Rahasia Hati (Mencintai Kakaku)

Rahasia Hati (Mencintai Kakaku)
Bab 59


__ADS_3

"Duduk mas" Perintah Rio pada menantunya.


Saat ini mereka tengah duduk berhadapan, di pisahkan oleh meja kerja milik Rio.


Melihat Rio dengan wajah gusar, dahi Kennan mengernyit. "Ada apa pi?"


Mengatupkan bibir, Rio memangku dagunya di punggung kedua tangan yang ia tautkan. Tatapannya terus tearah pada sosok lelaki yang menjadi menantunya.


"Tadi ayah Danu telfon, dia memberitahu kalau Frea meninggal"


Mendengar ucapan Rio, dalam sekian detik Kennan menelan ludahnya, sebelum kemudian mengucapkan "Innalillahi"


"Saat dia di rawat di rumah sakit, secara diam-diam dia kabur dari sana, dia berlari menuju jalan raya, lalu sebuah mobil menabraknya hingga terlempar sekitar 25 meter"


Hening, tak ada sahutan dari Kennan, butuh beberapa detik untuk Kennan mencerna ucapan Rio. "Jangan beri tahu Zara dulu, jangan biarkan tv menyala"


Kennan hanya meenjawab dengan anggukan kepala. "Kamu juga jangan terlalu memikirkan berita ini" lanjutnya. "Papi saranin, untuk sementara Zara tidak usah ke kantor, biarkan dia bekerja dari rumah"


"Iya pi, Ken setuju"


"Ya sudah itu saja yang papi sampaikan"


"Kalau gitu Ken permisi pi"


"Iya nak"


Menaiki tangga, langkah Kennan terarah memasuki kamarnya. Hal yang tidak pernah ia duga, Frea meninggal begitu cepat.


Berdiri di atas balkon kamarnya, ia menyalakan sebatang rokok untuk menghilangkan rasa keterkejutannya mengenai kabar meninggalnya Frea. Hingga menghabiskan dua batang rokok, ia melangkah memasuki kamar mandi untuk membersihkan badan yang sedikit lengket karena keringat.


Selesai mandi, dan Baru saja membuka pintunya, mata Kennan teralihkan pada ponsel yang tengah berkedip, dengan cepat ia menyambar ponsel itu lalu menggeser tombol hijau.


"Assalamu'alaikum"


"Anak saya sudah meninggal" ujar suara wanita di balik telfon "Aku tahu ini bukan salahmu" lanjutnya dengan bafas tersengal karena tengah menangis "Seandainya kamu dan istrimu mau menolongnya, mungkin dia tidak akan pergi secepat ini"


Setelah mengucapkan itu, Wanita di balik telfon memutuskan sambungan secara sepihak, bahkan ia tidak memberi Kennan kesempatan untuk sekedar mengucapkan bela sungkawa.


Menghirup nafas dalam-dalam, lalu membuangnya perlahan, Kennan berjalan menuju lemari untuk memilih piyama yang akan ia kenakan.


"Mas" panggil Zara, membuat Kennan kaget. Saking fokusnya melamun, bahkan ia tak mendengar suara pintu terbuka.


"Sudah mandi?" tanya Zara sambil menutup pintu kamarnya, lalu berjalan menuju nakas untuk meletakan air putih yang ia bawa dari dapur.

__ADS_1


"Sudah" jawab Kennan singkat "Kamu mandi dulu dek"


"Tadi papi bicara apa mas?"


"Anu sayang soal kerjaan"


"Ooh.. Aku mandi dulu ya mas"


"Iya"


Selagi menunggu Zara selesai mandi, Kennan merebahkan dirinya di atas tempat tidur, ia melipat kedua tangannya di bawa kepalanya.


"Zara tidak boleh tahu" gumamnya dengan sorot mata fokus ke langit kamar "Kalau dia sampai tahu, pasti dia akan merasa bersalah, dan hal itu pasti akan mempengaruhi janinnya"


"Benar kata papi, dia harus bekerja dari rumah untuk sementara waktu, setidaknya hingga berita ini reda di bahas oleh kalangan para pengusaha"


Tangannya yang tadi dijadikan bantal, kini teruarai lalu di usap ke wajahnya sedikit kasar.


"Mas, kenapa?" tanya Zara ketika baru saja keluar dari kamar mandi.


Alih-alih menjawab, Kennan justru melempar pertanyaan balik. "Sudah mandi?"


"Sudah"


"Baru jam sembilan mas" sahutnya seraya melirik jam di dinding.


"Tapi kamu harus istirahat dek"


"Tapi besok minggu mas, pasti besok juga tiduran di rumah"


Setelah selesai mengeringkan rambutnya, Zara langsung naik ke atas Ranjang.


"Mas baik-baik saja kan?"


"Mas nggak baik-baik saja dek"


Mendengar jawaban Kennan, kedua alis Zara menukik tajam


"Kenapa mas?" Zara duduk bersila menghadap Kennan, tangannya bergerak menutupi paha menggunakan bantal.


Terdiam sejenak, Kennan kemudian tersenyum, dan senyumannya kian lebar saat Zara dengan tatapan serius menyoroti netranya.


Beberapa saat berlalu, Kennan bergerak bangkit dari tidurnya, lalu menyenderkan punggung pada headboard, sembari menatap Zara yang duduk bersila di hadapannya.

__ADS_1


"Mulai hari senin, kamu kerja dari rumah ya?" ucap Kennan dengan nada selembut mungkin. "Mas ingin di trimester pertama kamu fokus dengan janinmu"


"Tapi aku pasti akan bosan mas kalau di rumah saja"


"Ada mami kan"


"Kenapa" tanya Zara penuh selidik.


"Apanya yang kenapa?"


"Kenapa mas mendadak menyuruhku bekerja dari rumah, pasti tadi papi bicara serius sama mas, iya kan?"


Kennan mengangguk merespon ucapan Zara.


"Papi bilang supaya kamu enggak terlalu capek dek, jadi bekerja dari rumah dulu sampai usia kandunganmu kuat, paling tidak tiga bulan sayang"


Zara membuang napas pasrah, dan Kennan segera meraih kedua tangannya. "Mas ingin yang terbaik buat kamu, buat dedek bayi juga, jadi untuk kali ini nurut ya sama mas?"


Mengatupkan bibir, mau tidak mau Zara akhirnya menganggukan kepala, apalagi saran ini langsung di berikan oleh papinya.


"Enggak apa-apa kan dek?"


"Nggak apa-apa mas"


"Ikhlas ya kerja dari rumah?"


"Iya, asalkan mas jaga jarak dari mbak Widia?"


"Masih cemburu juga?" tanya Kennan


"Masih nggak ngerti juga?" sahut Zara tak mau kalah.


"Makasih sudah mau nurut sama mas" Tangan Kennan terulur mengusap puncak kepala Zara.


"Bisa kita tidur sekarang?"


"Mas sudah ngantuk?"


"Belum si" jawab Kennan sambil merebahkan tubuhnya.


Hal yang sama juga di lakukan oleh Zara, ia merebahkan dirinya di samping Kennan.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2