tipis di bibirnya.
"Mas" seru Zara lalu mencubit pinggang Kennan "Aku serius"
"Menurut kamu, apa yang harus mas ingat jika itu di lakukan saat mas sedang lengah, saat dia menempelkan bibirnya kilat di bibir mas?"
Melihat diamnya Zara dengan manik mata yang bergerak seolah mengintimidasi, tiba-tiba Kennan menempelkan bibirnya di bibir Zara sekilas. "Coba bayangkan tadi mas sebagai Widia dan kamu sebagai mas, terus mas menciummu seperti tadi, apa kamu akan mengingatnya?"
Zara mengangguk.
"Itu karena kamu menganggap mas yang cium kamu, jadi kamu selalu ingat, sekali lagi mas bilang" ucapanya seraya mengangkat dagu Zara "Posisikan dirimu sebagai mas, dan mas sebagai Widia"
"Nggak mau" jawab Zara cepat.
Kennan langsung merengkuh Zara dalam pelukannya. Tangannya tak henti mengusap punggung sang istri.
"Mas tahu, melihat kalian berdekatan saat di kantor, dan saling tersenyum, itu sudah membuatku tak nyaman" kata Zara sambil membalas pelukan Kennan. "Aku tahu ini berlebihan, tapi memang begitulah aku"
"Apa lagi yang dia katakan?" Mereka masih saling berpelukan
"Dia bilang mas adalah pencium yang handal"
"Oh ya?" sahut Kennan lalu mengurai pelukannya. "Bagaimana dia tahu, kalau mas jago ciuman, sedangkan mas nggak pernah ciuman dengannya, kecuali dia yang cium mas"
"Ada lagi yang kamu sanksikan?"
"Apa dia juga menawarkan apa yang Frea tawarkan?"
Anggukannya, lagi-lagi memunculkan nyeri yang sama seperti sebelumnya. Mereka saling diam dan saling menatap, sesaat kemudian Kennan kembali memeluk Zara. "Sudah dek jangan di bahas?" ucapnya mengusap belakang kepala Zara.
"Kapan?" tanya Zara penasaran
"Sesaat setelah dia cium mas, waktu kita ke Jakarta"
Dahi Zara mengerut seakan meminta penjelasan yang lebih dari ini.
"Waktu mas menyuruhmu buat masuk kamar terlebih dulu, masih ingat kan?"
Zara mengangguk pelan, lalu menarik napas panjang "Gimana dia ngomongnya?"
"Dia ngajak mas buat tidur di kamarnya, dia bilang malam ini dia milik mas, mas bebas mau ngapain saja terhadap tubuhnya, begitu?"
Susah payah Zara menelan ludahnya sendiri
"Mas nggak mau kan?" lirihnya dengan suara bergetar.
__ADS_1
"Ya enggak lah sayang, meresponnya saja enggak". Kennan mendesah pelan "Waktu kamu di culik, dia kembali cium mas loh, saat mas lengah di kantor"
"Apa mas dalam kondisi tidur juga?"
"Saat mas memejamkan mata, dan dia tiba-tiba masuk ke ruangan mas tanpa mengetuk pintu, tahu-tahu di cium mas lagi"
"Apa ada lagi wanita yang nyium mas, atau mas cium?"
"Sepertinya nggak ada dek" jawab Kennan, tangannya melingkar di pinggang Zara.
"Kalau memang ada" ucap Zara seraya membetulkan krah baju Kennan "Lebih baik mas katakan sekarang, dari pada aku dengar dari orang lain, aku lebih baik dengar dari mas sendiri"
"Tapi mas lupa dek"
Zara menarik bibirnya ke kiri
"Ok, sebelum ada lagi yang ngaku nyium mas, atau ngaku-ngaku berciuman dengan mas, mas minta maaf dari sekarang"
Sempat terdiam sesaat, sebelum kemudian Kennan berbicara kembali "Kamu itu cemburunya benar-benar over ya dek" ujarnya mencubit hidung Zara.
"Aku nggak tahu mas"
"Pokoknya selalu ingat ya, apapun yang mengusik hatimu, langsung di bicarakan sama mas, Jangan mendiamkan mas sebelum meminta penjelasan sama mas"
"Hmm"
"Ingat, di perutmu sekarang ada dedek bayinya, pasti dia ikut stres kalau bundanya stres"
"Iya"
"Ok sekarang kita mandi, kita sholat isya, setelah itu kita istirahat, besok pulang kantor, kita ke rumah mami nginep di sana, tapi sebelumnya mas mau ngajak ngobrol dedeknya dulu" seketika Kennan berlutut di hadapan Zara.
"Makasih sayang, baik-baik di sana ya?" ucapnya sambil menempelkan satu telinganya di perut rata Zara.
"Memangnya dia bilang apa mas, kok mas jawab makasih?"
"Si dedek bilang, ayah kok ganteng banget si, gitu sayang"
"Ya Allah, semoga anakku nggak lebay kayak ayahnya"
Ucapan Zara di respon gelak tawa oleh Kennan, kemudian dia memeluk Zara dari belakang, dan mendorongnya berjalan memasuki kamar mandi, tanpa melepaskan pelukannya.
"Kita mandi sama-sama" ucap Kennan mengecup pipi Zara, lalu berbisik "Mas cinta kamu dek"
"Aku lebih mencintaimu mas"
Bersambung
__ADS_1