
Malam semakin larut, Kennan yang baru saja sampai di rumah pada pukul satu dini hari, mendapati orang tuanya yang tengah tidur di sofa ruang keluarga.
Dengan posisi kepala Nina berada di pangkuan Danu, dan Danu tidur dengan posisi duduk menyenderkan punggungnya di senderan sofa.
Entah berapa lama mereka tertidur, Kennan yang menarik selimut untuk menutupi tubuh Nina, justru malah membuatnya terbangun. Perlahan Nina membuka matanya dan menemukan wajah putranya berlutut di sampingnya, yang terlihat begitu lelah campur sedih.
Matanya memindai wajah Kennan dengan sangat cermat. Ini adalah pertama kalinya Nina menatap wajah Kennan dengan raut muka yang sangat frustasi.
"Ken membangunkan bunda ya?" tanyanya pelan, takut-takut kalau sang ayah juga akan ikut terbangun.
Nina mengerjap sekali lagi, tak langsung menjawab.
"Kenapa enggak tidur di kamar bund?"
Hingga beberapa detik, Nina bangkit dari tidurnya, lalu duduk.
"Apa sudah ada kabar dari Zara?"
Kennan menggeleng, membuat Nina mendesah pelan.
"Mending bunda bangunin ayah dan langsung masuk ke kamar" perintah Kennan
"Kamu juga istirahat ya, besok kita minta bantuan polisi untuk mencarinya" ujarnya dengan tangan terulur mengusap salah satu pipi putranya "Bunda nggak mau kamu sakit, jangan di pikir sendiri ya mas, bunda yakin Zara akan baik-baik saja"
Ucapan Nina entah kenapa menyisakan rasa nyeri di hati Kennan.
Usai bersih-bersih, Kennan tak langsung memejamkan matanya. Perasaan yang tiba-tiba berkecamuk, Semua hal yang berkaitan dengan Zara, bahkan pikiran buruk pun tak luput dari otaknya.
Ini sudah lewat pukul dua, tapi tak ada tanda-tanda Kennan mengantuk. Beranjak dari kasur, ia membuka pintu kaca yang menghubungkan kamar dengan balkon. Duduk di kursi, dengan kaki ia daratkan di atas meja, sembari menikmati sebatang rokok, berharap rokok mampu menjernihkan pikirannya yang kalang kabut tidak karuan.
*****
Di tempat lain, Zara baru saja sadar dari pingsannya yang melebihi 9 jam. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Sebuah ruangan yang cukup luas, dimana ada beberapa peralatan menjahit di sini. Duduk di sebuah kursi, ia menyusutkan hidung membaui bau cat yang sangat menyengat.
Beberapa kali mengerjapkan mata, pikirannya berulang mengingat kejadian beberapa jam lalu, saat beberapa orang mengepung lalu tiba-tiba tak ingat apapun.
"Ada di mana aku?" gumamnya dengan menoleh wajah ke kanan dan kiri lalu ke atap ruangan.
Dengan kondisi tangan dan kaki terikat, Zara sama sekali tak bisa berbuat apa-apa.
"Astaghfirullah... Maafin aku mas, Maaf, harusnya aku nggak melanggar ucapanmu"
"Pih, mih, maafin embak"
"Padahal mas Ken sudah mengingatkanku untuk langsung pulang" lirihnya penuh sesal "pasti tidak akan seperti ini, jika aku menurutinya"
Mendengkus pelan, Zara menarik napas panjang, lalu menghembuskannya kasar.
"Sebenarnya siapa yang sudah melakukan ini, apa salahku sampai dia menyekapku di sini?"
"Apa mereka suruhan mas Yusuf, karena aku sudah membatalkan ta'aruf dengannya, seperti Karisa yang juga dendam, mas Yusuf juga dendam padaku?"
__ADS_1
"Ah tidak, mas Yusuf orang baik, dia tidak mungkin melakukannya"
"Astaghfirullah... apa yang harus ku lakukan, keluargaku pasti sangat panik"
Zara masih bermonolog sembari terus berusaha melepaskan tali yang mengikat tangannya.
"Maaf mas, maaf pih, mih"
Beberapa saat berlalu, samar-samar Zara mendengar suara adzan, dia masih belum tahu sekarang jam berapa, tapi rasa penasarannya tidak berlangsung lama ketika ia mendengar suara muadzin melafazkan "Assolatuhoiruminannaum"
"Sudah subuh ternyata" gumamnya sambil terus mendengarkan suara adzan dengan khidmat, mulutnya pun bergumam mengikuti suara muadzin yang melafazkan kalimat adzan.
*****
Pagi hari, Rio mendapat telfon dari kantor polisi, bahwa ada seorang nelayan yang menemukan motor milik Zara di pantai, nelayan itu menyerahkan motornya ke pihak yang berwajib.
Setelah di buka bagasi pada jok motor, dengan kunci duplikat, akhirnya polisi menemukan siapa pemilik motor ini dan langsung menghubungi Rio.
"Selamat pagi pak" sapa Rio saat sudah di kantor polisi, ia di temani oleh Bima putra bungsunya.
"Selamat pagi"
"Anda yang bernama pak Rio Anggara?"
"Betul pak"
"Baik, mari ikut saya" Polisi itu membawa Rio dan Bima untuk mengecek motor milik Zara
"Benar pak"
"Baiklah, kalau begitu, mari ikut kami"
Rio dan Bima pun mengekor di belakang lelaki berseragam coklat.
Setelah Rio di persilahkan duduk, sang polisi menyerahkan beberapa barang milik Zara yang ada di bagasi motor, ada jas hujan, dan juga setelan mukena.
"Kapan terahir anak bapak pergi dari rumah?" tanya si polisi mengawali interogasi pagi ini
"Kemarin pagi pak" jawab Rio "Dia pergi untuk berangkat ke kantor, tapi sampai pagi ini, putri kami belum kembali"
"Kira-kira, sebelum berangkat ke kantor, apa putri anda terlibat masalah, atau mungkin mempunyai musuh?
"Setahu kami, dia baik-baik saja, tapi sebelumnya, putri kami juga di ikuti oleh dua pria asing"
"Kapan itu?"
"Sekitar satu minggu yang lalu"
"Permisi selamat pagi" Sela Kennan dengan napas tersengal, membuat Rio dan polisi memindai pandangannya.
"Kennan" gumam Rio
__ADS_1
Kennan yang baru saja sampai dan melihat Bima menunggu di luar, langsung memberitahunya bahwa Rio sedang di interogasi.
"Maaf mengganggu" ucapnya lagi
"Maaf, anda siapa?"
"Saya kakaknya"
Polisi itu mempersilakan Kennan untuk duduk di kursi sebelah Rio. Kennan menggenggam tangan Rio berusaha untuk menguatkan.
Setelah beberapa pertanyaan di jawab oleh Kennan dan juga Rio, mereka di ijinkan pulang dan menunggu informasi selanjutnya.
Pihak kepolisian juga segera bergerak untuk melakukan pencarian.
Begitupun dengan Kennan, dia sudah meminta bantuan Bagas untuk membantu mencarinya, dan juga ahli IT, untuk melacak posisi ponsel milik Zara.
*****
"Bagaimana kondisi gadis itu?"
"Tenang bos, dia baik-baik saja, kami membawanya ke atas sesuai perintah bos"
"Apa kemarin ada yang melihat aksi kalian?"
"Tentu saja tidak"
"Bagus" sahutnya kemudian "bakar semua barang-barang miliknya, termasuk ponselnya"
"Baik bos"
Orang itu bergegas naik ke lantai dua di mana Zara berada. Perlahan menaiki anak tangga satu persatu, hingga tepat di depan pintu ruangan yang di gunakan untuk menyekapnya. Ia membuka Knop pintu.
Seketika pandangan mereka bertemu, Zara yang baru kali ini melihat orang itu, Menatapnya penuh heran, dengan kondisi batin yang tentu saja bertanya-tanya.
"Siapa dia?"
"Kenapa dia menculiku?"
"Apa kesalahanku?"
Zara mendapati senyuman sinis yang ia lemparkan padanya, membuatnya kian takut.
BERSAMBUNG...
Sampai di sini kira-kira sudah bisa di tebak siapa pelakunya?"
Lanjut yuk... 😘
Regards
Ane
__ADS_1